NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Logika Dan Rasa

Beberapa hari kemudian, setelah urusan penerimaan Bima dan gengnya selesai sepenuhnya, Jeka, Vino, Dhea, dan Raya berkumpul di warung kopi langganan mereka untuk bersantai sejenak. Misca duduk terpisah di meja pojok, menyeruput kopi hitamnya dengan tenang. Wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya, meskipun ekspresinya tetap datar seperti biasa.

Suasana di meja yang ditempati keempat sahabat itu jauh lebih ceria. Mereka tertawa kecil sambil membicarakan berbagai hal ringan—sebuah pelarian sejenak dari ketegangan politik antar wilayah yang semakin memanas.

"Gila! Misca benar-benar menerima si Bima bergabung," ujar Vino dengan nada kagum, tangannya mengaduk-aduk kopi susunya. "Ini keuntungan besar bagi anggota kita, Jek! Bima dan teman-temannya itu petarung yang cukup tangguh. Dengan mereka bergabung, kekuatan Utara makin solid."

Jeka mengangguk sambil membetulkan posisi kacamatanya yang agak melorot. "Keuntungan besar memang," jawabnya dengan nada lebih serius. "Tapi kita cuma punya sisa waktu 20 hari lagi, Vin. Kita harus memberikan Misca waktu untuk sedikit beristirahat agar otaknya tidak pecah. Aku khawatir dia terlalu memaksakan diri."

Dhea, yang sedang menggandeng tangan Vino di atas meja, tiba-tiba matanya berbinar dengan ide. "Aku punya ide bagus!" serunya dengan antusias. "Malam Minggu besok, di Alun-Alun kota akan ada Festival Seni dan Musik. Kita semua harus pergi ke sana. Dan yang paling penting—" ia menekankan kata-kata terakhirnya dengan dramatis, "—Misca juga wajib ikut!"

Vino langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai hampir menumpahkan kopinya. "Misca? Nonton konser musik?" ia mengusap air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. "Dhe, apa kamu sudah gila? Dia paling-paling cuma akan main game strategi atau membaca buku Fisika di kamarnya yang mewah itu. Kamu pikir dia mau ke keramaian kayak gitu?"

Raya, yang tadinya hanya mendengarkan sambil menyeruput jus jeruknya, menatap ke arah Misca yang sedang melamun sambil melihat ke luar jendela warung kopi. Dari kejauhan, ia bisa melihat garis-garis kelelahan yang samar di wajah pemuda itu.

"Tapi..." Raya berbicara dengan pelan, membuat ketiga temannya menoleh ke arahnya, "mungkin dia memang butuh keluar sebentar dari zona ini. Dia terlihat sangat lelah jika diperhatikan dengan seksama. Aku bisa lihat itu dari matanya."

Ketiga sahabatnya terdiam sejenak, kemudian melirik ke arah Misca. Memang benar—meskipun Misca selalu terlihat tenang dan terkontrol, ada sesuatu yang berbeda akhir-akhir ini. Beban sebagai ketua wilayah yang harus mempersiapkan duel satu lawan satu sambil menghadapi ancaman The Phantom jelas bukan hal yang ringan.

Jeka berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja, kebiasaannya saat sedang menganalisis sesuatu. "Aku setuju dengan Dhea dan Raya," ujarnya akhirnya. "Misca perlu istirahat sebentar. Kalau kita bisa membuat kepalanya lebih dingin, mungkin dia bisa berpikir lebih jernih dan menemukan jalan keluar yang tidak terpikirkan sebelumnya. Otak manusia butuh istirahat untuk bisa bekerja optimal."

"Nah, kan! Aku bener, kan?" Dhea tersenyum puas karena idenya didukung. "Jadi kita sepakat ya? Kita harus bisa membujuk Misca untuk ikut ke festival!"

Vino menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala, tapi senyum di wajahnya menunjukkan bahwa ia sebenarnya setuju. "Baiklah, baiklah. Tapi siapa yang mau jadi 'korban' untuk membujuk si raja es itu? Kalian tahu sendiri kan, kalau Misca sudah bilang tidak, susah banget buat diubah."

Keempatnya saling berpandangan sejenak, lalu kompak menoleh ke arah Vino.

"Kamu, lah!" seru mereka bertiga bersamaan.

"Kenapa aku?!" protes Vino dengan wajah tidak terima. "Kalian pikir aku punya kekuatan super buat ngerayu Misca?"

"Karena kamu sahabat terdekatnya, Vin," jawab Jeka dengan logis. "Misca lebih mungkin mendengarkan kamu daripada kita. Kamu kan sudah kenal dia dari SMP. Kamu tahu cara ngomong yang bisa tembus pertahanan dinginnya."

Dhea menambahkan sambil mengedipkan mata nakal, "Lagipula, kamu kan jago ngomong dan ngerayu orang. Masa sama sahabat sendiri nggak bisa?"

Raya hanya tersenyum kecil sambil mengangguk mendukung.

Vino akhirnya menyerah dengan helaan napas yang sangat panjang. "Oke, oke. Aku yang akan coba. Tapi kalau dia nolak mentah-mentah, jangan salahkan aku ya."

Mereka berempat pun menyusun rencana kecil untuk membujuk sang ketua. Setelah menyelesaikan kopi mereka dan merasa cukup siap secara mental, Vino akhirnya berdiri dari kursinya. Ia berjalan pelan menuju meja pojok di mana Misca duduk sendirian, masih terpaku pada kopi hitamnya yang sudah hampir habis.

Vino menarik kursi di seberang Misca dan duduk dengan santai, mencoba membuat suasana senyaman mungkin. "Mis," panggilnya dengan nada ringan.

Misca tidak langsung menjawab. Ia masih menatap kosong ke arah jendela, seolah pikirannya melayang ke tempat yang jauh.

"Mis, dengerin dulu," Vino mencoba lagi. "Malam Minggu besok, kami semua mau pergi ke festival di Alun-Alun. Ada konser musik, stan makanan, banyak hiburan. Kamu ikut ya? Jangan menolak dulu."

Misca akhirnya menoleh, menatap Vino dengan pandangan datar yang khas. "Aku sedang sibuk," jawabnya singkat tanpa ekspresi.

"Sibuk apa lagi, Mis?" Vino mencoba bercanda untuk mencairkan suasana. "Latihan fisik? Apa kamu mau jadi gila otot seperti si Nanda itu? Nanti kamu malah jadi kayak gorila, bukan petarung yang terukur lagi."

Misca tidak tertawa atau tersenyum. Ia hanya menatap Vino dengan tatapan yang sama datarnya.

Vino mengubah pendekatannya menjadi lebih serius. Ia membungkuk sedikit ke depan, menurunkan suaranya agar hanya Misca yang bisa mendengar. "Cuma satu malam saja, Mis. Cuma beberapa jam. Ada Dhea, ada Jeka, dan ada Raya juga ikut. Kita semua butuh sedikit ketenangan dari urusan empat wilayah yang gila ini. Termasuk kamu."

Misca terdiam cukup lama. Keheningannya begitu dalam dan dingin, membuat Vino mulai merasa ragu apakah ajakannya akan diterima. Ia bisa melihat ada pertimbangan yang sedang berlangsung di balik mata hitam Misca yang tajam itu—sebuah kalkulasi cepat tentang efektivas waktu, risiko, dan manfaat.

Detik-detik berlalu terasa sangat lambat bagi Vino. Ia hampir menyerah dan bersiap untuk menerima penolakan.

"Aku tidak bisa janji," jawab Misca akhirnya dengan nada yang sama datarnya, tidak memberikan harapan atau penolakan yang jelas.

Vino terdiam sejenak, mencerna jawaban ambigu itu. Ia kemudian mengangguk pelan dan kembali ke meja teman-temannya dengan bahu yang sedikit merosot, tampak setengah kecewa.

"Gimana? Dia mau?" tanya Dhea dengan penuh harap saat Vino duduk kembali.

"Dia bilang dia tidak bisa berjanji," jawab Vino sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Raya tampak sedikit kecewa, tapi Jeka justru tersenyum tipis di balik kacamatanya yang tebal.

"Dia tidak langsung menolak, Vin. Itu sudah kemajuan besar buat orang seperti Misca," kata Jeka dengan nada yakin, mencoba memberi perspektif berbeda. "Kalau Misca bilang 'tidak janji', biasanya dia sebenarnya mau mengusahakan hadir. Dia cuma butuh waktu buat menimbang-nimbang—mungkin ngecek jadwal latihannya, atau..." Jeka menghentikan kata-katanya sejenak, senyum kecil muncul di wajahnya, "...atau mungkin dia sedang bingung baju mana yang menurutnya paling pas buat dipakai ke festival nanti."

Candaan Jeka yang jarang muncul itu membuat ketiga temannya tertawa kecil, mengusir sedikit ketegangan yang sempat muncul.

"Jeka bener juga sih," timpal Dhea sambil menyikut lengan Vino dengan gemas. "Misca itu kalau bilang 'tidak' ya langsung 'tidak', nggak pakai embel-embel. Tapi dia bilang 'tidak janji', artinya dia masih pertimbangkan. Kita tunggu aja."

Raya tersenyum simpul sambil melirik sekilas ke arah Misca yang masih duduk sendirian di meja pojok. Ia tahu, di balik sikap dingin dan tampilan yang menyeramkan itu, Misca adalah orang yang sangat menghormati persahabatan mereka. Jika teman-temannya menginginkannya hadir, Misca pasti akan memproses permintaan itu dengan serius—dengan caranya sendiri yang unik dan sistematis.

Malam harinya, Misca duduk di kursi belajar di kamarnya yang luas dan rapi. Namun kali ini bukan buku Fisika atau catatan pelajaran yang ada di hadapannya. Ia sedang menatap layar tablet yang menampilkan peta digital empat wilayah yang telah ia tandai dengan berbagai warna—merah untuk zona konflik tinggi, kuning untuk zona waspada, dan hijau untuk zona aman.

Di layar lain yang terbuka, ada laporan detail tentang pergerakan misterius kelompok The Phantom yang ia dapatkan dari sumber anonim—yang ia tahu pasti berasal dari Raka di Barat, meskipun sang pengirim mencoba menyembunyikan identitasnya.

Jari-jari Misca bergerak cepat di atas layar tablet, menelusuri garis perbatasan antara wilayah Barat dan Timur. Pergerakan The Phantom memang sangat cepat, sistematis, dan rapi—menandakan organisasi yang terlatih dan punya tujuan jelas. Ini jelas bukan sekadar geng lokal biasa yang hanya mencari uang atau wilayah kekuasaan.

"Pola pergerakannya terlalu terstruktur," gumam Misca pelan pada dirinya sendiri sambil memperbesar salah satu titik di peta. "Mereka punya komando yang jelas. Ada otak di balik semua ini."

Ia menandai beberapa titik yang mencurigakan, lalu membuat garis-garis penghubung di antara lokasi-lokasi kejadian. Sebuah pola mulai terbentuk—The Phantom sepertinya sedang menguji pertahanan setiap wilayah secara sistematis, mencari celah terlemah sebelum melakukan serangan besar-besaran.

"Satu bulan... sekarang tinggal 20 hari lagi," gumam Misca sambil menatap kalender digital di sudut layar.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa duel satu lawan satu yang ia usulkan di gudang waktu itu bukan hanya bertujuan menyatukan para pemimpin yang egois dan saling berebut kekuasaan. Tujuan sesungguhnya yang lebih besar adalah untuk menyatukan sistem pertahanan wilayah melawan ancaman dari luar yang jauh lebih berbahaya—The Phantom.

Empat wilayah yang terpecah dan saling bermusuhan adalah mangsa empuk bagi kelompok terorganisir seperti The Phantom. Tapi empat wilayah yang bersatu di bawah satu komando strategis? Itu adalah kekuatan yang bisa memberikan perlawanan serius.

"Jika aku menang nanti," Misca berbicara pelan pada dirinya sendiri sambil menutup tablet, "aku harus segera bertindak cepat untuk mengonsolidasi kekuatan. Tidak ada waktu untuk perayaan atau transisi yang lama. The Phantom tidak akan menunggu."

Misca berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar kamarnya yang menghadap ke halaman belakang rumah mewah keluarganya. Ia menatap pemandangan lampu-lampu kota di kejauhan yang berkelap-kelip seperti bintang-bintang jatuh. Malam ini sangat tenang dan sunyi—sangat kontras dengan kekacauan yang sedang mengancam wilayahnya.

Hidupnya saat ini terasa terbelah menjadi dua sisi yang sangat kontras dan hampir tidak mungkin disatukan. Di dalam rumah megah ini, ia adalah anak dari keluarga berada yang ditawari kemewahan—liburan ke Zurich, mobil baru saat ulang tahun, sekolah terbaik dengan fasilitas lengkap. Orang tuanya mencintainya dengan cara mereka sendiri, meskipun mereka tidak pernah benar-benar memahami sisi lain dari kehidupan putra mereka.

Namun di luar sana, di jalanan yang keras dan brutal, ia adalah ketua Wilayah Utara—benteng pertahanan terakhir yang berdiri di hadapan kekacauan. Ia adalah sosok yang ditakuti, dihormati, dan menjadi harapan bagi puluhan anak muda yang mencari arah dan perlindungan.

Dua dunia. Dua identitas. Satu tubuh yang harus menanggung semuanya.

Misca menutup matanya sejenak, membiarkan angin malam dari jendela yang terbuka sedikit menyentuh wajahnya. Ia teringat kembali berbagai wajah yang telah mewarnai hari-harinya akhir-akhir ini.

Tatapan Bima yang penuh hormat dan harapan baru—seorang petarung jalanan yang akhirnya menemukan tujuan hidupnya. Tatapan Nanda yang penuh kemarahan dan ambisi—seorang pemimpin yang terlalu percaya pada kekuatan otot semata. Senyum lega dari wajah sahabatnya, Vino, saat tahu bahwa Misca menerima Bima bergabung—sebuah senyum yang mengingatkan Misca bahwa ia tidak sendirian dalam pertarungan ini.

Dan kemudian... wajah Raya.

Misca membuka matanya, sedikit terkejut dengan pikirannya sendiri. Kenapa wajah Raya muncul di benaknya?

Ia kemudian teringat pada Raya—siswi pindahan tomboy yang punya keberanian untuk menatap matanya secara langsung tanpa takut atau terpesona berlebihan seperti siswi-siswi lain. Gadis yang ia bantu di kelas bukan karena ia tertarik secara romantis, tapi karena ia merasa tidak tahan melihat Raya terus-menerus kesulitan menghadapi soal Fisika yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang jauh lebih sederhana dan tepat.

"Hasil akhir," gumam Misca sambil tersenyum tipis—sebuah ekspresi langka yang jarang muncul di wajahnya. "Semuanya selalu kembali ke hasil.akhir."

Tapi benarkah hanya soal hasil akhir? Atau ada sesuatu yang lain yang mulai tumbuh di dalam dirinya—sesuatu yang tidak bisa ia hitung atau kalkulasi dengan rumus matematika?

Misca menggelengkan kepalanya pelan, mengusir pikiran-pikiran yang tidak produktif itu. Ia berjalan kembali ke tempat tidurnya yang besar dan nyaman, lalu mengambil ponselnya dari meja samping tempat tidur.

Ia membuka aplikasi kalender. Tanggal hari ini sudah ditandai dengan berbagai reminder—latihan fisik pukul 05.00, rapat koordinasi dengan Jeka dan Vino pukul 15.00, analisis laporan intel pukul 20.00. Semuanya terjadwal dengan sangat rapi dan akurat, seperti jam yang berdetak tanpa henti.

Kemudian matanya tertuju pada tanggal hari Sabtu. Malam Minggu. Festival Alun-Alun.

Misca menghela napas panjang, merasakan beban di dadanya yang semakin berat. Sebenarnya, menghadiri acara seperti itu terasa sangat sia-sia baginya. Baginya, itu hanyalah kegiatan yang membuang-buang waktu berharga yang seharusnya bisa ia pakai untuk berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi duel yang tinggal 20 hari lagi.

Tapi...

Namun, Misca kemudian memikirkan Jeka dan Vino. Kedua sahabatnya itu—orang-orang yang sudah bersamanya sejak SMP, yang telah melihat sisi paling rapuh dan paling kuat darinya, yang tidak pernah meninggalkannya meskipun ia sering bersikap dingin dan menjaga jarak—mereka benar-benar membutuhkan jeda tersebut.

Dan mereka menginginkan dirinya untuk hadir.

Misca menatap layar ponselnya yang masih menampilkan kalender. Jari-jarinya melayang di atas layar, ragu-ragu.

"Satu jam," gumamnya pelan. "Hanya satu jam. Itu masih dalam batas toleransi yang wajar."

Misca akhirnya membuat keputusan—sebuah keputusan yang jarang ia buat, karena biasanya setiap tindakannya sudah terkalkulasi jauh-jauh hari. Ia hanya akan datang selama satu jam saja, waktu yang menurutnya sudah cukup untuk menghargai ajakan teman-temannya tanpa mengorbankan terlalu banyak waktu produktif.

Ia membuka aplikasi pesan dan masuk ke dalam grup chat 'Utara Inti' yang beranggotakan dirinya, Vino, Jeka, dan beberapa anggota inti lainnya.

Misca mengetik dengan cepat dan singkat, seperti biasanya. Tidak ada kata-kata berbunga-bunga. Tidak ada emoji atau stiker lucu. Hanya pesan singkat yang langsung pada intinya.

Misca: "Siapkan motor. Jangan ada yang terlambat."

Ia menekan tombol kirim, lalu meletakkan ponselnya kembali ke meja. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Tidak ada konfirmasi apakah ia akan datang atau tidak. Tapi bagi Jeka dan Vino yang sudah mengenal Misca bertahun-tahun, pesan singkat itu sudah lebih dari cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!