NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seni Menanam Bom Waktu

Keputusan Kirana membatalkan proyek video sejarah dan secara publik menegur Nadia adalah sinyal bahwa Nadia kini telah diakui sebagai ancaman nyata.

Namun, pengakuan itu datang dengan harga mahal bagi Kirana: ia harus mencurahkan seluruh energinya pada Nadia, mengabaikan fakta bahwa seluruh fondasi kekuasaannya sudah mulai bergetar hebat dari dalam.

Nadia memulai Babak II dari rencana balas dendamnya: Fase Penghancuran Bertahap. Ia tidak akan menyerang Kirana setiap hari, melainkan menanam bom waktu yang akan meledak pada waktu yang diatur Nadia, puncaknya saat Gala Dinner yang sangat dinanti Kirana.

Langkah pertama Nadia adalah menguji loyalitas sekutu yang baru diisolasi: Ibu Siska. Nadia telah meminta Rina untuk menghubungkan Siska dengan pelatih debat profesional. Nadia ingin melihat sejauh mana Siska telah bergeser dari sekutu Kirana menjadi korban yang dendam.

Nadia menghubungi Ibu Siska secara pribadi melalui telepon. Suara Siska terdengar rapuh, dipenuhi rasa malu dan kemarahan atas pengkhianatan Kirana.

"Terima kasih banyak, Bu Nadia, untuk kontak pelatih debat itu. Dimas jadi bersemangat lagi. Anda tahu, setelah semua yang terjadi, saya merasa Kirana hanya menggunakan saya sebagai tameng dan Ibu Vanya sebagai perbandingan," kata Siska, akhirnya memuntahkan rasa sakitnya.

"Bu Siska, Anda harus tahu," kata Nadia dengan nada konspiratif.

"Saat Kirana membatalkan video sejarah saya, dia sangat panik. Dia takut sejarah lama The Golden Bridge terkuak. Dia menggunakan kekuasaan untuk menyembunyikan masa lalunya yang kotor. Saya tahu Anda tidak akan pernah mengorbankan anak Anda demi display Komite, seperti yang dituduhkan Kirana. Saya yakin, kita berdua adalah korban dari Sistem Kontrol Kirana."

Nadia tidak meminta Siska melakukan apa-apa, ia hanya memberikan validasi atas rasa sakit Siska. Nadia telah berhasil merekrut sekutu yang dendam dan cerdas di luar Komite. Siska akan menjadi sumber kebocoran yang sempurna, karena ia memiliki jaringan sosial yang lebih luas daripada Rina.

Nadia kemudian beralih ke ancaman yang paling mendesak bagi Kirana: skandal Yayasan Tangan Emas.

Setelah pengacara suaminya menerima perjanjian kerahasiaan Putra Widodo Raharja dan leak tentang Vila Uluwatu, Nadia tahu bahwa suasana di rumah tangga Kirana pasti sangat tegang. Kirana kini harus memilih antara mempertahankan citra amal atau aset pribadinya.

Nadia memutuskan untuk menyerang citra amal itu dengan cara yang tidak bisa disanggah Kirana.

Ia membuat sebuah website anonim sederhana yang didesain profesional, berjudul "Waspada Tangan Emas." Website ini hanya berisi satu halaman dengan interface yang gelap, menyerupai situs berita investigasi.

Konten website itu sangat minimalis, tetapi mematikan:

Daftar Tax Deduction: Mencantumkan data pajak Yayasan Tangan Emas yang diperoleh Nadia dari file curian, dengan sengaja menyoroti jumlah deduction yang sangat besar.

Pertanyaan Kritis: Di bawah data itu, Nadia mencantumkan pertanyaan yang ambigu, tapi cerdas: "Mengapa dana operasional Yayasan Tangan Emas mengalami selisih 3% dalam dua tahun terakhir, padahal donasi terus meningkat? Dan mengapa salah satu penerima manfaat beasiswa tahun depan tiba-tiba digugurkan setelah Kirana Widjaja memimpin Komite?"

Nadia sengaja menghubungkan isu dana (3% penggelapan) dan korban (Rizky). Nadia ingin publik melihat bahwa penggelapan dana dan pengorbanan anak yatim adalah dua sisi dari mata uang yang sama: egoisme Kirana.

Nadia kemudian menyebarkan link website itu. Ia tidak membagikannya di Grup WA Komite, karena itu akan terlalu mudah dilacak.

Nadia mencari blog berita sosial yang sering digunakan ibu-ibu elit untuk bergosip tentang sekolah anak-anak mereka. Nadia menggunakan identitas anonim untuk memposting komentar di blog itu: —'Saya dengar ada yang aneh dengan Yayasan Tangan Emas. Cek website ini sebelum Gala Dinner. Mungkin ada yang bisa menjelaskan mengapa ada leak dana dan anak yatim yang digugurkan? [Link Waspada Tangan Emas]'.—

Penyebaran melalui gossip blog ini memastikan bahwa leak akan menyebar secara organik di kalangan ibu-ibu yang haus drama, dan tidak akan mengarah kembali ke Nadia.

Dua hari kemudian, Komite mengadakan rapat mendadak. Ruangan rapat terasa dingin dan penuh ketegangan. Kirana duduk di sana, mengenakan pakaian hitam, seolah sedang berkabung.

Kirana tidak membahas dekorasi. Ia langsung menatap semua orang dengan mata tajam dan penuh tuduhan.

"Ada serangan terorganisir terhadap Yayasan kita," katanya, suaranya pelan tetapi sangat kuat. "Ada website anonim yang menyebar, menuduh kita melakukan penggelapan dan mengorbankan penerima beasiswa."

Semua ibu terdiam, tetapi beberapa mata melirik Nadia.

"Saya sudah melacaknya," lanjut Kirana, suaranya penuh kemarahan yang terkontrol. "Ini adalah ulah dari orang yang sangat dendam dan menggunakan data lama yang tidak valid. Website ini sudah kami laporkan untuk dihapus."

Nadia, di sudut, tetap diam. Ia tahu, Kirana tidak akan pernah bisa menghapus gossip.

Saat Kirana selesai berbicara, Ibu Nina, si donatur, angkat bicara, untuk pertama kalinya ia menyerang secara terbuka.

"Bu Kirana," kata Ibu Nina, suaranya tenang. "Masalahnya bukan website itu. Masalahnya adalah: Apakah Rizky, anak yang digugurkan itu, benar-benar digugurkan karena alasan etika? Ibu-ibu di luar menanyakan ini. Mereka mengatakan, jika Kirana bisa mengorbankan Rizky hanya karena gossip anonim, bagaimana mereka bisa percaya pada yayasan ini?"

Nadia terkejut. Ibu Nina, tanpa diminta, telah menjadi juru bicara untuk korban. Nadia tahu, ini bukan hanya tentang uang bagi Ibu Nina, tetapi tentang pride dan branding perusahaannya sendiri yang terancam jika ia berafiliasi dengan yayasan yang dikendalikan oleh tirani.

Kirana kini harus berhadapan dengan pertanyaan yang jauh lebih berbahaya daripada tuduhan.

"Ibu Nina, kami memiliki alasan etika yang jelas," jawab Kirana, suaranya terpaksa menjadi lebih lunak. "Kami tidak bisa berkompromi pada integritas."

"Kalau begitu, tunjukkan buktinya, Bu Kirana," balas Ibu Nina. "Rizky itu anak yatim piatu. Jika Anda tidak menunjukkan bukti pelanggarannya, Anda akan dicap sebagai pemimpin yang kejam dan sewenang-wenang. Reputasi itu akan jauh lebih merugikan Yayasan daripada selisih dana 3% itu."

Kirana terpojok. Ia tidak punya bukti bullying Rizky; ia mengorbankan Rizky berdasarkan e-mail anonim dari Nadia. Ia tidak bisa menunjukkan kebohongan itu tanpa mengakui kelemahannya sendiri.

Nadia memutuskan untuk menusuk lebih dalam, menggunakan alibi kepatuhannya.

"Bu Kirana," kata Nadia, suaranya penuh simpati. "Saya mengerti kekhawatiran Ibu Nina. Untuk melindungi Gala Dinner, saya usulkan kita membuat pernyataan pers bersama. Kirana harus menyatakan dengan tegas bahwa semua tuduhan fitnah terhadap Yayasan adalah palsu, dan bahwa suami Kirana, Bapak Wijaya, mendukung penuh setiap langkah transparansi yang dilakukan Yayasan."

Nadia tahu: Bapak Wijaya saat ini sedang menghadapi leak tentang Vila Uluwatu dari pengacaranya sendiri, dan leak tentang perjanjian kerahasiaan dari Arief. Bapak Wijaya tidak mungkin mendukung Kirana secara penuh saat ini.

Nadia telah meminta Kirana untuk melakukan kebohongan publik yang akan dengan mudah disanggah oleh suaminya sendiri.

Kirana menatap Nadia dengan pandangan mata yang dipenuhi kebencian dan kebingungan. Kirana tidak tahu apakah Nadia adalah mole yang kejam, atau justru sekutu yang konyol.

Kirana menghela napas panjang, kekalahan lain di depan Komite. "Baik. Saya akan menyusun pernyataan pers. Tapi saya hanya akan membahas Yayasan. Saya tidak perlu melibatkan suami saya dalam masalah kecil ini."

Penolakan Kirana untuk melibatkan suaminya adalah pengakuan diam-diam bahwa rumah tangganya sedang kacau. Nadia telah berhasil memisahkan Kirana dari fondasi keuangannya.

Saat keluar dari ruangan, Rina mendekati Nadia, gemetar. "Anda gila, Bu Nadia. Anda membuat Kirana terpojok. Apa selanjutnya?"

Nadia membalas dengan senyum dingin. "Selanjutnya, Rina, kita akan membuat Kirana bertengkar dengan Ibu Nina secara terbuka. Kita akan merusak Gala Dinner dari dalam, dan Gala Dinner akan menjadi panggung penghancuran terakhir Kirana."

Nadia tahu, Ibu Nina, si donatur, sekarang adalah sekutu Kirana yang paling rentan. Jika Ibu Nina mundur, Kirana akan kehilangan semua kredibilitas finansialnya. Nadia harus mendorong Ibu Nina sampai batasnya, dan ia sudah tahu cara melakukannya: mengancam aset Kirana yang paling disayangi—perhiasannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!