NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Alya yang terlelap tiba-tiba terbangun, dadanya naik turun dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang, sementara keringat membasahi pelipisnya, meski pendingin ruangan sempat membuat tubuhnya menggigil.

         “Apa yang sebenarnya kurasakan? Kenapa jantungku berdegup tak karuan?” gumamnya lirih sambil menekan dada kirinya.

         Pandangan Alya tertuju pada jam digital di samping ranjang. Pukul 02.30 dini hari. Romeo masih belum berada di sana. Rasa perih perlahan menyelinap ke dadanya. Pada malam pernikahan mereka, sang suami memilih meninggalkannya demi wanita lain Tania, perempuan berpenampilan mencolok yang tadi pergi bersamanya.

         Dengan hati yang diliputi kecemasan, Alya segera berwudu. Ia menegakkan salat malam, berharap bisa menemukan ketenteraman di tengah kegelisahan yang menghimpit.

         Alya menyelesaikan empat rakaat salatnya. Tangis itu tiba-tiba pecah, mengalir tanpa mampu ia cegah, menyesakkan dada Alya dengan berbagai pertanyaan tentang keadaan suaminya.

         “Ya Allah, jagalah dia bagaimanapun keadaannya, dia tetap suamiku. Lindungi dia di mana pun ia berada." bisik Alya dalam isak doa.

         Tepat saat Alya hendak membuka perlengkapan salat, pintu kamar diketuk dengan kuat berulang kali. Tanpa ragu, ia segera menghampiri dan membukanya, tak ingin membuat Romeo kesal. 

          Saat pintu terbuka, Alya terpaku. Penampilan suaminya begitu berantakan hingga membuat dadanya terasa sesak.

         “Tolong bantu aku, tubuhnya berat sekali.” ujar Satria sambil tetap menopang tubuh besar Romeo.

         Tanpa banyak pikir, Alya segera memegangi tubuh suaminya bersamaan dengan Satria menuju tempat tidur. Bobot tubuh itu terasa sangat berat baginya.

         “Huh… akhirnya. ” gumam Satria sambil mengusap keringat, tenaganya benar-benar terkuras.

         “Silakan diminum dulu.” kata Alya lembut, memberikan segelas air kepada Satria.

         “Makasih.” ujar Satria pelan.

         “Maaf sebelumnya, Tuan tapi apa yang terjadi pada dirinya?” tanya Alya ragu-ragu.

          Tatapan Satria tertuju pada Alya yang belum melepas mukenanya. Parasnya terlihat begitu jernih dan cantik alami. Tanpa riasan, matanya tetap indah dengan bulu mata lentik, bibirnya merah segar. Entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam hidup, Satria terpikir memuji kecantikan wanita lain selain sang ibu.

         “Cantik sekali.” katanya rendah, hampir berbisik.

         “Maaf, apa yang Tuan maksud barusan?” tanya Alya dengan nada canggung.

         “Maaf, gue cuma asal ngomong. Romeo mabuk berat, jadi gue pilih anter dia pulang daripada dia bareng nene lampir itu.” ujar Satria seadanya.

         “Nenek lampir?” ulang Alya heran.

         “Sudahlah, lupakan. Tolong urus dia sebentar lepasin sepatunya, gantiin bajunya kalau bisa. Kalau nggak, nggak apa. Gue mau istirahat di kamar tamu. Selamat malam.” katanya terburu-buru.

         “Terima kasih atas bantuannya, Tuan.” ujar Alya lembut.

         “Gila ini benar-benar gila. Romeo bodoh banget milih nenek lampir itu daripada istrinya sendiri. Alya cantik tanpa polesan apa pun. Cantiknya bukan main baru sekarang gue sadar.” gumam Satria begitu keluar kamar.

         Tanpa menunda, Satria mengetik pesan untuk Arjuna dan Edgar, menumpahkan kekagetannya tentang kejadian malam ini, seolah ia baru saja menyaksikan malaikat jatuh ke bumi.

         Alya gelisah berjalan ke sana kemari. Ia sempat ragu, ingin menggantikan pakaian Romeo, namun akhirnya mengurungkan niat itu karena terikat oleh perjanjian yang Romeo buat.

         “Melepas sepatu dan kaus kaki saja cukup. Nanti bilang temannya yang gantiin. Iya, itu pilihan paling aman.” bisik Alya pelan.

         Dengan hati-hati, Alya melepaskan sepatu Romeo, disusul kaus kakinya. Usai membersihkan tangannya, ia memilih kembali tidur di sofa.

        Suara keras Romeo di pagi hari membuat Alya tersentak. Tubuhnya yang masih limbung terjatuh dari sofa dan membentur lantai.

         "Siapa yang kasih kamu izin tidur di situ?” hardik Romeo tanpa menahan emosi.

         “Lalu aku harus tidur di mana?” suaranya bergetar ketakutan. 

         “Tidurlah di mana pun, tapi jangan di ranjang atau sofa.” ucap Romeo dingin, nadanya menekan.

         “Artinya, aku disuruh tidur di lantai?” ucap Alya, suaranya terdengar lebih tegas dari sebelumnya.

         “Aku nggak peduli kamu tidur di mana. Asal bukan di dua tempat itu. Kalau mau, pindah saja ke kamar tamu. Aku nggak mau tidur sekamar dengan kamu.” ucap Romeo datar.

         “Baik. ” ucap Alya lirih. Dengan mata berkaca-kaca, ia berdiri lalu pergi meninggalkan kamar, membawa koper kecilnya.

         “Kenapa aku selalu kehilangan kendali setiap dia ada di hadapanku?” umpatan itu berputar di benak Romeo.

         Alya pergi meninggalkan kamar untuk mencari pelayan. Tanpa ia sadari, suara bentakan Romeo telah menjadi saksi bisu bagi para pelayan rumah itu. Ada iba di mata mereka melihat nyonya baru diperlakukan demikian, namun posisi mereka tak memungkinkan untuk ikut campur.

         “Nyonya, apakah Anda membutuhkan bantuan?” tanya Bi Dewi lembut.

         “Aku tidak pantas dipanggil nyonya, Bi. Panggil namaku saja, Alya.” ujar Alya dengan nada halus.

         “Maaf, Nyonya Alya. Kami tidak berani memanggil Anda dengan nama saja. Jika Tuan tahu, saya bisa kena hukuman.” tolaknya hati-hati.

         “Tenang saja, dia tidak akan marah. Aku bukan siapa-siapa. Kalau boleh, bibi bisa menyiapkan satu kamar tamu untukku?” ujar Alya pelan.

         “Kenapa Nyonya tidak menempati kamar Tuan?” tanyanya dengan nada gugup.

         Tanpa berkata apa-apa, Alya menggelengkan kepala pelan. Bi Dewi langsung mengerti hubungan mereka tidak sebaik yang terlihat.

        Alya segera membongkar kopernya setelah mendapatkan kamar khusus. Ia menata pakaiannya satu per satu di lemari yang tersedia.

        “Aku harus salat Subuh dulu.” katanya lirih sambil melirik jam yang menunjukkan setengah enam pagi.

        Romeo terdiam di kamar, mencoba mengingat apa yang terjadi. Semalam ia bersama Tania di sebuah club. Ia ingat meneguk minuman pemberian Tania, lalu rasa pening menyerang dan kesadarannya menghilang begitu saja.

         “Jangan-jangan minuman itu sudah dicampuri obat.” batin Romeo curiga.

        Tak lama kemudian, Romeo sadar sepatunya telah dilepas. Tanpa perlu berpikir lama, bayangan Alya langsung muncul di benaknya.

        “Cepat sekali dia berani melanggar.” desis Romeo tajam, membayangkan Alya yang telah melepas sepatu dan kaus kakinya.

        Sebelum mendatangi Alya, Romeo memilih menelepon Satria terlebih dahulu, memintanya menyelidiki kejadian semalam. Sampai saat ini, ia masih belum mengetahui siapa yang membawanya pulang.

        Di kamar tamu, Satria tertidur nyenyak akibat kelelahan. Ia baru saja mengantar Romeo malam sebelumnya, sehingga panggilan Romeo yang berulang kali masuk tak sanggup membangunkannya.

        “Kenapa dia nggak angkat?” pikir Romeo curiga. Sikap Satria ini terasa tak biasa.

        Langsung saja Romeo membersihkan diri. Ada kelebihan yang selalu ia banggakan,seberat apa pun mabuknya, ia tetap bisa bangun pagi, seakan pikirannya telah diprogram untuk itu.

         Tepat pukul delapan pagi, Romeo melangkah turun dan menuju meja makan. Ia tersentak saat melihat sosok perempuan yang terasa asing tengah berada di dapurnya.

        “Siapa dia?”

        Karena Alya berdiri membelakanginya, Romeo sama sekali tak tahu bahwa sosok di depannya adalah Alya.

        “Maaf, Tuan. Bukankah perempuan itu istri Tuan?” ucap Bi Dewi lirih.

        Kening Romeo berkerut, seolah baru mengingat bahwa ia telah memiliki istri seorang mahasiswi muda. Di sisi lain, Alya menunduk dalam diam, enggan menatap pria itu, tak ingin memancing amarahnya lagi.

        “Kau ngapain di sini? Jangan-jangan kau ingin berperan sebagai pelayan.” katanya sinis.

        Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Alya. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan suaminya itu.

        “Kau sengaja diam, atau memang bisu?” ucapnya tajam.

        “Ma-maaf, aku hanya membuatkan sarapan pagi.” katanya gemetar.

        “Sejak kapan aku memintamu melakukan ini?” sergahnya singkat.

        “Maaf, aku hanya berniat.....” suaranya melemah.

        “Singkirkan itu. Aku tidak mau makan makanan yang tidak jelas kebersihannya.” katanya tanpa empati.

         Para pelayan terdiam, terkejut dengan sikap Romeo. Walau belum begitu mengenal Alya, mereka dapat merasakan bahwa gadis itu berhati lembut.

        “Membuang makanan bukan hal yang baik. Di luar sana, masih banyak yang membutuhkan.” bantah Alya, keberaniannya mulai terlihat.

         “Berani sekali kau menjawabku. Sudah merasa jadi nyonya di rumah ini, ya? Bahkan lancang sampai melepas sepatuku.” sengak Romeo tajam.

        “Tidak pernah sekalipun aku merasa menjadi nyonya di rumah ini. Jika aku salah karena memasak dan melepas sepatu Anda, aku minta maaf. Aku hanya menjalani tugasku sebagai istri.” jawab Alya dengan suara bergetar.

        “Jangan lupa, pernikahan ini hanya sementara dan demi anak-anakku. Jaga sikap dan tahu batasmu.” tukas Romeo tegas.

        Romeo melangkah pergi dari dapur yang jarang ia masuki. Alya menunduk, menatap masakan yang dibuatnya dengan susah payah, hatinya bertanya-tanya apakah semua itu memang pantas dibuang.

        “Tolong jangan dibuang, Nyonya. Biarkan kami yang menghabiskannya. Tuan Romeo pun tidak tahu menu apa yang Nyonya buat.” ucap Bi Dewi hati-hati.

        “Aku takut kalau ini ketahuan. Aku tidak mau Bibi dan para pelayan ikut kena masalah.” tutur Alya pelan.

        “Jangan khawatir, Nyonya. Biarlah Bibi yang menghidangkannya dan mengaku ini buatan Bibi. Siapa tahu Tuan menyukainya.” ucap Bi Dewi lembut.

        Romeo menggeram pelan di meja makan. Satria tak bisa dihubungi, sementara Tania pun tak mengirim satu pun pesan. Biasanya, pagi-pagi begini ponselnya sudah berdering tanpa henti dari wanita itu.

        “Kalau sampai ketemu di kantor, jangan harap gajinya aman.” gumam Romeo kesal.

         Satria keluar dari kamar tamu dengan penampilan acak-acakan. Romeo memandangnya heran, tak menyangka sahabatnya itu berada di rumahnya sendiri.

        “Apa yang kau lakukan di sini? Aku sudah menghubungimu berkali-kali, tapi tak satu pun kau jawab.” tanya Romeo dingin.

        “Kau baru menelepon sekali, jangan dilebih-lebihkan. Dan soal aku di sini kau tidak ingat kejadian tadi malam?” ujarnya tajam.

         “Memangnya apa yang terjadi? Setahuku, aku masih di klub bersama Tania.” jawab Romeo santai.

        “Jadi kau juga tidak ingat kalau kau kehilangan kesadaran karena perbuatannya?” ucap Satria dingin.

        “Maksudmu apa?” suaranya menegang.

        “Wanita yang kau bela itu mencoba menjebakmu. Syukurlah aku sempat datang, kalau tidak kau sudah terikat pernikahan lagi.” katanya tegas.

        “Maksudmu menjebak?” tanya Romeo, alisnya berkerut.

       Dengan wajah serius, Satria menceritakan kronologinya. Ia dihubungi bartender club rekan dekat Edgar yang mengatakan bahwa Tania sengaja meminta minuman Romeo dicampuri obat tidur dan perangsang dosis kecil, agar bereaksi setelah tiga puluh menit.

       Tanpa banyak berpikir, Satria bergegas menuju club. Meski tubuhnya lelah dan ia sudah berniat tidur, ia tak sanggup membiarkan sahabatnya menghadapi bahaya sendirian.

        Saat Tania kesulitan membawa Romeo ke mobil, Satria datang dengan raut wajah merah padam. Tanpa ragu ia mengambil alih tubuh Romeo, memicu amarah Tania yang langsung memaki Satria dengan kata-kata kasar.

        “Kau sudah kelewatan, Satria. Aku tahu kau tak pernah suka Tania, tapi menuduhnya seperti itu? Dia kekasihku. Jangan libatkan perasaan pribadimu. ” ucap Romeo keras.

        “Kau menyebut ini fitnah? Coba pikir, Romeo. Aku rela bangun dini hari menjemputmu, meski tubuhku sudah kelelahan. Tapi yang kuterima justru ketidakpercayaan darimu.” ucap Satria dengan nada tersinggung.

        “Ini bukan soal tidak percaya. Aku hanya perlu bukti agar bisa menuntut penjelasan darinya. ” ujar Romeo serius.

        “Kalau begitu, itu berarti kau meragukanku. Telepon saja Adrian di club Edgar, dan suruh Edgar buka rekaman CCTV. Aku sudah melakukan bagianku sebagai sahabat.” kata Satria tegas, bangkit dari duduknya.

        Setelah mengambil kunci mobil dari kamar tamu, Satria hendak meninggalkan rumah itu. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berbalik dan menatap Romeo dengan wajah penuh kekecewaan.

       “Kau boleh membenci istrimu, tapi jangan buta, Romeo. Istrimu itu bidadari yang Tuhan titipkan padamu. Kalau kau tak bisa menjaganya, jangan heran kalau orang lain akan mengambilnya. Aku pamit.” katanya dingin.

        Ucapan Satria membuat Romeo terkejut sekaligus tidak terima. Dalam benaknya, muncul pertanyaan mengapa semua orang justru lebih menyukai Alya daripada Tania. Meski begitu, ia sadar tak boleh gegabah. Satria tak mungkin mengada-ada, dan Romeo tahu ia harus mengungkap semua kejadian semalam.

       “Kalau kau memang berniat menjebakku, sayang, aku akan membuatmu sadar siapa dirimu sebenarnya.” desis Romeo menatap layar ponselnya.

       Alya berdiri tak jauh dari sana, mendengar setiap kata yang terlontar dalam perdebatan itu tanpa diketahui Romeo. Dadanya sesak ia terkejut dan kecewa sekaligus. Tak ada istri yang sanggup tenang saat tahu suaminya begitu mencintai perempuan lain.

       “Selama lima tahun ke depan aku harus menelan semuanya sendiri,ya Tuhan, beri aku kekuatan.” ucapnya pelan lalu berlalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!