NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Pernikahan yang Belum Sempurna

​Udara di Obsidiana pagi ini terasa berbeda. Tidak ada lagi bau belerang yang menyesakkan atau aura kegelapan yang menekan. Sejak Jantung Gunung dimurnikan, langit di atas Benteng Obsidian tampak lebih jernih, seolah-olah tabir asap yang menyelimuti selama berabad-abad telah tersingkap. Namun, kejernihan di langit tidak sebanding dengan kekacauan yang terjadi di dalam aula utama.

​Hari ini adalah hari upacara publik resmi—peresmian hubungan Aethela dan Valerius di depan seluruh rakyat Obsidiana. Namun, alih-alih suasana sukacita, istana justru dipenuhi oleh ketegangan diplomatik yang baru. Sebuah pesan kilat baru saja tiba dari Solaria, dibawa oleh burung elang sihir yang membawa stempel merah milik ayahnya.

Di satu sisi, ia harus bersiap untuk upacara yang akan mengukuhkannya sebagai Permaisuri Naga. Di sisi lain, pesan dari ayahnya menuntut kepulangannya segera dengan dalih bahwa "keadaan darurat nasional" telah terjadi di Solaria. Ia tahu itu hanya kebohongan. Ayahnya telah mendengar tentang kekuatan barunya, dan kini dia ingin mengambil kembali "aset"-nya yang paling berharga.

​"Mereka tidak akan membawamu kembali, Aethela," suara Valerius terdengar dari arah pintu. Pria itu sudah mengenakan jubah kebesaran hitam dengan sulaman naga perak yang melilit di bahunya. "Pesan itu hanyalah gertakan seorang pengecut yang menyadari bahwa senjatanya telah berpindah tangan."

​Aethela menoleh dari depan cermin. Ia mengenakan gaun pengantin resmi Obsidiana—bukan sutra putih yang rapuh, melainkan kain beludru hitam pekat yang dihiasi dengan sisik-sisik kristal perak yang memantulkan cahaya bulan. "Dia adalah raja yang licik, Valerius. Jika dia tidak bisa memilikiku, dia akan mencoba menghancurkan aliansi ini sebelum upacara selesai."

​Valerius melangkah mendekat, matanya menyapu penampilan Aethela. Wanita itu tampak sangat megah, sebuah perpaduan antara keanggunan manusia dan kekuatan purba yang kini bersemayam di dalam darahnya.

​Valerius merasa posesif dan protektif.Pengaruh ikatan nyawa mereka membuat Valerius bisa merasakan kecemasan Aethela seperti getaran di bawah kulitnya sendiri. Ia menjangkau tangan Aethela, merasakan denyut nadi wanita itu yang berdetak selaras dengan detaknya.

​"Upacara hari ini bukan hanya soal tradisi," bisik Valerius. "Ini adalah pernyataan perang bagi siapa pun yang mencoba memisahkan kita. Termasuk ayahmu."

​Namun, di balik ketegasannya, Valerius menyimpan keraguan. Tradisi pernikahan Naga menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar sumpah di atas podium. Ia menuntut Penyempurnaan Ikatan—sebuah penyatuan fisik yang akan mengunci sihir mereka selamanya. Selama ritual itu belum dilakukan, secara hukum naga, pernikahan mereka masih bisa dibatalkan atau diganggu oleh klaim pihak luar.

​Valerius menginginkan Aethela, itu sudah pasti. Namun, ia tidak ingin menyentuhnya hanya karena tuntutan politik atau hukum kuno. Ia ingin Aethela menyerahkan dirinya karena cinta, bukan karena kewajiban sebagai tawanan yang kini menjadi permaisuri.

​"Utusan dari Solaria sudah menunggu di gerbang bawah," lanjut Valerius. "Mereka dipimpin oleh Pangeran Alaric, saudaramu. Dia menuntut untuk berbicara denganmu sebelum upacara dimulai."

​Mendengar nama Alaric, jantung Aethela mencelos. Alaric adalah kakak laki-lakinya yang paling ambisius, pria yang selalu memandangnya sebagai ancaman terhadap takhta. Jika Alaric yang dikirim, maka ini bukan sekadar misi penjemputan; ini adalah misi infiltrasi.

​"Aku akan menemuinya," kata Aethela dengan suara yang tak tergoyahkan.

​"Aku akan bersamamu," tegas Valerius.

​Upacara publik berlangsung di balkon raksasa yang menghadap ke Alun-alun Obsidian. Ribuan rakyat Naga berkumpul di bawah, suara mereka bergemuruh seperti ombak saat pasangan itu muncul. Namun, di barisan terdepan, berdiri rombongan kecil dengan zirah emas Solaria yang tampak sangat kontras di tengah lautan hitam.

​Pangeran Alaric melangkah maju saat protokol dihentikan sejenak. Ia tidak membungkuk pada Valerius. Matanya langsung tertuju pada Aethela, menatap sisik-sisik kristal di gaunnya dengan rasa iri yang tersembunyi.

​"Adikku," suara Alaric terdengar nyaring, dipenuhi dengan otoritas yang dipaksakan. "Ayahanda sedang sakit keras. Dia memanggilmu pulang untuk memberikan restu terakhirnya. Obsidiana telah mendapatkan apa yang mereka butuhkan—sihirmu sudah memurnikan gunung mereka. Sekarang, penuhilah kewajibanmu sebagai putri Solaria."

​Aethela tahu ayahnya tidak sakit. Ini adalah jebakan untuk menariknya kembali ke wilayah di mana sihir naganya mungkin tidak sekuat di sini.

​"Sampaikan pada Ayahanda," sahut Aethela, suaranya menggema ke seluruh alun-alun melalui sihir resonansi gunung, "bahwa restunya sudah terlambat. Kewajibanku sebagai putri Solaria telah berakhir saat aku dijual demi perdamaian. Sekarang, kewajibanku adalah pada rakyat Obsidiana dan pada Pangeranku."

​Rakyat naga bersorak, sebuah suara yang menggetarkan bumi. Namun, Alaric tidak menyerah. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh racun.

​"Pernikahan yang belum sempurna tidak memiliki kekuatan hukum di depan Dewan Tinggi Solaria, Aethela. Menurut laporan intelijen kami, kalian belum menyelesaikan ritual kamar. Secara hukum, kau masih warga negara Solaria yang bisa dipanggil pulang dengan paksa."

​Kemarahan Valerius meledak. Matanya berubah menjadi merah menyala sesaat, dan aura bayangan hitam keluar dari tubuhnya, menciptakan badai kecil di sekitar balkon.

​"Beraninya kau membawa urusan ranjang kami ke depan rakyatku!" geram Valerius. Langkahnya membuat lantai batu retak.

​Alaric telah menyerang titik terlemah mereka saat ini. Jika ia membiarkan Alaric terus bicara, keraguan akan mulai tumbuh di antara rakyat naga yang selama ini menjunjung tinggi kesucian ritual pernikahan.

​Valerius menoleh ke arah Aethela. Ia melihat wajah wanita itu memerah, namun matanya memancarkan tekad yang sama. Dalam momen itu, Valerius menyadari bahwa mereka harus bertindak cepat.

​"Penyempurnaan pernikahan kami adalah urusan kami," kata Valerius pada Alaric dengan nada yang mematikan. "Dan aku menyarankanmu untuk pergi sebelum aku memutuskan bahwa kepalamu adalah hadiah yang bagus untuk upacara ini."

​Alaric mundur satu langkah, terintimidasi oleh kemarahan Valerius, namun ia memberikan isyarat pada pasukannya. "Kami akan menunggu di perbatasan selama tiga hari. Jika dalam tiga hari kau tidak muncul, Solaria akan menganggap ini sebagai penculikan dan agresi militer."

​Rombongan Solaria berbalik dan pergi, meninggalkan atmosfer yang tegang dan canggung di alun-alun.

​Upacara dilanjutkan, namun rasa manis kemenangan tadi malam telah berganti menjadi pahitnya ancaman perang. Saat mereka kembali ke dalam benteng setelah upacara selesai, Aethela merasa kelelahan yang luar biasa.

​Malam itu, di dalam kamar megah yang kini mereka bagi, suasana terasa sangat sunyi. Valerius berdiri di dekat jendela, menatap ke arah perbatasan selatan.

Ia tahu apa yang harus dilakukan untuk menghentikan Alaric dan melindungi kedudukannya. Ia berjalan mendekati Valerius, meletakkan tangannya di punggung pria itu.

​"Valerius... apa yang dikatakan Alaric benar. Pernikahan ini... ia belum sempurna."

​Valerius berbalik, wajahnya tampak kaku. "Aku tidak akan memaksamu, Aethela. Aku tidak ingin kau melakukannya hanya karena ancaman perang dari saudaramu."

​"Aku tidak melakukannya karena Alaric," bisik Aethela, matanya menatap langsung ke dalam emas cair di mata Valerius. "Aku melakukannya karena aku tidak ingin menjadi milik siapa pun lagi selain kau. Aku lelah menjadi aset Solaria. Aku ingin menjadi pasanganmu, seutuhnya."

​Valerius terdiam, napasnya memburu. Ia menarik Aethela ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh pengabdian. Di luar, badai salju mulai turun, mengisolasi menara mereka dari dunia luar. Di dalam ruangan yang hangat oleh api sihir, mereka menyadari bahwa malam ini adalah batas antara siapa mereka dulu dan siapa mereka nanti.

​Pernikahan mereka mungkin belum sempurna di mata hukum dan tradisi, namun di dalam hati mereka, ikatan itu sudah tidak bisa dipatahkan lagi. Saat mereka bersiap menghadapi tiga hari yang menentukan, Aethela menyadari bahwa perang yang sebenarnya bukan hanya di perbatasan, tapi juga perang untuk mempertahankan cinta yang baru saja mekar di tanah yang membeku.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!