NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: tamat
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Lampu-lampu jalan di kawasan protokol Surabaya masih menyala benderang saat Raditya tiba di lokasi menggunakan taksi online. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat mobil sedan mewah milik keluarga Adytama terhenti di bahu jalan dengan kap mesin terbuka, mengeluarkan kepulan asap tipis. Di sampingnya, Bianca berdiri dengan gelisah, wajahnya merah padam, dan tangannya sibuk mengipas-ngipas wajah menggunakan tas tangan bermerek.

Begitu Raditya turun, Bianca langsung menghambur ke arahnya. Bukan sambutan terima kasih yang didapat, melainkan rentetan makian yang membuat beberapa pengendara motor yang melintas sempat menoleh.

"Lama banget sih, Rio! Kamu tahu tidak, aku hampir mati ketakutan di sini sendirian? Mana banyak nyamuk lagi! Kamu itu supir macam apa, hah?!" teriak Bianca tanpa memedulikan tatapan orang sekitar.

Raditya mengepalkan tangannya di dalam saku celana kargo. Rahangnya mengeras. Sebagai pria yang biasa memberikan perintah kepada ribuan orang, mendengarkan ocehan gadis manja ini rasanya seperti disiram air keras ke telinganya. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk mengeluarkan kartu identitas aslinya, menunjukkan siapa dia sebenarnya, dan membiarkan Bianca pulang jalan kaki.

Namun, bayangan wajah tenang Kirana di restoran tadi menahannya. Sabar, Radit. Fokus pada tujuanmu, batinnya.

"Mohon maaf, Non Bianca. Jalanan macet dan saya tadi harus mencari taksi dulu," jawab Raditya dengan suara rendah yang terdengar sangat terkontrol.

"Alasan! Sekarang urus mobil ini, aku mau pulang sekarang! Panggil mobil derek atau apa pun, aku tidak mau tahu!" Bianca menghentakkan kakinya ke aspal, lalu masuk ke dalam kabin mobil yang mesinnya sudah mati itu, hanya untuk duduk merengut.

Raditya menghela napas, dengan tenang ia menelepon jasa derek langganan keluarganya—tentu saja atas nama Rio—lalu memesan taksi lain untuk membawa Bianca pulang.

Sepanjang perjalanan pulang di dalam taksi, Bianca tidak berhenti mengomel tentang betapa buruknya pelayanan Rio dan betapa ia akan mengadukan hal ini pada Ayah Haris. Raditya hanya diam, menatap keluar jendela, merutuki nasibnya yang harus meninggalkan makan malam romantis dengan Kirana demi drama kekanakan ini.

Setelah memastikan Bianca masuk ke dalam rumah dengan aman, Raditya tidak langsung menuju mess karyawan. Ia memilih duduk di bangku taman depan rumah yang agak gelap, tersembunyi di balik rimbunnya pohon pucuk merah. Hatinya tidak tenang. Ia terus melirik jam tangannya, menghitung waktu sejak ia meninggalkan Kirana di restoran tadi.

Apa dia aman di jalan selarut ini? Apa dia baik-baik saja? Pikiran-pikiran itu terus berputar. Raditya merasa sangat bersalah. Sebagai pria, ia merasa gagal karena membiarkan wanita yang ia kagumi pulang sendirian.

Sekitar pukul sebelas malam, sebuah taksi online berhenti di depan gerbang. Raditya langsung berdiri, matanya tajam memperhatikan siapa yang keluar. Begitu melihat sosok Kirana yang turun, rasa lega yang luar biasa menyapu dadanya. Namun, ada yang aneh. Gerakan Kirana terlihat sangat lambat.

Raditya segera menghampiri saat Kirana baru melangkah beberapa meter di dalam halaman rumah. Sinar lampu taman yang temaram memperlihatkan wajah Kirana yang sangat pucat. Matanya terlihat sayu, dan ia tampak kesulitan menjaga keseimbangannya.

"Mbak Kirana?" panggil Raditya lirih.

Kirana menoleh, mencoba tersenyum, namun baru saja ia ingin menjawab, tubuhnya tiba-tiba oleng ke samping. Langkahnya lunglai, dan ia hampir saja jatuh mencium lantai marmer teras jika Raditya tidak bergerak secepat kilat.

Dengan sigap, Raditya menangkap tubuh Kirana. Kedua tangannya mendekap bahu dan pinggang wanita itu, menahannya agar tetap tegak. Raditya bisa merasakan betapa dinginnya telapak tangan Kirana dan betapa panas suhu tubuhnya.

"Mbak? Mbak Kirana baik-baik saja?" tanya Raditya, nada suaranya penuh kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.

Kirana menyandarkan kepalanya sejenak di dada Raditya, napasnya terdengar berat.

"Mas Rio... syukurlah Mas sudah di sini. Saya... saya cuma sedikit pusing. Mungkin karena kelelahan rapat tadi," bisiknya lemah.

"Wajah Mbak pucat sekali. Mari, saya bantu masuk," ucap Raditya tegas. Tanpa menunggu persetujuan, ia merangkul pundak Kirana dengan protektif, membiarkan wanita itu menyandarkan sebagian besar beban tubuhnya pada dirinya.

Mereka berjalan perlahan memasuki rumah yang sudah sepi. Raditya menuntun Kirana melewati ruang tengah yang mewah menuju sebuah lorong di dekat area dapur. Ia cukup terkejut saat Kirana menunjukkan kamarnya. Kamar itu terletak di area yang biasanya diperuntukkan bagi tamu, letaknya agak terpisah dari kamar utama Ayah Haris dan kamar mewah Bianca di lantai atas.

Begitu pintu dibuka, Raditya terpaku sejenak. Kamar itu sangat sederhana. Jauh dari kesan mewah seorang putri pengusaha properti sukses. Tidak ada walk-in closet penuh barang bermerek seperti milik Bianca. Di sana hanya ada sebuah tempat tidur berukuran sedang, sebuah meja kerja kayu yang penuh dengan tumpukan jurnal medis dan laptop, serta rak-rak buku yang berderet rapi sampai ke langit-langit.

Kamar itu memancarkan aura ketenangan dan kecerdasan. Raditya bisa mencium aroma sisa-sisa kopi dan wangi antiseptik yang khas, seolah kamar ini adalah tempat di mana strategi besar KiraPharma disusun setiap malam. Raditya sangat menyukai kerapian ini; semuanya berada di tempat yang semestinya, mencerminkan kepribadian Kirana yang terorganisir.

Raditya membantu Kirana duduk di tepi tempat tidur. "Tunggu sebentar, Mbak. Saya ambilkan air hangat."

"Terima kasih, Mas Rio. Maaf merepotkan... harusnya Mas sudah istirahat," ujar Kirana dengan suara yang nyaris hilang. Ia menatap Raditya dengan tatapan tulus, sebuah tatapan yang membuat Raditya merasa ingin melakukan apa pun untuk membuatnya merasa lebih baik.

"Jangan pikirkan itu sekarang. Istirahatlah, Mbak," jawab Raditya lembut. Setelah memastikan Kirana bersandar pada bantal, ia pun pamit keluar dari kamar itu.

Namun, Raditya tidak langsung menuju kamarnya sendiri. Ia bergegas menuju area belakang, tempat para asisten rumah tangga beristirahat. Ia mengetuk pintu kamar Bi Tuti, asisten senior yang sudah lama bekerja di keluarga Adytama.

"Bu... Bu Tuti, maaf mengganggu malam-malam," panggil Raditya saat Bi Tuti membuka pintu dengan wajah mengantuk.

"Eh, Mas Rio? Ada apa ya?"

"Mbak Kirana, Bu. Sepertinya beliau kurang enak badan. Wajahnya pucat sekali dan tadi hampir pingsan di depan. Tolong diperiksa ya, Bu? Mungkin butuh kompres atau teh hangat. Saya tidak enak kalau harus masuk ke kamarnya lagi," ucap Raditya dengan nada memohon.

Bi Tuti langsung terlihat panik. "Astagfirullah, Neng Kirana sakit? Duh, pasti kecapekan itu, kemarin-kemarin tidurnya malam terus. Iya Mas Rio, makasih ya sudah kasih tahu. Bibi langsung ke sana sekarang."

"Terima kasih, Bu," pungkas Raditya.

Raditya berdiri di halaman belakang, menatap ke arah jendela kamar Kirana yang masih memancarkan cahaya redup. Hatinya terasa perih. Ia melihat kontras yang begitu tajam dalam rumah ini.

Kirana, sang CEO jenius yang memberikan kehidupan bagi banyak orang, justru mendapatkan kamar yang paling sederhana dan harus mengurus dirinya sendiri, sementara Bianca yang tidak menghasilkan apa-apa diperlakukan bak ratu.

Kamu terlalu hebat untuk tempat ini, Kirana, batin Raditya.

Ia mengepalkan tangannya. Rasa ingin melindungi wanita itu semakin kuat di dalam dirinya. Malam ini, Raditya menyadari bahwa penyamarannya bukan lagi sekadar pelarian dari perjodohan. Ini adalah tentang memastikan bahwa permata seperti Kirana tidak akan pernah dibiarkan redup oleh siapa pun, termasuk oleh keluarganya sendiri.

Sambil berjalan menuju mess karyawan, Raditya mengeluarkan ponselnya. Ia mengirim pesan singkat kepada asisten pribadinya, Bram.

"Cari tahu semua tentang posisi keuangan keluarga Adytama saat ini. Dan pastikan kiriman suplemen kesehatan terbaik dari Jerman sampai ke alamat Kafe Teras Senja besok pagi atas nama anonim."

Raditya tersenyum tipis. Penyamaran sebagai Rio mungkin melelahkan, tapi ia akan menggunakan setiap kekuatan yang dimiliki Raditya Mahardika untuk memastikan Kirana Adytama mendapatkan kebahagiaan yang layak ia dapatkan.

***

1
say't
bianca² hd pingin tau apa tindakanmu selanjutnya 🤣 itu perusahaan mahardika bkn milik ayahmu lg dungu bin tolol 🤣
say't
gunawan mulai beraksi..si lakinya reva 🤣
say't
busyet bianca bajumu itu sll saja meyakinkan ke tamu kalau dirimu itu wanita penggoda n pelakor n per** kelas kakap 🤭
say't
heran aq tensinya sll tinggi n emosi kenapa bianca g kenak stroke ringan y 🤭 hrs e dari awal sdh dpt gejalax gt
say't
yiaah kebakaran jenggot lagi ni si bianca 🤣 trs aja.aq suka kalo bianca n reva kena darah tinggi 🤣
Eka Damayanti
Pengunaan namanya sering banget diulang dan selalu disebutin lengkap. Cukup raditya atau kirana aja
ina azmi
aku kok terharu baca novel ini 😭😭😭makasih thor bgs cerita nya.
say't
nah lo pst bianca n emak e mlh makin berani tuk melenyapkan n mmpermalukan kirana 🤣
say't
aq jd radit aq hukum sendiri aja mereka ber3 drpd dikasihkn ke pihak yg berweee itu kurang afdhol n g seru n g impas sm kejahatan mereka 🤣
say't
nah lo kena terorkan loe pst hbs akan bnyk peristiwa yg tdk trduga n hiduploe g akn tenang bianca reva yaris
say't
wos berani skl main dikandang singa 🤣 blm smpai keminum pst sdh ketahuan nih #nebak aja kaliii
say't
wow gaun bianca kyk barongsai ya kalo diliat dari jauh 🤣 tenang saja sdh disiapkan cheng bnyk di meja makan kalo loe lapar 🤣
siti Aisyah
haaahaaaaa
Novi Novi
sangat bagus dalam tulisan, kalimat yg di cantumkan sangat baik dan cerita sangat bagus yang seperti secara nyata dan membuat aku yang membaca menangis terharu di setiap episode terakhirnya 🥰🥹
say't
yiah sprt kata pepatah mengatakan like mother like daughter 🤣 baru kali ni aq tahu pengemis menggunakan barang2 branded 🤣
say't
bianca² kasihan dirimu dpt Gen dari mamamu si wanita penggoda or pelakor pelac** or pen👅🤣 sll saja ngasih tau sifatmu yg sbnrnya ke radit (maling teriak maling) 🤣
say't
ini si bianca kapan kena karma terbakar mulutnya y smpai hbs 🤣
say't
reva2 mau uang e tp g mau ngerawat ayah e kirana 🤣 dasar per***
say't
meski ayah kirana matipun kirana g akan minta warisan cz dia sdh kaya raya n sbntr lg mau jd istri raditya 🤣
say't
ini ke kantor buat kerja atau ke kantor jd penggoda 🤣 co2k jd istri simpanan para cwok di perusahaan ni 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!