Kania Maharani, harus menerima kenyataan pahit saat sang suami lebih memilih untuk kembali pada sang mantan kekasih setelah satu tahun usia pernikahan mereka.
Dulu mereka di jodoh kan saat Erlan Hadi Wijaya di tinggal kan oleh kekasih nya, demi pria lain.
Setelah sang kekasih berpisah dari laki - laki pilihan nya, dia ingin kembali pada Erlan. Erlan yang masih mencintai Wina, menerima wanita itu kembali tanpa perduli perasaan Kania.
Apakah Kania tetap bertahan dan menerima diri nya di madu, atau memilih mundur karena dia bukan lah istri pilihan suami nya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 09
Kania segera menutup koper nya setelah dia selesai menyusun semua nya, dia lalu melepas kan cincin kawin yang melingkar di jari manis nya. Kania meletakkan semua itu di atas meja rias, begitu pun dengan perhiasan yang lain nya, tidak ada yang di bawa oleh Kania.
Berbeda dengan Kania yang begitu tenang nya, Erlan begitu gelisah setelah dia mengucapkan talak untuk Kania. Ketenangan yang di tunjuk kan oleh Kania telah membuat nya gelisah, tidak ada tangisan, tida ada drama.
'Kenapa dia begitu tenang nya? Biasa nya sekuat apapun wanita, dia pasti akan menangis ketika di talak oleh suami nya. Tapi Kania, respon nya begitu berbeda. Tidak ada air mata sama sekali, apa memang dia mengingin kan perceraian ini?' Erlan bertanya di dalam hati.
Di saat Erlan sedang bingung, mbok Nah menyelinap naik ke lantai 2. Dia ingin menemui majikan nya sebelum dia pergi dari sana, dia sangat menyayangi Kania.
"Bu Kania!" Panggil mbok Nah dari depan pintu kamar yang terbuka.
"Masuk mbok!" Jawab Kania sambil tersenyum.
Mbok Nah masuk ke dalam kamar dan dia langsung memeluk Kania sambil menangis.
"Bu Kania, jamgan tinggal kan mbok di sini, bu!" Mbok Nah berkata pada Kania.
"Mbok, aku tidak bisa tetap di sini mbok. Mbok Nah kan denger sendiri, tadi Mas Erlan sudah menjatuhkan talak pada ku. Itu arti nya, aku tidak punya hak lagi untuk tetap di sini!" Kania berkata pada Mbok Nah.
"Tapi bu, mbok mau ikut sama ibu Kania saja!" Ujar mbok Nah lagi.
"Mbok Nah, mbok tidak boleh ikut sama aku. Mbok di sini punya tugas dari Mama kan, jadi maaf mbok aku tidak bisa membawa mbok bersama ku!" Kania menolak permintaan mbok Nah.
"Baik lah bu, tapi mbok mohon ibu jangan menolak apa yang mbok berikan ya!" Mbok Nah berkata dengan tatapan memohon.
"Baik lah mbok!" Akhir nya Kania mengangguk kan kepala nya.
"Ini buat bu Kania, mbok tidak mau jika bu Kania menolak nya!" Mbok Nah memaksa.
Mbok Nah lalu menyerahkan sejumlah uang pada Kania, dia tahu bahwa Kania tidak akan mau menggunakan uang pemberian dari Erlan.
"Ini terlalu banyak mbok!" Kania ingin mengembalikan uang itu.
"Bu Kania sudah berjanji tadi, untuk tidak menolak apa yang mbok berikan!" Mbok Nah mengingat kan Kania kembali.
"Baik lah, terima kasih banyak mbok!" Kania akhir nya menerima uang pemberian dari Mbok Nah.
Sebelum pergi, Kania meletakkan kartu Atm yang selama ini di berikan oleh Erlan pada nya. Di dalam kartu itu, setiap bulan Erlan selalu mentransfer sejumlah uang untuk Kania selama ini. Dari mulai uang belanja, uang nafkah,hingga uang untuk kebutuhan sehari - hari.
"Mbok, aku pergi dulu ya. Mbok Nah baik - baik di sini ya!" Kania pamit pada mbok Nah.
"Iya bu, hati - hati di jalan. Dan jangan lupa kabari mbok Nah ya!" Wanita tua itu berkata sambil tersenyum pada Kania.
"Iya mbok, dan tolong sampaikan permintaan maaf aku sama Mama dan Papa ya!" Ujar Kania.
"Baik bu!" Jawab mbok Nah sambil menghapus air mata yang mulai mengalir.
Kania segera menyeret koper nya ke bawah, di ruang tamu dia melewati Erlan yang masih betah di tempat duduk nya.
Kania tidak bicara sepatah pun, dia langsung keluar dari rumah dengan di anatarkan oleh mbok Nah. Sebuah taksi online yang tadi di pesan oleh Kania sudah tiba di depan rumah, Kania sengaja memesan taksi untuk pergi ke terminal.
"Hati - hati, bu!" Mbok Nah melambaikan tangan nya saat taksi itu mulai meninggal kan halaman rumah.
Kania pergi dari sana tanpa melihat ke belakang lagi, dia tidak ingin mengingat masa lalu. Tidak ada air mata yang jatuh, sekalipun hati nya hancur berantakan. Kania sedikit pun tidak menujuk kan kelemahan nya di depan semua orang, dia terlihat setegar karang.
******
Di rumah nya, Mama Indri langsung menceritakan apa yang dia lihat tadi dengan suami nya. Dia sangat marah karena memergoki Erlan dan Wina sedang bermesraan di kantor, dan yang lebih parah nya lagi Erlan malah mendukung wanita itu.
"Pa, Erlan sudah sangat keterlaluan Pa. Berani - berani nya dia bermesraan dengan wanita jalang itu!" Mama Indri berkata dengan geram nya.
"Ini tidak bisa di biarkan, Ma. Dulu kita hampir kehilangan Erlan gara - gara wanita itu, dan sekarang enak saja dia mau kembali lagi sama Erlan!" Papa Beni juga ikut geram setelah mendengar cerita istri nya.
"Dan bodoh nya Erlan Pa, dia masih saja mendukung si jalang itu. Mama tidak rela Pa, Erlan kembali pada nya!" Mama Indri berkata lagi.
"Jika sampai Erlan kembali pada Wina dan dia menyakiti Kania, maka Papa sendiri yang akan turun tangan. Papa akan menghancurkan hidup mereka berdua!" Papa Beni berkata dengan tatapan yang berapi- api.
Dreeettt, dreeett, dreeett.
Ponsel Mama Indri yang dia letak kan di atas meja berdering, Mama Indri bergegas meraih nya. Dia melihat sang penelpon adalah Mbok Nah, pembantu yang dia minta untuk menjaga Kania di sana.
"Hallo, assalam mu'alaikum mbok!" Sapa Mama Indri sambil meletakkan kan ponsel itu di telinga nya.
"Wa'alaikum salam Nyonya!" Terdengar suara serak mbok Nah di seberang sana.
"Mbok Nah, ada apa mbok?" Tanya Mama Indri penasaran.
Mama Indri langsung mengaktifkan speaker pada ponsel nya agar Papa Beni bisa ikut mendengar nya.
"Nyonya, mbok mau kasih tahu sama Nyonya bahwa bu Kania sudah pergi dari rumah ini. Tadi pak Erlan menjatuhkan talak pada nya, dan pak Erlan lebih memilih Wina, Nyonya!" Lapor mbok Nah melalui sambungan telepon.
"Apa??? Erlan mencerai kan Kania?" Mama Indri terkejut dan sangat syok mendengar apa yang di katakan oleh mbok Nah.
"Benar Nyonya, dan sekarang bu Kania sudah pergi dari rumah!" Lapor mbok Nah lagi.
"Erlan, kau benar - benar keterlaluan!" Papa Beni mengepal kan tangan nya.
Mama Indri memegang dada nya yang kini mulai terasa sakit, berita itu benar - benar membuat nya syok.
"Terima kasih mbok atas informasi nya!" Papa Beni lalu langsung memutuskan sambungan telepon dengan mbok Nah.
Papa Beni lalu mengambil segelas air di atas meja, dia langsung memberikan gelas itu pada istri nya.
"Minum dulu Ma, tenang kan diri Mama!" Pak Beni berkata sambil memeluk tubuh Mama Indri.
Mama Indri meneguk air minum itu hingga habis, setelah itu dia langsung menangis di dalam pelukan sang suami.
"Pa, Kania Pa. Kania, dia pergi karena Erlan dan Wina, Pa!" Mama Indri menangis histeris.
"Ma, tenang lah Ma. Jangan sampai hipertensi Mama kumat karena hal ini, Erlan dan Wina biarlah menjadi urusan Papa!" Papa Beni menenangkan istri nya yang masih syok dan histeris dengan kabar kepergian Kania.
mudah2han rujuk lagi sama erlan
tapi erlan hrs berjuang dulu
Jangan lama-lama Up lagiii 😘😍
bikin ancur aja tuh mereka berdua pak Beni 👍😡