NovelToon NovelToon
Petani Ndeso Di Dunia Game

Petani Ndeso Di Dunia Game

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Romansa / Slice of Life
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Bima Saputra, seorang sarjana pariwisata yang hidupnya terjerat lilitan utang keluarga, kini terjebak menjadi juragan warung sayur di Kabupaten Jatiroso. Realita yang pahit, ibu sakit, dan pernikahan diam-diam dengan wanita impiannya, Dinda, membuatnya merasa terhimpit. Namun, nasibnya berubah drastis saat ponselnya kesetrum, membuka gerbang menuju ladang virtual game Harvest Moon! Kini, ia bisa menanam buah dan sayur berkualitas dewa yang tumbuh sekejap mata, memindahkannya ke dunia nyata, dan menjualnya untuk meraup omzet gila-gilaan. Dari semangka manis hingga stroberi spesial, Bima menemukan jalan ninjanya menuju kekayaan. Bisakah ia melunasi utang ratusan juta, membahagiakan ibunya, dan meresmikan pernikahannya dengan Dinda secara terang-terangan, tanpa ada yang mencurigai rahasia ladang gaibnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lunas Utang Hati pun Tenang! Kekhawatiran Bu Laras!

Tak butuh waktu lama, rombongan truk logistik itu pun tiba di Vila Dima.

Sayangnya, kendaraan bodi bongsor macam truk barang ini cuma bisa parkir mentok di area parkiran depan. Nggak ada akses jalan aspal buat truk masuk lebih dalam ke area vila.

Bima memarkirkan motor Tossa bututnya. Hoki langsung melompat turun dari bak dan menempel ketat di sampingnya.

"Bos Bima, tanamannya langsung di-drop di parkiran sini aja ya?" tanya Pak Rahmat menghampiri.

"Iya, Pak Rahmat, turunin di sini aja," angguk Bima. Emang cuma lapangan parkir ini satu-satunya spot yang lapang buat bongkar muat.

Pak Rahmat pun segera mengomandoi anak buahnya untuk mulai menurunkan barang. Soal ongkos bongkar muat ini hitungannya terpisah dari ongkos jalan, tapi semuanya udah diurus clear lewat kontrak elektronik sebelum mereka berangkat tadi.

Meninggalkan para kuli yang sedang bekerja, Bima berjalan masuk menjelajahi area dalam vilanya.

Hoki menyalak pelan dan buru-buru berlari mengekori majikannya. Sepanjang jalan, matanya liar mengamati sekeliling. Lingkungan luas yang benar-benar baru ini jelas sangat memancing rasa penasaran insting hewannya.

Melihat tingkah anjingnya itu, Bima terkekeh, "Ki, mulai sekarang tempat segede gaban ini resmi jadi wilayah kekuasaanmu. Seneng nggak kowe?"

Seakan mengerti ucapan majikannya, Hoki menyalak riang lalu berlari sprint ke sana kemari. Tiap kali ketemu pohon atau semak belukar yang dirasa strategis, ia bakal ngendus-ngendus sebentar, lalu dengan santainya ngangkat satu kaki belakang... Crot. Ngencingin spot itu sebagai tanda kepemilikan.

Bima cuma bisa melongo melihat kelakuan barbar anjing herdernya itu. Buset, baru juga nyampe udah main patok wilayah pakai air seni aja ni anjing!

Di area lobi utama vila.

Selain Yaya, ternyata sudah ada beberapa orang lain yang berkumpul. Mereka adalah para karyawan lama vila yang semalam dihubungi Yaya dan diminta kumpul pagi ini.

Di zaman sekarang, nyari kerjaan yang nggatek (pantas) itu susahnya minta ampun. Apalagi UMR di Kabupaten Jatiroso rata-rata cuma nangkring di angka 3-4 jutaan. Gaji jadi karyawan vila ini lumayan menjanjikan, makanya nggak ada satu pun dari mereka yang rela kena PHK.

"Eh, itu Bos barunya dateng!" seru Yaya girang begitu melihat sosok Bima berjalan mendekat. Ia langsung memberitahu rekan-rekannya.

Sontak, tatapan penuh rasa penasaran dari para karyawan lama itu langsung tertuju pada Bima.

Kesan pertama mereka: Masih muda banget, terus... kok bawa-bawa anjing gede gitu?

"Selamat pagi, Bos!" sapa Yaya ramah sambil berlari kecil menghampiri Bima.

Bima mengangguk sekilas, lalu bertanya, "Yaya, yang namanya Pak Manto yang mana?"

"Pak Manto! Bos nyariin Bapak tuh!" teriak Yaya melambai ke arah seorang pria paruh baya berusia sekitar 50-an tahun yang berkulit gelap terbakar matahari.

Pak Manto bergegas maju menghampiri. Namun, sebelum Bima sempat membuka mulut, pria paruh baya itu sudah nyeletuk duluan dengan nada serius, "Bos, saya ini siap sedia nguli bantuin Sampeyan ngerjain apa aja di sini. Tapi ada satu syarat mutlak: Sampeyan harus ngizinin saya ngerawat terus dua pohon Ginkgo mati di depan itu. Pokoknya jangan sampai ditebang!"

Bima langsung cengo mendengarnya.

Biasanya karyawan kalau nawarin syarat ke bos baru itu mintanya kenaikan gaji atau tunjangan. Lah ini? Malah minta izin ngerawat pohon mati?

Melihat bosnya kebingungan, Yaya buru-buru maju membisikkan background story-nya, "Bos, jadi gini... zaman Orde Baru dulu kan sempet ada gejolak politik tuh. Keluarganya Pak Manto ini sempet kena imbasnya dan diincar. Karena area vila ini dulunya tuh pelosok hutan yang nggak kejamah orang, kakeknya Pak Manto bawa seluruh keluarganya kabur ngungsi ke sini."

"Berbulan-bulan mereka luntang-lantung bertahan hidup dan tidur ngegembel di bawah lindungan dua pohon Ginkgo raksasa itu. Sampai akhirnya, kakeknya Pak Manto meninggal dan ngembusin napas terakhirnya juga di bawah pohon Ginkgo itu."

"Baru pas masa reformasi, bapaknya Pak Manto berani bawa keluarganya turun gunung balik ke peradaban. Makanya, demi ngejaga pohon warisan sejarah keluarganya itu, Pak Manto rela kerja serabutan ngerangkap koki plus tukang kebun di vila ini dari dulu."

Mendengar kisah pilu itu, hati Bima pun tersentuh. "Pak Manto, Sampeyan tenang aja, syaratnya saya acc. Jangankan ditebang, Sampeyan bebas ngerawat pohon itu sampai hidup lagi. Urusan tanda tangan kontraknya nanti ya, sekarang Sampeyan ikut saya ke parkiran depan dulu, ada kerjaan penting yang butuh pengawasan Sampeyan."

Bima aslinya emang nggak ada niatan nebang dua pohon Ginkgo yang umurnya udah setengah abad itu. Sekarang dia juga paham alasan kenapa Pak Manto ini rela diperbudak jadi kuli serabutan oleh manajemen vila sebelumnya.

Orang tua zaman dulu memang punya ikatan emosional dan balas budi yang sangat kuat pada alam. Orang model begini biasanya lurus dan sangat bisa diandalkan.

Bima kemudian berjalan memimpin Pak Manto menuju area parkiran. Yaya dan beberapa karyawan lain yang didera rasa kepo akut memilih mengekor dari belakang.

Setibanya di parkiran, Pak Rahmat dan anak buahnya sudah berhasil menurunkan sebagian besar pot-pot tanaman bugenvil tersebut.

"Ya ampun, Bos! Ini bugenvil yang Bos beli?! Warnanya... cantik banget sumpah!" pekik Yaya kegirangan. Matanya langsung berbinar-binar terhipnotis oleh pesona warna-warni bunga tersebut.

Karyawan lainnya juga tak kalah takjub. Mereka melangkah mendekat, tak berhenti berdecak kagum. Sumpah, seumur-umur mereka belum pernah lihat bunga bugenvil seindah dan sesegar ini.

Bahkan pria tua sekelas Pak Manto pun tak luput dari daya tarik magis bunga-bunga itu. Hasrat mengagumi keindahan memang nggak pandang bulu usia!

"Bos, Sampeyan ini... mau bikin taman bugenvil di vila ini tah?" tebak Pak Manto takjub.

Bima mengangguk membenarkan. "Betul, Pak. Saya niatnya mau nyulap sekitar 2 hektar lahan kosong di sini jadi lautan bunga bugenvil. Ke depannya bakal ada sekitar 15.000 bibit pohon bugenvil lagi yang bakal datang loading bertahap. Nah, karena kata Yaya Sampeyan ini telaten urusan tanam-menanam, saya mau nyerahin tugas mandor proyek taman ini ke Sampeyan."

Pak Manto terperanjat hebat, matanya melotot. "Bos! Sampeyan ini ngira saya traktor apa gimana?! Lahan 2 hektar, 15.000 pohon... saya mana sanggup ngerjain sendirian, Bos! Minta tambah orang lah!"

Bima langsung ketawa renyah. Ya kali dia sekejam itu nyuruh kakek-kakek umur 50 tahun nyangkul 2 hektar sendirian! Pak Manto ini fix lagi trauma berat gara-gara keseringan diperbudak sama bos vila yang lama.

"Waduh, santai Pak Manto, jangan panik dulu," kekeh Bima menenangkan. "Saya ini waras kok, nggak bakal nyuruh Bapak nanam belasan ribu pohon sendirian. Nanti saya bakal nyewa kontraktor taman sama tenaga kuli borongan khusus buat ngerjain landscape-nya."

"Tugas Bapak cuma standby jadi mandor, ngawasin kerjaan kuli-kuli itu biar nggak ngasal nanemnya. Nanti kalau proyek tamannya udah jadi 100%, saya bakal hire dua tukang kebun tetap buat bantu Bapak ngerawat hariannya."

Mendengar penjelasan itu, barulah Pak Manto bisa menghela napas lega dan mengangguk mantap, berjanji akan mengawasi proyek taman itu dengan mata elang.

Tak lama kemudian, 178 pot tanaman bugenvil sultan itu selesai diturunkan semua.

Bima melunasi sisa tagihan ongkos angkut dengan perasaan gembira, tak lupa ia berpesan, "Pak Rahmat, besok pagi saya order armada lagi ya. Dan kayaknya... selama sebulan ke depan, Sampeyan bakal saya repotin tiap hari buat loading ginian terus."

"Siap laksanakan, Bos Bima! Tinggal WhatsApp aja, armada meluncur!" sahut Pak Rahmat dengan tawa menggelegar.

Di masa ekonomi lesu begini, bisnis angkutan logistik lagi sepi-sepinya. Mana mungkin dia nolak rezeki nomplok order harian sebulan full yang diantar langsung ke depan hidungnya?

Meskipun dalam hati Pak Rahmat lumayan gumun (heran), ngapain juga Bos Bima ini ribet-ribet loading bunga ke gudang sewaan dulu baru besoknya dipindah lagi ke vila? Kenapa nggak langsung dikirim dari supplier ke vilanya aja sekalian?

Tapi ya, peduli setan lah. Orang-orang berduit emang kadang hobinya nyeleneh dan suka buang-buang duit. Contohnya aja bos PO perusahaannya sendiri; di rumah udah ada istri cantik, eh diam-diam kredit rumah lagi di perumahan lain. Tiap kali alesan 'dinas luar kota', aslinya ya minggat ke rumah kedua itu buat tidur sendirian nikmatin kesunyian. Kelakuan orang tajir yang pusing kebanyakan duit mah bebas.

Setelah rombongan truk Pak Rahmat meninggalkan lokasi, Bima kembali ke lobi untuk meng-interview singkat sisa karyawan lama. Secara keseluruhan, kesan pertama mereka lumayan bagus. Nggak ada yang kelihatan punya gelagat licik atau tukang malas-malasan. Kalau urusan performa aslinya, ya tinggal dipantau seiring waktu berjalan.

Satu hal yang jadi PR adalah urusan surat Kontrak Kerja. Bima sama sekali buta urusan hukum ketenagakerjaan. Ujung-ujungnya, ia memutuskan untuk membongkar file kontrak kerja versi manajemen lama. Ia akan mencetaknya ulang besok, merivisi bagian yang tidak relevan, lalu menyuruh Yaya dan karyawan lainnya untuk tanda tangan pembaruan kontrak.

Urusan SDM beres, Bima lalu mengajak Pak Manto berkeliling menyusuri lahan seluas 33 Hektar tersebut. Mereka harus menentukan tata letak yang paling strategis untuk membangun lautan bugenvil seluas 2 hektar impiannya.

Setelah blusukan selama lebih dari satu jam, Bima akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebidang tanah lapang luas yang berada tepat di sisi utara Aula Lobi Utama.

Kalau mau bikin sensasi lautan bunga yang menakjubkan, syarat mutlaknya lahan 2 hektar itu harus membentang luas tanpa terpotong, dan kontur tanahnya juga tidak boleh curam atau njomplang sebelah. Kalau elevasinya terlalu miring, ilusi visual lautan bunga yang rapat itu bakal patah dan kelihatan jelek dari jauh.

Begitu spot-nya deal, Bima langsung cabut kembali ke Jatiroso dan mendatangi kantor kontraktor Landscaping & Garden Design paling bonafide di kabupaten tersebut.

Biro jasa ini pelayanannya all-in. Mulai dari nyari tenaga ahli taman buat transplantasi bunga, sampai urusan kuli cangkul buat landscaping jalan setapak. Tentu saja harganya lumayan pedas, upah tukang harian plus mandornya dipatok Rp 200.000 per kepala!

Setelah deal harga dan menyetor DP, sore harinya tim surveyor dari pihak kontraktor langsung meluncur ke Vila Dima untuk melakukan pemetaan kontur tanah awal hingga menjelang sore.

Langit mulai gelap. Satu hal yang bikin Bima sedikit was-was adalah tumpukan ratusan pot bugenvil sultan di area parkiran vilanya itu.

Nilai ratusan tanaman gaib itu kalau dikurskan ke duit murni gila-gilaan mahalnya. Nggak mungkin kan dibiarkan ngegeletak gitu aja di parkiran tanpa pengawasan semalaman? Bima akhirnya menugaskan Pak Darman—satpam karyawan lama vila—untuk begadang full menjaga tanaman-tanaman tersebut. Hitung-hitung sekalian test drive loyalitas dan integritas satpam tua tersebut.

Setelah semua urusan beres dipacking, Bima memacu motornya pulang ke rusun.

Selagi proyek maha karya taman bugenvilnya mulai digarap kontraktor, ini adalah momen emas untuk membereskan urusan utang-utang peninggalan ayahnya yang masih menumpuk di rumah!

Bima sangat sadar, cepat atau lambat kabar soal dirinya membeli vila miliaran ini pasti bakal bocor dan jadi bahan pergunjingan tetangga. Khususnya ke telinga keluarga, teman, dan kerabat yang dulu ikhlas meminjamkan uang untuk biaya rumah sakit mendiang ayahnya.

Kalau dia sibuk foya-foya beli vila tapi utang ke mereka nggak dilunasin, Bima yakin bakal banyak mulut nyinyir yang memprovokasi kerabatnya itu. Ujung-ujungnya, niat baik kerabat yang dulu minjemin uang bakal berubah jadi rasa benci dan dendam.

Urusan uang memang selalu sensitif. Manusia itu makhluk yang gampang dihasut, apalagi urusan duit.

Jadi, melunasi utang ke mereka adalah prioritas harga mati! Dengan begitu, ketika nanti berita soal vilanya viral, kerabat-kerabatnya ini justru akan ikut bangga, bukan nyinyir merasa dikhianati.

Bima segera mengambil ponselnya dan membuka daftar kontak. Di note ponselnya tercatat rapi nama-nama tetangga dan sanak famili yang menjadi kreditur keluarganya.

Selain utang Rp 100 Juta ke keluarga Rendi yang sudah lunas dibayar kemarin, ditambah sisa cicilan yang rutin ia cicil tiap bulan selama setahun terakhir, total utang keluarganya yang belum dibayar masih menunggak di angka Rp 660.000.000!

Bima menelepon nama pertama di daftar kontaknya. Begitu tersambung, ia langsung menyapa ramah, "Halo, Pakde Parmin? Udah dhahar malam belum, Pakde?... Oh, udah ya. Gini Pakde, kalau Pakde lagi selo nanti malam, bisa mampir ke rumah rusun bentar nggak?... Iya, kebetulan Bima lagi ada rezeki lumayan, Bima mau lunasin utang Bapak ke Pakde sekalian."

Klik. Telepon ditutup, Bima langsung memutar nomor urut dua di daftarnya. Begitu seterusnya sampai belasan nomor kerabat dan tetangga di desa asalnya ia hubungi dan ia minta kumpul di rumah rusunnya malam ini.

Sebenarnya, dari segi unggah-ungguh kesopanan orang Jawa, yang bener itu Bima yang sowan door-to-door mendatangi rumah mereka satu-satu bawa uang pelunasan.

Tapi Bima sengaja mengundang mereka semua ke rusunnya demi sang ibunda tercinta.

Sejak kematian ayahnya, Bu Laras tiap malam kerjanya cuma meratapi foto suaminya, selalu ngomyang (ngelantur) merasa berdosa karena utang mereka belum lunas, dan takut arwah suaminya nggak tenang gara-gara ninggalin beban utang buat anaknya. Bima mau proses pelunasan utang ini disaksikan langsung oleh mata kepala ibunya sendiri biar tuntas beban psikisnya.

Setelah beres menelepon, Bima menyempatkan diri melipir ke gudangnya. Ia berteleportasi ke dalam game dan memanen belasan ekor ikan liar tangkapan kualitas reguler. Ia menaruh ikan-ikan segar itu ke dalam drum plastik besar di bak motor Tossa-nya, menutupinya dengan terpal, lalu tancap gas kembali ke rusun.

Tamu agung model begini pantang kalau disuruh pulang dengan tangan kosong. Oleh-oleh ikan liar segar ini adalah buah tangan yang proper dan berkelas buat menghormati kerabat-kerabatnya itu.

Sesampainya di rusun, Bu Laras ternyata sudah menunggu dengan lauk pauk makan malam sederhana di atas meja.

"Ayo ndang makan dulu, Le," panggil Bu Laras. Begitu Bima duduk, ia kembali bertanya, "Bim, kok tumben pulangnya kemalaman? Urusan vilamu itu gimana progresnya?"

"Aman terkendali kok, Bu. Mulai besok udah jalan digarap, makanya ini hari-hari krusial bakal agak sibuk," jawab Bima santai sambil menyendok nasi.

Mendengar itu, Bu Laras langsung nyerocos ngingetin, "Bim, kowe kerja keras ya kerja keras, tapi inget, jangan sampai ngelantarin Dinda lho! Anak perawan sebaik itu kalau sampai kecantol cowok lain, mau nangis darah pun kowe nggak bakal dapet gantinya."

Bu Laras tak melanjutkan omelannya, tapi raut wajahnya menyiratkan duka yang dalam. Ia sangat takut putranya ini bakal kehilangan Dinda.

Masalahnya, dia merasa keluarganya ini serba minus. Utang di mana-mana, anak bujangnya kere nggak punya mobil rumah, masa iya keluarga Dinda mau ngikhlaskan anak gadisnya nikah dan hidup menderita nanggung utang mertua?

Bima cuma bisa tersenyum simpul mendengar kekhawatiran ibunya.

Tak lama setelah makan malam mereka selesai, Bima langsung beranjak menuju dapur untuk mencuci piring dan membereskan sisa makanan.

Melihat punggung anak laki-lakinya yang sigap mengerjakan pekerjaan rumah, Bu Laras tak kuasa menahan helaan napas panjang. Anaknya ini dari kecil memang terlalu dewasa sebelum waktunya. Teman-teman seumurannya kerjaannya cuma keluyuran buang duit orang tua, sementara Bima banting tulang nanggung beban keluarga. Asli, sebagai orang tua, Bu Laras merasa gagal dan nggak berguna.

Baru saja Bima selesai mengelap meja, ia teringat sesuatu dan buru-buru bilang ke ibunya, "Oh ya Bu, Bima tadi sore nelponin Pakde Parmin sama kerabat lain. Bima suruh mereka mampir ke mari malam ini. Paling bentar lagi pada nyampe."

Bu Laras langsung tersentak kaget. Sebelum ia sempat menginterogasi, bel pintu rusun mendadak berbunyi nyaring.

Dengan perasaan campur aduk tak karuan, Bu Laras menyeret kakinya membukakan pintu. Begitu melihat siapa yang berdiri di balik pintu, senyum getir langsung mengembang di wajah pucatnya. "Eh, Kang Parmin, monggo masuk."

1
Yuliana Tunru
kapqnnih kejutan x buat dinda ..pasti dinda ternehek2 takjub bina sdh jd orkay 🤭🤭
Maz Shell
lanjutkan Thor
Yuliana Tunru
mantap bima hrs jd suami setia hempaskan cwek2 halu sok cantik pula mulut x penuh filter racun 🤭🤭
Yuliana Tunru
bima mmg the best tak sabar nunghu oeresmian vila oleh dinda jgn lupa klga x dinda ya sekian lamaran resmi ke ihu x dinda vila jd mas kawin bakqlqn shock habis tuh ibu2 💪💪💪bima up 3 napa thorrr blm puas ini
Tio Kusuma
mantappppp
Manusia Biasa
auto diborong🤣
Hardjoe Kewek
terima kasih
Hardjoe Kewek
cerita nya bagus,alurnya jg bagus
Jujun Adnin
lanjut
Yuliana Tunru
tak sabar gmn para karyawan bima yrrmehek2 liat bijit tanaman bogenvile x di tata aplg yg kelas sultan up x kurang thorrr 🤭🤭🤭
ZHIVER
thor tak bisa bahasa jawa
Yuliana Tunru
kwalitas gila tuh tak sabar nunggu bima nanam semua hunga di tanah koßoang trus buat gazebo2 buqt qisatawan nikmati ..cuan ngalir kyk air 💪💪 bimaa
Yuliana Tunru
smoga bimo yg dapat vila x buat hadiah pernikahan x dgn dinda ..gassss
Jack Strom
Lah dapat ikan hias legend, masalahnya mau diletak dimana itu ikan???🤔😁
Blue Izoel
tetap semangat thor bikin cerita petani 👍💪
Jack Strom
Ikan² kualitas 2 gak usah dijual, buat dikonsumsi saja, sayang efeknya tuh... 😁
Jack Strom
Selain lunasi pinjaman 100jt, juga kasih bantuan nikah 50jt cukup... 😁
Yuliana Tunru
mantal bima...bayarin utang2 mu duku bima hbs tuh siap2 ngumpuli buat beliin dinda rmh jd lapang tuh hati
Blue Izoel
update terus thor bakal saingan nih sma lahan mustika klo bnyk episode nya👍💪
Jack Strom
Wuih, sudah mulai ada acara mancing2nya, dapat ikan gede lagi... mantap!!! 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!