Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerumunan
Di dalam kereta kuda sederhana, Natalia duduk diam sementara Wulan masih menggerutu pelan. Suasana di dalam kereta terasa sunyi, hanya suara roda yang berderak mengisi perjalanan. Namun tiba-tiba, kereta itu berhenti mendadak.
Wulan langsung menegakkan tubuhnya. “Ada apa, Kusir?” tanyanya cepat.
Dari luar, kusir menjawab ragu. “Nyonya, sepertinya ada keributan di depan. Saya dengar ada orang yang tergeletak tak sadarkan diri.”
Natalia langsung menoleh, matanya berubah serius. Ia mengambil cadar tipis dan menutup sebagian wajahnya.
“Aku akan turun sebentar,” ucapnya singkat.
Wulan mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. “Hati-hati, Nyonya,” ujarnya seolah telah tahu apa yang akan dilakukan sang junjungan.
Natalia turun dari kereta dan berjalan cepat menuju kerumunan. Ia membelah orang-orang yang berdesakan di depan sebuah kedai teh yang riuh.
“Permisi, beri jalan,” katanya tegas.
Di tengah kerumunan, seorang pria paruh baya tergeletak di tanah. Tubuhnya sempat kejang, lalu kini diam mematung dengan wajah pucat.
Seorang pria muda berlutut di sampingnya dengan panik. “Ayah! Bangun, Ayah!” serunya.
Seorang tabib tua berada di dekat mereka, meraba nadi dengan ragu.
“Ini serangan angin duduk,” katanya. “Cepat ambil dupa gaharu dan air jampi!”
Natalia langsung melangkah mendekat, namun pria muda itu menahan lengannya.
“Jangan sentuh ayahku!” bentaknya. “Kami sudah punya tabib!”
Tabib tua itu ikut menatap tajam. “Nona, jangan ikut campur. Ini bukan hal yang bisa kau tangani, apalagi kau hanya orang awam.”
Natalia tidak bergeming. Tatapannya dingin dan tajam menembus keduanya.
“Kalau kalian terus berdebat,” ucapnya datar, “nyawanya akan pergi.”
Pria muda itu terdiam, wajahnya pucat. “A–apa maksudmu?”
“Dia tidak bernapas dengan baik dan nadinya melemah,” lanjut Natalia cepat. “Jika tidak ditangani sekarang, kau akan kehilangan ayahmu.”
Nada suaranya yang penuh keyakinan membuat pria itu ragu. Dengan tangan gemetar, ia akhirnya mundur perlahan.
Natalia segera berlutut di samping pria itu. Jemarinya tidak menuju pergelangan tangan, melainkan ke leher, menekan arteri karotis dengan presisi.
‘Nadi lemah napas berhenti. Cardiac arrest,’ batinnya.
Ingatan tentang catatan medis ibunya dari masa depan memenuhi pikirannya. Pengetahuan yang tak seharusnya ada di zaman ini kini menjadi satu-satunya harapan.
Natalia segera meletakkan kedua tangannya di tengah dada pria itu. Ia mulai menekan dengan ritme stabil dan kuat.
“Hei! Apa yang kau lakukan?” teriak seseorang dari kerumunan. “Kau akan meremukkan dadanya!”
“Diam,” potong Natalia tajam. “Aku sedang memompa jantungnya.”
Tangannya terus bergerak tanpa henti. Wajahnya tetap fokus, seolah mengabaikan semua suara di sekitarnya.
Sambil terus menekan, ia merogoh tas kecilnya. Ia mengeluarkan tabung berisi cairan herbal hasil olahan khusus. Dengan cepat, ia meneteskan cairan itu ke bawah lidah pria tersebut.
Di mata orang-orang, apa yang ia lakukan tampak aneh dan tak masuk akal. Tanpa mantra, tanpa jarum, tanpa ritual yang biasa mereka kenal. Namun Natalia tidak peduli.
Satu detik berlalu, lalu detik berikutnya terasa seperti selamanya. Kerumunan menahan napas, menunggu dengan cemas.
Melihat apa yang dilakukan wanita di depannya, pemuda itu semakin khawatir dan marah. “Berhenti! Hei kau menyakiti ayahku! Hentikan!” teriaknya.
Natalia tidak peduli dengan teriakan pemuda itu.
Tiba-tiba pria paruh baya itu tersentak keras. Ia menarik napas panjang, seperti seseorang yang baru saja keluar dari dalam air. Wajahnya perlahan kembali berwarna.
Kerumunan langsung gempar.
“Ayah!” seru pria muda itu, air matanya jatuh saat memegang tangan ayahnya.
Tabib tua itu mundur dengan wajah pucat.
“Ini … teknik apa itu?” gumamnya. “Tanpa jarum, tanpa mantra kau mengembalikan nyawa?”
Natalia berdiri perlahan, menyeka keringat di dahinya. Tatapannya kembali tenang dan dingin.
“Hanya pengetahuan yang berbeda,” jawabnya singkat.
Ia segera merapikan tasnya, menyembunyikan benda-benda miliknya. Tanpa menunggu pujian atau pertanyaan, Natalia berbalik pergi. Seolah menyelamatkan nyawa hanyalah hal biasa baginya.
Orang-orag yang masih fokus melihat pria paruh baya di depannya langsung tersadar begitu gadis bercadar yang menolong telah pergi.
“Kemana Nona itu?” tanya tabib tua itu.
*
*
Natalia berjalan cepat kembali ke arah kereta kuda setelah memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Ia naik dengan tenang, lalu melepas cadar yang menutupi wajahnya. Wulan yang sejak tadi menunggu langsung mendekat dengan wajah penasaran.
“Bagaimana keadaannya, Nyonya?” tanya Wulan cemas.
“Dia selamat,” jawab Natalia singkat, namun suaranya terdengar lega.
Wulan langsung tersenyum lebar dan mengacungkan jempol.
“Luar biasa,” katanya kagum. “Ilmu yang diturunkan oleh Mendiang Yang Mulia Permaisuri benar-benar ajaib. Sampai sekarang aku masih merasa takjub dengan hal itu, Nyonya.”
Natalia tersenyum kecil mendengar itu. Tatapannya sedikit melembut, berbeda dari biasanya yang dingin.
“Aku juga masih sering merasa seperti mimpi,” ucapnya pelan.
Kereta mulai kembali berjalan, roda kayunya berderak pelan di jalanan kota. Angin sore masuk melalui tirai tipis, membawa suasana yang mendadak terasa sunyi.
Natalia menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. “Semoga Ibu telah tenang di sana,” bisiknya lirih.
Matanya mulai berkaca-kaca, bayangan masa lalu perlahan muncul. Sosok ibunya yang hangat, penyayang dan tegas, seorang dokter jenius dari masa depan yang terlempar ke zaman ini.
Ibunya telah tiada sejak Natalia berusia lima belas tahun. Kini, tujuh tahun telah berlalu sejak kepergian itu.
Namun semua ilmu, semua pengetahuan, telah diwariskan padanya. Menjadi satu-satunya jejak yang tersisa dari sang ibu.
Wulan menatap Natalia dengan lembut, lalu berkata pelan.
“Mendiang Yang Mulia Permaisuri pasti sangat bangga pada Nyonya.”
Natalia tidak langsung menjawab. Ia hanya mengusap air mata yang akhirnya jatuh di pipinya. Senyumnya tipis, namun menyimpan luka yang dalam.
Kereta terus melaju perlahan, membawa mereka kembali menuju kediaman keluarga Li.
Sementara itu di tengah keramaian yang belum juga bubar, bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah. Orang-orang saling pandang, masih terkejut dengan kejadian yang barusan terjadi. Sosok gadis bercadar itu menjadi bahan pembicaraan yang penuh rasa penasaran.
“Siapa dia tadi?” tanya salah satu warga pelan.
“Aku belum pernah melihat teknik seperti itu seumur hidupku,” sahut yang lain.
Pria paruh baya yang baru saja tersadar perlahan duduk, dibantu oleh putranya. Napasnya masih sedikit berat, namun matanya sudah kembali jernih.
“Siapa gadis itu?” tanyanya lirih.
Putranya menggeleng, wajahnya masih dipenuhi rasa syok.
“Aku juga tidak tahu, Ayah. Dia tiba-tiba datang, lalu menyelamatkan Ayah.”
Tabib tua yang tadi sempat meragukan Natalia kini terlihat termenung. Tangannya gemetar, seolah masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Teknik itu, bukan ilmu pengobatan biasa,” gumamnya. “Seolah berasal dari dunia lain. Apa jangan-jangan dia adalah tabib legendaris itu?”
Pria paruh baya itu menyipitkan mata, sorotnya berubah serius.
“Cari tahu siapa dia,” perintahnya pelan pada pengawalnya yang baru datang. “Aku ingin mengetahui identitas gadis itu.”
Pengawal itu langsung menunduk hormat. “Baik, Tuan.”
Namun di sisi lain, kerumunan mulai bubar tanpa jejak yang jelas. Tidak ada satu pun yang benar-benar mengetahui ke mana gadis bercadar itu pergi.
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah