NovelToon NovelToon
Masa Depan Menantimu

Masa Depan Menantimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: sat*dya

seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

suara dari masa lalu

Aula utama Akademi Zenith berubah kacau.

Para siswa berdiri dari kursi mereka sambil berbicara keras satu sama lain. Beberapa terlihat ketakutan, sebagian lain justru penasaran. Layar hologram di seluruh ruangan masih berkedip tidak stabil setelah peretasan misterius tadi.

Namun di tengah semua keributan itu, Alya hanya bisa duduk diam.

Pikirannya kosong.

Suara ayahnya masih terngiang jelas di telinganya.

“Kalau sesuatu terjadi padaku… lindungi Alya.”

Air matanya jatuh perlahan tanpa bisa ia tahan.

“Alya…”

Hana memegang pundaknya pelan.

“Kamu tidak apa-apa?”

Alya bahkan tidak tahu harus menjawab apa.

Selama bertahun-tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa ayahnya hanyalah pekerja biasa yang meninggal karena kecelakaan.

Namun malam ini…

Seluruh hidupnya seperti dihancurkan lalu dibentuk ulang menjadi sesuatu yang asing.

Ayahnya ternyata bagian dari proyek rahasia.

Dan bukan proyek biasa.

Project Elysium.

Eksperimen manusia dan AI.

Tubuh Alya mulai gemetar kecil.

Ia tidak tahu apakah karena takut, bingung, atau marah.

Sementara itu di atas panggung, Direktur Adrian tetap berdiri tenang meski suasana aula hampir tak terkendali.

“Semua siswa diminta tetap tenang,” katanya tegas.

Namun jelas tidak ada yang benar-benar tenang.

“Apakah rekaman itu asli?!”

“Zenith berbohong pada kita?”

“Kenapa proyek seperti itu disembunyikan?!”

Pertanyaan terdengar dari berbagai arah.

Adrian mengangkat tangan meminta semua diam.

“Akses sistem telah diretas pihak luar. Informasi yang baru saja ditampilkan belum tentu valid.”

“Bohong!”

Seseorang berteriak dari belakang.

“Wajah Arman Rahman jelas terlihat!”

Suasana semakin panas.

Alya menunduk semakin dalam.

Nama ayahnya kini menjadi pusat perhatian seluruh akademi.

Dan itu membuat dadanya terasa sesak.

Tiba-tiba alarm keamanan berbunyi di seluruh aula.

Peringatan.

Sistem keamanan level dua diaktifkan.

Pintu keluar otomatis terbuka.

“Seluruh siswa diminta kembali ke asrama masing-masing,” suara AI akademi terdengar dingin. “Kegiatan malam dihentikan.”

Petugas keamanan mulai masuk ke aula.

Para siswa akhirnya perlahan keluar sambil tetap membicarakan kejadian tadi.

Bisikan tentang Alya terdengar di mana-mana.

“Itu putri Arman Rahman.”

“Jangan-jangan dia bagian eksperimen juga.”

“Pantas sistem AI error.”

Setiap ucapan terasa seperti jarum menusuk.

“Ayo pergi dari sini,” kata Hana cepat.

Alya mengangguk lemah.

Mereka berjalan keluar aula bersama arus siswa.

Namun sebelum mencapai pintu utama, seseorang tiba-tiba berdiri menghalangi jalan mereka.

Livia Chen.

Tatapannya tajam langsung menuju Alya.

“Jadi itu sebabnya kamu diterima di Zenith.”

Hana langsung kesal.

“Minggir.”

Livia mengabaikannya.

“Kamu tahu sesuatu tentang Elysium sejak awal, kan?”

Alya mengangkat wajah perlahan.

“Aku tidak tahu apa-apa.”

“Kau pikir aku percaya?”

“Aku serius.”

Tatapan Livia menyipit curiga.

Namun sebelum suasana memanas, suara dingin terdengar dari belakang.

“Kalau kamu ingin membuat masalah, cari orang lain.”

Reno.

Ia berdiri beberapa langkah di belakang mereka dengan ekspresi datar seperti biasa.

Namun matanya terlihat jauh lebih dingin malam ini.

Livia mendecih pelan.

“Kamu selalu muncul untuk melindunginya.”

“Itu bukan urusanmu.”

Beberapa detik suasana terasa menegangkan.

Lalu akhirnya Livia berbalik pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Hana menghela napas lega.

“Gadis itu benar-benar menyebalkan.”

Namun Alya tidak terlalu mendengar.

Ia malah menatap Reno.

Pemuda itu terlihat berbeda malam ini.

Lebih serius.

Lebih tegang.

Seolah ia sudah mengetahui sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Kamu tahu tentang rekaman itu?” tanya Alya pelan.

Reno diam beberapa detik.

“Sebagian.”

“Jadi semuanya benar?”

Tatapan Reno bertemu dengannya.

“Ya.”

Jawaban singkat itu terasa seperti palu menghantam dada Alya.

“Ayahku benar-benar terlibat dalam proyek itu…”

Reno mengangguk pelan.

Hana terlihat bingung.

“Tunggu… kalian sebenarnya tahu apa?”

Namun Reno tidak menjawab.

Ia malah melihat sekitar aula dengan waspada.

“Kita tidak bisa bicara di sini.”

“Aku ingin tahu semuanya sekarang,” kata Alya cepat.

“Dan kamu akan tahu.”

“Lalu kenapa tidak sekarang?”

Karena untuk pertama kalinya, Reno terlihat ragu.

Tatapan dinginnya sedikit goyah.

“Karena sejak rekaman tadi muncul,” katanya pelan, “kamu sudah menjadi target.”

Jantung Alya langsung berdegup keras.

“Target?”

“Orang-orang yang dulu menutup Project Elysium tidak akan tinggal diam.”

Hana langsung pucat.

“Astaga…”

“Apa mereka berbahaya?” tanya Alya.

Reno tertawa kecil hambar.

“Kamu bahkan belum bisa membayangkannya.”

---

Malam semakin larut ketika Alya akhirnya kembali ke Menara Orion.

Namun suasana asrama tidak setenang biasanya.

Para siswa berkumpul di lorong sambil membicarakan kejadian tadi.

Saat Alya lewat, percakapan mereka langsung berhenti.

Tatapan aneh kembali mengikuti langkahnya.

Rasa sesak di dada Alya semakin besar.

Ia cepat masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

Sunyi.

Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam di tengah kamar sambil mencoba mengatur napas.

Lalu perlahan Alya duduk di lantai.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh lagi.

Ia merindukan ayahnya.

Sangat merindukannya.

Namun kini bayangan tentang ayahnya berubah total.

Bukan lagi pria biasa yang sederhana.

Melainkan seseorang yang menyimpan rahasia besar.

Alya membuka kalung perak peninggalan ayahnya.

Simbol di tengah kalung itu kini terasa berbeda setelah melihat lambang Project Elysium tadi.

“Ayah… sebenarnya siapa dirimu?”

Tiba-tiba gelang digitalnya berbunyi.

Notifikasi masuk.

Pengirim tidak dikenal.

Alya langsung menegang.

Dengan ragu ia membuka pesan itu.

Kalau kau ingin mengetahui kebenaran tentang ayahmu, datanglah ke perpustakaan bawah tanah pukul 00.00.

Datang sendirian.

Jantung Alya berdetak cepat.

“Perpustakaan bawah tanah…?”

Ia belum pernah mendengar tempat itu.

Dan yang lebih menyeramkan…

Pesan itu tidak memiliki identitas pengirim.

Alya langsung teringat semua pesan misterius sebelumnya.

Apakah ini orang yang sama?

Haruskah ia pergi?

Atau ini jebakan?

Pikirannya kacau.

Tepat saat itu, pintu kamarnya diketuk.

Tok. Tok.

Alya refleks berdiri.

“Siapa?”

“Hana.”

Alya membuka pintu perlahan.

Hana langsung masuk dengan wajah cemas.

“Aku khawatir padamu.”

“Aku baik-baik saja.”

“Kamu jelas tidak baik-baik saja.”

Alya tersenyum kecil lemah.

Hana duduk di tepi tempat tidur.

“Alya… kamu percaya semua yang ada di rekaman itu?”

Alya terdiam cukup lama.

“Aku tidak tahu harus percaya apa lagi.”

Suasana kamar menjadi sunyi.

Hana menatap Alya hati-hati.

“Kamu takut?”

Pertanyaan itu membuat Alya menunduk.

“Iya.”

Akhirnya ia mengakuinya.

“Aku takut ternyata hidupku selama ini cuma kebohongan.”

Hana langsung memeluknya pelan.

“Kamu tidak sendirian.”

Mata Alya kembali panas.

Sudah lama sekali ia tidak merasa setenang ini sejak datang ke Zenith.

“Terima kasih,” bisiknya.

Mereka berbicara cukup lama malam itu.

Tentang keluarga.

Tentang sekolah lama.

Tentang ketakutan masing-masing.

Dan perlahan Alya merasa sedikit lebih tenang.

Namun jam di dinding terus bergerak mendekati tengah malam.

Dan pesan misterius tadi terus memenuhi pikirannya.

00.00.

Perpustakaan bawah tanah.

Datang sendirian.

Saat Hana akhirnya kembali ke asramanya, Alya berdiri di depan jendela sambil memandangi kampus Zenith yang sunyi.

Lampu-lampu malam memantul indah di gedung kaca.

Namun di balik keindahan itu, Alya kini tahu tempat ini menyimpan banyak rahasia gelap.

Ia melihat jam digital.

23.47.

Masih ada waktu untuk mengabaikan pesan itu.

Masih ada waktu untuk tetap diam.

Tetapi…

Kalau ia tidak pergi, mungkin ia tidak akan pernah mengetahui kebenaran tentang ayahnya.

Alya menggenggam kalung perak itu erat.

Lalu akhirnya mengambil keputusan.

“Aku harus tahu.”

Ia mengenakan jaket tipis lalu keluar kamar secara diam-diam.

Koridor asrama sudah sepi.

Hanya suara mesin pendingin terdengar pelan.

Alya berjalan cepat menuju lift sambil terus melihat sekitar.

Perasaannya tidak tenang.

Namun rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya.

Begitu tiba di lantai dasar, gelang digitalnya tiba-tiba berkedip.

Peta otomatis muncul di udara.

Sebuah titik merah menyala di bagian bawah akademi.

Perpustakaan bawah tanah.

Alya membelalakkan mata.

“Bagaimana bisa…?”

Seolah seseorang sengaja mengirim akses lokasi untuknya.

Dengan jantung berdebar keras, Alya mulai berjalan menuju titik merah itu.

Tanpa ia sadari…

Dari atas gedung Menara Zenith, sepasang mata sedang memperhatikannya diam-diam.

Reno berdiri di bawah cahaya bulan dengan ekspresi serius.

Dan saat melihat Alya bergerak menuju area bawah tanah, ia berbisik pelan:

“Jadi mereka mulai bergerak malam ini…”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!