NovelToon NovelToon
Sistem Saldo Eksekutor

Sistem Saldo Eksekutor

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Thriller / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]

Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.

Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.

Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Gila!

​Angin malam berembus lebih tajam dari biasanya, menusuk hingga ke tulang. Suasana di sekitar kompleks gudang tua itu benar-benar mati.

Lampu jalan yang hanya ada satu-satunya di ujung lorong berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan bayangan panjang yang berdansa di atas aspal retak.

Bau lembap dari beton tua dan aroma sampah yang membusuk memenuhi udara yang dingin.

​Kenzo berjalan dengan langkah santai, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana abu-abunya yang sengaja dibuat agak melorot.

Sebatang rokok terselip di sela bibirnya, asapnya mengepul tipis sebelum hilang disapu angin malam.

Ia baru saja selesai dari tongkrongan, dan kepalanya sedikit pening karena pengaruh nikotin dan tawa keras teman-temannya.

​"Hoaam! Ngantuk banget," gumam Kenzo sambil menguap lebar hingga air mata sedikit keluar di sudut matanya.

​Ia menatap jalanan yang sepi di depannya. Tidak ada satu pun kendaraan yang lewat.

Hanya suara langkah kakinya sendiri yang bergema di antara dinding-dinding gudang yang menjulang tinggi seperti raksasa yang sedang mengawasi.

​"Seharusnya aku ajak cewek buat check-in di hotel tadi. Sial, sia-sia malam Minggu begini kalau cuma pulang tidur," gerutunya pelan. Ia membuang puntung rokoknya ke tanah, lalu menginjaknya dengan kasar. "Tapi siapa ya? Bosan kalau ajak pacarku terus. Lagian dia sudah tidak asik. Aku lagi ingin cari yang masih perawan... Mungkin si anak kelas satu yang kemarin aku lihat di kantin?"

​Kenzo tersenyum mesum membayangkan rencananya minggu depan. Kekuasaan ayahnya sebagai donatur sekolah membuatnya merasa seperti raja.

Baginya, siswi-siswi di sekolah hanyalah koleksi yang bisa ia pilih sesuka hati. Siapa yang berani melapor? Siapa yang berani melawan?

​Tiba-tiba, bulu kuduk Kenzo berdiri.

​Langkah kakinya melambat. Perasaan tidak enak mulai merayap di punggungnya.

Ia merasa seolah ada sepasang mata yang menatap tajam ke arah tengkuknya dari kegelapan di belakang.

Kenzo berhenti total. Ia memutar tubuhnya perlahan, menyapu pandangan ke arah lorong gelap yang baru saja ia lewati.

​Kosong. Hanya ada bayangan tong sampah besar dan tumpukan palet kayu.

​"Cuma perasaan saja mungkin," bisik Kenzo menenangkan dirinya sendiri. Jantungnya mulai berdegup sedikit lebih kencang. Ia mempercepat langkah kakinya, ingin segera keluar dari area remang-remang itu.

​Namun, baru saja ia melangkah tiga kali, sebuah suara gesekan logam terdengar dari balik bayangan sebuah kontainer tua.

​Sreeeeeet...

​Kenzo membeku. "Siapa itu?! Woi! Jangan main-main ya! Keluar kau!" teriaknya dengan suara yang dipaksakan keras untuk menutupi rasa takutnya yang mulai membuncah.

​Tidak ada jawaban. Sunyi kembali menyelimuti.

​Tepat saat Kenzo berbalik untuk lari, sebuah bayangan hitam melesat dari kegelapan mutlak di sampingnya. Begitu cepat, begitu sunyi.

​BUGHHH!

​Sebuah hantaman keras mendarat tepat di bahu kiri Kenzo. Rasa sakit yang luar biasa, seolah-olah tulangnya remuk seketika, membuat Kenzo terjatuh menghantam aspal.

​"ARRGGHHH!" Kenzo mengerang kesakitan. Ia berguling di tanah, memegang bahunya yang langsung terasa lumpuh.

​Di depannya, berdiri seorang sosok misterius. Sosok itu memakai jaket hoodie hitam yang tudungnya ditarik rendah, menutupi seluruh dahi dan matanya.

Sebuah masker kain hitam menutup hidung hingga dagu. Di tangan kanannya, sosok itu menggenggam sebuah tongkat besi panjang yang berkilat terkena cahaya lampu jalan yang redup.

​"Siapa kau?! Mau apa kau?! Uang? Ambil saja dompetku!" teriak Kenzo panik. Suaranya pecah menjadi lengkingan ketakutan.

​Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju dengan tenang, menyeret ujung tongkat besinya di atas aspal, menciptakan suara gesekan logam yang memekakkan telinga. Sreeet... sreeet...

​Ketakutan Kenzo berubah menjadi insting bertahan hidup. Saat sosok itu mengayunkan tongkatnya kembali untuk menghantam kepala Kenzo, Kenzo secara refleks menendang kaki sosok itu dan berguling ke samping.

​Tongkat besi itu menghantam aspal dengan suara dentuman keras yang memercikkan bunga api.

​"Sialan!" Kenzo bangkit dengan sisa tenaganya. Adrenalin memompa jantungnya hingga terasa mau meledak. Ia menyerang balik dengan melayangkan pukulan mentah ke arah wajah sosok itu.

​Sosok bermasker itu dengan gesit memiringkan kepalanya, membuat tinju Kenzo hanya mengenai udara kosong. Dengan satu gerakan terukur, sosok itu menghantamkan sikutnya ke perut Kenzo.

​UAKKK!

​Kenzo terbatuk darah, tubuhnya membungkuk menahan perih yang luar biasa di ulu hatinya. Ia terengah-engah, matanya melotot menatap sosok di depannya.

Lewat celah tudung jaket itu, Kenzo bisa melihat sepasang mata yang sangat dingin. Mata itu tidak memiliki rasa kasihan, tidak memiliki kemarahan yang meluap hanya kekosongan yang mematikan.

Seperti mata seorang tukang jagal yang menatap hewan ternak.

​"Kau... siapa sebenarnya?!" Kenzo mencoba mundur, merangkak dengan tangan dan kakinya yang gemetar.

​Sosok itu akhirnya bersuara, namun suaranya sangat rendah dan berat, hampir seperti bisikan dari liang lahat. "Ini untuk Rio... dan untuk semua yang hidupnya kau hancurkan hanya karena kau merasa punya uang."

​Mata Kenzo membelalak. "Rio? Si sampah itu?! Kau temannya? Kau mau membelanya?! Kau tahu siapa ayahku—"

​PLAK!

​Ujung tongkat besi itu menghantam rahang Kenzo sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Suara retakan tulang terdengar sangat jelas di kesunyian malam itu.

Kenzo terpental, wajahnya menghantam dinding bata gudang. Giginya copot dan darah segar mengucur deras dari mulutnya.

​Kenzo tidak bisa lagi berteriak. Ia hanya bisa mengerang, mencoba mengatur napasnya yang mulai sesak karena darah masuk ke tenggorokannya.

Ia menatap ke atas, ke arah sosok yang kini berdiri tepat di depannya, menutupi satu-satunya sumber cahaya.

​Kegelapan yang dibawa sosok itu terasa mencekik. Kenzo menyadari satu hal: orang di depannya ini tidak sedang merampoknya. Orang ini datang untuk menghabisinya.

​"T-tolong..." rintih Kenzo dengan suara parau dan air mata yang mengalir deras, membasahi wajahnya yang sudah hancur. "Aku janji... aku akan beri apa pun... tolong jangan..."

​Sosok itu mengangkat tongkat besinya tinggi-tinggi ke udara. Bayangannya jatuh menutupi tubuh Kenzo yang gemetar hebat di atas aspal.

​"Uangmu tidak bisa membeli nyawamu di sini, Kenzo," desis sosok itu.

​Di lorong yang sunyi dan gelap itu, hanya ada satu suara yang terdengar sesaat kemudian: suara hantaman logam berat yang menghujam daging dan tulang berulang kali, diikuti oleh kesunyian yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

1
Maul
duit duit duit 🤑💸💵💴💶💰💳
Aisha Miftah khaira
suhu🥶
Maul: /Frown//Grievance/
total 1 replies
Maul
Bunuh/Speechless/
Maul
pantau dulu
Maul
( ̄へ  ̄ 凸
Äï
loh kok 70? bkn nya hadiahnya 50?
Maul: kan di Bab 7 ada tambahan bonus 50 juta lagi kak. di pakai 30, Sisanya 70🙏🙏 terima kasih koreksinya🙏🙏🙏
total 1 replies
BaekTae Byun
bukannya udh di cash in trs 20 jt kasih rio ya
Maul: Hehe, Udah di revisi. terima kasih sudah membantu👍🙏/Smile/
total 1 replies
Maul
Karya pertama ☝
Maul
duidddddd 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!