Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sengaja pergi jauh : 12
Danang memutari bagian depan mobil, ia berdiri disamping istrinya, menggenggam tangan wanita sholehah tengah mengandung buah cinta mereka.
Deg.
Netra semula kering itu langsung berkaca-kaca, bahkan sudutnya telah basah. Detak jantung Intan terasa menyakitkan, ulu hatinya nyeri. Ia mencoba kuat, tidak ingin memperlihatkan perasaan sekian lama dipendam seorang diri.
'Aku sengaja pergi jauh, agar tak melulu melihat kalian, mengapa malah menghampiri sampai sini?'
Intan berdiri, tersenyum lebar, melangkah tergesa-gesa menyambut kakak sepupu beserta suaminya – pria yang masih dicintai dalam diam hingga detik ini.
"Ada-ada saja kak Siron inilah, jarak dari sini ke kampung kita jauh sangat. Apa kau tak lelah duduk berdiam diri di dalam mobil selama berjam-jam lamanya?” sungutnya mengomeli sang kakak sepupu yang dibalas senyuman teduh.
Siron memeluk adiknya, mengusap sayang punggung wanita berbaju kurung polos, hijab hitam. “Rasa lelahku terbayar setelah bertemu denganmu, Dek. Kemarin belum puas bercengkrama, kau sudah pergi lagi. Aku masih rindu sangat.”
“Abang lah cakap macam itu, tapi namanya juga orang ngidam, Dek … bisa apa selain menurutinya,” timpal pria berkemeja silver lengan pendek, celana jeans panjang.
Intan menarik badannya sehingga pelukan terlepas, dia mengangguk tanpa mau bertemu tatap muka dengan Danang.
"Ayo masuk ke rumah dinas saja. Biar aku periksa di sana.” Ia genggam tangan Siron. “Tak baik wanita hamil muda berkeliaran waktu maghrib sebentar lagi tiba.”
Siron memeluk lengan Intan yang menggenggam tangannya, membiarkan sang suami mengeluarkan buah tangan dari dalam mobil.
Ketika sampai di teras minimalis, Intan memperkenalkan kedua rekan sejawatnya.
“Irda, Kak. Asistennya bu bidan Intan.” Ia menjabat tangan lembut, terpesona oleh kecantikan alami mirip wajah wanita timur tengah.
Ririn pun berkenalan, lalu menerima kantong plastik dari uluran tangan Danang.
Irda membantu temannya menyiapkan suguhan, menyeduh teh di dapur minimalis hunian terbilang lumayan besar jika dibandingkan rumah kebun.
Rumah dinas ini memiliki tiga kamar tidur, sebuah ruang tamu, dan dapur sekaligus ruang makan. Halaman belakang tidak terlalu luas, kalau depan langsung terhubung sama puskesmas. Pagarnya jadi satu dengan klinik kesehatan perkebunan kelapa sawit.
***
Intan terpaku, menggenggam lebih kuat lagi alat tensi darah yang dia ambil dari dalam kamar. Matanya berembun, lalu dia mundur ketika melihat Danang berjongkok di lantai, tengah memijat kaki Siron.
"Sudah, Bang. Tak enak dilihat lainnya, nanti dikira Siron nggak menghargai suami,” ia protes, tapi tidak diindahkan.
“Jangan dengarkan apa kata orang, selagi Abang nyaman, malah merasa senang bisa membantu meringankan rasa mualmu, Sayang.” Dia melanjutkan memijat betis tertutup kaos kaki.
Sewaktu diperjalanan, Siron tampak tak nyaman, tapi menahannya, tidak ingin membuat sang suami khawatir.
‘Aku harus senang, sebab kak Siron mendapatkan suami perhatian, penuh kasih sayang,’ tegurnya memperingati diri sendiri, mengusir rasa iri.
Sebelum keluar, Intan menarik napas guna menetralkan ekspresi wajah agar tetap sumringah. Senyumnya terlihat tulus, ceria.
"Ehem, ehem … lah menikah jalan tiga tahun, tapi tetap saja seperti pengantin baru,” godanya.
Danang membalas seraya menurunkan gamis Siron. “Sampai lansia pun, sepasang suami istri tetap harus seperti pasangan baru. Agar hari-hari layaknya taman surga, sehingga bahagia selalu.”
Siron bergeser ke pinggir dekat sofa yang diduduki Intan, agar suaminya bisa duduk di sebelahnya.
"Intan turut bahagia melihat kak Siron, dan Abang rukun selalu. Sebentar lagi keluarga kecil kalian lengkap dengan kehadiran buah hati, menambah kadar kebahagiaan. Semoga Allah senantiasa menjaga keutuhan tali suci ikatan kalian,” doanya tulus. Hatinya menekan perasaan sebaliknya, dia tidak ingin setan tahu dan mencoba menghasut agar melakukan perbuatan tercela.
“Aamiin,” sahut Siron dan Danang , berbarengan.
Bu bidan sedang mengukur tekanan darah calon ibu, senyumnya terjaga seperti tidak merasakan apa-apa selain bahagia, sesekali menggeleng kepala kala melihat pria dia cinta menggoda istrinya.
“Tekanan darah kakak normal. Alhamdulillah. Sepertinya kedatangan kalian kesini bukan mau periksa, tapi pamer kemesraan,” tuduhan itu tidak seluruhnya nada menggoda, tapi suara hatinya tengah protes.
Hahaha ….
Pecah sudah tawa pasangan suami istri yang tengah berbahagia, jari-jari tangan mereka saling menggenggam, menatap lucu pada wanita pura-pura merajuk.
“Makanya cepat kawin dengan Kamal, biar kau tahu nikmatnya hidup berdua bersama kekasih halalmu,” Danang setengah menjahili sosok yang sewaktu kecil sangat menggemaskan. Sering dia ajak main, belikan jajan.
“Kapan-kapan lah,” jawab Intan setengah hati, lalu disambut tawa lagi.
"Jangan terburu-buru, Dek. Ikuti saja kata hati. Kalau belum siap karena masih ingin mengejar karir tanpa mau terganggu status sebagai seorang istri, ya tunda dulu pernikahan itu. Namun, tanyakan juga pada calon pasanganmu, minta pendapatnya, agar keputusan tak berat sebelah,” Siron memberikan petuah.
‘Keinginan hatiku, sampai kapanpun tak mungkin bisa terwujud. Dia telah bahagia bersamamu. Dapat kulihat ketulusan, cinta teramat dalam pada sorot matanya hanya tertuju untukmu kak Siron.’ Intan mengangguk, tidak sanggup menanggapi, karena dia yakin jika berbicara, suaranya pasti bergetar.
“Kak, Bang … diminum dulu ini teh nya.” Irda menaruh nampan bulat di atas meja kaca.
Ririn menyuguhkan sepiring kue bika Ambon, dan lapis legit.
“Lah, oleh-oleh dari kami kenapa disuguhkan? Tadi beli khusus buat kalian,” ujar Siron.
“Mau gimana lagi, Kak. Adanya cuma itu, kami tak punya stok kue maupun roti,” jujur Irda.
Rekan kerja Intan juga ikut bergabung, mereka bercengkrama hangat, cepat akrab dikarenakan Siron pribadi hangat, ramah.
Intan menyesap teh tanpa gula khusus untuknya, setiap rasa hangat melewati tenggorokan, hatinya pun ikut berdesir. Berlama-lama bersama seseorang masih senantiasa mendiami sanubari, sama saja seperti menusuk kulit sendiri menggunakan peniti.
Danang sangat perhatian ke istrinya – mengambilkan tisu basah kala melihat Siron merasa risih sebab telapak tangan lengket terkena minyak kue Bika Ambon.
‘Kapan mereka pergi? Aku takut tak sanggup menahan sesak dada ini,’ keluhnya dalam hati.
Sayup-sayup mereka mendengar adzan Maghrib, Danang beranjak, dia berpamitan ke istri dan lainnya mau sholat di masjid. Sebelumnya sudah pernah singgah kesini, jadi tahu dimana letaknya.
Siron mengajak Intan shalat, tapi bu bidan sedang berhalangan. Sedangkan Irda dan Ririn berbeda keyakinan dengan mereka. Jadilah ia shalat di kamar sepupunya.
Sambil menunggu Siron menunaikan ibadah shalat wajib, Intan termenung seorang diri di ruang tamu. Sedari tadi ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk, tapi malas membukanya.
Beberapa menit telah berlalu, Intan masih duduk. Pandangannya kosong, pikiran berkelana ke masa lalu. Masa di mana dia menyadari jika perasaan nyaman berkembang menjadi cinta.
Dia terlambat, tidak lagi bisa menyelamatkan hatinya yang telah terpaut kepada pria lebih tua delapan tahun dengan dirinya.
“Dek, bukankah ini kepunyaannya bang Danang? Kok ada dikamarmu?”
.
.
Bersambung.
mkanya jgn mnguji ksabaran intan....
orh macam intan... sdh mau brsusah payah mngalah.... eeee mlah kalian tetap bebal... mlah makin mnambah kadar drama.... dengan mnyembunyikn si lanira di tmpat lain...
kalau memang harus hancur ikatan pertunangannya segera saja biar menjadi kristal
uji coba dulu
Repot dah..
Lagian Kamal kok bisa nakalyadan Lanira kamu kenapa...
😬😬😬