NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Simfoni Kacau

Ayub tiba di lobi apartemen. Lift sudah berfungsi kembali. Ia naik ke lantai dua puluh dengan napas satu-satu, darah merembes dari luka di bahunya, membasahi kemeja birunya yang kini compang-camping.

Ia berlari menyusuri koridor, bersiap untuk menerjang siapa pun yang menyakiti Livia. Namun, saat ia sampai di pintu apartemen yang terbuka lebar, langkahnya membeku.

Di tengah ruang tamu yang berantakan, ia melihat Livia sedang bersandar di pelukan Attar. Attar mendekapnya begitu erat, membelai rambut Livia dengan penuh kasih, sementara Livia membenamkan wajahnya di bahu pria yang baru saja diceraikannya itu. Di sudut ruangan, Sheila tergeletak pingsan dengan luka di kepala.

Pemandangan itu menghujam jantung Ayub lebih dalam daripada luka kaca di bahunya. Ia merasa seperti orang asing yang masuk ke dalam sebuah drama keluarga yang tak pernah selesai. Segala perjuangannya untuk melarikan diri dari toilet, luka-lukanya, dan ketakutannya seolah menjadi tidak relevan saat melihat Livia kembali berada di pelukan Attar.

Livia perlahan mendongak dan melihat sosok Ayub berdiri di ambang pintu. "Ayub..." bisiknya lemah.

Attar menoleh, menatap Ayub dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kemenangan karena berhasil menyelamatkan Livia dan rasa hormat yang enggan ia akui. "Dia pasti terjebak di kampus. Aku yang sampai di sini lebih dulu," ucap Attar dengan nada yang seolah menegaskan posisinya.

Ayub terdiam. Ia melihat tangan Attar yang masih melingkar di pinggang Livia. Ada rasa sakit, cemburu, dan kekecewaan yang berbaur menjadi satu. Ia datang untuk menjadi pahlawan, namun ia justru mendapati dirinya terlambat beberapa menit.

"Mbak... Mbak tidak apa-apa?" suara Ayub terdengar parau, menyembunyikan getaran di hatinya.

Livia melepaskan diri dari dekapan Attar, mencoba berdiri dengan kaki yang masih lemas. "Ayub, kamu terluka! Bahumu..." Livia hendak melangkah menuju Ayub, namun Attar menahan lengannya dengan lembut.

"Liv, biar petugas medis saja yang menangani semua ini. Polisi sudah di jalan. Kamu harus istirahat," potong Attar.

Ayub melihat interaksi itu. Ia menyadari bahwa meski surat cerai sudah keluar, benang merah antara Attar dan Livia tidak bisa putus begitu saja, apalagi dalam situasi hidup dan mati seperti ini. Ia merasa hatinya mencelos. Apakah keberadaannya selama ini hanya sebagai pelarian sementara bagi Livia?

Di luar, suara sirene polisi mulai mendekat, bersahutan dengan guntur yang masih menggelegar di kejauhan. Keheningan di dalam ruangan itu terasa lebih mematikan daripada badai. Livia berdiri di antara dua pria yang mencintainya dengan cara berbeda, sementara di lantai, iblis yang menghancurkan hidup mereka masih bernapas, menunggu saat untuk bangkit kembali.

****

Bau antiseptik yang tajam memenuhi koridor apartemen saat petugas medis dan kepolisian mulai mengevakuasi tubuh Sheila yang terkulai lemas. Livia berdiri di sudut ruangan, memeluk dirinya sendiri. Meskipun suhu ruangan normal, ia merasa kedinginan yang amat sangat—sebuah sisa trauma dari kilatan pisau Sheila yang nyaris merenggut nyawanya.

Attar mencoba mendekat, tangannya terulur hendak menyentuh bahu Livia. "Liv, biar aku antar kamu ke dokter. Kamu syok berat, tanganmu juga luka..."

Livia tersentak, secara refleks ia melangkah mundur, menghindari sentuhan Attar. Matanya menatap Attar dengan tatapan yang sulit diartikan; ada rasa terima kasih yang mendalam karena pria itu telah menyelamatkannya, namun ada tembok besar yang segera ia bangun kembali.

"Terima kasih, Attar. Tapi tidak perlu," suara Livia terdengar datar dan bergetar. "Petugas medis sudah ada di sini. Kita sudah bercerai, Attar. Aku tidak bisa... aku tidak boleh membiarkanmu masuk terlalu jauh lagi ke dalam hidupku."

Attar terpaku, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya jatuh dengan lunglai di samping tubuhnya. "Aku hanya khawatir, Liv. Sheila masih berkeliaran di pikiranku, aku takut kalau aku pergi, dia akan—"

"Dia sudah dibawa polisi," potong Livia tegas. "Dan mulai sekarang, aku harus belajar untuk menjaga diriku sendiri, atau bergantung pada orang lain yang bukan kamu. Kita punya batasan sekarang, Attar. Tolong, hargai itu."

Kalimat itu bagaikan sembilu bagi Attar. Ia menyadari bahwa meski ia telah menjadi pahlawan malam ini, statusnya tetaplah seorang mantan suami yang pernah menghancurkan kepercayaan paling dasar dalam sebuah hubungan.

****

Ayub yang sejak tadi berdiri mematung di ambang pintu, perlahan melangkah masuk. Bahunya yang terluka akibat pecahan kaca ventilasi kampus masih mengeluarkan darah, namun ia mengabaikan rasa perih itu. Matanya hanya tertuju pada Livia.

"Mbak Livia," panggil Ayub lembut. Suaranya kontras dengan ketegangan yang diciptakan oleh kehadiran Attar.

Livia menoleh, dan kali ini sorot matanya melunak. Melihat luka di bahu Ayub, rasa bersalah menyergap hati Livia. "Ayub, kamu terluka parah. Maafkan aku, gara-gara aku kamu jadi seperti ini."

Ayub tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membawa ketenangan di tengah badai. Ia mendekat, mengabaikan tatapan tajam dan cemburu dari Attar yang masih berdiri tak jauh dari sana. "Ini hanya luka kecil, Mbak. Yang penting Mbak selamat. Maaf saya terlambat, saya... saya dijebak di kampus."

Livia meraih tangan Ayub yang tidak terluka. "Kamu tidak terlambat, Ayub. Kamu sudah berusaha sekuat tenaga."

Melihat interaksi itu, Attar merasa dadanya sesak. Ia melihat bagaimana Livia memberikan ruang bagi Ayub, ruang yang dulu adalah miliknya. Dengan perasaan hancur, Attar menyadari bahwa kehadirannya hanya akan menambah beban psikologis bagi Livia.

"Aku pergi dulu," ucap Attar parau. "Polisi akan menghubungimu untuk kesaksian. Jaga dirimu, Livia."

Attar berjalan keluar dengan langkah berat, melewati Ayub tanpa sepatah kata pun. Kepergiannya meninggalkan keheningan yang panjang di dalam apartemen, hanya menyisakan Livia dan Ayub di tengah puing-puing kekacauan malam itu.

Ayub duduk di samping Livia di sofa yang sudah dirapikan sedikit oleh petugas. Ia mengambil kotak P3K dan mulai membersihkan luka gores di lengan Livia dengan sangat hati-hati. "Mbak, jangan biarkan rasa takut ini menang. Saya di sini. Saya bukan Attar, dan saya tidak akan membiarkan Mbak sendirian lagi."

Livia menatap wajah Ayub yang tulus. Pemuda ini adalah penawar dari pahitnya perpisahan. Kedekatan mereka malam itu bukan lagi sekadar antara penolong dan korban, melainkan dua jiwa yang mencoba saling menyembuhkan di tengah trauma yang mendalam.

****

Di belahan kota yang lain, suasana jauh dari kata tenang. Ambulans yang membawa Sheila tiba di unit gawat darurat sebuah rumah sakit jiwa dengan pengawalan dua mobil polisi. Begitu pintu belakang ambulans dibuka, suara raungan yang bukan menyerupai suara manusia pecah memenuhi area parkir.

"HA-HA-HA-HA! KALIAN PIKIR BISA MENGUNCI API?!"

Sheila meronta di atas tandu. Tangannya diikat dengan sabuk kulit yang kuat (restraint), namun ia terus menyentakkan tubuhnya hingga tandu itu berguncang hebat. Petugas medis kewalahan.

"Cepat, siapkan diazepam 10 miligram! Dosis tinggi!" teriak dokter jaga.

Sheila menoleh ke arah kerumunan perawat dan pengunjung rumah sakit yang menatapnya ngeri. Wajahnya yang berlumuran darah kering dari luka di kepalanya tampak seperti monster dalam film horor. Ia tertawa melengking, tawa yang naik turun secara tidak terkendali, lalu tiba-tiba berubah menjadi isak tangis yang histeris.

"Attar... kenapa kamu pukul aku? Kita kan mau menikah... Livia sudah mati, kan? KATAKAN DIA SUDAH MATI!" jerit Sheila, lalu kembali meledak dalam tawa yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

Kegaduhan itu luar biasa. Pasien lain di UGD mulai merasa terganggu dan ketakutan. Saat jarum suntik menembus kulitnya, Sheila menatap langit-langit dengan mata melotot. "Aku akan kembali... aku akan merayap di bawah tempat tidur kalian... hahahaha..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!