NovelToon NovelToon
Balas Dendam Pengantin Pengganti

Balas Dendam Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Penyesalan Suami / Putri asli/palsu / Balas dendam pengganti / Chicklit
Popularitas:53k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.

Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.

“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”

Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.

Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Keesokan paginya, aroma masakan memenuhi dapur villa.

Yura bergerak cekatan menyiapkan sarapan, gerakannya tenang, terlatih, seolah pagi seperti ini adalah rutinitas yang tak pernah berubah. Dari ruang makan, Sky duduk diam, sesekali melirik ke arahnya. Tatapannya tidak terang-terangan, namun cukup lama untuk disadari.

Shasmita memperhatikan itu dengan sudut mata, tapi memilih diam. Tak lama kemudian, suara langkah cepat terdengar, disusul suara ceria yang memecah keheningan.

“Kak Shasmita!”

Sheli muncul di ambang pintu, wajahnya tampak lelah namun tetap berusaha tersenyum.

“Kak Arga tidak pulang sejak semalam,” katanya sambil melepas tas.

“Kata sekretarisnya, dia lembur di kantor. Katanya ada masalah besar.”

Sheli menghela napas. “Waktu aku kembali ke rumah utama, suasananya sepi. Jadi aku ke sini.”

Ia menoleh ke meja makan. “Aku mau sarapan bareng.”

“Tentu,” jawab Yura lembut. “Silakan duduk.”

Sheli duduk dan bergabung bersama Shasmita dan Sky. Sarapan dimulai dengan suasana canggung yang dibungkus sopan.

“Ngomong-ngomong,” Sheli menoleh ke Shasmita dengan mata berbinar.

“Agenda Kak Shasmita hari ini kosong tidak? Kalau iya, aku mau ajak kakak keluar.”

Shasmita tersenyum ramah, namun senyum itu disertai penyesalan.

“Hari ini sepertinya tidak bisa, Sheli. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan.”

Sheli tampak kecewa, lalu melirik Sky penuh harap.

“Kalau Kak Sky?”

Sky mengangkat kepalanya, suaranya tenang. “Aku ada janji dengan beberapa klien.”

Sebelum Sheli sempat membuka mulut lagi, Yura menyela dengan halus,

“Aku juga hari ini akan ke rumah sakit. Menengok kondisi Ayah.”

Wajah Sheli langsung berubah murung. Ia menatap Yura sesaat, lalu tersenyum kecil.

“Oh … begitu.”

Ia mengangguk pelan. “Tidak apa-apa.”

Sarapan kembali berlanjut, namun kini terasa lebih sunyi.

Setelah sarapan berakhir, satu per satu penghuni villa meninggalkan tempat itu. Sheli kembali ke kampus dengan wajah sedikit murung, sementara Shasmita dan Sky berangkat lebih dulu dengan agenda masing-masing. Villa yang semula ramai perlahan kembali sunyi, menyisakan Yura seorang diri di ruang makan.

Awalnya, Yura sudah bersiap pergi ke rumah sakit. Tas kecil telah ia siapkan, mantel tipis sudah ia kenakan. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, yaitu ayahnya. Namun, langkahnya terhenti ketika ponsel di genggamannya bergetar. Nama Mario muncul di layar.

Kabar yang disampaikan pria itu membuat Yura terpaku beberapa detik.

"Ayahnya akan dipindahkan." Gumam Yura, kemudian.

Bukan sekadar dipindahkan ke ruang lain, melainkan ke tempat yang jauh lebih aman, rumah sakit yang tidak berada dalam kendali keluarga Pradipta. Akses pengobatan akan lebih mudah, tekanan akan berkurang, dan yang paling penting proses pencarian donor ginjal bisa dilakukan tanpa ancaman apa pun.

Sudut matanya memanas, namun kali ini bukan karena sakit atau ketakutan, melainkan lega. Semua rencana yang selama ini ia susun dengan hati-hati, setiap kepura-puraan, setiap penghinaan yang ia telan, akhirnya menunjukkan hasil.

“Ayah akan segera baik-baik saja…” gumamnya lirih.

Ia menyandarkan punggung ke sofa, menutup mata sejenak. Bayangan masa depan yang lebih tenang melintas di benaknya. Ia tak lagi harus terus hidup dalam tekanan keluarga Pradipta. Tak lagi harus menunduk setiap kali Arga mengontrol hidupnya dengan uang dan ancaman. Perlahan, jerat itu mulai mengendur.

Setelah panggilan berakhir, Yura menghela napas panjang dan berdiri. Ia membenahi pakaiannya, merapikan rambut, lalu mengambil tasnya. Meski hatinya ingin langsung menyusul ayahnya, ia tahu pemindahan itu harus berjalan tanpa gangguan.

Villa itu tidak jauh dari rumah utama Pradipta hanya halamannya yang luas. Dengan langkah tenang, Yura melangkah keluar, menyimpan senyum tipis yang hanya ia sendiri tahu maknanya.

Mario meletakkan ponselnya perlahan di atas meja kaca. Bunyi ketukan kecil itu memecah keheningan ruangan yang sejak tadi terasa tegang.

Di hadapannya, Sky duduk bersandar di sofa dengan raut serius, sementara Shasmita berdiri di dekat jendela, menatap keluar dengan ekspresi dingin namun terkontrol.

“Segera urus pemindahan ayah Yura,” ucap Sky akhirnya, suaranya tenang tapi mengandung perintah yang tak bisa ditawar. “Semua jalur sudah aku bersihkan. Rumah sakit baru siap menerima hari ini juga.”

Mario mengangguk mantap. “Tim medis sudah siaga.”

“Aku juga sudah menyiapkan pendonor yang benar-benar bersih dan cocok,” lanjut Sky. “Tidak ada keterkaitan dengan keluarga Pradipta. Identitasnya aman.”

Shasmita berbalik dari jendela. Tatapannya tajam, namun di baliknya ada kepedulian yang dalam.

“Satu hal lagi,” katanya pelan tapi tegas. “Ayah Yura sudah bebas dengan jaminan. Status tahanannya dicabut. Secara hukum, dia bukan milik siapa pun sekarang.”

Mario sedikit terkejut, lalu menunduk hormat. “Baik, Nona Shasmita.”

Ia terdiam sejenak sebelum berbicara lagi, nadanya berubah lebih lembut.

“Nona muda … sudah terlalu lama menahan diri.”

Sky dan Shasmita sama-sama terdiam, membiarkan Mario melanjutkan.

“Berjuang dari nol bukan hal yang mudah,” kata Mario lirih.

“Membangun semuanya tanpa perlindungan, sambil terus ditekan dari berbagai arah … itu sebabnya Nona muda selalu berhati-hati. Tidak pernah gegabah. Tidak pernah mengambil langkah yang belum benar-benar aman.”

Mario mengepalkan tangannya.

“Karena selama ini, rumah sakit, status tahanan, bahkan hidupnya … masih sepenuhnya berada dalam kendali Tuan Arga.”

Ruangan kembali sunyi.

Sky mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras. Ia baru benar-benar menyadari satu hal, betapa kejam posisi Yura selama ini. Terikat kontrak, terjebak peran, dan dipaksa bertahan demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Shasmita menarik napas dalam.

“Mulai hari ini,” ucapnya pelan, “kendali itu kita ambil kembali. Sedikit demi sedikit.”

Mario mengangguk mantap.

“Pemindahan akan dilakukan tanpa jejak. Setelah ini … Nona muda tidak akan lagi berdiri sendirian.”

Sore itu langit tampak muram, seolah ikut memantulkan suasana hati Arga yang baru saja kembali dari perusahaan. Tubuhnya lelah setelah semalaman lembur, namun amarah di dadanya justru semakin mengeras begitu mobilnya berhenti di halaman rumah utama keluarga Pradipta.

Belum sempat Arga duduk tenang, sekretarisnya menyusul dengan wajah tegang.

“Tuan Arga,” ucapnya hati-hati, “ayah Nona Yura telah dipindahkan ke rumah sakit lain.”

Arga mengangkat kepala, sorot matanya langsung berubah tajam.

“Dipindahkan?”

“Iya, Tuan. Bukan hanya itu … status tahanannya juga sudah dibebaskan dengan jaminan. Ada pihak yang jelas membantu, tapi—” sekretaris itu menelan ludah, “kami tidak bisa melacak keberadaannya. Semua akses ditutup rapi.”

Kata-kata itu seperti menyulut api yang selama ini ditahan Arga. Tangannya mengepal keras.

“Keluar,” perintahnya dingin.

Begitu sekretaris itu pergi, Arga berdiri dan langsung melangkah menuju tangga dengan langkah tergesa. Kepalanya hanya dipenuhi satu nama, Yura. Ia tahu wanita itu ada di rumah utama. Dan yang lebih penting, ia tahu Shasmita tidak ada.

Dalam benaknya, Arga merasa memiliki ruang untuk melakukan apa saja.

Langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamar Yura. Tanpa mengetuk, tanpa ragu, Arga mendorong pintu itu hingga terbuka dengan kasar.

Brak!

Yura yang baru saja selesai membereskan kamar tersentak kaget. Ia menoleh dengan wajah pucat, napasnya tercekat begitu melihat Arga berdiri di ambang pintu dengan sorot mata penuh amarah.

“Tu—Tuan Arga?” ucapnya refleks.

Namun, Arga tak memberinya kesempatan berbicara. Dengan gerakan kasar, ia melemparkan setumpuk berkas dari tangannya ke arah lantai kamar. Kertas-kertas itu berhamburan, beberapa bahkan nyaris mengenai kaki Yura.

“Jelaskan ini!” bentaknya.

Yura menunduk, matanya langsung tertuju pada berkas-berkas itu. Ia mengenali cap rumah sakit, dokumen pemindahan, serta surat pembebasan dengan jaminan. Jantungnya berdegup kencang.

“Tuan, saya—”

“Kamu berani!” potong Arga dengan suara menggelegar. “Berani meminta tolong pada orang lain selain aku?!”

Yura terdiam, tangannya gemetar di sisi tubuhnya. Ia tahu, apa pun jawabannya saat ini tak akan meredakan amarah pria itu.

“Selama ini aku yang mengurus ayahmu!” lanjut Arga dengan nada penuh caci. “Aku yang menahan dokter, aku yang membayar semua biaya, aku yang menjaga dia tetap hidup! Dan sekarang kamu diam-diam keluar dari kendaliku?!”

Langkah Arga semakin mendekat. Tekanan kehadirannya membuat Yura refleks mundur satu langkah, hingga punggungnya nyaris menyentuh meja rias.

“Apa kamu pikir kamu bisa bebas begitu saja?” Arga tertawa pendek, sinis. “Tanpa seizinku?”

“Tuan Arga … ayah saya hanya ingin sembuh,” suara Yura bergetar, berusaha tetap tenang. “Saya tidak melakukan ini untuk melawan Anda.”

Kalimat itu justru membuat Arga semakin murka. Dengan satu gerakan cepat, tangannya mencengkeram dagu Yura kuat-kuat, memaksa wajah wanita itu mendongak menatapnya. Rasa sakit menjalar, membuat mata Yura berkaca-kaca.

“Kamu tidak punya hak memilih,” desis Arga tajam.

“Hidup ayahmu, hidupmu ... semuanya masih milikku selama kontrak itu belum berakhir.”

"Apa aku belum memuaskanmu selama kau tinggal di sini hingga kau mencari kepuasan di luar sana?!" teriaknya lagi.

Air mata Yura akhirnya jatuh, namun ia menahannya untuk tidak terisak. Tatapannya bertemu dengan mata Arga, bukan dengan ketakutan semata, melainkan dengan luka yang selama ini ia pendam dalam diam.

Arga menekan tubuh Yura ke atas ranjang dengan napas memburu, amarahnya bercampur hinaan yang keluar tanpa kendali. Kata-katanya menusuk lebih kejam daripada cengkeramannya.

Yura menggeliat, berusaha melepaskan diri. Ranjang itu berderit pelan di bawah tubuh mereka. Ketakutan menyergap dadanya, namun ia memaksa diri tetap sadar, untuk tetap hidup.

'Arga sialan … jangan sampai dia melangkah lebih jauh. Aku tak bisa melawan, aku harus bertahan…' Batin Yura meronta untuk berusaha melawan Arga.

“Tuan Arga, lepaskan aku,” suaranya bergetar, bukan memohon, lebih seperti peringatan yang tertahan. Kedua tangannya menekan dada Arga, kukunya mencengkeram kain kemeja pria itu.

“Ini tidak akan mengubah apa pun.”

“Diam!” Arga mendesis, tatapannya gelap. “Kamu pikir bisa mempermainkanku?”

Yura menggeleng keras, menolak. Ia menendang, meronta, memutar bahu, mencari celah sekecil apa pun. Setiap detik terasa menyesakkan.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan di pintu memecah ruangan seperti petir. Arga membeku sekejap. Napasnya tertahan. Yura memanfaatkan jeda itu untuk menarik lututnya, jarak tipis tercipta di antara mereka.

“Tuan, seseorang datang mencari Anda," itu suara pelayan rumah utama.

Arga menoleh ke arah pintu, rahangnya mengeras. Yura memejamkan akhirnya dia bisa lolos dari cengkraman pria itu.

1
Asyatun 1
lanjut
merry
cept tes hans,, klo cocok depak putri palsu itu umuknn siapa adikmu mky putri Arga gk brni ngusik yura lgg,, untuk Arga mngkin bulan nyesel tau yura ank konglomerat bangsawan dan org yg dh Nolongin dia 😄😄😄 putri gk bs berkutik klo seluruh ngeri tau yura adalh adik mu hans
Gadis misterius
Pertama yg harus disingkirkan dan ditengalamkan putri hans arga urusan blekangan krn putri membully yura dr zaman dia sekolah
Hanifah 76
apa kabar ka baru up lagi?sehat selalu
Arieee
semoga test dna positif Yura si putri yang hilang🤧🤧🤧🤧
Allea
semoga yura ga cepat2 memaafkan si hans
ken darsihk
Nggak sabar menunggu tnggl 10 , dan hasil tes DNA Yura & keluarga Wijaya
iqha_24
semoga positif, Yura Adik Hans
Eva Karmita
bukan kebahagiaan yang akan kamu dapatkan Arga tapi sebuah kehancuran, kebenaran yang sesungguhnya 🔥💪🥰
Oma Gavin
seharusnya kalau test DNA ini bener putri wajib didepak dari keluarga wijaya secara dia anak panti songong banget ngga cocok jadi keluarga wijaya
Naufal hanifah
ceritanya bagus
Aidil Kenzie Zie
peringatan untuk menjauhi Hans paling yang dimaksud Sky
merry
klo niat baik gpp klo niat buruk siap de demo ibu ibu kmu sky😄😄😄
Aisyah Alfatih: belum bisa double ini 😁 padahal pengen tak double terus biar tamat ... mungkin besok ya ...
total 1 replies
Ma Em
Alhamdulillah akhirnya Yura bebas dari jerat Arga , semoga Yura selalu bahagia setelah lepas dari Arga pasti Arga akan menyesal karena sdh menyia nyiakan Yura .
Eva Karmita
lanjut... pengen tau bagaimana Arga Tampa Yura disisinya, apa hidupnya akan bahagia atau sebaliknya jungkir balik ngk karuan .
Yulia Dhanty
menarik
ken darsihk
Setelah ini Arga akan menyesal parah , setelah dia tau siapa yng menolong dia sebenar nya
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂
Hanifah 76
bagus ceritanya ka semangat
Gadis misterius
Yura akan menghindari sky krn yura tau adeknya arga ada rasa ke sky...jngn kuatir ksu sky yura tdak akan menggangu hubungan hans dan adekmu yura itu anti laki2 sebelum blas dendamnya terblaskan
Sunaryati
Dengan membuang Yura berarti kau menyia- nyiakan perempuan yang pernah berjasa padamu, apalgi 4,5 tahun kau siksa fisik dan mentalnya dengan menyandra, setelah kau tahu, tapi keadaan kamu telah hancur. Kau tidak mendapatkan Yura atau tunangan kamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!