NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. HADIAN MEMBANTU AYAHNYA

Matahari sudah mulai tinggi ketika Rian dan Hadian tiba di lokasi rumah panggung yang akan mereka perbaiki. Udara pagi yang segar sudah mulai terasa panas akibat pancaran sinar matahari yang semakin kuat. Alea memilih untuk tinggal bersama Nenek Siti dan membantu membuat makanan untuk makan siang, sementara Hadian dengan tegas meminta untuk membantu ayahnya membersihkan rumah yang sudah sangat rusak itu.

“Papa, mari kita mulai dari bagian depan saja ya?” ujar Hadian dengan suara yang penuh semangat, sudah mengenakan baju lama yang tidak masalah jika kotor atau sobek. Dia membawa ember plastik kecil dan sapu lidi yang dibuat khusus untuknya oleh Pak Soleh. Anak laki-laki itu sudah tidak lagi menunjukkan rasa takut seperti ketika pertama kali melihat rumah panggung – kini wajahnya penuh dengan tekad untuk membantu ayahnya membangun rumah baru bagi mereka.

“Baiklah, Nak,” jawab Rian dengan senyum hangat, mulai membagi tugas dengan putranya. “Kamu bisa membersihkan rerumputan tinggi di area depan rumah dan menyapu debu dari bagian lantai yang masih kokoh. Aku akan membersihkan semak belukar yang tumbuh di sekitar tiang penyangga rumah agar tidak merusaknya lebih jauh.”

Tanpa berlama-lama, Hadian segera mulai bekerja dengan sangat giat. Dia dengan cermat memotong rerumputan tinggi menggunakan cangkul kecil yang diberikan oleh Pak Soleh, kemudian menyapu debu dan dedaunan yang menumpuk di lantai depan rumah. Meski keringat sudah mulai menetes deras dari dahinya dan bajunya sudah basah karena berkeringat, dia tidak mengeluh sedikit pun. Dia hanya terus bekerja dengan fokus, seringkali menyapa ayahnya dengan senyum setiap kali mereka saling melihat.

Setelah beberapa jam bekerja, area depan rumah sudah mulai terlihat lebih bersih dan rapi. Rian telah berhasil membersihkan sebagian besar semak belukar yang tumbuh di sekitar tiang penyangga rumah, dan kini sedang memeriksa kondisi setiap tiang untuk melihat mana yang masih bisa digunakan dan mana yang perlu diganti. Hadian sudah pindah ke dalam rumah, membersihkan debu dan lumut yang menutupi lantai kayu yang masih utuh.

“Papa, lihat dong!” teriak Hadian dengan suara yang ceria dari dalam rumah. “Aku menemukan sesuatu di bawah tumpukan rerumputan dan debu!”

Rian segera mendekat dan melihat apa yang ditemukan putranya. Di bawah tumpukan daun kering dan debu tebal, terdapat sebuah kotak kayu kecil yang masih dalam kondisi cukup baik. Rian dengan hati-hati membuka tutup kotak dan menemukan beberapa barang berharga di dalamnya – sebuah cincin pernikahan yang dulunya miliki ibunya, beberapa foto lama keluarga mereka, serta sebuah buku catatan yang digunakan oleh ayahnya untuk mencatat hasil panen dan pengeluaran keluarga.

“Wah, ini adalah barang-barang berharga yang Kakek dan Nenek simpan dulu, Nak,” ujar Rian dengan suara yang penuh dengan emosi, melihat foto lama yang menunjukkan wajah ayah dan ibunya yang masih muda bersama dengan dia dan saudara-saudaranya ketika masih kecil. “Kita harus menyimpan barang-barang ini dengan baik di tempat tinggal sementara kita ya.”

Hadian mengangguk dengan senyum, merasa bangga bisa menemukan barang berharga seperti itu. Dia membantu ayahnya membersihkan kotak kayu dan barang-barang di dalamnya dari debu dan kotoran, kemudian menyimpannya dengan hati-hati di dalam tas yang mereka bawa. Setelah itu, mereka kembali bekerja dengan giat, semakin termotivasi setelah menemukan kenangan berharga dari masa lalu.

Pada saat makan siang tiba, Alea datang bersama Nenek Siti membawa makanan yang sudah disiapkan – nasi hangat dengan lauk tempe bacem dan sayuran rebus yang masih segar dari kebun Pak Soleh. Mereka makan bersama di bawah naungan pohon jambu yang tumbuh tidak jauh dari rumah panggung, menikmati makanan yang sederhana namun sangat nikmat setelah bekerja keras selama beberapa jam.

“Kamu tidak merasa lelah ya, Hadian?” tanya Nenek Siti dengan suara yang penuh dengan kasih sayang, menyeka keringat di dahi cucunya dengan kain bersih. “Kamu sudah bekerja sangat giat sejak pagi hari.”

Hadian menggeleng dengan senyum lebar. “Tidak merasa lelah sama sekali, Nenek,” jawabnya dengan suara yang jelas. “Aku senang bisa membantu Papa memperbaiki rumah ini. Kalau rumahnya sudah jadi, kita bisa tinggal di sini bersama-sama kan?”

Nenek Siti tersenyum dan menepuk kepala cucunya dengan lembut. “Tentu saja, sayang,” jawabnya dengan suara yang hangat. “Kita semua akan tinggal bersama di rumah yang baru diperbaiki itu dan membuat kenangan baru yang lebih indah.”

Setelah makan siang dan istirahat sebentar, mereka kembali bekerja. Hadian membantu ayahnya membersihkan bagian dalam rumah yang lebih dalam, sementara Nenek Siti dan Alea membantu menyortir kayu-kayu yang masih bisa digunakan dan membuang bagian-bagian yang sudah tidak layak lagi. Meski tubuhnya sudah mulai terasa lelah dan tangan nya sedikit melepuh akibat bekerja dengan alat-alat yang belum biasa dia gunakan, Hadian tidak pernah mengeluh atau meminta untuk berhenti lebih awal.

“Sekarang kita sudah bisa melihat bentuk rumahnya yang sebenarnya ya, Papa,” ujar Hadian dengan suara yang penuh dengan kegembiraan, melihat rumah panggung yang sudah jauh lebih bersih dan rapi dari sebelumnya. Bagian lantai yang masih utuh sudah terlihat jelas, dan sebagian besar rerumputan serta semak belukar yang menutupi rumah sudah dibersihkan.

Rian mengangguk dengan senyum yang penuh dengan bangga. “Betul sekali, Nak,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Dengan kerja keras kita hari ini, kita sudah bisa mulai merencanakan bagaimana cara memperbaiki atap yang bocor dan memperbaiki lantai yang tidak rata. Dalam beberapa minggu lagi, rumah ini pasti akan terlihat jauh lebih baik.”

Hadian mengangguk dengan penuh keyakinan, kemudian kembali bekerja dengan giat. Dia membantu ayahnya memindahkan beberapa batu kecil yang akan digunakan untuk memperbaiki dasar tiang penyangga rumah yang sudah mulai goyah. Meskipun pekerjaannya berat dan membuatnya semakin lelah, namun senyum terus terpampang di wajahnya – dia tahu bahwa setiap usaha yang dia lakukan akan membawa mereka lebih dekat untuk memiliki rumah sendiri yang bisa mereka bangun dengan tangan sendiri.

Ketika matahari mulai bergeser ke arah barat dan memberikan warna jingga yang indah pada langit, mereka memutuskan untuk mengakhiri pekerjaan hari itu. Mereka telah berhasil membersihkan sebagian besar area rumah panggung dan sekitarnya, serta menemukan beberapa barang lama yang masih bisa digunakan atau memiliki nilai sentimental yang tinggi. Hadian membawa ember plastik yang sudah kosong dan sapu lidi yang sudah kotor, sementara Rian membawa kotak kayu berisi barang berharga yang ditemukan tadi pagi.

Saat mereka berjalan kembali ke tempat tinggal sementara milik Pak Soleh, Hadian sudah mulai terlihat sangat lelah – langkahnya menjadi lebih lambat dan matanya mulai mengantuk. Namun ketika ayahnya menawarkan untuk membantunya membawa barang-barangnya, dia dengan tegas menolaknya. “Aku bisa sendiri, Papa,” ujarnya dengan suara yang sedikit lemah namun tetap tegas. “Aku sudah besar dan bisa membantu Papa dengan segala cara yang aku bisa.”

Rian merasa hati nya menjadi hangat mendengar kata-kata putranya. Dia menyadari bahwa Hadian sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang tanggung jawab dan kuat, siap untuk menghadapi segala tantangan yang ada dalam hidup. Meskipun mereka masih memiliki jalan yang panjang untuk memperbaiki rumah panggung dan membangun kehidupan baru di desa ini, namun dengan semangat dan kerja keras yang ditunjukkan oleh Hadian, serta dukungan dari keluarga dan tetangga, dia yakin bahwa mereka akan bisa mewujudkan impian mereka.

Di tempat tinggal sementara mereka, Alea sudah menyiapkan air hangat untuk mereka mandi dan membersihkan diri setelah bekerja keras seharian. Setelah mandi dan berpakaian baju bersih, mereka makan malam bersama dengan Pak Soleh dan Nenek Siti, bercerita tentang apa yang mereka capai hari itu. Hadian dengan bangga menceritakan tentang barang berharga yang dia temukan dan bagaimana dia membantu ayahnya membersihkan rumah panggung dengan giat.

“Kamu sudah menjadi anak yang sangat baik dan tanggung jawab, Hadian,” ujar Pak Soleh dengan suara yang penuh dengan pujian, memberikan irisan pepaya segar kepada cucunya angkat itu. “Dengan semangat seperti itu, kamu pasti akan bisa mencapai segala impianmu di masa depan.”

Hadian tersenyum dan menerima buah pepaya dengan rasa terima kasih. Dia melihat ke arah ayahnya dengan mata yang penuh dengan cinta dan rasa hormat, tahu bahwa dia akan selalu membantu ayahnya dalam segala hal untuk memastikan bahwa keluarga mereka bisa hidup dengan bahagia dan layak. Di malam hari itu, ketika dia tertidur lelap di kasur yang nyaman, mimpinya dipenuhi dengan gambar rumah panggung yang sudah diperbaiki dengan indah – sebuah rumah yang penuh dengan kebahagiaan dan menjadi tempat tinggal yang bahagia bagi dia, Alea, dan ayahnya.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!