Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Dengan langkah tenang dan anggun, Nara berjalan menyusuri area pabrik baru milik keluarga Dhanubrata. Suara derap heelsnya berpadu dengan hiruk-pikuk aktivitas para pekerja yang masih sibuk melakukan pengecekan akhir sebelum pabrik resmi beroperasi.
Di belakangnya, Tiwi berjalan sambil membawa tablet kecil berisi jadwal dan beberapa dokumen penting. Sementara beberapa staf perusahaan terus menjelaskan detail fasilitas pabrik itu.
"Area produksi utama berada di lantai bawah, Nona," jelas salah satu manager oprasional. "Sedangkan bagian distribusi dibuat terpisah agar proses pengiriman lebih efisien."
Nara mengangguk kecil sambil memperhatikan deretan mesin besar yang berjejer rapi di balik dinding kaca. "Bagaimana dengan sistem keamanannya?" tanyanya singkat.
"Sudah menggunakan sistem otomatis terbaru, Nona. Seluruh akses utama memakai kartu Identitas khusus dan pemindai sidik jari."
Nara kembali melangkah tanpa banyak komentar. Tatapannya tajam dan teliti. Tidak ada sedikit pun kesan asal melihat. Ia benar-benar memperhatikan setiap detail, mulai dari jalur produksi hingga prosedur keamanan.
Tiwi diam-diam melirik Nara sekilas. Meski masih muda, Nara selalu berubah serius begitu menyangkut pekerjaan. Bahkan beberapa direktur senior di perusahaan pun sering merasa tertekan saat berbicara dengannya.
"Nona muda terlihat lebih menyeramkan dibanding para direktur."
Suara itu membuat beberapa staf langsung menoleh.
Han Seokjin berjalan mendekat dengan setelan hitam rapi dan ekspresi santai khasnya. Kedatangannya segera membuat suasana sedikit berubah.
"Oppa?" Alis Nara sedikit terangkat.
"Aku diminta Kakek untuk ikut melihat perkembangan pabrik." Seokjin berhenti di samping Nara sebelum melirik para staf di sekitar mereka. "Kalian lanjutkan pengecekan bagian lain dulu. Aku ingin bicara sebentar dengan Nara."
"Baik, Tuan."
Para staf mengangguk patuh sebelum perlahan menjauh bersama Tiwi, meninggalkan Seokjin dan Nara berdua di balkon itu.
Begitu suasana mulai sepi, senyum santai di wajah Seokjin perlahan memudar. Tatapannya beralih pada Nara. Sebenarnya, alasan utama ia datang hari ini bukan sekedar meninjau pabrik. Ia ingin mencegah Nara datang ke pertemuan malam nanti dengan Samudra Dirgantara.
Seokjin tahu betul apa maksud Kakek Dhanubrata mempertemukan Nara dengan putra konglomerat itu. Hal itu tentu bukan sekedar makan malam bisnis biasa. Karena entah sejak kapan, hanya membayangkan Nara duduk bersama pria lain saja sudah cukup membuat dadanya terasa sesak.
Perasaan yang selama ini selalu ia pendam rapat-rapat. Perasaan yang tidak seharusnya ada, karena setinggi apa pun rasa ingin memilikinya, tetap ada tembok besar yang tidak mungkin dilewati. Nara adalah sepupunya sendiri.
Cukup lama Nara menatap Seokjin. Tatapan sepupunya itu terasa berbeda pagi ini. Tidak sesantai biasanya.
"Ada apa, Oppa?" tanya Nara, memulai obrolan lebih dulu.
Seokjin tersenyum tipis, meski senyum itu tampak dipaksakan. "Aku hanya merasa Kakek mulai terlalu jauh ikut campur."
Nara menyandarkan siku pada pagar balkon kaca. Tatapannya turun ke area produksi di bawah sana. "Bukannya itu hal yang biasa?" balasnya datar. "Sejak kecil hidupku memang selalu diatur."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa Oppa tiba-tiba terlihat lebih terganggu dari biasanya?" Pertanyaan itu membuat Seokjin terdiam sesaat.
Angin dari pendingin ruangan berhembus pelan, membuat beberapa helai rambut Nara bergerak lembut.
Seokjin memalingkan wajah sebentar sebelum menatap Nara. "Karena kali ini berbeda."
Nara mengernyit samar. "Berbeda bagaimana?"
"Samudra Dirgantara bukan pria biasa," ucap Seojin. Nada suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. "Jika keluarga Dirgantara sampai ikut masuk ke urusan pribadi keluarga kita, berarti Kakek memang serius."
Meski berulang kali sang Kakek mencoba mengatur pertemuan Nara dengan pria lain. Seokjin tidak pernah sekhawatir seperti saat ini. Karena ia yakin, Nara akan menolak, atau karena pria yang Kakeknya coba pilihkan bukan pria yang ia yakini bisa meluluhkan Nara. Namun, saat nama Samudra disebut. Seokjin mulai merasa cemas.
Nara tetap bersandar pada pagar balkon kaca. Tatapannya pun masih lurus ke area produksi bawah. "Lalu apa masalahnya?" tanyanya datar. "Bukankah Kakek selalu memberikan yang terbaik untukku? Termasuk soal pasangan hidup."
Entah kenapa, sikap Seokjin yang sejak tadi seperti berusaha mencegahnya justru membuat rasa penasaran Nara perlahan muncul. Ia melirik pria itu sekilas sebelum melanjutkan dengan nada yang sengaja dibuat santai.
"Atau ...." Sudut bibirnya terangkat tipis, "Oppa sebenarnya tidak suka kalau aku dekat dengan pria lain?"
"Nara." Seokjin langsung memotong cepat. Nadanya berubah tegas dari sebelumnya. "Tolong mengertilah." Tatapannya menatap Nara lekat. "Kalau kau sampai datang malam nanti ...."
"Oppa," potong Nara tenang. Ia berdiri tegak lalu menatap balik Seokjin tanpa gentar sedikit pun. "Berhentilah terlalu khawatir padaku." Nada suaranya melunak tipis, meski tetap terdengar dingin seperti biasa. "Dan mulailah memikirkan hidup Oppa sendiri."
Seokjin terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, entah kenapa, dadanya justru semakin sesak. Karena yang paling sulit dari semua ini adalah ...
Selama bertahun-tahun, hidupnya memang selalu berpusat pada Nara. Tanpa sadar, tanpa bisa dihentikan.
"Aku serius," lanjut Nara sambil kembali melangkah perlahan. "Usia Oppa bukan usia untuk terus hidup sendirian."
Seokjin terkekeh kecil, hambar. "Kau sedang menyuruhku menikah sekarang?"
"Kenapa tidak?"
"Dan kalau aku tidak mau?"
Nara mengangkat bahu kecil. "Itu pilihan Oppa."
Langkah mereka kembali berjalan berdampingan menyusuri balkon panjang itu hingga akhirnya Seokjin kembali membuka suara.
"Kau masih berhutang penjelasan padaku tentang semalam."
Nara menghela napas panjang pelan. Pria jangkung di sebelahnya memang sungguh menyebalkan. Ia selalu mengingat hal-hal kecil yang bahkan orang lain tidak peduli.
"Tidak ada yang perlu aku jelaskan," jawab Nara datar.
"Jangan berbohong padaku, Nara." Tatapan Seokjin lurus ke depan. "Aku melihat sendiri kau berkendara dengan seorang pria menggunakan motor tadi malam."
Langkah Nara langsung terhenti. Ia menoleh pada Seokjin dengan alis terangkat. "Oppa melihatku?"
Seokjin ikut berhenti berjalan. "Aku kebetulan lewat," jawabnya singkat. "Jadi katakan, siapa pria itu?"
Meski nada suara Seokjin masih terdengar santai. Namun, Nara cukup mengenalnya untuk tahu jika pria itu sedang menahan sesuatu.
"Hanya pengemudi ojek online," jawab Nara.
"Ojek online?" Seokjin mengernyit samar.
Nara mengangguk kecil lalu kembali berjalan santai. "Aku sedang malas menyetir. Kebetulan Tiwi memesan ojek, jadi ...."
"Kau bisa memintaku menjemputmu," potong Seokjin cepat.
Nara mendecak pelan. "Ayolah Oppa. Jangan terlalu mengekangku seperti Kakek. Aku sudah besar dan ...."
"Jangan mengulanginya lagi." Sekali lagi Seokjin memotong ucapan Nara. Tatapannya kali ini serius. "Kau bisa mengandalkanku kapan saja," lanjutnya pelan.
Nara mendengus kasar. Ia langsung mempercepat langkahnya, sedikit kesal karena pria itu terus bersikap seolah dirinya tidak mampu menjaga diri sendiri.
Sepanjang hidupnya, Kakek dan Kakak sepupunya itu selalu melakukan hal yang sama. Melarang, mengatur, mengawasi, hingga ia merasa sulit untuk sedikit saja bergerak dengan leluasa.
Namun, di tengah kekesalannya, pembicaraan mereka justru membuat bayangan tentang pengemudi ojek semalam kembali muncul di kepala Nara.
Ia terdiam sepersekian detik. Lalu entah kenapa, sebuah ide muncul begitu saja di kepalanya. Sebuah ide yang bahkan terdengar gila untuk ukuran dirinya sendiri. Sudut bibir Nara terangkat tipis.
****
Sementara di bengkel. Sagara baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi kecil belakang bengkel. Rambutnya masih sedikit basah saat ia keluar sambil mengusap wajah menggunakan handuk lusuh.
Sesuai perintah sebelumnya, hari ini bengkel tutup lebih awal karena pria paruh baya 'Si Bos' harus pergi ke luar kota beberapa hari.
Beberapa montir lain sudah mulai berganti pakaian dan bersiap untuk pulang.
"Ga, balik cepet gini enaknya nongkrong di taman dekat stasiun, yok," ajak Andi sambil memasukkan kaus ke dalam tasnya.
Sagara yang tengah mengenakan jaket langsung menggeleng pelan. "Gue narik," jawabnya singkat.
Andi langsung berdecak keras. "Narik mulu. Tapi duit lu ya tetep segitu."
Sagara terkekeh kecil sambil merapihkan helmnya. "Namanya juga cari makan."
"Cari makan doang apa cari capek?" ledek Andi. "Hidup lu isinya kerja terus."
Sagara hanya tersenyum tipis. Baginya, bekerja memang sudah jadi bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan. Kalau bukan dirinya yang bergerak, lalu siapa lagi?
"Padahal ada ikan besar depan mata," sambung Andi lagi dengan nada menggoda.
Sagara menghela napas panjang tanpa perlu dijelaskan lagi siapa yang dimaksud.
"Lu masih bahas itu?"
"Ya iyalah." Andi menyenggol lengannya pelan. "Cewek kaya gitu nggak lewat dua kali, Bro."
Sagara ingin menjawab, tetapi ponselnya lebih dulu bergetar pelan di saku jaket.
Notifikasi pesanan baru muncul di layar. Sagara langsung membuka aplikasi itu sekilas. Dan sesaat kemudian, alisnya sedikit terangkat.
Nama Pratiwi kembali muncul.
**** bersambung.