NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26 Interogasi

Pintu baja sel bergeser ke atas dengan suara yang berat. Bau besi, semen basah, dan keringat dingin instan menyergap indra penciuman begitu Reigan melangkah masuk lebih dulu, diikuti oleh Hana.

Di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu neon putih vertikal, sang tawanan terikat kaku di atas kursi beton yang tertanam ke lantai.

Kedua tangannya diborgol ke belakang, sementara sebuah alat penyangga besi menahan rahangnya tetap terbuka paksa—memastikan pria itu tidak bisa menggigit sisa racun atau memutus lidah sendiri.

Meskipun nama Leon sudah tercetak jelas di radar mereka sebagai otak di balik penyusupan semalam, Reigan tetap butuh koordinat pasti.

Mengetahui siapa pelakunya tidak akan berguna jika mereka tidak tahu di sudut kota Odelgard mana Leon menyembunyikan sisa pasukannya saat ini. Informasi lokasi itulah yang harus diperas sebelum fajar berakhir.

Reigan berjalan mendekat. Langkah sepatunya sengaja dihentak berat, menciptakan gema intimidasi yang pekat.

Pria itu melepaskan jas hitamnya, menyampirkannya ke sudut meja besi, lalu menggulung kemeja hitamnya hingga sebatas siku, memamerkan otot lengan bawahnya yang kokoh.

"Lepaskan penyangga rahangnya," perintah Reigan dingin pada Marco.

Begitu besi itu dilepaskan dengan sentakan kasar, sang tawanan langsung terbatuk, meludahkan sisa air liur berdarah ke lantai semen. Matanya yang merah menyalang menatap Reigan, dipenuhi kombinasi antara rasa takut dan kedegilan yang dilatih.

"Di mana Leon menyembunyikan jalur logistik kalian di Odelgard?" sergah Reigan langsung pada intinya. Suaranya rendah, menguarkan aura kegelapan mutlak seorang pemimpin tertinggi Douglas.

Tawanan itu terkekeh kaku, membiarkan darah segar menetes dari sudut bibirnya yang pecah akibat interogasi Marco subuh tadi.

"Klan Douglas... hanya sekumpulan anjing yang menggonggong di siang hari. Kau tidak akan mendapatkan koordinat apa pun dariku,*

Brak!

Satu hantaman mentah dari kepalan tangan kanan Reigan mendarat telat di rusuk kiri tawanan, membuat kursi beton itu bergetar.

Pria itu melenguh kesakitan, namun sedetik kemudian ia kembali tertawa mengejek. Siksaan fisik justru memicu adrenalinnya untuk tetap terjaga dan bertahan di bawah tekanan.

Reigan menggeram jengkel. Tangannya bergerak ke belakang pinggang, bersiap mencabut pistol kaliber besarnya demi meletuskan peluru ke lutut pria itu jika habis kesabaran. Interogasi fisik ini tidak berjalan efisien.

Sebelum jemari kekar Reigan sempat menyentuh gagang senjatanya, sebuah tangan yang terasa dingin menyentuh pergelangan tangannya.

"Kau membuang tenagamu, Reigan. Rasa sakit membuatnya merasa masih memegang kendali," ujar Hana datar tapi mampu menahan Reigan melakukan tindakannya.

Reigan menatap Hana intens, rahang tegapnya mengeras sesaat. Gengsinya terusik ketika Hana menilainya.

"Jadi, apa kau juga tahu cara menginterogasi?" tanya Reigan seperti menantang.

Hana menghela napas pelan. "Aku tidak tahu. Apa aku juga harus mencobanya?"

Reigan terdiam beberapa detik, menimbang-nimbang keberanian wanita di depannya. Ego tertingginya menolak mundur, namun rasa penasaran yang pekat terhadap sosok misterius wanita ini perlahan mulai mengambil alih.

Pria itu akhirnya menurunkan tangannya dari gagang senjata, lalu menarik sudut bibirnya tipis—sebuah senyum miring yang menantang.

"Silakan, Nyonya Reigan," ucap Reigan dengan nada kental mencemooh.

"Mundur ke balik kaca," perintah Reigan pada Marco dan Nico, sebelum ia sendiri berbalik dan melangkah keluar menuju ruang pengawasan satu arah yang disekat kaca gelap kedap suara.

"Apa benar Bos, menyerahkan interogasi pada istri Anda?" tanya Marco ragu. Dia tampak cemas sambil menoleh ke belakang berkali-kali sebelum keluar dari sel.

"Kita lihat saja apa yang bisa dia lakukan," ujar Reigan.

Pria itu berdiri bersedekap, menatap bagaimana wanita itu mulai menginterogasi.

Di dalam sel.

Penyusup itu terkekeh melihat orang yang menginterogasi diganti oleh Hana. Wanita dengan tubuh kurus dan terlihat rapuh.

"Sungguh lucu pria itu menyuruhmu menginterogasiku. Apa kalian sedang bermain mafia-mafiaan?" tanya pria itu sambil menatap remeh pada Reigan yang ada diluar ruangan.

"Entah," jawab Hana datar tidak terpengaruh cemoohan pria itu. Hana duduk dan bersandar pada badan kursi.

"Kau bisa jadi pasangan Leon atau yang lain, karena wajahmu cantik. Lebih baik buka borgol ini dan lari bersamaku. Aku akan mengajakmu bertemu dengan pria itu," tawar pria itu dengan mata jelalatan.

"Oh, Leon? Aku tidak tertarik."

Rahang Reigan yang mendengar tawaran pria itu mengeras. Tangannya mengepal. Kilat pembunuhan yang pekat berkilat di manik mata gelapnya.

Nico melirik ngeri dari samping. Ia menemukan wajah Reigan sudah sekaku batu, menahan amarah yang siap meledak kapan saja karena egonya sebagai seorang suami dan pemimpin klan dikoyak oleh kelancangan anjing jalanan di dalam sel.

Dari balik kaca satu arah, manik mata gelap Reigan memandang tubuh Hana di dalam sel. Urat-urat di leher tegap Reigan tampak menegang, berdenyut kaku seiring dengan detak jantungnya yang mendadak bergemuruh.

Namun, di dalam sel, Hana tidak bergerak gelisah sama sekali.

Sepasang mata bulatnya yang kaku menatap lurus ke dalam manik mata pria itu, mengunci pandangannya yang mendadak mencekik.

Hana memiringkan kepalanya sedikit. Saat ia berbicara, suaranya turun berubah menjadi bisikan rendah yang luar biasa tenang namun mengandung instruksi maut terselubung yang hanya dimengerti sebagian orang.

"Jantungmu masih berdetak pelan dan tenang," bisik Hana dingin. "Kau cukup berani saat berada dalam sel pria Douglas itu .... anggota Merak Merah," ujar Hana dengan berbisik suatu kode yang ia katakan di akhir kalimat.

Detik itu juga, seringai menjijikkan di wajah tawanan langsung mati total.

Pria itu membeku seperti patung beton yang dicor. Seluruh otot wajahnya menegang kaku, sementara bola matanya melebar ketika ditikam oleh horor psikologis yang masif.

"K-kau ... Kau tahu aku siapa?" tanya pria itu cemas dan syok. Suaranya nyaris hilang hingga tidak memungkinkan Reigan dan yang lain mendengarnya.

"Tidak. Aku tidak butuh tahu orang-orang dari Merak Merah," bisik Hana dengan wajah datar tapi mengintimidasi.

Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Matanya menatap ngeri.

"Katakan saja dimana Leon menyembunyikan gudang senjatanya pada mereka, kalau kau tidak ingin aku menghapus nomor registrasi mu."

Kepala pria itu mengangguk pelan dan samar.

"Apa yang mereka bicarakan Bos?" tanya Marco gusar. Suara Hana dan orang itu yang rendah tidak bisa ditangkap oleh mic di luar sel.

"Tuan, jantung pria itu berdetak lebih cepat dari batas normal!" Nico terperangah melihat tablet yang menyambung dengan detak jantung tawanan mereka menuju ke warna merah.

"Dia sedang cemas dan takut berlebihan?" tanya Marco tidak percaya.

Reigan juga tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun, melihat pria di dalam sel itu mengangguk pasrah dengan wajah sepucat mayat di hadapan Hana, seketika hasrat dominasi dan rasa penasaran di kepalanya meledak.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Reigan langsung bergerak masuk ke dalam sel.

Brak!

1
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
E F
lanjuttt thor🙏😍dobleeee💪😄
Lady Ve: Siap. terima kasih sudah baca.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!