NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Lingkaran sihir itu berdenyut pelan.

Rune merah gelap berputar lambat, seperti rantai waktu yang enggan bergerak maju. Udara di sekitarnya terasa berat, menekan dada, membuat napas menjadi lebih pendek.

Namun Yun Ma tetap melangkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Hui berdiri kaku di belakangnya. Ekornya bergerak tidak teratur, cabang pertama tegang, cabang kedua gemetar.

“Krr…”

Serigala malam itu menggeram rendah. Bayangan di sekitarnya menggeliat, seolah bersiap menerkam apa pun yang menyentuh Yun Ma.

“Jangan,” kata Yun Ma pelan.

Ia tidak menoleh.

Ia tidak mengangkat suara.

Namun kedua makhluk itu… berhenti.

Shen Yu terdiam.

Bukan karena tidak mampu berbicara.

Melainkan karena ia tahu ini bukan wilayahnya lagi.

Pria itu mengangkat kepalanya saat Yun Ma berhenti tepat di depan penjara sihir.

Rantai hitam berderit pelan, bergerak mengikuti napasnya.

Ia menatap Yun Ma dari balik cahaya rune, sorot matanya dingin, penuh kewaspadaan, dan… letih.

“Kau terlalu dekat,” kata pria itu lirih, suaranya kasar, seperti lama tidak digunakan.

Yun Ma mengangguk kecil. “Aku tahu.”

“Jika kau melangkah satu inci lagi,” lanjutnya, “aku bisa membunuhmu begitu kau membuka penghalang ini.”

Yun Ma menatapnya lurus, tidak gentar, tidak menantang. “Aku tahu itu juga.”

Hui mendesis. “Krrrss—”

Namun Yun Ma mengangkat tangan, menghentikannya.

Ia berjongkok, menatap rantai yang melilit tubuh pria itu. Tangannya tidak menyentuh rune, hanya berhenti beberapa jari dari permukaannya.

“Siapa yang melakukan ini padamu?” tanya Yun Ma.

Pria itu tertawa pelan kering, tanpa humor. “Banyak.”

Yun Ma mengangguk. “Lalu… siapa yang seharusnya kau bunuh?”

Tatapan pria itu menajam.

Untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata, ada sesuatu selain kelelahan di wajahnya.

“Dunia,” jawabnya jujur.

Shen Yu akhirnya berbicara, suaranya rendah.

“Jika kau membebaskannya, keseimbangan akan bergeser.”

Yun Ma tidak menoleh. “Dunia tidak seimbang sejak awal.”

Hui menatapnya dengan mata membulat.

“Krr…?”

Yun Ma tersenyum kecil. “Aku tidak menyelamatkannya.”

Ia menatap pria itu.

“Aku hanya… tidak ingin menjadi orang yang mengikatmu.”

Hening.

Rantai bergetar pelan.

Pria itu menatap Yun Ma lama terlalu lama seolah mencoba mencari kebohongan di wajahnya.

Namun yang ia temukan hanyalah kelelahan yang sama.

Dan sesuatu yang asing.

Keikhlasan tanpa tuntutan.

“Jika kau membebaskanku,” katanya pelan, “aku tidak akan berutang apa pun padamu.”

Yun Ma mengangguk. “Aku tidak meminta apa pun.”

“Termasuk kesetiaan.”

“Termasuk itu.”

“Termasuk hidupmu.”

Yun Ma tersenyum tipis. “Hidupku bukan milikmu.”

Shen Yu menutup matanya sesaat.

Api Sunyi berdenyut bukan menahan, bukan mendorong.

Mengakui.

Yun Ma mengulurkan tangan.

Ia tidak menyentuh rune.

Ia menyentuh celah.

Sesuatu yang tidak kasatmata, tidak tercatat dalam sihir ruang kecil di mana kehendak bebas masih diizinkan bernapas.

Dan ia menariknya.

Rune bergetar hebat.

Hui berteriak.

“KRRR—!”

Serigala malam itu melangkah maju, bayangan mengamuk, tanah retak.

Rantai hitam berderak, simbolnya memudar satu per satu.

Pria itu menegang.

“Berhenti—!”

Namun Yun Ma tidak berhenti.

Bukan karena keras kepala.

Melainkan karena… ia sudah memutuskan.

Dengan bunyi retak yang nyaris tak terdengar—

Penjara itu runtuh.

Rune memudar seperti abu.

Rantai hitam jatuh ke tanah dan berubah menjadi debu kelam.

Pria itu terjatuh berlutut, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar karena kebebasan yang terlalu lama tidak ia miliki.

Dalam sepersekian detik Ia bergerak, terlalu cepat untuk mata manusia.

Tangannya terangkat, energi gelap berputar, cukup untuk merobek jiwa.

Hui melompat.

Serigala malam mengaum.

Namun Yun Ma… tidak bergerak.

Ia hanya menatap.

Mata bertemu mata.

Dan pria itu membeku.

Tangannya berhenti hanya beberapa inci dari leher Yun Ma.

Energi bergetar, lalu runtuh.

Ia berdiri kaku.

Matanya membelalak pelan.

Bukan karena tidak mampu membunuh.

Melainkan karena… ia tidak bisa.

Tidak pernah.

Dalam hidupnya yang panjang dan dipenuhi pengkhianatan

Tidak pernah ada yang membebaskannya tanpa meminta balasan.

Tidak pernah ada yang mendekat tanpa takut.

Tidak pernah ada yang menatapnya seolah ia masih… manusia.

Yun Ma menurunkan tangannya.

“Kau boleh pergi,” katanya pelan.

Ia berbalik.

Melangkah menjauh.

“Pergilah sebelum aku menyesal.”

Pria itu menatap punggungnya.

Bahu yang rapuh.

Langkah yang tenang.

Dan di dalam dadanya—sesuatu yang lama mati… berdenyut kembali.

Shen Yu bergumam, hampir tidak terdengar.

“Benang takdir telah mengikat.”

Tanpa satu pun dari mereka sadar.

Hari-hari setelah itu… sunyi.

Tidak ada bencana.

Tidak ada pembalasan.

Tidak ada tanda-tanda dunia runtuh.

Yun Ma kembali membuka toko obat.

Hui masih cemburu namun kini duduk lebih dekat padanya.

Serigala malam tidur di ambang pintu, menjaga tanpa diperintah.

Dan setiap malam di bawah langit yang sama, seorang pria berdiri jauh, mengamati cahaya kecil dari toko obat itu.

Tidak mendekat, tidak pergi, tapi menunggu karena untuk pertama kalinya… Ia tidak ingin menghancurkan dunia tapi ia ingin menjaganya.

Dan tanpa mereka sadari ketentraman itu… adalah awal dari keselamatan bukan kehancuran.

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!