NovelToon NovelToon
Simpul Mati Amora Gayana

Simpul Mati Amora Gayana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"

Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.

Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.

Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Keadilan Bagi Sang Mawar

Setelah badai fitnah mereda, Hamdan tidak membiarkan satu detik pun berlalu tanpa mengukuhkan posisi Amora. Pagi itu, Mansion Tarkan tidak lagi terasa mencekam. Sinar matahari masuk melalui jendela-jendela besar, menyinari aula yang kini bersih dari bayang-bayang kebohongan.

Hamdan mengumpulkan dewan direksi Tarkan Group dan pengacara keluarga Klan di ruang pertemuan utama. Di hadapan Amora dan Saphira, Hamdan meletakkan sebuah map hitam tebal di atas meja.

"Selama tujuh belas tahun, keluarga Tarkan mengelola aset Klan karena tidak ada pewaris yang sah. Namun hari ini, di hadapan hukum dan saksi, aku mengembalikan segalanya kepada pemilik aslinya," ucap Hamdan dengan nada dewasa dan berwibawa.

Ia menyodorkan dokumen pengalihan aset. Amora kini resmi menjadi pemilik tunggal dari lahan-lahan strategis dan perusahaan investasi peninggalan ayahnya. Amora tercengang, tangannya gemetar.

"Abang... ini terlalu banyak," bisik Amora.

"Ini bukan pemberian, Amora. Ini adalah hakmu yang selama ini memang milikmu. Aku hanya bertugas menjaganya sampai kau siap," jawab Hamdan sambil menggenggam tangan Amora, memberikan kekuatan.

Sore harinya, Hamdan membawa Amora dan Saphira ke sebuah pemakaman eksklusif di perbukitan yang asri. Di sana, sebuah nisan marmer putih bertuliskan nama Baron Alaric Klan berdiri megah, dikelilingi bunga mawar segar yang nampaknya selalu dirawat secara rutin.

"Kau pernah bilang, ayahku hidup?"

"Awalnya aku berpikir demikian, tapi ternyata memang ini asli makan ayahmu."

"Kau selalu merawat tempat ini?" tanya Amora sambil mengusap nisan ayahnya.

"Setiap bulan, sejak aku mengetahuinya. Aku berusaha untuk melakukannya ketika memiliki waktu luang," jawab Hamdan. Ia berdiri sedikit menjauh, memberikan ruang bagi Amora dan Saphira untuk melepaskan rindu pada sosok kepala keluarga mereka yang telah tiada.

Melihat Amora yang kini berdiri tegak sebagai wanita bangsawan yang agung, Hamdan merasakan kepuasan yang tak ternilai. Ia telah menunaikan tugasnya sebagai pelindung.

Saat mereka hendak meninggalkan pemakaman, sebuah mobil hitam berhenti di kejauhan. Farr Burhan turun. Namun, kali ini tidak ada seringai provokatif di wajahnya. Ia mendekat dengan langkah pelan dan membungkuk hormat pada Hamdan, lalu pada Amora.

"Aku datang untuk meminta maaf secara terhormat," ucap Farr. "Aku mengakui kekalahanku. Kau bukan sekadar pelindungnya, Hamdan... kau adalah detak jantungnya. Amora, selamat atas kembalinya namamu. Aku akan mundur sebagai pesaing, namun aku tetap di sini sebagai mitra bisnis jika kau membutuhkannya."

Hamdan menjabat tangan Farr secara jantan. "Terima kasih, Farr. Selama kau menjaga batasanmu, Tarkan dan Klan akan selalu terbuka untuk kerjasama."

"Ya," Farr mengangguk.

------------

Malam itu, Mansion Tarkan terasa berbeda. Tak ada lagi langkah kaki pengawal yang tergesa atau bisik-bisik pelayan yang penuh ketakutan. Hamdan berdiri di balkon kamarnya, menatap hamparan lampu kota dari kejauhan, sampai ia merasakan kehadiran Amora di ambang pintu.

Gadis itu sudah mengganti gaun mewahnya dengan pakaian yang lebih santai, namun kalung mawar pemberian Hamdan tetap melingkar indah di lehernya. Amora berjalan mendekat, berdiri di samping Hamdan, membiarkan angin malam menyapu wajah mereka berdua.

"Setelah semua yang terjadi," Amora membuka suara, nadanya lembut namun penuh perenungan, "apakah kau tidak lelah terus-menerus menjadi perisai untukku?"

Hamdan menoleh, menatap Amora dengan binar mata yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Ia menarik napas panjang, lalu menyentuh tangan Amora yang bersandar di pagar balkon. "Menjadi perisaimu adalah satu-satunya tugas yang membuatku merasa benar-benar hidup, Amora. Selama tujuh belas tahun aku mengejar angka dan kekuasaan hanya untuk memastikan bahwa saat aku menemukanmu kembali, aku punya cukup kekuatan untuk menjagamu."

Hamdan merogoh saku kemejanya, menyentuh sebuah benda kecil yang selama ini tak pernah jauh dari tubuhnya, namun ia menahan diri untuk tidak menunjukkannya sekarang. Ia ingin menyimpannya untuk momen yang lebih tepat—di atas samudera nanti.

"Besok kita berangkat," lanjut Hamdan. "Aku ingin kau melupakan sejenak tentang Tarkan Group, tentang skandal, dan tentang semua orang yang mencoba menjatuhkan kita. Di atas kapal itu nanti, hanya akan ada 'Abang' dan Amora. Sama seperti saat kita masih kecil dulu."

Amora tersenyum, kali ini senyumnya sampai ke mata. Ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Hamdan, menghirup aroma maskulin yang kini tak lagi terasa mengintimidasi, melainkan memberikan rasa aman. Di bawah cahaya bulan yang pucat, mereka berdua berbagi keheningan yang nyaman—sebuah kedamaian yang telah lama hilang dari hidup mereka.

"Apakah itu teralalu mewah?"

"Tidak, itu sangat pantas untukmu."

"Mengapa kamu ingin berlibur di samudra?"

"Aku ingin berduaan denganmu."

Sementara itu, di bagian lain tempat mansion, Farid sedang sibuk memastikan logistik untuk pelayaran besok. Sebuah kapal pesiar mewah bernama The Aurora sudah bersandar di dermaga pribadi, siap membawa mereka menjauh dari hiruk-pikuk dunia menuju cakrawala yang baru.

Di dalam kesunyian malam yang mulai melarut, Hamdan membimbing Amora menuju sebuah ruangan rahasia di sayap barat mansion yang selama ini selalu terkunci rapat. Itu bukan ruang bawah tanah yang lembap, melainkan sebuah perpustakaan pribadi yang dipenuhi dengan arsip-arsip tua milik keluarga Tarkan dan Klan.

Di tengah ruangan, di bawah lampu gantung kuno yang berpijar keemasan, terletak sebuah brankas baja kecil. Hamdan membukanya dengan kombinasi angka yang sudah ia hafal di luar kepala.

"Ada satu hal lagi yang harus kuselesaikan sebelum kita meninggalkan daratan besok," ucap Hamdan. Ia mengeluarkan tumpukan dokumen yang nampak sudah menguning—catatan asli tentang konspirasi pengalihan aset yang selama ini ia gunakan untuk menekan ibunya, Layla Tarkan.

Amora melihat Hamdan menyulut sebuah pemantik api. Tanpa ragu, Hamdan membakar dokumen-dokumen itu di dalam sebuah wadah kuningan. Api melahap bukti-bukti kejahatan masa lalu itu dengan cepat, menciptakan bayangan yang menari-nari di wajah tegas Hamdan.

"Kenapa kau membakarnya? Bukankah itu senjatamu untuk melawan Ibu?" tanya Amora terkejut.

Hamdan menatap api yang perlahan padam menjadi abu. "Aku tidak ingin membangun masa depan kita di atas reruntuhan dendam terhadap ibuku sendiri. Dia sudah kehilangan kekuasaannya, Amora. Dan bagiku, memilikimu kembali jauh lebih berharga daripada melihatnya di balik jeruji besi. Aku ingin kita berangkat besok dengan hati yang bersih."

Amora tertegun melihat kedewasaan pria di depannya. Hamdan tidak hanya melindungi fisiknya, tapi juga sedang menyembuhkan jiwanya dari rasa benci yang selama ini menggerogoti.

"Terima kasih, Abang," bisik Amora. Ia menggenggam tangan Hamdan yang masih terasa hangat karena suhu api tadi.

Hamdan menatap Amora dengan penuh kasih, lalu mengecup keningnya dengan sangat lama. "Tidurlah. Besok pagi, saat kau bangun, kau tidak akan lagi mencium bau debu mansion ini. Kita akan berada di tengah laut, di mana hanya ada suara ombak dan rahasia terakhir yang ingin kubagikan padamu."

To be continued...

1
Wawan
Salam kenal buat Amora 😍
Yu
Semangat!
Yu
Luarbiasa
Rabi Salim
Semangat author nulisnya!!!!
Iki Riat
Lanjut kak. Semangat nulisnya!!
Tisa
Asyiknya... 🤩🤩
Naura
Hamdan 😍
Andy Rajasa
kelanjutannya mana?
Salma.Z: ditunggu aja kak
total 1 replies
Guntur
Cinta yang posesif
Reni
Semangat kak!! lanjutkan ceritanya...
Nayla
Berdebar-debar saat membaca. Cerita yang menggebu-gebu.
Hana Unil
Next...lanjut
Hana Unil
Hmmm...
Hana Unil
Lanjut kak..lanjut🙏
Rara Lani
Ceritanya bagus hanya saja masih sedikit peminatnya. Tetap semangat author. Lanjutkan!
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Sari
Semangat!! Lanjutkan!
Ika Yani
Cinta yang dramatis...
Cantika
Alurnya bikin gemes🤭
Andy Rajasa
Amora dan Hamdan punya chemistry yang bisa buat diriku meleleh 😍
udin sini
Cintanya mewah, tapi lukanya lebih mahal. Semoga saja happy ending.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!