Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Tangisan Annisa masih pecah di pelukan ayahnya. Lima tahun mereka terpisah oleh ego, kemarahan, dan pilihan hidup yang dulu terasa benar bagi masing-masing. Dan malam ini, semua rasa rindu yang dipendam terlalu lama akhirnya runtuh begitu saja.
Darto Erlangga memegang wajah putrinya perlahan. Tangannya yang mulai berkeriput mengusap pipi Annisa dengan gemetar. Tatapan pria tua itu penuh luka saat melihat jelas kondisi anaknya sekarang.
“Kenapa kamu kurus sekali...?” suaranya serak. “Kamu sakit?”
Annisa langsung menunduk cepat berusaha menyembunyikan wajahnya. Justru itu membuat hati Darto semakin sesak. Dulu Putrinya adalah gadis paling ceria, paling manja dan paling dijaga di rumah ini. Kalau Annisa terluka sedikit saja, dirinya bisa panik setengah mati. Tapi sekarang, anak yang dulu selalu hidup dalam kemewahan itu berdiri di hadapannya dengan tubuh kurus dan mata sembab penuh kesedihan.
Darto menggenggam kedua bahu Annisa pelan.
“Dia menyakitimu?”
Tubuh Annisa langsung sedikit menegang. Tatapan wanita itu spontan bergetar. Reaksi kecil itu, sudah cukup menjadi jawaban bagi seorang ayah. Rahang Darto langsung mengeras.
“Nisa...” suaranya mulai berat menahan emosi. “Jawab Ayah...”
Annisa justru menggigit bibirnya kuat-kuat. Air matanya jatuh lagi.
“Aku...” napasnya bergetar. “Aku gagal jadi istri yang baik, Yah...”
Kalimat itu langsung membuat Darto membeku. Lalu beberapa detik kemudian, pria tua itu menggeleng keras.
“Jangan bicara seperti itu!” Suaranya meninggi penuh emosi.
“Anak Ayah tidak pernah gagal!”
Annisa langsung menangis semakin keras. Darto memeluk putrinya lagi erat-erat. Tangannya mengusap kepala Annisa berkali-kali seperti saat wanita itu masih kecil dulu.
“Maaf...” suara Darto mulai pecah oleh tangis. “Harusnya Ayah jemput kamu dari dulu ... harusnya Ayah paksa kamu pulang...”
Tubuh pria tua itu bahkan ikut bergetar menahan penyesalan. Sementara, di sisi lain ruangan, Han menundukkan kepala pelan. Bahkan, beberapa pelayan mulai diam-diam mengusap air mata mereka sendiri. Karena suasana malam itu benar-benar terasa menyakitkan. Emran Richard perlahan berubah semakin dingin.
Melihat suasana yang semakin dipenuhi tangis dan penyesalan, Emran Richard akhirnya melangkah mendekat. Pria itu menatap Darto dan Annisa beberapa detik sebelum berkata tenang,
“Kita makan malam dulu.” Suaranya rendah namun cukup menenangkan suasana.
“Kalau terus begini, makanan yang disiapkan dari tadi akan dingin.”
Darto Erlangga mengusap wajahnya pelan lalu mengangguk kecil. Annisa masih menunduk berusaha mengatur napasnya yang bergetar.
Emran kemudian melirik Han dan Satrio.
“Kalian juga ikut makan.”
Keduanya langsung sedikit terkejut.
“Tuan, kami—”
“Itu perintah.”
Han dan Satrio akhirnya saling melirik sebelum mengangguk hormat. Tak lama kemudian, mereka semua berpindah menuju ruang makan besar mansion.
Meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan hangat kini terasa jauh lebih hidup dibanding sebelumnya. Namun, yang paling terasa, adalah perhatian Darto pada putrinya.
Pria tua itu terus mengambilkan makanan untuk Annisa tanpa berhenti.
“Nisa, makan ini.” Pria tua itu tersenyum.
“Dulu kamu suka sup ini, kan?” Dia lalu melirik menu yang lain. “Oh, jangan terlalu pedas. Lambungmu sedang sakit.”
Setiap perhatian kecil itu membuat hati Annisa semakin sesak. Hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang sangat biasa baginya. Namun, setelah menikah dengan Haikal, semua perhatian itu perlahan hilang dari hidupnya.
Air mata Annisa bahkan beberapa kali hampir jatuh lagi.
“Ayah...” suaranya lirih penuh rasa bersalah. “Maafkan aku...”
Darto yang sedang mengambilkan lauk langsung berhenti. Tatapan pria tua itu melembut.
“Jangan minta maaf lagi.”
“Tapi aku—”
“Yang terlambat adalah Ayah.”
Annisa langsung menatap ayahnya dengan mata memerah. Darto menghela napas panjang.
“Harusnya Ayah mencari tahu keadaanmu lebih cepat.”
Suasana meja makan kembali hening beberapa saat. Lalu perlahan, Darto mengangkat pandangannya ke arah Emran. Tatapannya penuh pertanyaan. Sampai sekarang dirinya masih belum benar-benar mengerti, apa sebenarnya yang terjadi pada putrinya.
Melihat itu, Emran meletakkan gelasnya pelan.
“Ceritanya panjang.” Nada suaranya kembali tenang dan dingin.
“Kita makan saja dulu.”
Tatapan pria itu perlahan berubah tajam samar.
“Setelah ini ... kita bahas semuanya.”
Sementara itu, di rumah kecil yang kini terasa jauh lebih sepi tanpa Annisa, pintu rumah terbuka kasar.
Haikal masuk dengan wajah kusut dan penampilan berantakan. Dasi di lehernya sudah longgar, rambutnya acak-acakan, sementara wajahnya terlihat penuh emosi dan kelelahan. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam.
Dari ruang tengah, Lasmi langsung keluar dengan wajah heran.
“Kok baru pulang?”
Bukannya menjawab dengan tenang, Haikal malah membanting tas kerjanya ke sofa.
“Sialan!”
Lasmi langsung terkejut.
“Heh! Kenapa kamu marah-marah?”
Haikal berjalan mondar-mandir sambil meremas rambutnya frustrasi.
“Itu anak angkat Tuan Darto!” geramnya penuh emosi. “Dia memperlakukan aku seperti OB!”
Mata Lasmi langsung membesar.
“Apa?”
Haikal menatap ibunya kesal.
“Aku disuruh buat kopi! Disuruh bersihin kamar mandi CEO!”
Lasmi langsung ikut emosi mendengarnya.
“Kurang ajar sekali!”
Pria itu duduk kasar di sofa sambil mengusap wajahnya frustrasi.
“Dan sekarang aku disuruh lembur tiap hari sampai jam sepuluh malam!”
Lasmi yang tadinya marah kini mulai memperhatikan kondisi anaknya lebih jelas. Wajah Haikal terlihat lelah. Bahkan, tangannya tampak masih sedikit basah bekas membersihkan sesuatu.
“Halah...” Lasmi langsung mengomel panjang. “Pantas wajahmu kayak orang habis diperas!”
Semakin dilihat, semakin kesal pula wanita tua itu.
“Baru jadi manajer sudah diperlakukan begitu? Dasar anak angkat tidak tahu diri!”
Haikal mendecih kasar.
“Mentang-mentang pemegang saham besar!”
Lasmi duduk di samping anaknya sambil terus mengomel kesal.
“Harusnya kamu jangan mau diperlakukan kayak begitu!”
“Kalau aku nolak, nanti malah dicari-cari salahnya!” bentak Haikal frustrasi.
Suasana rumah langsung dipenuhi keluhan dan amarah keduanya. Lasmi yang sejak tadi mengomel akhirnya mulai tenang setelah duduk di samping anaknya. Beberapa detik kemudian, wajah wanita tua itu kembali berbinar penuh ambisi.
“Jadi kapan kamu nikah sama Emeli?”
Haikal mengusap wajahnya kasar sebelum menjawab malas,
“Secepatnya.”
Lasmi langsung tersenyum lebar.
“Nah begitu!” katanya bangga. “Kalau hubungan kalian sudah resmi, ibu yakin ayahnya Emeli bakal bantu karier kamu lebih tinggi lagi.”
Wanita tua itu semakin semangat sendiri.
“Dia kan dewan direksi.” Tatapannya penuh angan-angan. “Kalau kalian menikah, mana tahu nanti kamu bisa jadi direktur.”
Haikal ikut tersenyum tipis membayangkan hal tersebut. Semua itu terasa jauh lebih penting baginya sekarang.
“Tapi sebelum itu...” Haikal mengembuskan napas kesal. “Aku masih harus cari Annisa.”
Lasmi langsung mendecih.
“Buat apa lagi?”
“Tanda tangan surat perceraian.”
Pria itu menyandarkan tubuh ke sofa sambil mengusap tengkuknya lelah.
“Kalau nggak ada tanda tangan final, aku sama Emeli belum bisa nikah resmi di kantor agama.”
Lasmi langsung mengangguk paham. Haikal kembali mendecih malas.
“Cuma aku malas datangi kontrakan kumuhnya lagi.”
Suaranya terdengar merendahkan Annis. Padahal, tempat yang selama ini Haikal kira rumah sederhana Annisa, sama sekali bukan rumah asli wanita itu. Itu hanyalah kontrakan kecil yang sengaja disewa Annisa lima tahun lalu. Semua demi satu hal sederhana, agar Haikal tidak minder mengetahui dirinya berasal dari keluarga kaya raya.
Annisa sengaja menyembunyikan identitasnya. Menurunkan gaya hidupnya. Bahkan, rela hidup sederhana demi menjaga harga diri suaminya. Namun, ironisnya justru karena itulah dirinya diperlakukan rendah oleh Haikal dan keluarganya sendiri.
“Aku malas lihat mukanya lagi,” gerutu Haikal sambil menyandarkan kepala ke sofa.
Namun, Lasmi justru langsung menepuk pahanya semangat.
“Ibu ikut!”
Haikal menoleh malas.
“Ngapain?”
Lasmi mendecih kesal.
“Sekalian ibu mau buat perhitungan sama dia!” Tatapan wanita tua itu mulai licik. Lalu, mendadak sesuatu teringat di kepalanya.
“Eh!”
Haikal mengernyit.
“Apa lagi?”
Lasmi langsung menatap anaknya serius.
“Cincin kawin kalian!”
Haikal sedikit terdiam. “Iya juga...”
Lasmi langsung semakin semangat.
“Masak dia bawa pergi begitu aja?”
Wanita tua itu mengomel sambil menghitung dalam pikirannya sendiri.
“Dulu kamu beli cincin mas kawin itu hampir sepuluh juta, kan?”
“Kurang lebih.”
“Nah!” Lasmi menunjuk udara kesal. “Kalau diuangkan lumayan itu!” Tatapan wanita tua itu penuh perhitungan licik.
“Jangan sampai barang itu dibawa dia gratis.”
Haikal mengembuskan napas kasar.
“Aku juga nggak tahu dia sekarang di mana.”
Lasmi langsung mendecih.
“Cari aja ke kontrakan kumuh itu besok!” Nada suaranya terdengar meremehkan. Haikal, hanya mengangguk pasrah bersamaan dengan lelahnya malam itu.
bahwa kehadirannya sungguh berharga