Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Jarak Pemisah
Tubuh Egar mematung. Tatapannya terpaku pada gadis manis yang duduk tenang di atas ranjang.
Di sisi lain, Safa membelalak kaget melihat orang asing tiba-tiba muncul di kamarnya. Ia hanya bisa diam, terpaku dalam kebingungan tentang bagaimana harus bereaksi.
Setelah kesadarannya kembali, Egar segera menarik Arlan keluar. Ia sempat beberapa kali mengintip ke dalam demi memastikan sosok yang baru saja dilihatnya.
"Gila kamu, Arlan! Kalau memang 'pengen', jangan gadis kecil selugu dia, dong. Enggak kasihan apa?"
Tak!
Suara jitakan Arlan menggema di lorong hotel. Egar mengaduh sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.
"Kalau ngomong itu otaknya dipakai dulu!" bentak Arlan kesal. Ia menarik Egar menjauh dari pintu. "Dia itu istriku! Aku memang bukan orang suci, tapi aku tidak pernah 'main' perempuan."
"Hah?!" Egar menganga. "Sejak kapan? Kapan kamu menikah?"
Mulai jengah dengan keributan yang dibuat sahabatnya, Arlan mendorong punggung Egar agar menjauh.
"Sudah, pulang sana! Aku bisa stres lama-lama denganmu," ujarnya ketus. Ia segera menutup pintu, meninggalkan Egar yang masih syok di koridor.
"Wah ... gila. Tiba-tiba sekali si Arlan punya istri," gumam Egar sambil menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat.
Setelah kembali ke dalam, Arlan membawa baskom kecil berisi air hangat. Ia kemudian berjongkok di depan Safa.
Tangannya sempat ragu saat hendak menyentuh sang istri. "Emm ... Aku akan membasuh lukamu sebelum mengoleskan salep. Boleh aku pegang kakimu?"
Safa menatapnya sangsi. Ini adalah kali pertama ia disentuh oleh seorang lelaki, meskipun lelaki itu adalah suaminya sendiri.
Dengan ragu, Safa mengangguk. Melihat lampu hijau tersebut, Arlan perlahan mulai melepas kaus kaki yang dikenakan Safa.
Ia sangat berhati-hati saat menyibak rok Safa ke atas, namun gadis itu tetap merintih karena luka di lututnya tak sengaja tergesek kain.
"Aku akan pelan-pelan," ucap Arlan menenangkan.
Sentuhan Arlan terasa begitu lembut. Saat tangan pria itu menyentuh betisnya, Safa merasakan sensasi berdesir yang asing menjalar di tubuhnya.
Arlan sempat tertegun menatap betis mulus di hadapannya. Ia membiarkan kaki Safa bertumpu pada lututnya, lalu mulai mengusap luka sang istri dengan penuh ketelatenan. Darah diseka perlahan, luka itu rupanya cukup dalam hingga meninggalkan celah yang terbuka.
Keheningan menyelimuti kamar itu, hanya terdengar suara kecipak air saat Arlan memeras kain kecil di tangannya. Safa terus memperhatikan suaminya, ada rasa tidak percaya melihat pria yang biasanya tampak kaku itu kini begitu telaten merawatnya.
Setelah memastikan luka itu bersih dari sisa darah dan kotoran, Arlan mengambil tube salep. Ia mengoleskan sedikit di ujung jarinya, lalu menekannya perlahan pada luka terbuka di lutut Safa.
"Sshhh ..." Safa meringis pelan, jemarinya meremas sprei ranjang.
"Tahan sebentar, ya. Ini supaya tidak infeksi," bisik Arlan tanpa mendongak. Ia meniup luka itu dengan embusan napas lembut untuk mengurangi rasa perih yang dirasakan istrinya.
Setelah seluruh luka tertutup salep, Arlan tidak langsung berdiri. Ia masih membiarkan kaki Safa bertumpu pada lututnya. Perlahan, ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Safa yang tampak berkaca-kaca.
"Kenapa tadi kamu meninggalkanku di restoran?" tanya Arlan dengan suara yang sangat lembut.
"Emmm ... maaf, Mas. Tadi aku bertemu dengan teman dan aku lupa kalau kamu masih di sana," akunya.
"Ya udah. Lain kali hati-hati, ya. Jangan sampai kamu terluka."
"Iya, Mas."
Setelah memastikan sang istri sudah baik-baik saja, Arlan masuk ke dalam kamar mandi. Ia memberikan dirinya. Setelah selesai, ia hanya duduk di sofa sambil terus menatap ponselnya seolah cemas menunggu pesan dari orang yang penting.
Dari atas ranjang Safa hanya menatapnya. Ia merasa tiba-tiba sikap Arlan kembali dingin. Tak ingin berlarut dalam pikiran tak menentu, ia memutuskan untuk mengambil wudhu walau dengan tertatih.
Sajadah sudah di gelar. Dengan hati yang tenang, Safa mulai berniat untuk sholat magrib. Setiap gerakan begitu khusuk. Dalam doa ia selalu menyelipkan rasa syukur yang tak terkira.
Lantunan ayat-ayat alquran menggema di setiap sudut ruangan. Arlan yang tengah gundah seketika meletakkan ponselnya. Hatinya tiba-tiba begitu tenang. Ia menatap ke arah Safa cukup lama sampai Safa menyelesaikan bacaannya.
Arlan segera memalingkan wajahnya saat menyadari Safa yang berjalan ke arahnya.
"Mas," panggil Safa.
Arlan menoleh. Tiba-tiba tangannya diraih dan Safa mencium punggung tangannya. Setelah itu Safa langsung berjalan ke arah ranjang.
Sebelum tidur ia mengambil ponsel. Membuka aplikasi menulis. Ia tertegun saat tak ada pesan lagi dari Kelana.
"Kemana dia, ya. Tiba-tiba dia juga ilang kayak aku. Apa dia baik-baik saja," gumam Safa cemas.
Ia segera meletakkan ponsel di atas nakas saat melihat Arlan mendekat. Ia buru-buru menarik selimut.
"Apa kamu kalau tidur pake mukenah? Emangnya gak panas?"
Safa menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa gugupnya.
Dengan memunggungi, Arlan berbaring di samping Safa. "Buka saja. Lagian kita suami istri. Sudah muhrim."
Kain seprai diremas. Safa mulai membuka mukenanya. Ia bangkit menuruni ranjang, melipat rapi dan menggantungkannya.
Sebelum kembali naik ke tempat tidur, ia sempat menatap sesaat punggung yang tampak kokoh itu.
Detik jam seolah menjadi satu-satunya suara ditengah heningnya malam. Arlan bahkan tak sanggup berbalik. Tubuhnya tiba-tiba kaku.
Safa kembali naik ke atas ranjang. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. Hal yang biasa ia lakukan saat masih gadis dulu.
"Ee ... itu ... sofanya," ucap Safa ragu.
Antusias Arlan langsung berbalik. "Sofanya kenapa?"
Arlan berusaha bersikap tenang. Ia bersandar di kepala tempat tidur. Namun, saat menatap sang istri yang tak mengenakan penutup kepala ia tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
Pipi meronanya tampak menonjol di wajah yang bulat itu, semakin manis dengan rambut panjang yang membingkai dagunya.
"Sofa kayaknya empuk dan nyaman. Apa gak sebaiknya ... Mas."
Belum sempat Safa mengutarakan isi hatinya, Arlan tiba-tiba menguap.
"Huaaam. Aku ngantuk banget. Buat apa tidur di sofa kalau ranjang ini begitu lebar dan hangat."
Tanpa banyak bicara, Arlan kembali berbaring dan memejamkan matanya. Ia kembali memunggungi Safa dengan senyum yang aneh. Sebuah senyum tertahan muncul di bibirnya yang sedikit digigit.
🍃🍃🍃
Sebelum matahari terbit Safa tentu sudah bangun untuk menjalankan kewajibannya. Tatapan penuh ragu saat melihat sang suami yang masih terlelap.
Ia baru menyadari Arlan memang tak pernah menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ada keraguan saat ingin mengajak menjalankan bersama.
"Kira-kira Mas Arlan marah gak ya, kalau aku bangunkan."
Setelah mengumpulkan keberanian, Safa mendekat. "Mas, bangun. Ayo kita berjamaah. Sudah masuk waktu subuh."
Mata Arlan mengerjap, bukan karena akan bangun, namun seolah ia sedang bermimpi.
"Kenapa? Kenapa tiba-tiba kau pergi?"
Kata-kata itu singkat, namun entah kenapa hati Safa tiba-tiba sakit. Hubungan yang terasa hangat kini seolah, ada tembok tebal yang menghalangi.