Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Alin masih menatap Zayyan dengan wajah penuh keterkejutan. Otaknya bahkan belum selesai mencerna ucapan pria itu sebelumnya, tetapi sekarang Zayyan malah terlihat semakin serius.
Angin dingin khas pegunungan berhembus pelan melewati mereka, menggoyangkan ujung rambut Alin yang terurai. Suasana di sekitar terasa ramai, tetapi entah kenapa bagi Alin semuanya mendadak seperti menghilang. Yang tersisa hanya dirinya dan laki-laki aneh di depannya ini.
"Aku nggak suka penolakan," ucap Zayyan santai sambil menyeruput kopinya. "Jadi kamu harus menerima lamaranku."
Alin langsung melotot tidak percaya.
"Hah?!"
Bukannya malu atau menarik ucapan, Zayyan malah terlihat santai seolah baru saja mengatakan hal biasa.
Alin sampai mengusap wajahnya kasar karena frustrasi. "Ya ampun... kamu ini kenapa sih?" gerutunya kesal.
Ia menatap tajam pria di depannya.
"Kenapa kamu maksa? Setidaknya kita pacaran dulu, jangan langsung menikah!" desisnya pelan agar tidak menarik perhatian orang lain.
Meski terdengar galak, sebenarnya Alin sedang berusaha menenangkan jantungnya sendiri yang sejak tadi berdetak tidak normal.
"Tidak tahu apa jantungku rasanya mau copot" lanjutnya dalam hati.
Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan situasi seperti ini dalam hidupnya.
Dia bahkan baru tiga kali ini bertemu dan jalan bersama Zayyan. Tetapi laki-laki itu tiba-tiba melompat jauh sampai membahas pernikahan dengan wajah tanpa dosa.
Sementara Zayyan justru tersenyum kecil melihat kepanikan Alin. Wajahnya benar-benar lucu, membuat Zayyan gemas.
"Kelamaan kalau pacaran dulu," ucap Zayyan santai. "Lebih baik langsung nikah aja."
Alin melotot lagi.
"Pacarannya nanti setelah nikah."
Alin sampai terdiam beberapa detik saking tidak habis pikirnya. "Logika dari mana itu?" tanyanya akhirnya.
"Logika orang yang serius." Jawaban itu membuat Alin tercekat.
Zayyan mengatakannya sambil menatap lurus ke arahnya. Tidak ada nada bercanda seperti sebelumnya. Sorot matanya justru terlihat sangat yakin.
Alin langsung memalingkan wajah karena mendadak salah tingkah. "Pokoknya nggak bisa kayak gitu."
"Kenapa?"
"Ya karena... karena menikah itu bukan hal main-main."
"Aku juga nggak main-main."
"Lalu kamu kenal aku baru berapa lama?"
"Cukup buat bikin aku yakin."
Deg.
Lagi-lagi kalimat itu membuat dada Alin berdebar kacau. Ia buru-buru meminum kopinya untuk menyembunyikan rasa gugup, meski pada akhirnya malah hampir tersedak karena minum terlalu cepat.
"Heh, pelan-pelan," ujar Zayyan sambil tertawa kecil.
Alin langsung menaruh gelasnya dengan kesal.
"Kamu bikin kaget terus sih."
Zayyan menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap langit yang mulai tertutup kabut. "Aku nggak ngerti kenapa kamu kaget banget."
Alin mendelik. "Karena orang normal nggak ada yang ngajak nikah secepat ini!"
"Ada."
"Siapa?"
"Aku."
Alin langsung menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya. Pria ini benar-benar tidak bisa diajak berpikir normal. Namun di balik kekesalannya, Alin sadar satu hal. Zayyan tidak terlihat sedang bercanda. Itulah yang justru membuatnya semakin gugup.
Kalau pria itu hanya menggoda mungkin Alin masih bisa membalas seenaknya. Tetapi sorot mata Zayyan terlalu serius untuk dianggap candaan.
Zayyan kembali menatap Alin. "Aku cuma nggak mau buang waktu."
"Maksudnya?"
"Aku suka sama kamu. Ya udah, nikah."
Alin menatapnya datar.
"Kamu ngomong nikah kayak ngomong mau pesan nasi goreng."
Zayyan tertawa pelan. "Soalnya menurutku semuanya bakal lebih gampang kalau sama orang yang tepat."
Kalimat itu membuat Alin terdiam lagi. Untuk sesaat ia tidak tahu harus menjawab apa. Hidup Alin selama ini terlalu sibuk untuk memikirkan hubungan percintaan. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, ia hanya fokus bertahan hidup, belajar, dan bekerja. Menikah bahkan tidak pernah benar-benar masuk ke dalam daftar pikirannya. Tetapi sekarang ada seorang laki-laki yang datang tiba-tiba lalu berbicara tentang masa depan mereka dengan begitu mudahnya.
Namun yang lebih aneh lagi, Alin tidak merasa terganggu sepenuhnya.
"Aku serius, Alin," ucap Zayyan lebih pelan kali ini. "Aku pengen kamu jadi istriku."
Jantung Alin kembali berdetak keras. Ia langsung memalingkan wajah ke arah lain, pura-pura fokus melihat pemandangan. Padahal pikirannya benar-benar kacau.
Kenapa laki-laki ini bisa bicara setenang itu ?Sementara dirinya hampir mati gugup sejak tadi.
Zayyan tersenyum tipis melihat telinga Alin yang mulai memerah.
"Kamu malu ya?"
"Nggak."
"Terus kenapa nggak berani lihat aku?"
"Aku malas lihat muka kamu."
"Oh ya?"
"Iya."
Padahal kenyataannya Alin justru takut kalau menatap mata Zayyan lebih lama, jantungnya benar-benar bisa copot seperti yang ia pikirkan tadi.
Alin masih memalingkan wajahnya ke arah pegunungan, berusaha mengatur napas yang terasa tidak beraturan. Angin dingin terus berhembus, tetapi pipinya tetap terasa panas.
Sementara itu Zayyan tampak santai menunggu jawaban. Pria itu bahkan masih sempat memakan kentang goreng seolah tidak sedang melamar seseorang.
Alin melirik sekilas ke arahnya lalu kembali mendesah panjang. "Kamu tuh benar-benar aneh."
Zayyan tersenyum kecil. "Aku anggap itu pujian."
"Bukan pujian."
"Tapi kamu nggak nolak."
Alin langsung terdiam. Nah itu dia masalahnya.
Sejak tadi ia memang marah, panik, dan kesal menghadapi tingkah Zayyan. Namun anehnya, satu kata penolakan tidak pernah benar-benar keluar dari mulutnya.
Karena jauh di dalam hatinya... ia juga nyaman berada di dekat laki-laki itu. Padahal mereka belum terlalu lama mengenal satu sama lain. Tetapi Zayyan selalu berhasil membuat hidupnya yang datar terasa lebih hangat dan penuh warna.
Meski pria itu menyebalkan, terlalu percaya diri, sering bicara seenaknya. Namun di saat yang sama, Zayyan juga tulus. Dan Alin bisa merasakan itu.
"Aku kasih kamu waktu mikir," ucap Zayyan tiba-tiba.
Alin menoleh pelan.
Zayyan menatapnya sambil tersenyum tipis.
"Aku nggak akan maksa kalau kamu memang nggak mau."
Kalimat itu justru membuat hati Alin terasa aneh.
Zayyan terlihat sedikit serius... dan sedikit gugup.
Meski pria itu berusaha menyembunyikannya dengan wajah santainya.
Alin menunduk pelan menatap gelas kopinya yang mulai mencair. Pikirannya bercampur aduk.
Menikah bukan hal kecil. Apalagi baginya yang sudah kehilangan keluarga. Selama ini Alin selalu hidup sendiri, mengurus semuanya sendiri, dan terbiasa menanggung semuanya sendiri.
Lalu sekarang tiba-tiba ada seseorang yang datang dan menawarkan tempat untuk bersandar. Jujur saja...itu terdengar menakutkan. Tetapi juga terasa hangat.
Alin menggigit bibir bawahnya pelan sebelum akhirnya membuka suara. "Kamu yakin?"
Zayyan langsung menatapnya lekat.
"Yakin."
"Kamu bahkan belum tahu semua tentang aku."
"Nanti aku pelajari."
"Kalau ternyata aku merepotkan?"
"Aku hadapi."
"Kalau aku nyebelin?"
Zayyan terkekeh kecil.
"Yang sekarang juga udah nyebelin."
"Heh!"
"Tapi aku suka."
Deg.
Alin langsung salah tingkah lagi. Ia buru-buru menatap ke arah lain sambil mengomel pelan dalam hati. "Kenapa laki-laki ini ngomong manis terus sih..."
Zayyan kemudian meraih satu tangan Alin yang berada di atas meja. Membuat Alin refleks menegang. "Aku nggak janji hidup kita bakal sulit atau tidak," ucap Zayyan lembut. "Tapi aku janji akan selalu berusaha membahagiakan mu."
Tatapan mata pria itu kali ini benar-benar berbeda. Tidak ada candaan, tidak ada godaan.
Hanya ketulusan yang membuat dada Alin terasa penuh. Alin merasa ada seseorang yang benar-benar ingin tinggal di sisinya. Bukan karena kasihan, bukan karena iba. Tetapi karena memang menginginkannya. Dan entah kenapa, hal itu membuat matanya sedikit memanas.
Alin menunduk cepat sebelum Zayyan menyadarinya.
Suasana kembali hening beberapa saat. Hanya suara angin dan dentingan sendok dari kafe sekitar yang terdengar samar.
Lalu perlahan, Alin menarik napas panjang.
"Kalau aku bilang iya..."
Zayyan langsung fokus penuh padanya.
"Kamu nggak boleh menyesal."
Senyum di wajah Zayyan perlahan melebar.
"Itu artinya kamu menerima lamaranku?"
Alin menggigit bibirnya pelan sebelum akhirnya mengangguk kecil.
"Iya."
Beberapa detik Zayyan hanya diam menatap Alin seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.
"Iya?" ulangnya lagi tidak percaya.
Alin langsung menatap kesal karena malu.
"Ih, disuruh ngulang terus."
Zayyan tertawa lepas. Tawa bahagia yang sejak tadi berusaha ia tahan. Pria itu sampai mengusap wajahnya sendiri sambil menggeleng tidak percaya.
"Gila... aku diterima."
Alin memalingkan wajah karena ikut malu melihat reaksi berlebihan itu. Namun diam-diam sudut bibirnya ikut terangkat kecil.
Zayyan kemudian menggenggam tangan Alin lebih erat."Mulai sekarang kamu milikku."
Alin langsung mendelik.
"Enak aja."
"Istri masa depan aku."
"Pede banget."
"Kan udah diterima."
Alin tidak bisa membalas lagi karena wajahnya sudah terlalu panas.
Sementara Zayyan terlihat bahagia bukan main sejak mendengar jawaban itu.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥