Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing
Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.
Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.
Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.
Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.
Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Kebangkitan Aura II
Sinar matahari membuat lapangan terasa panas seperti terbakar oleh api. Apalagi, dua orang yang terlihat tengah beradu pedang membuat suasana menjadi lebih tegang.
Trang!
Para prajurit yang tadi bertarung tiba-tiba berhenti ketika mereka mendengar suara dentingan pedang yang keras.
"Kenapa mereka berdua terlihat sangat serius?"
"Apakah itu masih bisa disebut sebagai latihan?"
Mereka tampak khawatir saat melihat Aurora dan Seilan bertarung dengan sengit, seolah mereka sedang melihat pertarungan dua orang yang mempertaruhkan hidupnya.
"Ada apa, Aurora? Apa hanya ini saja kemampuanmu?!"
Seilan mendorong pedangnya hingga Aurora terhempas.
Aurora pun segera membenarkan posisi tubuhnya yang goyah dan hampir jatuh. Nafasnya terengah-engah dan tangannya terasa kebas setelah menerima serangannya.
Aurora mengambil nafas panjang dan berpikir.
'Aku bisa mengimbangi kecepatannya, tapi ...'
Gerakan Seilan sebelumnya penuh dengan celah, namun Aurora tidak dapat menyerangnya meski mengetahui hal itu. Dia terus ditekan dan disudutkan oleh Seilan hingga tidak bisa berbuat apa-apa selain bertahan dan mundur.
Bahkan saat Aurora ingin melancarkan serangan, Seilan akan memanfaatkan kelincahan kakinya tuk menghindar.
Apalagi, dia memutar tubuhnya untuk menyembunyikan arah serangannya dan membuat Aurora susah bertahan.
Aurora yang penasaran pun mengajukan pertanyaan.
"Kenapa kau melakukan ini, Seilan?"
"Berhenti bicara seolah kita ini akrab!" kata Seilan dengan nada tinggi, yang membuat Aurora mengerutkan alisnya.
Seilan menggenggam erat pedangnya dan berkata,
"Orang sepertimu, yang diberkahi oleh bakat dan punya dukungan keluarga, tidak akan mengerti penderitaanku!"
"Apa ...? Apa hanya karena itu kau melakukan hal ini?"
Seilan mengertakkan gigi dan bergumam, "Hanya itu ...?"
"Kau bilang hanya itu?!" lanjutnya dengan penuh emosi.
Tanpa banyak bicara lagi, Seilan menarik pedangnya ke belakang dan menendang tanah. Dia melesat maju dan melakukan ayunan yang ditujukan untuk melukai Aurora.
Slash!
Dengan refleks yang cepat, Aurora mengambil langkah ke belakang dan menghindari tebasan yang mengincar lehernya. Sayangnya, pipinya tergores dan keluar darah.
Bukan hanya pipi, tapi lengan tangannya juga tersayat.
Para prajurit yang melihat darah Aurora menetes di atas tanah pun menjadi panik. Latihan yang bertujuan untuk mengasah kemampuan, kini berubah menjadi pertikaian.
"I-instruktur Dio, bukankah ini sudah terlalu berlebihan?"
"Bukankah sudah saatnya untuk menghentikan mereka?"
Beberapa prajurit meminta instruktur Dio tuk mengambil tindakan. Jika dibiarkan, sesuatu yang buruk akan terjadi.
Namun, respon yang diberikan tidak sesuai ekspektasi.
"Tidak, itu tidak berlebihan." jawab instruktur Dio sambil menggelengkan kepalanya. "Itu masih termasuk batas wajar, jadi aku tidak akan menghentikan mereka berdua."
Mendengar hal itu membuat para prajurit makin gelisah.
'Bagus sekali, Seilan. Beri pelajaran pada gadis tidak tahu diri itu! Biarkan dia merasakan rasa sakit yang kau alami!'
Instruktur Dio menyeringai sembari memikirkan hal itu.
Suasana yang tegang pun menjadi lebih mencekam.
Aurora yang terdiam di sana mengusap darah di pipinya dengan ibu jari. Atmosfer yang berada di sekitarnya pun tiba-tiba berubah ketika Aurora mengangkat pedangnya.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku perbuat hingga kau sangat membenciku seperti ini," Aurora mendongak dan menatapnya dengan tajam seperti seorang predator.
Seilan yang melihat matanya bersinar tiba-tiba tertegun.
"Tapi apa yang kau lakukan ini sudah melewati batas! Ini bukanlah sikap dan kode etik seorang ksatria!" lanjutnya.
Aurora mengibaskan pedangnya dengan kuat, dan debu yang ada di tanah terangkat. Entah apa yang terjadi, tapi Seilan merasa seperti dia sedang menghadapi instruktur.
Tekanan yang diberikan membuatnya sulit bernapas.
Seilan yang seluruh tubuhnya gemetar tiba-tiba berpikir.
'I-ini tidak mungkin! Kenapa aku sangat ketakutan?!'
Hanya dengan melihat tatapannya saja, kebencian yang tadi dia rasakan berubah menjadi ketakutan. Tangannya yang gemetar juga hampir saja melepaskan pedangnya.
Memikirkan kelemahannya membuat Seilan jengkel. Dan pada saat itu, entah kenapa ia tiba-tiba mengingat Alexia.
"Sialan! Aku benar-benar iri pada adikmu yang lemah dan tidak berguna itu!" ucapnya dengan spontan tanpa pikir panjang. "Kalau aku jadi dia, aku mungkin akan bunuh ...!"
Whoossh
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, sebuah angin yang sangat cepat melintas tepat di sebelahnya. Kilatan yang mirip seperti petir memotong beberapa helai rambutnya.
Seilan melirik rambutnya yang melayang di udara dan bergumam, "A-apa yang baru saja lewat di sebelahku?"
Dan saat memperhatikan ke depan, dia pun tersentak.
Sebuah udara padat yang berwarna emas menyelimuti tubuh Aurora. Simbol sepasang sayap perlahan muncul di punggung tangannya, yang membuat Seilan terdiam.
"B-bukankah itu... Aura?" gumam salah seorang prajurit.
Mereka tahu bahwa Aurora sudah membangkitkan Aura, tapi mereka tidak tahu arti dari sepasang sayap tersebut.
Dan instruktur Dio yang tahu arti simbol itu pun berpikir.
'Apakah dia orang yang mewarisi kekuatan Sky Sword?'
Simbol sepasang sayap hanya muncul pada salah satu keturunan keluarga Swan yang berhasil membangkitkan Aura. Itu adalah hak istimewa yang hanya bisa diperoleh melalui pengakuan dari pemilik Sky Sword sebelumnya.
Karena alasan itu juga instruktur Dio menyusup ke dalam keluarga Swan. Dan selama dua tahun mencari, ternyata pewaris dari Sky Sword yang dia cari berada di dekatnya.
'Aku harus memberitahu organisasi tentang hal ini.' batin instruktur Dio sembari diam-diam pergi dari lapangan itu.
Sementara itu, di sisi lain...
Seilan gemetar dan kakinya pun tidak bisa digerakkan. Ia ingin lari, tapi tubuhnya seperti dijerat oleh beberapa tali.
Nafasnya berantakan dan jantungnya berdetak kencang.
"T-tunggu, jangan mendekat! A-aku menyerah! Aku—!?"
"Tutup mulutmu yang kotor itu!"
Slash!
Aurora mengayunkan pedangnya dengan kuat. Tak lama kemudian, pedang Seilan yang kokoh patah menjadi dua.
Ketegangan pun mengambil alih seluruh suasana.
Semua prajurit ingin menghentikan mereka, tapi setelah melihat Aurora tampak marah, mereka memutuskan tuk berhenti. Mereka tidak ingin terkena imbas serangannya.
"Aku sabar karena kau hanya menunjukkan kebencianmu itu padaku." ucap Aurora sambil berjalan mendekat. "Tapi saat kau menunjukkan kebencianmu pada Alexia, aku ..."
Aurora mengangkat pedangnya setelah berdiri di depan Seilan. "Aku tidak akan mengabaikan hal itu! Apalagi, aku tidak sudi mempunyai adik yang tidak sopan sepertimu!"
Whoossh
Pedang dijatuhkan dan langsung menancap di tanah.
Karena sangat ketakutan, Seilan langsung jatuh pingsan.
Aurora mundur beberapa langkah sambil menatap Seilan sebelum menghela napas. Pedang yang digunakan juga hancur lebur karena tidak kuat menahan kekuatan Aura.
"Jadi ini yang namanya Aura ...?" gumam Aurora.
Belum sampai semenit, Aurora merasa kepalanya pusing dan berputar. Aura emas yang tadi menyelimuti seluruh tubuhnya perlahan memudar dan langsung menghilang.
Aurora yang merasakan rasa sakit di dadanya berpikir.
'A-apa aku terlalu buru-buru saat membangkitkan Aura?'
Dan tidak lama kemudian, Aurora pun juga ikut pingsan
****
Semua prajurit yang melihat hal itu buru-buru mendekat dan memanggil bantuan. Instruktur Dio yang tadi ada di lapangan juga hilang entah ke mana, tak ada yang tahu.
Namun di atas balkon yang mengarah ke tempat latihan, ada seseorang yang menyaksikan kejadian itu dari awal sampai akhir. Meski jarak antara balkon dan lapangan itu cukup jauh, tapi dia mempunyai penglihatan yang tajam.
Semuanya terlihat jelas dalam pandangannya.
"Sepertinya aku perlu menyelidiki masalah ini sebelum memberikan laporan." ucapnya sambil melompati pagar balkon dan turun ke bawah. Sosoknya menghilang saat masuk ke semak dan tidak meninggalkan suara apapun.
Dan yang menjadi pertanyaan sekarang adalah siapa dan tujuan apa yang dimiliki sosok bayangan tak dikenal itu?