Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
“Ada urusan?” Arlo mengerutkan alisnya yang tegas.
Zoya menatapnya, mendadak ragu. “Profesor… sebenarnya, saya akan syuting. Mm… saya seorang aktor.” Begitu mengucapkan kalimat itu, jemarinya tanpa sadar menegang pelan di atas cangkir teh.
Setiap kali memperkenalkan pekerjaannya, Zoya selalu merasakan perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ia sedang bersiap menerima penilaian. Ia takut Arlo akan bereaksi seperti ibunya dulu. Menganggap dirinya menyia-nyiakan kemampuan yang ia miliki.
Ibunya pernah berkata dengan kecewa bahwa orang sepertinya seharusnya berada di laboratorium, ruang penelitian, atau setidaknya menjadi akademisi… bukan berdiri di depan kamera dan menjual emosi kepada publik.
Karena itu, setiap kali mengatakan bahwa dirinya seorang aktris, Zoya selalu merasa sedikit tidak percaya diri. Ia takut melihat tatapan kecewa yang sama muncul di mata orang lain.
Alis Arlo semakin berkerut. “Seorang aktor?”
Zoya segera menambahkan, “Iya, awalnya saya hanya seorang influencer makanan. Namun, belakangan ini saya mendapatkan peran dalam sebuah film dengan jadwal yang cukup panjang. Karena harus masuk lokasi syuting, saya mungkin tidak bisa mengikuti kuliah dan menemui Profesor untuk bertanya dalam waktu yang cukup lama.
Tapi saya berjanji akan tetap hadir jika ada waktu luang, dan nilai saya tidak akan menurun. Jika ada tugas, saya akan mengerjakannya di lokasi syuting, asisten saya akan mengantarnya ke kampus. Profesor sendiri sudah melihat kemampuan saya. Jadi, saya harap Profesor bisa menyetujuinya.”
Setelah berbicara, Zoya mendongak menatap Arlo dengan mata yang tampak sedikit basah. Ia sangat takut Arlo akan menasehatinya, sama seperti Dosen Zubaedah dulu.
Berdasarkan pengamatannya selama mengikuti kelas Arlo, Zoya menyadari bahwa pria itu sebenarnya tidak terlalu peduli pada kehidupan pribadi mahasiswanya. Ia tidak pernah mempermasalahkan siapa yang hadir atau tidak masuk kelas. Bagi Arlo, yang terpenting hanyalah hasil akhir dan pemahaman mereka terhadap materi. Menurutnya, setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda.
Selain itu, Arlo memang bukan tipe orang yang pandai berkomunikasi.
Namun, jika ada yang benar-benar datang untuk bertanya soal ilmu pengetahuan, ia akan dengan senang hati menjelaskan dengan sabar… selama tujuannya murni untuk belajar, bukan karena maksud lain.
Karena itu, Zoya cukup yakin Arlo tidak akan mempermasalahkan pekerjaannya sebagai aktris.
Tetapi entah mengapa, melihat ekspresi dingin Arlo yang sulit ditebak tetap membuat hatinya menegang.
Setelah lama terdiam, Arlo akhirnya bertanya,
“Mengapa kamu ingin menjadi seorang aktor?”
Nada suaranya tenang, tanpa nada menghakimi.
Namun pertanyaan itu benar-benar tulus.
Ia memang tidak menyangka.
Dalam pandangan Arlo, Zoya adalah gadis yang sangat cerdas, cepat memahami banyak hal, dan memiliki bakat akademis yang luar biasa.
Jadi mengapa…
ia justru memilih masuk ke dunia hiburan?
Mendengar pertanyaan Arlo, Zoya menjawab pelan,
“Karena aku sangat menyukainya…”
Arlo tetap diam, menunggunya melanjutkan.
Zoya menunduk sebentar sebelum kembali berkata, “Sebenarnya, saya bukan mahasiswa di kelas Profesor. Saya berasal dari kelas Dosen Matematika Zubaidah. Tapi beliau memindahkan saya karena tidak setuju saya ikut syuting.”
Arlo menatap gadis itu tanpa bicara.
Ia memang sudah menduga sejak awal bahwa Zoya bukan mahasiswanya.
Kini, ia mulai memahami alasan Dosen Zubaidah marah.
Zoya adalah tipe murid yang disukai hampir semua pengajar… cerdas, cepat memahami materi, dan benar-benar menikmati proses belajar.
Orang seperti itu biasanya memiliki masa depan akademik yang sangat menjanjikan.
Namun tiba-tiba, ia memilih jalan yang sama sekali berbeda.
Masuk ke dunia hiburan.
Di mata banyak dosen, pilihan itu pasti terlihat seperti menyia-nyiakan bakat dan kemampuan yang dimilikinya.
Arlo, yang semula memiliki kesan baik berkat masakan Zoya, kini mulai merasa seolah setiap suapan yang ia nikmati adalah bentuk sogokan. Namun, saat teringat bahwa Zoya adalah seorang aktris, alisnya tanpa sadar kembali berkerut.
Bukan berarti Arlo merendahkan profesi aktor, tetapi ia sudah terlalu sering mendengar tentang sisi gelap dunia hiburan… berbagai “aturan tak tertulis” yang kerap menyertainya. Membayangkan seorang gadis muda seperti Zoya terjun ke dalam lingkungan yang menurutnya begitu keras dan rumit, Arlo merasa sedikit tidak tenang.
Namun, melihat wajah Zoya yang penuh harapan, ia tidak sanggup mengucapkan penolakan. Arlo hanya menghela nafas pelan, lalu berkata, “Kamu bisa meneleponku.”
Arlo mengeluarkan ponselnya, lalu menyerahkannya kepada Zoya. Ia berkata dengan suara lebih lembut dari biasanya, “Ini nomor WhatsApp pribadiku. Jika ada pertanyaan, hubungi saja aku.”
Zoya memang ingin mendapatkan nomor telepon Arlo, tetapi ia tidak menyangka pria itu akan memberikannya secara sukarela. Ini benar-benar kejutan yang menyenangkan baginya. Sejak saat itu, ekspresinya tampak jauh lebih tulus setiap kali menatap Arlo.
Setelah makan dengan kenyang dan puas, Zoya bahkan menyiapkan porsi cemilan malam untuk Arlo sebelum mengantarnya pulang.
Setelah mengantar Arlo, begitu memasuki rumah, Zoya melompat kecil dengan gembira. Ini benar-benar kabar baik baginya… akhirnya ia mendapatkan nomor Arlo sekaligus izin cuti untuk syuting.
Sambil bersenandung riang, Zoya mulai membereskan rumah.
Setelah selesai, ia kembali mengambil naskahnya. Ia harus segera bersiap untuk syuting besok.
Naskah yang dipegang Zoya berasal dari novel berjudul Balas Dendam, sebuah proyek yang disutradarai oleh sutradara terkenal, Rahengga.
Cerita ini mengisahkan Marlon, seorang polisi yang hidup hanya untuk membalas dendam atas kematian adiknya yang dibunuh oleh seorang pembunuh berantai. Demi mendekati kasus tersebut dan memperkuat posisinya dalam penyelidikan, Marlon akhirnya menikahi Anetha, putri seorang kepala polisi berpengaruh.
Zoya sendiri memerankan Adea, mantan kekasih Marlon sekaligus rekan kerjanya di kepolisian. Meskipun hubungan mereka telah berakhir, Adea masih mencintai Marlon. Ia tetap berdiri di sisinya, membantu penyelidikan dan menghadapi bahaya bersama pria itu, bahkan ketika keadaan semakin rumit dan berbahaya.
Seiring penyelidikan berjalan, mereka menyadari bahwa kasus tersebut jauh lebih besar dari dugaan awal. Dalang di balik semuanya adalah seorang psikopat dengan jaringan dan kekuasaan yang sangat kuat. Namun di sisi lain, posisi Marlon sebagai menantu kepala polisi juga membuat pihak mereka memiliki pengaruh yang tidak kalah besar.
Saat konflik mencapai puncaknya, sang psikopat menculik Anetha. Karena Anetha tidak memiliki kemampuan bertarung, Adea dengan sukarela menawarkan dirinya sebagai pengganti sandera.
Namun, keputusan itu justru membawa cerita menuju akhir yang paling tragis.
Psikopat tersebut ternyata telah memasang bom di tubuhnya sendiri. Ia tahu dengan jelas bahwa wanita yang benar-benar dicintai Marlon bukanlah Anetha, melainkan Adea. Pada akhirnya, Adea terjebak bersama pria gila itu dan meninggal dalam ledakan tersebut.
Sementara itu, Marlon yang akhirnya berhasil membalaskan dendam adiknya justru tidak merasakan kebahagiaan sedikit pun. Yang tersisa hanyalah kehampaan dan penyesalan.
Itulah mengapa Balas Dendam dikenal sebagai cerita dengan akhir yang sangat menyakitkan. Karakter Adea sendiri menjadi salah satu tokoh paling dicintai para pembaca. Ia kuat ketika keadaan memaksanya untuk kuat, tetapi di saat yang sama tetap memiliki hati yang tulus hingga akhir hidupnya.
Zoya menutup naskah itu perlahan sambil menggeleng pelan. Jika ia berada di posisi Adea, untuk apa ia mengorbankan hidupnya demi seorang pria yang dulu meninggalkannya karena obsesinya sendiri?
Namun, ia juga tidak bisa menyangkal bahwa kisah itu memang menyedihkan.
Bukan hanya Adea atau Marlon… bahkan sang psikopat pun memiliki masa lalu yang kelam. Setiap tokoh dalam cerita itu membawa luka mereka masing-masing.
Dan justru karena itulah Balas Dendam begitu dicintai sekaligus dibenci oleh para penggemarnya. Cerita itu menyakitkan, penuh kehilangan, dan membuat orang frustasi… tetapi pada saat yang sama, meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi siapapun yang membacanya.
Keesokan harinya, Zoya resmi masuk ke lokasi syuting.
Aktor yang memerankan Marlon adalah Claeton, seorang ¹aktor kawakan yang kemampuannya sudah diakui. Wajahnya bukanlah tipe “bocah cantik” berkulit putih mulus yang sedang digemari penonton saat ini. Sebaliknya, wajah Claeton dipenuhi garis-garis tegas dengan sorot mata yang dingin dan tajam, membuatnya tampak sulit didekati. Tipe wajah seperti ini biasanya kurang populer di mata penonton umum.
¹“Aktor kawakan” artinya aktor yang sudah sangat berpengalaman dan senior dalam dunia akting.