Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia
Di padang rumput yang sangat besar, sebuah pertikaian sedang terjadi. Teriakan putus asa bergema tanpa henti, dan bau darah menyebar seperti bangkai di mana-mana.
Ratusan nyawa yang berharga melayang setiap detiknya.
Ketakutan serta kebencian kini jadi makanan sehari-hari bagi mereka yang selalu berjuang untuk bertahan hidup.
Bukan hanya ras yang disebut manusia, tapi berbagai ras campuran seperti elf, spirit, naga, dan manusia setengah binatang juga sedang mempertaruhkan masa depannya.
Langit bergemuruh setiap kali bola api besar melayang di udara. Ledakannya mengguncang langit dan bumi, serta menghancurkan dan membakar semua hal yang tersisa.
Keputusasaan menyebar ke seluruh benua selatan bagai penyakit menular yang sangat sulit untuk disembuhkan.
Tidak perlu dikatakan lagi untuk memperjelasnya. Sebab, yang terjadi sekarang adalah sebuah perang yang besar.
Tidak ada yang tahu bagaimana perang ini bisa terjadi.
Mereka hanya diberitahu bahwa ada sebuah ras superior yang ingin menempati dan menguasai seluruh dunia ini.
Dan ras superior yang dimaksud adalah ras "Iblis".
Perang ini berlangsung begitu lama hingga dendam dan kebencian menumpuk. Kehancuran ras iblis kini menjadi keinginan setiap orang demi mencari perdamaian sejati.
****
Sementara itu, di sisi lain...
"Apa ini jalan yang benar?" tanya seorang gadis manusia sambil memperhatikan situasi yang terjadi di sekitarnya.
"Tentu saja," jawab orang yang berlari di depannya.
Seorang gadis bertelinga panjang tiba-tiba saja berhenti setelah telinganya menangkap suatu bunyi yang sangat mencurigakan. Sebuah bunyi dentingan besi yang keras.
"Tunggu," ucapnya sambil mengangkat tangan.
Orang-orang yang bergerak bersamanya pun berhenti.
"Ada apa? Apa ada musuh di sekitar sini?"
Gadis bertelinga panjang, Miya, terdiam sesaat.
"Aku belum tahu apakah mereka musuh atau bukan, tapi aku mendengar suara pertarungan sengit di depan sana."
Semua orang mengikuti arah yang ditunjuk oleh Miya.
Suasana yang tenang tiba-tiba menjadi menegangkan.
"Alisha, bagaimana pendapatmu tentang ini?"
"Aku mencium bau menjijikan dari iblis." ujarnya dengan mengibaskan ekornya yang bersisik, tidak menyukainya.
Setelah mendengar jawaban Alisha, Miya terdiam.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" Miya bertanya sambil memandang ke arah gadis berambut emas di depannya.
Gadis berambut emas itu pun menjadi bimbang.
"Luna, penciuman Alisha tidak mungkin salah."
Seorang gadis yang punya empat pasang sayap tembus pandang di balik punggungnya menjamin kebenarannya.
"Aku juga bisa melihat Mana hitam yang sangat pekat di depan sana. Dengan jumlah Mana yang jauh lebih besar dari kita semua, aku rasa iblis itu merupakan salah satu dari 4 Jenderal Raja Iblis. Jadi apa keputusanmu, Luna?"
"Tentu saja kita harus menghadapi iblis itu!" sahut gadis manusia tersebut dengan penuh tekad. "Jika penciuman Alisha itu benar, maka kita tidak boleh tinggal diam saja!"
Mereka saling bertatap mata dan mengangguk setuju.
"Jika itu keputusanmu, maka kita akan mengikutimu."
Setelah mengambil keputusan untuk menyerang, mereka langsung bergerak ke lokasinya. Suara pertarungan pun terdengar semakin keras ketika mereka makin mendekat.
Dan tibalah mereka di suatu ruangan yang begitu luas.
Di tempat yang besar seperti aula, mereka menemukan seorang iblis dengan tanduk yang mencuat di kepalanya.
Dia berdiri di sana dengan tubuh yang penuh luka.
Iblis itu segera menyeka darah di pipinya dan menoleh.
"Setelah membunuh satu, datang lagi yang lainnya."
Luna tiba-tiba tertegun saat matanya menangkap sosok pria berpakaian putih sedang berbaring di bawah iblis itu.
"T-tunggu... bukankah itu Saint Nero?!"
Orang yang sedang diinjak oleh iblis itu batuk darah dan menoleh ke arah sumber suara yang tadi memanggilnya.
"Jadi kau sudah sampai di sini, pahlawan Luna."
Suaranya terdengar begitu serak, dan terdapat rasa sakit di dalamnya. Matanya bahkan perlahan mulai kehilangan cahaya dan energi kehidupannya kini semakin memudar.
"Maaf, aku tidak bisa menemanimu lebih jauh lagi."
Pria terkuat yang dikenal sebagai Saint Pedang Kerajaan, Nero Ed Kairis sekarang berada dalam kondisi terburuk.
"Lepaskan Saint Nero sekarang juga!" teriak Luna sambil menghunuskan pedang suci yang bercahaya ke arahnya.
'Kalau terus dibiarkan seperti itu, dia akan mati!' pikirnya.
"Jadi kau masih hidup setelah menerima serangan yang melukai jiwa... aku pikir kau sudah mati." kata iblis itu dan tanpa pikir panjang mengangkat pedangnya lebih tinggi.
Gerakan iblis itu membuat Luna menjadi sangat panik.
"T-tidak... jangan! Berhenti!" teriak Luna, histeris.
"Kalau begitu, selamat tinggal."
Jleb!
Pedang dijatuhkan dan langsung menusuk jantungnya.
Tak lama kemudian, sosok terkuat yang dikenal sebagai Sword Saint mengembuskan napas terakhirnya di sana.
Melihat kematiannya membuat Luna menjadi putus asa dan merasa hampa. Pedang suci yang tergenggam erat di tangannya pun terlepas dan jatuh menancap di tanah.
Kenapa semua ini terjadi? Apakah ini hanya mimpi?
Luna ingin bertanya, tapi tidak ada seorangpun yang bisa menjawabnya. Tidak ada orang yang ingin berbicara dan memberitahu kebenarannya. Semua tampak tidak nyata, tetapi akal sehatnya kian pulih dan menyadarkan dirinya.
Luna yang putus asa pun berpikir,
'Seharusnya dia tidak ditakdirkan mati di sini kalau aku lebih cepat datang ke sini. A-apakah semua ini salahku?'
Melihat rekan sekaligus guru pengajar yang selalu sabar dalam membimbingnya berlatih pedang, mati di depan matanya, hal itu membuat mental Luna jadi terguncang.
Dia kehilangan harapannya untuk sesaat, tapi...
Plakkk!
"Sadarlah, Luna!" teriak Miya sambil menampar pipinya.
Luna yang terkejut pun menoleh ke arah Miya.
"Ini bukan saatnya merasa bersalah! Jika kamu berhenti sampai di sini, maka perjuangan semua orang termasuk Saint Pedang Nero akan menjadi sia-sia! Jadi, sadarlah!"
Teriakannya sangat menusuk sampai ke telinga, namun berkat itu, Luna sadar dan mulai bisa berpikir jernih lagi.
'Miya benar. Ini bukan saatnya merasa bersalah karena kematian Saint Nero.' batin Luna sambil menarik napas panjang. 'Aku tidak boleh menyerah di sini! Aku punya tugas yang sangat penting untuk mengakhiri perang ini!'
"Terima kasih." ucap Luna sambil tersenyum ramah, dan dia mengusap pipi kanannya yang terasa sakit. "Tapi aku akan membalas ini nanti. Jadi persiapkan dirimu, Miya."
Miya tersenyum canggung dan mengulurkan tangannya.
"T-tolong jangan terlalu keras pada elf yang lemah ini."
"Itu tergantung suasana hatiku." sahutnya, bercanda.
Luna menggapai tangan Miya dan hendak berdiri, namun firasat buruk yang tidak menyenangkan tiba-tiba muncul.
Energi sihir dengan jumlah yang sangat tidak masuk akal tiba-tiba berkumpul di satu titik. Luna merasa aneh pada awalnya karena iblis itu terlihat tidak melakukan apapun.
Tapi setelah merasakan energi sihir yang kuat dari suatu tempat, Luna pun menyadari keanehan itu dan berteriak.
"Cepat pergi dari sini sekarang juga!"
Semua orang terkejut saat mendengar teriakannya.
"A-ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba berte... riak ...?"
Namun, peringatannya sudah terlalu terlambat.
Duarr!
Sinar merah yang sangat kuat meledak dari balik pintu di belakang iblis itu. Sinar merah melenyapkan semua yang dilaluinya tanpa pandang bulu dan membakar segalanya.
Semuanya hangus hingga tidak meninggalkan apapun.
Dan yang tersisa di sana hanya Luna sendirian, dengan sepotong tangan yang masih menggenggam tangannya.
Dalam momen itu, dia melihat teman-temannya terbakar oleh sinar itu hingga menjadi abu. Luna berhasil selamat berkat baju besi anti sihir dan perlindungan pedang suci.
"K-kenapa... kenapa kejadian ini terulang kembali ...?"
Matanya yang bercahaya kini mulai memudar. Dan untuk mengetahui apa yang barusan terjadi, Luna mengalihkan pandangannya ke sumber sinar itu pertama kali muncul.
Dan di sana, Luna melihat sosok yang mempesona.
Dengan sepasang tanduk hitam di kepalanya, dia terlihat lebih berwibawa dan berkarisma dari berbagai iblis yang pernah Luna temui. Memakai gaun hitam yang berkilau seperti langit malam, sosok itu berjalan keluar dari aula.
Aneh untuk menyebutnya spirit dengan tiara hitam yang melayang di atas kepalanya, terlalu kejam menyebutnya malaikat dengan wajahnya yang menawan, dan terlalu aman menyebutnya iblis dengan tubuhnya yang remaja.
Meski begitu, sekali lihat Luna bisa mengetahuinya.
Bahwa wanita itu tidak lain adalah "Raja Iblis".
Keheningan sesaat jatuh, tapi...
"Raja Iblis—tidak... jadi ini ulahmu, Ratu Iblis!"
Amarahnya meledak dan matanya penuh kebencian.
Luna berdiri dan mencabut pedang suci yang menancap di tanah. Ia tanpa pikir panjang langsung berlari kencang dan menghampiri orang yang memulai mimpi buruk ini.
"Matilah!" teriak Luna dengan putus asa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
PORREN46R
spirit seperti roh gitu kan kak?
2025-08-15
1
anggita
ikut ng👍like, iklan saja.
2025-08-14
1