Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Menjadi Tutor Si Cantik
Vyan terdiam sejenak. Ia tidak tersinggung. Ia justru menatap balik mata Ibu Yasmin dengan ketenangan yang tidak wajar bagi remaja seusianya.
"Ibu benar," ucap Vyan tenang. "Yasmin memang cantik, dan Ibu juga benar kalau dunia ini penuh orang yang mau membodohinya."
Vyan mencondongkan tubuh, suaranya mengecil tapi terdengar sangat serius.
"Tapi Ibu harus tanya satu hal pada diri Ibu sendiri: Sampai kapan Ibu bisa menjaga dia di dalam rumah ini? Setahun? Dua tahun? Setelah itu dia harus keluar, Bu. Dia harus bekerja, dia harus bersosialisasi."
Ibu Yasmin hendak memotong, tapi Vyan mengangkat tangan dengan sopan.
"Kalau sekarang Ibu melarang saya mengajari dia, Ibu sebenarnya sedang membiarkan Yasmin keluar ke dunia luar tanpa pertahanan. Orang jahat tidak butuh Yasmin jadi pintar, Bu. Mereka justru senang kalau Yasmin tetap seperti sekarang; polos, nggak tahu apa-apa, dan gampang ditipu. Itu yang mereka cari."
Vyan menjeda, menatap meja kayu yang sudah kusam itu.
"Ibu takut saya memanfaatkan dia? Kalau saya cuma mau tampangnya, saya nggak perlu capek-capek datang ke sini meminta izin, Bu. Saya nggak perlu repot-repot mikirin gimana cara dia paham pelajaran sekolah. Saya bisa saja ajak dia jalan ke Mall, belikan dia barang, dan dia pasti senang."
Vyan kembali menatap Ibu Yasmin dengan tatapan yang sangat jujur, hampir dingin.
"Tapi saya nggak mau itu. Saya mau Yasmin punya 'taring'. Saya mau dia punya isi di kepalanya supaya nanti kalau ada laki-laki brengsek atau bos yang jahat mau macam-macam, dia tahu cara melawannya. Saya mau dia nggak bisa lagi dihina 'cantik tapi bego' oleh teman-temannya."
Vyan menarik napas pelan. "Saya bukan sedang mendekati Yasmin, Bu. Saya sedang mempersiapkan Yasmin supaya dia kelak bisa melindungi dirinya sendiri. Apa itu yang Ibu sebut memanfaatkan?"
Ibu Yasmin bungkam. Bibirnya yang tadi bergetar hendak mengusir Vyan, kini terkatup rapat. Kalimat Vyan menghujam titik terlemahnya: ketakutan bahwa dia tidak akan selamanya ada untuk melindungi anak gadisnya yang "istimewa" itu.
"Ibu tahu guru Fisika yang baru dipecat itu?" tanya Vyan tiba-tiba.
Ibu Yasmin mengangguk ragu. "Iya, katanya ada masalah..."
"Saya yang memastikan dia pergi," bisik Vyan pelan, membuat Ibu Yasmin tersentak. "Karena dia salah satu orang yang mencoba memanfaatkan Yasmin. Saya nggak cuma bicara, Bu. Saya bertindak. Sekarang pilihan ada di tangan Ibu: Biarkan saya membantu dia punya masa depan, atau biarkan dia tetap polos sampai orang jahat berikutnya datang menghampirinya."
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Yasmin muncul dengan senyum lebar, tidak tahu bahwa baru saja terjadi "perang" mental di ruang tamunya.
"Sudah siap! Ayo Kak Vyan!"
Ibu Yasmin menatap anaknya, lalu beralih menatap Vyan. Ia melihat ada sesuatu yang "berbahaya" dalam diri Vyan, tapi ia juga sadar, anak seperti Yasmin butuh pelindung yang berbahaya seperti pemuda ini.
"Pergilah," ucap Ibu Yasmin akhirnya, suaranya parau.
"Pepi... ayo!" Yasmin menggendong kucing kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Kalau suatu saat Ibu ingin berkunjung ke rumah saya, saya akan sangat senang," ucap Vyan sebelum berpamitan.
Ibu Yasmin mengangguk. "Insya Allah, lain kali," ucapnya diiringi senyum.
...****************...
Motor Vyan berhenti di depan sebuah rumah bertipe modern minimalis. Sekalipun mungil, bagi Yasmin, rumah itu tampak seperti istana dari majalah arsitektur. Garis-garis bangunannya tegas, dengan halaman depan yang tertata rapi dan sebuah garasi yang bersih. Vyan menyimpan motornya, lalu mengajak Yasmin masuk ke dalam rumah yang rupanya tidak dikunci.
Begitu pintu terbuka, seorang wanita dengan pakaian sederhana dan kain pel di tangan menyambut mereka.
"Assalamualaikum, Tante," sapa Yasmin dengan sopan, mengira wanita itu adalah ibu Vyan.
Wanita itu tertawa renyah, menggelengkan kepala. "Panggil Bibi saja, Neng. Mas Vyan, Bibi pulang dulu ya, pekerjaan di belakang sudah beres!" serunya pada Vyan.
"Iya, Bi. Makasih ya," jawab Vyan singkat. Wanita itu segera berpamitan, meninggalkan Yasmin yang masih terpaku.
"Bukan Ibu Kak Vyan?" tanya Yasmin polos.
"Bukan. Itu Bi Anah, beliau yang membantuku mengurus rumah," jawab Vyan sambil meletakkan tasnya.
"Oh... Ibu sama Ayah Kak Vyan nggak ada ya?"
Langkah Vyan terhenti sejenak. "Aku tinggal sendiri... maksudku, Ibuku belum datang ke sini. Sudah, duduk saja dulu."
Yasmin menurut, ia segera duduk di sofa empuk sambil melepaskan Pepi dari gendongannya. Kucing itu segera berkeliling, mengendus-endus wilayah barunya dengan ekor tegak.
Satu jam berlalu di ruang tengah. Yasmin dan Vyan kini duduk berdampingan di depan meja pendek. Sebuah buku matematika terbuka lebar, penuh dengan coretan angka yang bagi Yasmin tampak seperti bahasa asing. Di sudut meja, Pepi sedang asyik menjilati susu dari mangkuk kecil yang disediakan Vyan.
"Nah, kalau variabelnya dipindah ke sini, hasilnya jadi dua. Mengerti?" Vyan menjelaskan dengan nada sabar yang dipaksakan.
"Oh, iya..." Yasmin mengangguk-angguk mantap, meski matanya tampak kosong.
Vyan menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa frustrasi yang mulai merayap. "Sekarang, coba kerjakan nomor lima belas. Sendiri."
Lima belas menit berlalu dengan kesunyian yang mencekam. Pepi sudah selesai dengan susunya dan kini sibuk menjilati bulunya sendiri. Yasmin masih menatap buku itu dengan intensitas yang luar biasa, tangannya kaku memegang pensil. Vyan mengintip pekerjaan Yasmin; kertas itu masih hampir bersih, hanya ada coretan garis tak beraturan di pojok.
Gemas dan kesal mulai bercampur di hati Vyan. "Pertama, jumlahkan dulu yang ada di dalam tanda kurung ini, Yasmin."
"Oh, iya!" Yasmin baru bergerak. Ia menghitung manual menggunakan jari-jarinya di bawah meja, lalu menuliskan sebuah angka. Namun, sedetik kemudian ia menghapusnya lagi dengan panik. "Jadi berapa ya? Gimana ya caranya?"
Vyan terpaksa kembali menerangkan soal yang sebenarnya identik dengan contoh sebelumnya. Ia merasa seperti sedang menjelaskan teori kuantum pada seekor burung nuri.
"Nah, hasilnya nol koma lima, kan?"
"Oh, ya..." Yasmin tersenyum lebar, seolah baru saja menemukan harta karun.
Oh my God! Ini sih gue yang mengerjakan semua soalnya! batin Vyan berteriak.
"Gimana kalau kita ganti pelajaran saja?" tawar Vyan, sudah menyerah pada matematika untuk hari ini.
"Iya!" Yasmin langsung bersemangat, matanya berbinar. "Pelajaran apa?"
"Selain matematika, pelajaran apa lagi yang nilainya... rendah?"
Yasmin mengetuk-ngetuk dagunya dengan pensil. "Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi... terus Bahasa Indonesia juga..."
Vyan memijat pangkal hidungnya. "Yasmin, maksud kamu... semuanya? Gimana kalau Bahasa Inggris dulu?" Vyan mengambil buku LKS Bahasa Inggris miliknya yang tersimpan di rak. "Coba lihat bagian mana yang tidak mengerti."
Yasmin membuka-buka buku itu dengan takjub. "Wah! Buku Kak Vyan sudah diisi semua! Tulisannya rapi banget."
"Iya, itu kan buku kelas sepuluh milikku."
"Bukunya dipinjam saja ya, Kak? Habis aku nggak mengerti semuanya sih. Kalau ada buku Kak Vyan, aku tinggal lihat," ucap Yasmin dengan wajah tanpa dosa.
"Itu namanya nyontek, Yasmin."
"Ya setidaknya aku kan bisa mengerjakan PR tepat waktu. Boleh ya?"
Vyan terdiam, menatap wajah Yasmin yang kini memasang ekspresi memelas—bibir bawah yang sedikit maju dan mata yang memohon. Vyan tersadar, mengajari Yasmin dengan cara konvensional hanya akan memakan waktu seumur hidup tanpa hasil.
"Oke, Cantik. Ambil saja."
"Oh ya? Makasih! Kak Vyan baik banget!"
Vyan hanya bisa mengangguk pasrah, namun ia tidak bisa menahan senyum saat melihat wajah Yasmin yang mendadak berseri-seri, seolah beban hidupnya baru saja diangkat.
"Semuanya saja ya, Kak? Sama pelajaran lain juga?" tambah Yasmin bersemangat.
"Terserah deh..." gumam Vyan.
"Berarti sekarang... main!" seru Yasmin tiba-tiba.
"Main?"
"Iya! Lihat, halaman belakang rumah Kak Vyan luas banget. Ada pohon belimbingnya lagi! Itu, ada yang sudah kuning di atas. Boleh ya buat aku?"
"Iya, boleh. Ambil saja."
Vyan berjalan ke gudang untuk mengambil alat pemetik buah agar Yasmin tidak kesulitan. Namun, saat ia kembali ke halaman belakang, Yasmin sudah tidak ada di tanah.
"Cantik! Kamu di mana?"
"Di sini...!" suara Yasmin terdengar dari atas.
Vyan mendongak dan jantungnya nyaris copot. Yasmin sudah nangkring di salah satu dahan pohon belimbing yang cukup tinggi. Vyan segera memalingkan wajah yang seketika memerah panas.
"Yasmin! Kenapa kamu naik pohon selagi pakai rok?!" tanya Vyan dengan suara tertahan, merasa canggung luar biasa.
Yasmin tersentak, baru menyadari posisinya. Ia buru-buru mencoba turun, namun gerakannya yang panik justru membuatnya terpeleset. "Aaa!"
Vyan hanya bisa menghela napas saat melihat Yasmin mendarat di rumput dengan posisi yang tidak elit. Yasmin segera bangkit, wajahnya menunduk dalam, tidak berani menatap Vyan karena malu yang luar biasa.
"Sudah, tunggu di ayunan saja!" perintah Vyan. Yasmin menurut, ia segera berlari kecil menuju ayunan kayu dan duduk di sana sambil memeluk Pepi erat-erat.
Beberapa saat kemudian, Vyan datang membawa beberapa buah belimbing yang sudah dicuci. Ia duduk di samping Yasmin karena ayunan itu cukup lebar untuk dua orang.
"Ini belimbingnya..."
Yasmin mengulurkan tangan tanpa menoleh, matanya masih terpaku pada bulu Pepi. Vyan sengaja menjauhkan buah itu. Yasmin terus menggapai-gapai ke samping tanpa mau melihat ke arah Vyan. Karena tidak kunjung mendapatkan buahnya, Yasmin akhirnya terpaksa menoleh.
Ia terhenyak. Wajah Vyan berada tepat di depan wajahnya, sangat dekat hingga napas mereka saling bersentuhan. Hidung mereka nyaris beradu. Detik itu, waktu seolah berhenti. Yasmin bisa melihat pantulan dirinya di mata bening Vyan.
Yasmin segera menarik diri dengan gerakan kaget, berpaling memunggungi Vyan dengan jantung yang berdegup kencang. Vyan justru tertawa melihat reaksi itu.
"Makanya, kalau mengambil sesuatu itu sambil dilihat. Ini, ambil..."
"Aku... aku nggak suka belimbing," bisik Yasmin, suaranya bergetar.
"Bohong banget. Terus siapa yang tadi sampai nekat naik pohon?" goda Vyan.
Yasmin semakin mengerutkan tubuhnya ke pojok ayunan. Tanpa sengaja, ia mendekap Pepi terlalu erat. Kucing itu mengeong keras karena protes, lalu melompat dari pangkuan Yasmin dan lari menuju semak-semak.
"Maaf, Pepi!" seru Yasmin panik.
"Oh, Cantik... kamu tega sekali sama teman sendiri," tawa Vyan meledak.
"Maaf Pepi! Nggak sengaja...!" Yasmin segera melompat dari ayunan dan mengejar kucingnya. Vyan hanya duduk bersandar, menikmati belimbing yang terasa manis dengan sedikit semburat kecut, sambil menonton Yasmin yang berlarian di bawah cahaya sore yang keemasan.