Tiba-tiba menjadi gadis penebus hutang, Aina harus merelakan dirinya dinikahi oleh pria paruh baya, sosok yang lebih pantas menjadi ayahnya.
Namun, siapa sangka, ternyata pria tersebut adalah orang yang terhubung dengan masa lalunya.
Lalu bagaimana Aina keluar dari bayang-bayang itu, sementara masa lalu terus mengejarnya. Bahkan mengikatkan tali tak kasat mata di kakinya.
Salam anu👑
Ig @nitamelia05
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Ruang Kerja Erzan
Sejak datang ke rumah utama, Gavin sudah merusak sistem CCTV. Dan sampai sejauh ini belum ada yang curiga kalau ternyata di beberapa sudut ruangan kamera telah dimatikan. Jadi, Gavin merasa cukup leluasa untuk menemui Aina.
Sebelum pagi datang, Gavin berhasil keluar dari kamar kekasihnya. Dia berpura-pura mengambil minum di dapur, agar semua orang yang ditemuinya menyangka kalau dia bangun karena kehausan.
"Aku harus secepatnya menemukan surat perjanjian itu. Supaya Daddy tidak bisa berbuat macam-macam pada orang tua Aina," gumam Gavin sambil berdiri di depan meja pantry.
Dia bukan tak ingin segera menyelematkan Aina dari kekejaman ayahnya. Namun, dia juga berpikir tentang keselamatan Bagaskara dan Dina.
Ada perjanjian yang tertulis di atas materai, andai Aina melanggar, sudah tentu kedua orang tuanya akan ikut terseret.
Gavin mulai menerka-nerka, di mana tempat Erzan menyimpan surat-surat itu. Hingga yang tercetus dalam otaknya adalah ruang kerja sang ayah.
"Sepertinya aku perlu memeriksa beberapa tempat," gumamnya lagi, lalu menaruh gelas di tempat cuci piring.
Lantas dia melanggang keluar, di pertengahan jalan dia bertemu dengan Naumi yang sudah siap berkutat di dapur untuk membuat sarapan.
"Selamat pagi, Den," sapa Naumi dengan sopan, dan Gavin hanya menjawabnya dengan senyuman.
*
*
*
Seperti hari-hari biasanya Aina menyiapkan seluruh keperluan Erzan hingga pria paruh baya itu duduk di meja makan. Namun, kali ini Erzan memilih untuk tidak sarapan, dia hanya menyesap kopinya sedikit, lalu pamit pada Gavin.
"Gav, Daddy pergi dulu yah."
"Daddy tidak ingin sarapan bersamaku?" balas Gavin dengan pertanyaan pula.
"Ada klien dari luar negeri, Daddy harus segera menemuinya."
Gavin mengangguk-angguk. "Okey, kalau begitu hati-hati. Semoga pertemuan kalian sukses."
Erzan menampakkan senyumnya yang menawan. Sambil berjalan dia berkata dengan nada congkak. "Aku tidak pernah gagal dalam berbisnis, Boy."
Ya, karena Daddy hanya gagal dalam pernikahan. Dua kali. Batin Gavin seraya menatap sang ayah yang mulai menjauh dari pandangannya.
Setelah selesai sarapan, Gavin tidak langsung pergi ke kampus. Karena dia sudah memiliki rencana untuk memeriksa ruang kerja ayahnya.
Dengan tatapan waspada Gavin memeriksa keadaan sekitar. Saat dia sudah merasa aman, dia langsung membuka pintu ruangan itu menggunakan kunci cadangan.
Ceklek!
Gavin langsung masuk dan kembali mengunci benda persegi panjang itu.
Ruang kerja Erzan nampak gelap, hingga tangan Gavin merabaa-rabaa untuk mencari saklar. Begitu lampu menyala, Gavin tak membuang waktu lagi, dia segera membuka laci dan apa saja yang bisa dia periksa.
Namun, hampir setengah jam berlalu, Gavin belum menemukan apa yang dia cari. Di sini hanya ada berkas-berkas perusahaan dan juga beberapa surat penting.
"Cih, di mana Daddy menyimpannya?" gumam Gavin seraya menyugar rambutnya ke belakang. Sementara keringat mulai memenuhi dahi dan turun hingga ke tulang pipi.
Tanpa banyak bicara dia kembali mengobrak-abrik meja kerja ayahnya. Hingga waktunya terbuang dengan percuma. Karena usahanya tak membuahkan hasil.
"Damn it!" umpat Gavin dengan raut wajah kesal.
"Sepertinya Daddy menyimpan surat itu bukan di tempat yang sembarangan. Cih, seolah-olah dia menganggap Aina penting, padahal tidak!"
Akhirnya Gavin memutuskan untuk menghentikan pencariannya. Dia akan melanjutkannya besok, sampai dia menemukan surat perjanjian itu.
*
*
*
Saat Gavin hendak pergi ke kampus, dia melihat Aina yang keluar dari rumah dengan pakaian rapih. Gadis itu juga membawa tas jinjing, persis seperti hendak berpergian.
Seperti perkiraannya, Aina benar-benar keluar dari gerbang rumah utama. Karena gadis itu mendapat perintah dari Erzan, untuk belanja bulanan.
Namun, tidak ada supir yang mengantar, sebab Aina tidak diperbolehkan memakai fasilitas itu. Menegaskan sekali, bahwa di rumah ini, Aina bukanlah nyonya.
Mobil Gavin akhirnya melandas melewati Aina. Gadis itu hanya melirik sekilas, lalu sudut bibirnya terangkat. Dengan melihat mobil kekasihnya saja, dia sudah merasa bahagia.
Bahkan jantungnya berdebar lebih keras.
Saat Aina hendak memesan taksi online, tiba-tiba ada sebuah pesan singkat dari Gavin.
[Aku menunggumu di lampu merah pertama.]
Aina kembali mengulum senyum, dia tahu Gavin akan menggunakan kesempatan ini agar mereka bisa pergi berdua.
"Gavin memang yang terbaik," ungkapnya.
***
Oh jelas lah, Neng🙃🙃 Makin tergavin-gavin gak tuh😝
itu akibat tabur tuai Margin, udh mantan suami di srlingkuhin, boroknya du tinggalin di urus mantan msh aja otak jahat suruh anaknya bunuh PP sambung nya. sadis ngk tuh, kena situ padal berlapis habis itu tinggal Terima karma mu😡