NovelToon NovelToon
Bayang Koridor Di Utara

Bayang Koridor Di Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Romantis
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: nana_2

Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.

Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.

Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 — "Tolong Temukan Dia"

Lorong sempit itu mendadak terasa jauh lebih dingin.

Naresha membeku di tempatnya saat melihat sosok perempuan di ujung lorong.

Evelyn.

Untuk pertama kalinya wajahnya terlihat jelas.

Cantik.

Terlalu cantik untuk terlihat menyeramkan.

Kulitnya pucat seperti porselen, rambut hitam panjangnya jatuh berantakan menutupi sebagian seragam putih yang penuh noda darah.

Namun yang paling membuat dada Naresha terasa sesak…

Adalah matanya.

Tatapan itu kosong.

Sedih.

Seolah menyimpan sesuatu yang belum selesai.

Arven berdiri mematung beberapa langkah di depan Naresha.

Tatapannya tidak lepas dari Evelyn.

Dan perlahan…

Ekspresi cowok itu berubah.

Bukan takut.

Melainkan rasa bersalah.

“Evelyn…” bisiknya pelan.

Sosok perempuan itu tidak bergerak.

Hanya menatap lurus ke arah Arven.

Lampu kecil di lorong berkedip redup.

Ctek…

Ctek…

Membuat bayangan Evelyn terlihat bergerak aneh di dinding.

Naresha menelan ludah pelan.

“Ven…”

Namun Arven seperti tidak mendengar.

Cowok itu justru melangkah mendekati Evelyn perlahan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Dan semakin dekat mereka, hawa di lorong semakin dingin.

“Jangan dekat-dekat!” ujar Naresha spontan.

Arven berhenti.

Tatapannya masih tertuju pada Evelyn.

“Aku ga pernah bisa lihat dia sejelas ini sebelumnya,” gumamnya pelan.

Deg.

Naresha langsung menatap Arven.

“Maksud lo?”

“Biasanya dia cuma muncul sekilas.”

Namun kali ini Evelyn terlihat sangat nyata.

Terlalu nyata.

Bahkan suara tetesan darah dari ujung seragamnya terdengar jelas di lantai.

Tik…

Tik…

Tik…

Perlahan Evelyn mengangkat tangannya.

Gerakannya kaku.

Pucat.

Dan menunjuk ke arah Naresha.

Jantung Naresha langsung berdetak lebih cepat.

“Kenapa dia nunjuk gue terus sih…”

Evelyn membuka bibirnya perlahan.

Namun suara yang keluar terdengar seperti bisikan patah-patah.

“Tolong…”

Naresha membeku.

“Tolong… temukan dia…”

Sunyi.

Napas Naresha tercekat.

“Siapa?”

Namun Evelyn tidak menjawab.

Matanya justru perlahan berubah gelap.

Bayangan hitam muncul di bawah matanya seperti cairan tinta.

Dan senyum kecil mulai muncul di bibirnya.

Arven langsung sadar ada yang salah.

“Sha mundur!”

“Hah—”

Tiba-tiba lampu lorong mati total.

Gelap.

Suara langkah cepat langsung terdengar mendekat.

Tok tok tok tok—

Cepat.

Tidak manusiawi.

Naresha refleks mundur sambil menahan napas.

“ARVEN!”

“Di sini!”

Cahaya senter langsung menyala.

Dan dalam sepersekian detik…

Mereka melihat Evelyn berdiri sangat dekat di depan Naresha.

Wajahnya berubah mengerikan.

Matanya hitam pekat.

Mulutnya tersenyum terlalu lebar.

“Aku… sakit…”

Naresha langsung menjerit kecil.

Arven buru-buru menarik Naresha menjauh.

“Lari!”

Mereka kembali berlari melewati lorong gelap itu.

Suara tawa Evelyn menggema di belakang mereka.

“Hehehe…”

“Hehehe…”

“Hehehe…”

Suara itu terdengar bercampur dengan tangisan.

Dan entah kenapa…

Itu jauh lebih menyeramkan.

Lorong terasa seperti tidak ada ujungnya.

Semakin mereka berlari, semakin gelap tempat itu.

Naresha mulai panik.

“Ven ini jalan ke mana sih?!”

“Harusnya keluar ke gudang belakang!”

“Harusnya?!”

Arven tidak menjawab.

Cowok itu terlihat fokus mencari jalan sambil terus menarik tangan Naresha.

Namun tiba-tiba—

Brakkk!

Sebuah pintu besi muncul di samping lorong.

Arven langsung membukanya cepat.

“Masuk!”

Mereka buru-buru masuk lalu menutup pintunya keras.

Sunyi.

Hanya suara napas mereka yang tersisa.

Ruangan itu gelap dan dipenuhi barang-barang rusak.

Gudang lama.

Naresha bersandar di dinding sambil memegang dadanya.

“Astaga… gue beneran mau mati muda.”

Arven menatap pintu beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas pelan.

“Dia ga masuk.”

Naresha langsung duduk di lantai karena lututnya terasa lemas.

“Kenapa tiap ketemu dia pasti ujungnya lari sih…”

Untuk pertama kalinya Arven terkekeh kecil.

Dan anehnya…

Di tengah situasi mengerikan seperti itu, suara tawa cowok itu justru membuat Naresha sedikit lebih tenang.

Beberapa detik mereka diam.

Lalu Naresha perlahan menatap Arven.

“Ven.”

“Hm?”

“Tadi dia bilang… ‘temukan dia’.”

Ekspresi Arven langsung berubah serius lagi.

“Gue dengar.”

“Menurut lo maksudnya apa?”

Arven menunduk sebentar.

“Kalau Evelyn benar dibunuh…”

Tatapannya perlahan terangkat.

“Berarti pembunuhnya masih ada.”

Deg.

Napas Naresha tercekat.

Suasana gudang mendadak terasa jauh lebih dingin.

Dan untuk pertama kalinya…

Naresha sadar.

Mungkin monster paling menyeramkan di sekolah ini bukan hantu.

Melainkan manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!