NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:47
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA

Luz menarik nafas dalam-dalam, berdiri di depan pintu rumah milik orang tua. Seperti berdiri di depan gerbang kematian. Terbesit jelas pertengkaran hebat waktu itu. Semoga hari ini tidak.

Luz dan Karel saling lihat, dia mengangguk dengan wajah yang tenang. Bisa-bisanya tidak tegang sama sekali, padahal sudah ada di ambang kematian. Perlahan tangan Luz naik, mengetuk pintu beberapa kali dengan tempo yang pelan.

“Pake tenaga dong, lemes banget. Barusan udah gue kasih makan padahal.”

Luz menendang kaki Karel tidak terlalu keras lalu mengetuk pintu lagi. “Ish kemana sih gak di buka-buka.”

Emosi Luz semakin naik. Ia tendang pintu dua sayap itu dengan kencang. “Woi buka, aing mau masuk!”

Mata Karel membuat, ia tercengang. Kesabaran Luz setipis tisu ternyata. “Sabar, sabar. Gak boleh kurang ajar.”

“Mereka nih yang kurang ajar!” Luz berkacak pinggang, menggedor jendela, hingga suara mesin mobil mengalihkan atensi mereka.

Plat nomor dan jenis mobilnya Luz kenal. Ia membuang nafas lelah dan duduk di kursi depan rumah. “Percuma dong gue teriak-teriak orang mereka aja baru nongol.”

Karel melihat wanita separuh baya di pangku lalu duduk di kursi roda di dorong oleh laki-laki. “Itu ibu kamu?”

“Iye, menurut lo itu siapa emang? Dukun hah.” Luz terlihat sewot tapi Karel tetap slow.

“Luz!” seru Minawari sumringah. Ia meminta Devan cepat membuatnya menuju Luz.

Luz langsung beranjak dan berlari menghampiri mamanya. “Mama?!” Ia berdiri keheranan.

Lalu Luz berjongkok di hadapan Minawari dengan mata berkaca-kaca. “Mama kenapa? Kok bisa?”

“Makanya—“ ucapan Devan terhenti karna Minawari langsung mengelus tangannya.

“Mama lumpuh, tulang ekornya patah. Ini abis kontrol,” kata Devan cetus.

Luz benar-benar khawatir ia sangat tidak becus merawat Minawari. Sampai hal seperti ini pun ia tidak tahu. “Maaf, maaf selalu bikin Mama susah.”

“Eh ayo masuk-masuk, Mama seneng kamu pulang. Dan bawa siapa ini?” Minawari tersenyum ke Karel lalu di balas hangat.

Devan berjalan lebih dulu untuk membuka pintu. “Bosnya kali, mana ada pacar dia sekeren itu.”

Karel tersenyum tipis. Ternyata ada yang mengakui dirinya memang keren.

Tangan Luz terkepal, ia mengajak Karel masuk. Mendorong kursi roda mamanya dengan tergesa. “Kurang ajar lo kalo ngomong.”

“Ya benarkan? Cakep begitu, mana mau sama bubuk rempeyek.”

Luz mencomot mulut Devan. “Jaga mulut lo ya. Kalo iya dia cowok gue, ngapa lu gak percaya? Tanya aja.” Dengan songongnya ia langsung masuk dan puas melihat wajah Devan sekarang.

Devan menatap Karel yang masih jauh lebih tinggi darinya. “Lu bos nya kan? Gua pernah liat.”

“Iya.”

Devan melirik Luz. “Nahkan bener. Mana mungkin dia pacar lu.”

“Tapi iya bang.”

Mata Devan melotot bahkan tangannya menyentak lengan atas Karel yang semula ia tepuk. “Hah seriusan?”

Karel mengangguk canggung. “Iya, justru gua ke sini mau ngobrol serius bang.”

“Bang-bang, nama aja, gua Devan. Minder berasa tua banget gua,” kata Devan sambil tertawa hambar berusaha menutupi rasa malu.

Minawari menyuruh Devan mengajak Karel masuk. Lalu menunggu Luz menyiapkan hidangan, karna pembantu di rumah ini sudah keluar.

“Karel,” balas Karel menjabat tangan Devan.

Mereka duduk di ruang tamu, Luz meletakkan baki berisi toples kacang dan kue kering. Beserta minuman dingin yang cocok untuk udara yang panas.

“Jadi lu yang hamilin adek gua?” Devan menyeletuk lagi.

Luz mencubit lengan Devan lalu duduk. “Bisa gak ngomongnya lebih sopan? Malu.”

“Kayaknya gak perlu di jelasin lagi,” kata Karel yang tiba-tiba gugup.

Luz berdehem melihat Karel tampaknya bingung. “Waktu itu ayah minta Luz buat minta tanggung jawab sama ayahnya anak yang Luz kandung. Baru Luz di terima lagi, kalo engga bisa, Luz harus rela di usir. Opsi lain, Luz harus gugurin bayinya. Biar bisa di terima lagi di keluarga ini.”

“Jadi soal itu, saya mau nikahin Luz, Tante,” sambung Karel. “Ke sini akan berunding, soal tahapan yang keluarga Luz inginkan dan juga keluarga saya. Saya akan tanggung jawab, saya janji gak akan lari.”

Devan menggelengkan kepala. “Gak kaleng-kaleng lu jual diri,” celetuknya.

Mata Luz melotot membuat Karel meliriknya penuh tanya. “Devan emang suka ngejelek-jelekin aku. Jangan di dengerin.”

Apa bener Luz seorang wanita malam sebelum bekerja di perusahaannya? Itu yang Karel pikir sekarang.

“Kamu datang ke sini untuk melamar?” tanya Minawari.

Karel terkekeh. “Iya.”

“Tapi bukannya harus orang tua kamu yang bilang?” tanya Minawari.

Karel mengangguk. “Tante tenang aja, saya tidak sendiri. Orang tua saya akan menyusul, mereka masih di perjalanan, terjebak macet.”

Entah kenapa Devan takjub dengannya tapi tak tahu mana yang harus ia kagumi. Wangi? Dia memang menawan, cocok untuk Luz. Tapi Luz tidak cocok dengannya. Perpaduan amburadul.

“Ngapain lo liatin cowok gue segitunya?” tegur Luz.

Karel melihat arloji di pergelangan tangan. “Luz, boleh bicara sebentar berdua?”

Jantung Luz berdetak kencang. “Hah? Oke ayo, di belakang aja.”

Keduanya berjalan beriringan. “Gue mau tanya, sebelum kerja di kantor gue, kerjaan lo bitch bukan?”

“Bukan, sumpah. Gue gak pernah jual diri, gue having seks karna emang gue mau dan itu cuman sama satu orang. Bokapnya anak ini, asli. Lo percaya sama omongan si Devan kampret?” Luz sangat panik sekarang gimana kalau Karel tidak percaya?

Karel menjauhkan tangan Luz. “Oke gausah panik gitu. Gue cuman takut kalo emang lo bitch, terus ketauan, citra keluarga gue buruk dan lo bisa kena cyber bullying juga termasuk gue.”

Luz menunjukkan dua jari. “Suer enggak Rel, gue mungkin pernah masuk ke club, atau dugem gitu tapi jarang. Lo bisa sewa hacker buat cari jejak digital gue. Sumpil gak ada. Gak pernah.”

“Gue akuin gue emang sangean, tapi gue gak gampangan mau sama orang.”

Karel menatapnya penuh keheranan. “Itu adalah ancaman sekaligus tekanan. Lo yakin mau sama gue?” Matanya masih melakukan kontak dengan lawan bicaranya.

“Iyalah, gue juga gak ada waktu lagi. Siapa yang mau nerima cewek tekdung buat di nikahin secara cuma-cuma? Mustahil bahkan orang yang naksir gue sekalipun mana mau.”

“Lo juga butuh gue buat nutupin lo yang belok kan? Gue janji dan gue sanggup. Kita bisa saling tolong menolong.”

Karel mengangguk, ia menarik Luz masuk saat suara mobil berhenti di depan. Orang tuanya sudah sampai. Minawari kaget, Karel menang bukan dari orang kalangan bawah. Dari pakaian, gaya bicara saja terlihat. Mereka orang berada, meskipun dirinya tidak terlalu miskin, tapi tetap kurang percaya diri takut tidak memenuhi ekspetasi mereka.

Bagaimana jika ini akan jadi masalah?

Dugaan Minawari salah, ibunya Karel orang yang cerewet dan hangat. Dia pandai menjaga hati dan bersikap. Tidak berkomentar soal kekurangan. Justru langsung duduk tanpa terlihat jijik atau terganggu.

“Hallo Jeng, maaf ya telat. Macet banget soalnya.” Elena terkekeh, lalu meminum minuman yang sudah di siapkan. Hingga dahaganya hilang. “Minumannya enak,” katanya memuji.

Jadi disini, Elena langsung to the point untuk menanyakan apa yang mereka inginkan dari Karel. Sejujurnya Elena malu sih, anaknya udah hamilin anak orang.

Mereka pasti kecewa. Tapi Elena akan bertanggung jawab dan memperlakukan mereka dengan baik.

“Karel mau berkenan menikahi Luz dan bertanggung jawab saja itu lebih dari cukup, Bu. Saya senang Karel tidak kabur meninggalkan putri saya sendiri. Soal pesta, saya serahkan sepenuhnya kepada anak-anak karna mereka yang menjalani,” kata Minawari.

Elena tersenyum. “Sejujurnya karna Karel anak tunggal. Saya sudah menantikan pesta pernikahan sejak lama. Dan akhirnya saat itu tiba, jadi saya ingin acaranya di gelar mewah dan besar-besaran karna saya ingin mengundang seluruh teman, rekam kerja juga keluarga besar untuk hadir berkumpul di momen yang bahagia ini. Sepertinya tujuh hari tujuh malam cukup, bahkan lebih. Saya juga akan menyiapkan rumah, bahkan tiket bulan madu spesial buat mereka.”

Devan tercengangnya. “Beneran tajir mereka. Sampe mau buang duit sebanyak itu,” batinnya.

“Iya, Bu, itu impian kami sejak lama. Pernikahan adalah hal baik, jadi seluruh dunia harus tau. Untuk mengurangi frekuensi perselingkuhan contohnya,” sambung Thomas. “Tapi benar kata Bu Minawari, keputusan kita kembalikan ke anak-anak terlebih pesta akan menghabiskan banyak tenaga. Saya juga tidak ingin Luz kelelahan dan membuat cucu kami dalam bahaya.”

“Biar lebih khidmat, lebih baik intimate wedding aja gimana Pah? Jadi undang keluarga inti dan teman deket aja. Biar bisa ngobrol hangat dan tidak memakan banyak waktu, mungkin siang juga udah selesai dan kita bisa istirahat penuh,” kata Karel. “Itu juga bisa menghemat energi Luz biar dia gak kecapean.” Padahal alasannya saja, males ketemu orang-orang.

Luz mengangguk. “Ide bagus juga tuh, lebih hemat budget bisa kita kasih ke yang lebih membutuhkan kalo bisa nikah di KUA aja.”

“Norak lu dek,” bisik Devan. “Dapet calon suami kaya, ayo gelar hajatan sebulan penuh kalo bisa.”

“Jangan dong. Kalo mau sih, bisa nyusul gelar pestanya kalo Luz udah melahirkan gimana? Kondisinya sudah stabil jadi gak perlu khawatir,” usul Elena. “Jadi sekarang lebih dulu urus persyaratan nikah, tentukan dimana tempat dan konsep. Aku intimate wedding kan? Setahun kemudian bisa gelar pesta besar-besaran mungkin sekalian ngerayain anniversary? Iya deh ya Pah kayaknya gitu aja, Mama juga setuju.”

Thomas berpikir lalu mengangguk. “Iya juga, kita bisa lebih banyak waktu ngobrol sama keluarga.”

“Tapi tunggu, kita gak mungkin menunggu terlalu lama lagi. Aku gak mau kalo perut Luz makin keliatan, nanti bakalan banyak tanya,” kata Karel. “Kalo bisa secepatnya.”

“Minggu ini aja!” seru Devan. “Gue bakalan bantu urus, santai. Asal ada money.”

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!