Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung pertunjukan
Sesampainya di kantor cabang kedua, kedatangan mobil mewah dinas perusahaan langsung menarik perhatian semua karyawan yang masih di luar gedung maupun yang sudah berada di dalam lobi kantor.
Danish turun lebih dulu, lalu berjalan memutar dan membukakan pintu dengan sangat sopan. Alma melangkah keluar perlahan, penampilannya yang bersahaja, memancarkan aura seorang pemimpin yang tenang, anggun, dan berwibawa. Membuatnya semakin terlihat berkharisma.
"Sudah siap, Bu Direktur?" tanya Danish sambil tersenyum manis.
Alma balas tersenyum seraya menarik napas panjang dan dalam lalu mengembuskannya perlahan. Ia berusaha menyingkirkan debaran jantungnya serta sedikit rasa gugup yang tiba-tiba menyergapnya. Ini adalah pengalaman yang benar-benar baru baginya dan sangat berbeda dengan profesinya dulu sebagai dosen yang hanya memberikan materi selama dua jam atau lebih, setelah itu selesai. Namun, mulai saat ini ia akan bekerja minimal delapan jam sehari mengurus banyak hal, mengawasi banyak orang, yang pastinya akan menguras tenaga dan pikirannya.
"In syaa Allah aku sudah siap bertempur ke medan perang," jawabnya berkelakar, sambil berusaha menenangkan diri.
Danish tertawa renyah hingga memperlihatkan gigi-gigi yang bersih dan rapi. Keduanya sama sekali tidak menyadari bahwa keberadaan mereka di tempat itu telah menjadi pusat perhatian dan pembicaraan para karyawan yang ada di kantor tersebut.
"Ayo, masuk! Aku akan memperkenalkan dirimu pada mereka semua secara resmi," kata Danish
Alma menganggukan mantap, lalu berjalan di sebelah sahabatnya tersebut.
Sesampai di dalam lobi yang cukup luas, Danish langsung menghentikan langkahnya di depan para karyawan lalu berkata dengan suara lantang agar terdengar oleh semua orang. "Permisi, selamat pagi semuanya. Hari ini saya akan menyampaikan informasi penting kepada kalian!"
Secara serempak karyawan yang tadi berkerumun, langsung membentuk barisan serta menatap Danish dan Alma dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.
Danish tersenyum sekilas seraya menoleh ke arah Alma, lalu kembali menatap para karyawan. "Perkenalkan, beliau ini Ibu Altamira Malika, Direktur Operasional yang baru. Dan mulai hari ini, beliau akan bertugas di kantor cabang ini sebagai pimpinan tertinggi kalian!" ucapnya tegas, seraya menunjuk wanita yang berdiri di sampingnya dengan ibu jarinya.
Alma tersenyum ramah sembari mengangguk pelan, lalu menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan sopan.
"Mohon bantuan dan kerjasama yang baik dari kalian semua, ya. Mari kita bisa bekerja dengan jujur dan bertanggungjawab, untuk memajukan perusahaan tempat kita mengais rejeki ini agar lebih sukses lagi ke depannya," ucapnya dengan tutur kata yang lembut, tetapi terdengar jelas hingga ke sudut ruangan.
Seketika suasana menjadi lebih hangat. Para karyawan saling pandang satu sama lain, lalu berbisik-bisik penuh kekaguman dan harapan.
"Sepertinya orangnya sangat baik, ramah, dan sopan."
"Benar, auranya tenang serta berwibawa. Semoga beliau menjadi pemimpin yang amanah dan rendah hati."
"Aamiin... Semoga beliau bisa memberi pelajaran pada Pak Nova yang suka semena-mena itu, ya. Rasanya sudah nggak sabar melihatnya tak berkutik."
"Hu'um...Beruntung sekali kalau kita punya pemimpin baru yang seperti itu. Sopan, kelihatan cerdas dan berkelas."
"Semoga saja harapan kita semua terkabul, ya. Mudah-mudahan beliau bisa menindak tegas sikap Pak Nova."
Bisik-bisik masih berlanjut, di antara mereka hingga akhirnya Danish membubarkan mereka.
"Sebentar lagi jam kerja akan segera dimulai, kalian silakan kembali ke tempat kerja masing-masing dan lakukan tugas kalian seperti biasa," ucapnya penuh wibawa.
Setelah semua karyawan membubarkan diri, kemudian Danish mengantarkan Alma menuju lorong utama yang berakhir di sebuah ruangan besar yang berada di ujung lorong.
"Ini ruanganmu," ucap Danish seraya mendorong pintu besar itu hingga terbuka lebar. "Semoga kamu menyukai desain dan penataannya. Kami sudah menyiapkannya khusus agar kamu merasa nyaman bekerja di sini."
Alma mengedarkan pandangan ke semua sisi ruangan, segala perabotnya serba baru, berwarna cokelat tua berkilau, sederhana tetapi sangat elegan.
Di sebelah kiri ada rak buku besar yang sudah terisi dengan buku panduan dan peraturan perusahaan. Di kanan, tersedia ruang duduk kecil dengan sofa empuk juga meja yang pas untuk berdiskusi. Di tengah, berdiri meja kerja besar yang kokoh dengan kursi berlapis kulit. Di atasnya sudah ada komputer, alat tulis serta papan nama indah bertuliskan: Altamira Malika M.E – Direktur Operasional.
Netranya lalu tertuju pada jendela kaca besar, yang menghadap ke halaman depan gedung yang memperlihatkan bangunan pencakar langit, serta pepohonan hijau. Membuat ruangan ini terlihat terang dan sejuk
"Bagaimana? Apa kamu menyukainya?" tanya Danish pelan, seraya mengamati ekspresi wajah Alma di sampingnya.
Alma berjalan perlahan masuk ke dalam, dengan langkah ringan serta penuh keyakinan. Ia menyentuh permukaan meja yang licin dan dingin itu, lalu mengusap pelan papan namanya yang tertulis jelas. Rasa haru tiba‑tiba menyelinap di dadanya, tetapi ia menepisnya cepat dan berganti dengan senyum bangga.
"Semuanya... sangat lengkap, indah, dan terasa nyaman. Jauh melebihi ekspektasiku, Nish," jawabnya singkat, suaranya sedikit bergetar karena takjub. Ia berbalik menatap Danish yang tampak tersenyum puas melihatnya.
"Makasih banyak ya, Nish. Kamu menyiapkan ini dengan sangat sempurna."
Danish mengangguk, berjalan mendekat lalu bersandar sedikit di pinggiran meja kerja itu.
"Kami ingin kamu nyaman, Al. Agar kamu bisa mengatur segalanya, mengawasi semua jalannya operasional, dan tentunya... dari ruangan inilah kamu akan mengawasi setiap gerak‑gerik Nova."
Danish menunjuk ke arah dinding pembatas yang ada di seberang lorong.
"Ruangan Nova ada di sebelah sana, ukurannya jauh lebih kecil dan sederhana dibandingkan ruanganmu ini. Posisi mejanya pun menghadap ke arah sini. Jadi, setiap kali dia menengadah atau menoleh, dia akan selalu melihat pintu ruanganmu, melihat siapa yang berkuasa di sini. Biar dia sadar setiap detik, bahwa posisinya sudah berubah drastis."
Alma mengikuti arah telunjuk Danish lalu tersenyum tipis. Senyum yang dingin dan penuh misteri. Ia kembali menatap Danish, raut wajahnya berubah serius dan penuh percaya diri.
"Terima kasih sudah menyiapkan panggung yang indah ini untukku, Nish. Sekarang... saatnya aku mulai pertunjukannya. Aku akan pastikan, bahwa setiap langkahku di ruangan ini dan keputusan yang kuambil, akan menjadi bukti nyata... bahwa semua kehebatan yang dia banggakan selama ini, sejatinya adalah milikku. Dan dia... dia hanyalah bayangan yang tak ada artinya tanpa aku."
Danish tertawa kecil, bangga luar biasa melihat perubahan sikap sahabatnya itu. "Oke...kalau begitu, selamat bekerja dan silakan bersenang-senang dengan panggung pertunjukanmu, karena sekarang kamu lah sutradaranya."