NovelToon NovelToon
YOUR STEPMOTHER

YOUR STEPMOTHER

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Ibu Tiri
Popularitas:58k
Nilai: 5
Nama Author: Reny Rizky Aryati, SE.

Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.

Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.

Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.

Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.

Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?

Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 KETIKA LANGIT TAK SAMA

Kamar Hotel di ruangan Anggrek VIP terlihat lenggang, hanya ada satu tempat tidur besar dilengkapi perabotan kelas eksklusif tertata rapi disana.

Seorang laki-laki berwajah menawan sedang berbaring setengah telanjang dada di atas kasur berukuran besar.

Pandangannya mendongak, seakan-akan langit-langit ruangan kamar itu menuliskan kalimat untuknya.

"Kau pecundang buruk yang kesepian, Adrian. Lari dari kejaran seorang wanita gila dan memilih liburan ke kota bersama rombongan parasit yang menyebalkan."

Adrian Wilson menatap ke atas sembari berbaring asal, tatapannya datar namun menyimpan kesedihan mendalam.

"Hazel..., andai saja kau tidak meninggalkanku, mungkin kita akan selalu bahagia hingga kini, sayang..."

Seonggok ingatan melintas di benak Adrian Wilson ketika dia teringat pada mendiang istri tercintanya yang telah tiada.

Bayangan sosok sang istri kerap saja menghantui dirinya sepanjang malam meskipun dia telah lama melupakan mendiang Hazel.

"Fuih... !"

Adrian Wilson menghela nafas pelan lalu beranjak bangun dari atas kasur empuk itu.

"Mana Azka, sedari tadi aku belum melihatnya di kamar ini ?"

Adrian Wilson beringsut pelan, turun dari tempat tidur nyaman itu lalu berjalan lamban seraya menolehkan pandangannya.

"Sepertinya Azka masih bersama mereka, aku akan melihatnya kesana karena hari sudah terlalu larut malam, tiba bagi Azka untuk beristirahat sekarang kalau tidak penyakit asmanya akan kumat."

Adrian Wilson melangkahkan kedua kakinya menuju keluar kamar hotel bintang lima itu, mencari Azka, putra kembarnya yang belum kembali.

Terdengar suara langkah kakinya melewati koridor hotel yang mulai sepi.

Adrian Wilson sendirian disana, sepanjang koridor hotel hanya ada dinding pembatas yang dihiasi lampu-lampu tanam menyala temaram.

Hampir tak ada orang sama sekali di area Adrian Wilson berjalan.

"Rupanya menduda rasanya seperti ini, terasa sepi dan sendirian..."

Adrian Wilson menggerutu sembari terus berjalan melewati jalan di koridor hotel, kedua tangannya menyaku saat dia melangkah ringan.

Koridor hotel itu terhubung dengan kamar-kamar hotel lainnya, sepertinya lantai disini diperuntukkan untuk kelas VIP.

Langkah kaki Adrian Wilson terhenti tepat di depan salah satu kamar VIP bernomer 99 lalu dia mengetuk pintu kamar di hadapannya.

"Tuk ! Tuk ! Tuk !"

Tiga kali dia mengetukkan tangannya ke arah pintu, terdengar suara dari dalam kamar hotel sedang membuka pintu.

"Kau rupanya, mencari Azka Wilson atau sedang ingin jalan-jalan cari angin ?"

''Ayolah, pecundang, jangan selalu bersikap dingin terhadapku, kita tahu kalau kita sama-sama pecundang buruk, aku kesini mencari anakku, kak."

"Masuklah, dia ada di dalam !"

"Terima kasih, kak."

Adrian Wilson memperlihatkan deretan giginya serta mengulum senyuman tipis, dia melangkah masuk dengan santainya.

"Azka !"

Muncul seorang anak kecil sebaya Azka Wilson, penampilannya acak-acakan dengan rambut setengah menggantung.

"Azka ada ?"

Anak kecil laki-laki yang kedua pipinya memerah itu hanya menggelengkan kepala pelan.

"Dia tidak disini lalu kemana ?"

"Dia bilang bahwa dia sulit tidur lalu berpamitan pergi dan aku tidak tahu kemana dia, paman Adrian."

"Oh ?! Gawat kalau begitu ?!"

Adrian melongo seraya melirik kakak laki-lakinya yang ada di sampingnya, terlihat Jack Wilson berubah salah tingkah.

"Cih, kau ini, keponakanmu tidak ada tapi kau tidak tahu kemana perginya dia, paman tertua macam apa kau ini, kak !"

"Dan kau sendiri bagaimana, ayah macam apa kau ini, Adrian !"

"Dasar pecundang !"

"Kau ini, berani sekali pada kakak tertuamu, Adrian !"

"Haish, tidak mau disalahkan, bukannya meminta maaf karena lalai menjaga keponakan sendiri malah kesal, dasar kau ini, kak !"

"Ya, sudah, cari sana, anakmu. Kenapa masih disini ?"

"Haish..., baiklah, aku pergi sekarang..."

Adrian Wilson membuang muka lalu memutar badannya.

Tiba-tiba dia berhenti dan berdiri terdiam, sejenak suasana terasa hening kemudian Adrian Wilson berkata lagi.

"Kira-kira kau tahu kemana perginya, Azka itu ?"

Adrian Wilson menoleh kepada keponakan laki-lakinya yang berdiri di belakangnya sembari menguap lebar.

"Hoam..., katanya dia ingin melihat Alana, dia memberitahuku sebelum dia pergi dari kamar ini, paman Adrian..."

"Bagus, anak pintar !"

Adrian Wilson mengarahkan jari jempolnya kepada keponakannya sembari melirik tajam ke arah Jack Wilson.

"Contohlah putramu itu, dia begitu pintar dibanding dirimu, semestinya kamu belajar darinya, kak !"

"Apa maksudmu itu, pergi sana, cari putramu ! Jangan sampai dia kabur dari ayah yang buruk sepertimu !"

"Cih, dasar !"

Adrian Wilson segera pergi dari kamar itu, bergegas cepat mencari Azka.

Sembari terus berjalan melewati area koridor hotel Luxury Tumbler, dia mengedarkan pandangannya kesekitar dia berjalan.

"Kemana bocah itu, tidak tahu apa kalau hari sudah malam, memangnya mau kabur kemana ?"

Gerutu Adrian Wilson ketika dia berjalan, tepat di ujung koridor hotel, tampak belokan yang mengarah berlawanan.

Satu belokan ke arah kiri dan satunya lagi ke arah kanan, kira-kira kemana langkah kaki Adrian Wilson harus menuju.

Adrian Wilson sempat kebingungan karena harus memilih kemana langkah kakinya berjalan lantas dia mengandalkan insting kelaki-lakiannya untuk memilih cepat.

"Sebaiknya aku ke arah kiri sesuai sifat Azka yang sering berbelok dan memberontak."

Adrian Wilson membelokkan langkah kakinya menuju arah kanan.

"Ah, aku tahu dia pasti ke kamar Anita Tumbler, tapi bagaimana dia tahu kamar Anita ?"

Adrian Wilson terus mengira-ngira dimana kamar Anita Tumbler berada namun dia menghentikan langkah kakinya tepat di ujung jalan yang tampak terdapat dua belokan lagi.

Di atasnya terpampang arah petunjuk jalan berupa anak panah berwarna biru tua.

Dua anak panah yang mengarah berlawanan, satu anak panah tertuju pada area kamar VVIP dan satu panah ke ruangan Presidential Suite.

"Tidak mungkin kalau Anita Tumbler di kamar Presidential Suite, tapi tidak juga di kamar VVIP lalu dimana dia kalau begitu ???"

Adrian Wilson kembali berpikir serius, lebih tepatnya pikirannya sedang kacau balau karena dia harus memilih sekarang.

"Ahaa..., aku tahu sekarang dimana kamar dia sekarang !"

Adrian Wilson berbelok arah menuju area kamar VVIP, instingnya berkata bahwa Anita Tumbler sedang menginap di salah satu kamar itu.

Terdengar suara senandung kecil dari arah Adrian Wilson saat dia melangkahkan kakinya.

"Ahaa, pasti disana !"

Adrian Wilson menunjuk ke arah kamar VVIP bernomer satu yang ada tepat di sebelah kanannya.

"Aku akan kesana dan melihatnya, siapa tahu tebakanku ini tidak meleset salah."

Adrian Wilson bergerak ke kamar VVIP bernomer satu lalu berdiri menghadap lurus ke depan.

Di gerakkannya tangannya ke arah pintu kamar hotel berkelas VVIP di hadapannya.

"Tok ! Tok ! Tok !"

Adrian Wilson mengetukkan jari-jemarinya yang terkepal rapat kepada daun pintu itu.

"Anita..."

Panggilnya mencoba sopan serta menjaga image baiknya tetap terlihat.

"Anita, ini aku, Adrian Wilson, kau ada di dalam sana ?"

Adrian Wilson mengulangi ucapannya sambil menunggu di depan pintu kamar hotel VVIP itu.

Saat Adrian Wilson hendak mengetuk lagi pintu di hadapannya, tanpa sengaja pintu kamar itu terdorong masuk ke dalam kamar.

"Tidak terkunci ???"

Ucapnya keheranan tapi dia penasaran, sempat melangkah mundur lalu berjalan maju.

"Permisi, ada orang di dalam !"

Terdengar suara Adrian Wilson menyapa lantang ketika dia berdiri tepat di depan kamar yang tidak terkunci itu.

Namun suasana tetap hening, tidak ada suara sahutan dari dalam kamar VVIP itu terdengar menjawab suara sapaannya.

"Coba aku lihat ke dalam kamar, siapa tahu orang di kamar ini bisa memberitahukan ku letak kamar Anita..."

1
Patricia Vernanda
kakek nih jeli juga ya ternyata 🤭
Patricia Vernanda
akhirnya
Patricia Vernanda
srem juga tinggal di kota mati
Patricia Vernanda
saya sih penasaran dengan hewannya darimana dia muncul
Patricia Vernanda
ternyata anita tuh tajir juga ya 🤭
Patricia Vernanda
serem juga tinggal di gedung tua yak
Patricia Vernanda
monyet bukn nih primata
Patricia Vernanda
jadi teringat apa ya
Patricia Vernanda
🤭
Patricia Vernanda
nyaris sja mrreka nih 🤭
Patricia Vernanda
akhirnya Anita bisa bersama mereka lagi meski beda situasi tapi setidaknya Anita dapat bertemu orang2 yang mirip dengan mendiang keluarganya
Patricia Vernanda
up thor 💪
sky 15
gak deh untuk kesekian kalinya
sky 15
Yailah, dah dikutuk ngapai nolong orang yang ngutuk kamu Anita...
sky 15
biar aja gak usah kembali dah daripada hidup terkutuk terus terusan
sky 15
Cinta yang membusuk
sky 15
hidup di kota mati yang gak ada apa-apanya seperti hidup di perantauan yang gak kenal siapa-siapa
sky 15
Dia benar-benar frustasi
sky 15
Bagaikan hidup tak mau mati pun segan bagi Anita Tumbler
sky 15
Gak bisa bayangkan bagaimana jadi Anita Tumbler...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!