Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: PERTEMPURAN DAHSYAT DI LERENG GUNUNG
Suara gemuruh menggema ke seluruh penjuru lembah, seolah langit dan bumi sedang bertabrakan satu sama lain. Saat perintah Raga bergema, ribuan makhluk dari kedua kubu langsung bergerak serentak, menciptakan pemandangan yang luar biasa mengerikan namun juga megah.
Di sisi kiri dan kanan, pasukan Kanjeng Raden bergerak bagai badai. Raksasa-raksasa berbadan batu melompat jauh ke bawah, menghantam tanah dengan kekuatan yang membelah bumi. Genderuwo berbadan besar dengan rambut menjuntai dan taring menonjol meraung keras, menerjang masuk ke barisan musuh dengan tangan kosong namun mematikan. Di udara, ribuan burung gaib dan siluman gagak berputar kencang, menyambar dan mencakar siapa saja yang melintas.
Di sisi lain, pasukan Nyi Blorong bergerak lebih senyap namun mematikan. Ribuan ular raksasa meluncur cepat di sela-sela semak belukar, mengelilingi kaki-kaki musuh dan melilit sekuat tenaga sampai tulang-tulang berderak patah. Siluman pohon dan akar raksasa bergerak sendiri dari tanah, menjerat dan mengikat pasukan musuh agar tidak bisa bergerak.
"TERUSKAN! JANGAN BERI MEREKA KESEMPATAN NAIK!" teriak Raga dari atas tebing. Suaranya kini menggelegar dan terdengar oleh seluruh pasukan, seolah dia adalah pusat komando yang tak tergoyahkan.
Di sampingnya, Eyang Sastro dan Mbah Joyo tidak diam saja. Eyang Sastro berdiri tegak, memegang tongkat kayunya yang kini bersinar emas. Setiap kali ada musuh yang berhasil lolos dan mendekati mulut gua, dengan satu ayunan tongkatnya saja, musuh itu langsung terpental jauh terbakar cahaya suci.
"Kuatkan pertahanan di sini, Joyo! Jangan sampai ada yang tembus masuk ke dalam!" seru Eyang Sastro sambil terus menggerakkan tangannya membentuk pola-pola mantra pelindung.
"Siap Eyang! Aku jaga sisi kanan!" jawab Mbah Joyo. Ia mengeluarkan manik-manik doa dan melemparkannya ke udara. Manik-manik itu melayang dan membentuk lingkaran pelindung bercahaya di sekitar mereka, menangkis segala serangan berupa racun, sihir, atau senjata tajam yang datang melayang.
Di bawah sana, pertempuran semakin sengit. Pasukan Paguyuban Segoro Putih memang bukan lawan sembarangan. Meski jumlah mereka kalah banyak dibanding pasukan Kanjeng Raden, kekuatan sihir hitam dan kejahatan mereka jauh lebih dahsyat.
Arwah-arwah penasaran itu bisa menembus tembok dan tubuh, tidak bisa dilukai senjata biasa. Pasukan zombie perang itu tidak merasakan sakit, meski kepala mereka dipenggal atau badan mereka hancur, mereka masih bisa bergerak menyerang. Dan para penyihir berjubah ungu itu terus melontarkan api hitam, petir ungu, dan kutukan yang mematikan ke segala arah.
Kanjeng Raden Tumenggung sendiri berada di garis depan pertempuran. Ia bergerak bagai kilat, tombak panjang di tangannya berputar cepat menciptakan pusaran angin kematian. Setiap kali ujung tombak itu menyentuh tanah atau tubuh musuh, ledakan dahsyat terjadi. Ia mengamuk seperti raja neraka yang sedang murka, tidak ada satu pun musuh yang bisa bertahan lebih dari satu detik di hadapannya.
"HANCURKAN SEMUA SAMPAI AKARNYA!!! TUNJUKKAN KEKUATAN KITA SIAPA YANG BERKUASA DI SINI!!!" raung Sang Raja, suaranya menggetarkan dada siapa saja yang mendengarnya.
Namun, meski Kanjeng Raden sangat kuat, musuh terus saja berdatangan dari arah lain, seolah jumlah mereka tidak akan pernah habis. Pasukan musuh terus mendesak naik perlahan, semakin mendekati Gua Penggung tempat Raga berada.
"Eyang! Mereka mulai mendesak ke kanan! Pasukan Nyi Blorong terdesak!" seru Raga cemas melihat pergerakan musuh.
Eyang Sastro melirik cepat. "Raga! Sekarang waktunya kau turun! Kau harus memimpin langsung! Pakai ilmu baru yang kau dapat dari kitab itu! Jangan hanya jadi penonton!"
Raga mengangguk mantap. Ia mencabut kedua keris di pinggangnya, Keris Berluk 9 dan Keris Pusaka Eyang Noto. Ia merasakan aliran energi hangat mengalir deras dari tubuhnya ke bilah senjata itu, membuat kedua keris itu bersinar terang memancarkan cahaya putih keemasan.
"Kek! Eyang! Aku turun membantu Nyi Blorong di sisi kanan! Kalian pertahankan di sini!"
"Hati-hati, Nak! Ingat, kau Penjaga Gerbang! Jangan biarkan amarah menguasaimu!" pesan Eyang Sastro.
Tanpa ragu lagi, Raga melompat dari tebing setinggi puluhan meter itu ke bawah! Namun ia tidak jatuh menghantam tanah, melainkan melayang turun perlahan dikawal angin, seolah ada tangga tak kasat mata yang menopang kakinya.
Saat kakinya menyentuh tanah di tengah medan pertempuran, cahaya putih menyebar ke segala arah mendorong mundur musuh-musuh yang berada di dekatnya.
"BERKUMPUL SEMUA DI SINI! JANGAN BIARKAN MEREKA LEWAT!" teriak Raga memimpin pasukan ular dan siluman hutan yang mulai kewalahan.
Raga bergerak di barisan paling depan. Gerakannya lincah, cepat, dan penuh perhitungan. Ilmu yang tadi baru saja ia pelajari dari kitab itu kini keluar secara otomatis dari gerakan tubuhnya. Setiap kali ia mengayunkan kerisnya, ia tidak hanya menebas daging, tapi juga menebas jiwa dan energi musuhnya.
Api hitam yang dilontarkan musuh ke arahnya lenyap begitu saja saat menyentuh cahaya pelindung di tubuhnya. Racun dan sihir gelap tidak ada pengaruhnya sama sekali. Kehadiran Raga seolah menjadi matahari yang membakar habis segala kegelapan di sekitarnya.
Di sebelahnya, Nyi Blorong bertarung dengan garang namun anggun. Tubuhnya yang berubah wujud menjadi setengah ular raksasa itu bergerak meliuk-liuk membelah barisan musuh. Ekornya yang keras seperti baja menghantam ke kiri dan ke kanan, membuat musuh berterbangan.
Saat Nyi Blorong hampir terpojok karena dikepung tiga penyihir berjubah ungu, Raga datang menolong tepat waktu.
TRANG! TRANG!
Dua kali tebasan cepat, dan senjata para penyihir itu hancur berantakan. Mereka mundur kaget melihat kekuatan Raga.
"Terima kasih, Mas Raga..." ucap Nyi Blorong sambil bernapas agak berat. Wajahnya yang cantik namun berlumuran debu dan darah gaib itu menatap Raga dengan pandangan kagum.
"Kita satu tim sekarang, Nyi. Jangan sungkan," jawab Raga sambil menebas leher arwah jahat yang mencoba menyelinap dari belakang. "Mereka makin banyak, tapi semangat kita tidak boleh kalah!"
Namun, pertempuran yang berat ini tiba-tiba terhenti sejenak.
Seketika, seluruh pasukan musuh berhenti bergerak serentak. Mereka semua menundukkan kepala, seolah sedang memberi hormat atau takut pada sesuatu yang besar. Angin yang tadinya menderu kencang tiba-tiba diam total. Suasana menjadi hening yang sangat mencekam.
Dari arah belakang barisan musuh, dari balik kabut ungu tebal yang berbau belerang dan bangkai, terdengar suara langkah kaki yang berat, lambat, dan berirama.
Dug... Dug... Dug...
Setiap langkah membuat tanah bergetar hebat, bahkan sampai ke tempat Raga dan Kanjeng Raden berada.
Dari kabut itu, muncul sosok raksasa yang jauh lebih besar dari Kanjeng Raden. Tingginya hampir dua kali lipat, tubuhnya tertutup zirah besi hitam yang berkarat dan tajam. Di kepalanya mengenakan mahkota bertanduk dua yang melengkung ke atas. Wajahnya tertutup topeng besi berbentuk tengkorak raksasa yang mulutnya terbuka lebar, memancarkan api ungu dari dalamnya. Di punggungnya terpasang sepasang sayap besar hitam legam yang bergetar pelan.
Di tangannya, ia membawa senjata berupa Gada Besi Raksasa yang beratnya mungkin ratusan ton, bergerigi tajam dan penuh duri.
Di belakangnya, berjalan perlahan tiga panglima tinggi lainnya, sosok-sosok yang aura jahatnya jauh lebih kuat dari para pemimpin yang mereka temui kemarin.
Kanjeng Raden yang melihat sosok itu dari kejauhan langsung diam, wajahnya yang biasanya angkuh dan berani kini berubah serius dan tegang. Ia menelan ludah, sesuatu yang jarang sekali dilakukan oleh Sang Raja.
"Dia... akhirnya dia turun juga..." gumam Kanjeng Raden pelan, suaranya bergetar sedikit karena marah sekaligus waspada.
Raga segera berlari mendekat ke arah Sang Raja. "Kanjeng! Siapa dia? Pemimpin mereka?"
Kanjeng Raden mengangguk berat, matanya tidak lepas menatap sosok raksasa itu dengan penuh kebencian.
"Itu dia pemimpin sejati Paguyuban Segoro Putih... Sang Adipati Kala. Makhluk tertua, terkuat, dan paling jahat di antara mereka semua. Dia tidak cuma penguasa sihir hitam... dia adalah penguasa waktu dan kematian itu sendiri."
Nyi Blorong mendekat dengan wajah pucat. "Dulu... Eyang Noto dan para leluhur pernah mengurungnya jauh di tanah mati... tapi sepertinya dia sudah lepas dari ikatannya."
Sang Adipati Kala berhenti berjalan. Ia berdiri tegak, menatap ke arah Raga dan Kanjeng Raden. Dari balik lubang matanya yang kosong di topeng itu, keluar dua cahaya ungu yang tajam dan menusuk.
"Hahahahaha..."
Suaranya tidak keluar dari mulutnya, tapi bergaung langsung di dalam kepala semua makhluk yang ada di situ. Suara berat, dalam, dan dingin, seakan suara kuburan yang berbicara.
"Lama sekali kita tidak berjumpa... Wahai keturunan Noto... Wahai anjing penjaga gunung..." ejek Sang Adipati Kala perlahan.
"Kalian pikir dengan damai-damai kecil seperti ini, kalian bisa menghentikan takdir dunia? Kalian pikir kalian cukup kuat menjaga keseimbangan? Dasar makhluk-makhluk kecil yang sombong!"
Ia mengangkat Gada Besi raksasanya itu ke atas. Aura hitam pekat meledak dari tubuhnya, menekan seluruh makhluk di sana sampai sulit bernapas. Pasukan Kanjeng Raden dan Nyi Blorong mundur perlahan karena tekanan aura yang luar biasa itu.
"Hari ini... aku akan menghancurkan segalanya. Aku akan buka Gerbang Dunia lebar-lebar. Aku akan biarkan kekacauan memerintah. Dan kalian... kalian akan jadi tumpukan debu pertama yang kulempar ke neraka!" seru Sang Adipati Kala dengan penuh kemarahan.
Ia lalu menunjuk tepat ke arah Raga.
"Dan kau, anak muda... Kau yang memegang kitab itu... Kau yang memegang kuncinya... Serahkan sekarang! Mungkin aku akan membiarkanmu hidup dan jadi pelayanku yang paling mulia. Menjadi raja di sisi kegelapan jauh lebih indah daripada jadi penjaga yang menyedihkan ini!"
Raga berdiri tegak. Ia merasakan ketakutan yang luar biasa, lebih besar dari apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya. Di hadapan makhluk ini, rasanya dirinya seperti semut di hadapan gunung berapi.
Namun, ia ingat pesan Eyang Sastro. Ia ingat tugas leluhurnya. Ia ingat desa, keluarganya, dan kedamaian yang ia perjuangkan.
Raga melangkah maju selangkah. Ia mengangkat kerisnya tinggi-tinggi, memancarkan cahaya putih keemasan yang berani menentang kegelapan raksasa itu.
"Jangan bermimpi, makhluk jahat!" seru Raga lantang dan berani. "Kunci ini, kitab ini, dan tugas ini... akan kujaga sampai titik darah penghabisan! Selama aku masih bernapas, kau tidak akan pernah bisa menyentuh Gerbang Dunia itu!"
Sang Adipati Kala tertawa keras, suaranya menggelegar memecah bukit-bukit di sekitar.
"Bagus... bagus sekali... Semakin keras perlawanannya, semakin nikmat rasanya saat kuhancurkan... TUNJUKKAN KEKUATANMU, PENJAGA MUDA! DAN MATILAH BERSAMA MIMPIMU ITU!"
BRAAAAAKKKK!!!
Sang Adipati Kala mengayunkan Gada Besinya ke bawah! Sebuah gelombang kejut hitam raksasa meluncur deras ke arah mereka, menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya!
"SELURUH PASUKAN! PERISAI BERSAMA!" teriak Raga sekuat tenaga.
Kanjeng Raden, Nyi Blorong, Eyang Sastro, Mbah Joyo, dan ribuan makhluk baik lainnya serentak mengeluarkan energi terkuat mereka, menyatukan kekuatan menjadi satu dinding cahaya raksasa untuk menahan serangan pemimpin musuh yang paling dahsyat ini!
Tabrakan kedua kekuatan raksasa itu terjadi! Langit pecah! Tanah terbelah! Dan pertarungan hidup mati yang sesungguhnya... BARU SAJA DIMULAI!