NovelToon NovelToon
SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Topeng Sang Malaikat

​Suasana di ruang tamu yang tadinya penuh dengan aura kemenangan palsu, seketika berubah menjadi medan pertempuran yang mencekam. Dimas mematung, tangannya yang tadi memegang pulpen kini gemetar hebat. Matanya terbelalak melihatku berdiri tegak tanpa bantuan apa pun. Pria yang mengaku sebagai notaris itu, Pak Darmawan, langsung berdiri dan mencoba memasukkan kembali dokumen-dokumen ke dalam kopernya dengan gerakan panik.

​"Laras... k-kamu... kaki kamu?" suara Dimas terbata, wajahnya pucat pasi seolah baru saja melihat hantu.

​Aku melangkah maju satu langkah, setiap ketukan sepatuku di lantai marmer terdengar seperti vonis mati baginya. "Kenapa, Mas? Kamu kaget melihat aku bisa berjalan? Kamu kecewa karena racun dosis tinggi yang kamu sebut 'vitamin' itu tidak berhasil melumpuhkanku sepenuhnya?"

​BRAK!

​Pintu depan rumah terbuka lebar. Pak Surya masuk dengan langkah tegap, diikuti oleh empat orang polisi berseragam lengkap. Dimas mencoba mundur, namun ia tertahan oleh meja jati yang berisi dokumen-dokumen pengkhianatannya.

​"Selamat pagi, Saudara Dimas," suara Pak Surya menggelegar, penuh dengan wibawa seorang pengacara senior yang sudah lama menjadi tangan kanan almarhum Ayahku. "Saya rasa acara tanda tangan ini harus kita tunda sebentar. Ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan dengan pihak berwajib."

​"Apa-apaan ini?! Pak Surya, jangan ikut campur urusan rumah tangga saya! Laras sedang sakit, dia berhalusinasi!" teriak Dimas, mencoba melakukan pembelaan terakhirnya yang menyedihkan.

​Ia berpaling padaku, mencoba meraih tanganku dengan wajah yang dipaksakan terlihat cemas. "Laras, Sayang, kamu pasti sedang depresi. Polisi-polisi ini... kamu melakukan kesalahan besar. Aku melakukan ini semua untuk menjagamu!"

​Aku menepis tangannya dengan kasar. Rasa jijik yang selama ini kupendam meledak seketika. "Berhenti bersandiwara, Dimas! Aku punya semua buktinya. Aku tahu tentang Maya, aku tahu tentang Apartemen Cempaka kamar 1201, dan aku tahu tentang rencana kalian untuk mengirimku ke panti rehabilitasi setelah merampas rumah ini!"

​Dimas tertegun. "K-kamu tahu dari mana?"

​Aku mengeluarkan ponselku dan memutar rekaman suara yang kuambil semalam. Suara Dimas yang mabuk dan meracau tentang "istri bodoh" dan "mahar untuk Maya" menggema di seluruh ruangan. Wajah Dimas yang tadi pucat kini berubah menjadi abu-abu. Ia menoleh ke arah notaris gadungannya, namun pria itu sudah lebih dulu diborgol oleh salah satu petugas polisi.

​"Pak Darmawan ini bukan notaris, Dimas," sela Pak Surya sambil menunjukkan sebuah berkas. "Dia adalah pecatan staf firma hukum yang punya catatan kriminal pemalsuan dokumen. Kami sudah melacaknya sejak Rian mengirimkan datanya semalam."

​Dimas ambruk ke atas sofa, kedua tangannya menutupi wajah. "Laras... tolong... aku khilaf. Aku melakukan ini karena aku merasa rendah di hadapanmu. Aku hanya ingin membuktikan kalau aku bisa sukses..."

​"Sukses dengan mencuri peninggalan orang tuaku?" aku memotong kata-katanya dengan nada dingin. "Ayah dan Ibuku mempercayaimu. Aku memberikan seluruh cintaku padamu. Tapi bagimu, semua itu hanya angka-angka di atas kertas sertifikat tanah. Kamu bukan hanya mengkhianati aku, Dimas. Kamu mengkhianati kepercayaan orang yang sudah tidak ada untuk membela diri mereka sendiri."

​Petugas polisi maju untuk memborgol tangan Dimas. "Saudara Dimas, Anda kami tahan atas dugaan percobaan penipuan, pemalsuan dokumen, dan tindakan membahayakan nyawa orang lain dengan pemberian zat kimia berbahaya."

​Saat borgol besi itu mengunci pergelangan tangannya, Dimas mendongak. Matanya yang tadi penuh keserakahan kini hanya menyisakan ketakutan. "Laras, jangan lakukan ini! Kita baru saja menikah! Apa kata orang nanti?"

​"Apa kata orang?" aku tersenyum getir. "Orang akan tahu bahwa Sandiwara Istri yang Terbuang telah berakhir dengan bab yang sangat memuaskan. Dan namamu, Mas, akan menjadi nama antagonis yang paling diingat dalam sejarah hidupku."

​Aku berpaling dari sosok pria yang dulu kusebut sebagai imamku itu. Saat polisi menyeretnya keluar melewati gerbang rumah, aku merasa sebuah beban berat terangkat dari pundakku. Bi Ijah menghampiriku, menangis sambil memelukku erat.

​"Nyonya... alhamdulillah, semuanya sudah berakhir," isak Bi Ijah.

​"Belum, Bi," bisikku sambil menatap rumah besar ini. "Ini baru permulaan. Masih ada satu orang lagi yang harus menerima bagian dari naskah ini."

​Aku meraih ponselku. Ada satu pesan masuk lagi dari nomor misterius itu.

"Satu serigala sudah masuk perangkap. Tapi rubahnya masih berkeliaran di apartemen. Jangan biarkan dia melarikan diri dengan membawa deposito ibumu."

​Mataku menyipit. Deposito Ibu. Benar, semalam Dimas bilang dia sudah memegang aksesnya, dan kemungkinan besar akses itu sudah ada di tangan Maya.

​"Pak Surya," panggilku pada pengacara ayahku yang sedang merapikan dokumen di meja. "Kita harus ke Apartemen Cempaka sekarang. Maya tidak boleh lolos."

​Pak Surya mengangguk mantap. "Polisi sudah mengirim tim ke sana, Laras. Kita bisa berangkat sekarang."

​Aku melangkah keluar dari rumah, menghirup udara pagi yang kini terasa jauh lebih segar. Kakiku memang masih terasa sedikit nyeri, namun setiap langkah yang kuambil terasa begitu ringan. Aku bukan lagi Larasati yang hanya bisa menulis fiksi. Hari ini, aku menuliskan realitanya sendiri.

​Saat mobil Pak Surya mulai bergerak meninggalkan halaman, aku menoleh ke arah balkon kamar atas. Di sana, bayangan masa kecilku bersama Ayah dan Ibu seolah melambai padaku. Aku telah menjaga rumah mereka. Sekarang, saatnya aku menuntaskan keadilan untuk diriku sendiri.

​"Maya... bersiaplah," gumamku dalam hati. "Karena di dalam naskahku, tidak pernah ada tempat bagi pengkhianat untuk hidup bahagia."

​Sepanjang perjalanan, pikiranku berkecamuk tentang siapa sosok misterius yang terus mengirimiku pesan. Dia tahu terlalu banyak. Dia tahu tentang detail asetku bahkan sebelum aku sendiri menyadarinya. Siapa pun dia, dia telah menyelamatkan hidupku. Namun, di dunia yang penuh sandiwara ini, aku tahu aku tidak boleh percaya pada siapa pun begitu saja.

​Mobil kami berhenti tepat di depan lobi mewah Apartemen Cempaka. Beberapa petugas polisi berpakaian preman sudah terlihat bersiaga di sekitar pintu masuk. Aku turun dari mobil, berdiri tegak di depan gedung tinggi yang menjadi saksi bisu pengkhianatan suamiku.

​Inilah saatnya untuk menutup panggung sandiwara ini sepenuhnya.

1
Anonim
PADAHAL KAU BISA MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS DIAVLO LARAS
kozci
PENASARAN BANGET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!