NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25 guncangan di mulut tambang dan tirai lengan perak

Kegelapan Jurang Kehampaan perlahan tertinggal di bawah. Lin Chen melangkah menaiki tangga batu berliku yang membelah dinding Tambang Batu Hitam. Setiap pijakannya terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat ia turun beberapa hari yang lalu. Tahap Kondensasi Qi Tingkat Enam mengalirkan energi yang begitu padat di dalam meridiannya, membuat tekanan gravitasi raksasa Dunia Tengah seolah kehilangan tajinya.

Jubah hitamnya masih menutupi sekujur tubuh, menyembunyikan rahasia terbesar yang kini menyatu dengan pangkal bahu kanannya. Lengan perak kehitaman itu bergantung dengan tenang. Tidak ada denyut nadi yang terasa dari permukaan logam tersebut, aliran Qi Abadi yang melewatinya bergerak seribu kali lebih lancar daripada saat melewati pembuluh darah biasa. Lengan ini bukan lagi sekadar anggota tubuh; ini adalah senjata pembunuh dewa yang sedang tertidur.

Semakin tinggi ia mendaki, suhu udara mulai menurun, digantikan oleh hawa dingin yang membawa bau keringat, darah busuk, dan keputusasaan para budak tambang. Suara dentingan beliang yang beradu dengan batu keras kembali terdengar, memecah keheningan yang sejak tadi menemani perjalanannya.

Di tingkat menengah tambang, sebuah pos penjagaan berdiri memblokir jalan utama. Selusin pengawas bersenjata cambuk berduri dan tombak berat sedang duduk mengelilingi meja batu, berjudi menggunakan pecahan Kristal Abadi. Fluktuasi energi mereka berada di sekitar Tahap Transformasi Fana awal. Di sudut pos, puluhan penambang kurus kering dirantai pada dinding, menatap kosong ke arah lantai tanah.

Mendengar suara langkah kaki yang mendekat dari arah bawah, para pengawas itu menghentikan aktivitas mereka. Pemimpin penjaga, seorang pria bertubuh gempal dengan banyak tindikan di wajahnya, berdiri seraya mencabut tombaknya.

"Siapa di sana? Tidak ada jadwal penarikan hasil tambang dari zona bawah hari ini!" bentak pria gempal itu.

Siluet berjubah hitam muncul dari balik kabut debu tambang. Lin Chen terus berjalan tanpa memperlambat ritmenya. Topeng besi kelabunya memantulkan cahaya obor dinding yang berkedip-kedip.

"Itu... bukankah itu Iblis Satu Tangan?" bisik salah satu penjaga, mengenali topeng dan jubah yang menjadi legenda di Koloseum Jalur Darah beberapa hari yang lalu. "Tuan Kota memerintahkan kita untuk membiarkannya lewat jika dia kembali."

Pemimpin penjaga mendengus kasar. Kesombongannya sebagai pengawas tambang merasa terusik melihat seorang gladiator berjalan seolah memiliki tempat ini.

"Berhenti di sana, Iblis," perintah si pemimpin, mengarahkan ujung tombaknya tepat ke dada Lin Chen. "Tuan Kota memang memberimu Segel Penambang Bebas. Aturan tambang tetaplah aturan. Serahkan seluruh kantong penyimpananmu untuk kami periksa. Tiga puluh persen dari hasil buruanmu adalah jatah pos penjagaan ini sebelum kau menyetorkan setengahnya kepada Tuan Kota di atas."

Pemerasan terang-terangan. Inilah cara para pengawas memperkaya diri mereka sendiri, memeras para penambang beruntung yang berhasil selamat dari perut bumi.

Lin Chen menghentikan langkahnya tepat di ujung mata tombak. Mata hitamnya menatap pria gempal itu dengan kedinginan absolut.

"Minggir."

Satu kata singkat, diucapkan tanpa emosi. Nada suaranya tidak tinggi, getaran yang dibawanya meresap langsung ke dalam tulang para penjaga tersebut.

Merasa dilecehkan di depan anak buahnya, wajah pria gempal itu memerah karena marah. "Kau pikir karena kau menang di arena, kau bisa bersikap sombong di wilayahku?! Kau berada di Dunia Tengah, Tikus! Patahkan kaki kirinya!"

Dua penjaga di sampingnya langsung menerjang maju, mengayunkan cambuk berduri mereka untuk mengunci pergerakan Lin Chen.

Pemuda bertopeng itu tidak repot-repot mengangkat tangan kanannya yang tersembunyi. Tangan kirinya bergerak dengan kecepatan yang membelah angin. Jari-jarinya mencengkeram ujung tombak pria gempal itu.

*KRAAK!*

Tombak besi yang ditempa dari logam keras Dunia Tengah itu patah seketika hanya dengan cengkeraman telapak tangan kiri Lin Chen. Sisa energi dari tingkat enam meledak keluar. Lin Chen menggunakan potongan tombak tersebut, menusukkannya lurus ke depan dengan kecepatan kilat.

Ujung patahan tombak menembus leher pria gempal itu hingga tembus ke belakang. Darah menyembur deras. Pria itu melebarkan matanya, tidak sanggup mengeluarkan suara selain bunyi gemiricik darah di tenggorokannya, sebelum akhirnya ambruk ke lantai.

Dua penjaga yang hendak menyerang seketika membeku. Cambuk mereka jatuh ke tanah. Mereka menatap mayat komandan mereka yang tewas dalam satu detik, lalu menatap sosok berjubah hitam yang berdiri tanpa sedikit pun perubahan postur.

"Aku akan mengatakannya satu kali lagi," suara Lin Chen memotong udara yang penuh ketakutan. "Minggir."

Kesebelas pengawas yang tersisa serempak mundur, membelah jalan lebar-lebar. Senjata mereka bergetar di tangan. Tidak ada satu pun yang berani menatap mata pemuda itu. Mereka menyadari bahwa monster yang membantai Kui di arena kini telah menjadi entitas yang jauh lebih mengerikan.

Lin Chen melangkah melewati pos penjagaan tersebut tanpa hambatan lebih lanjut. Para budak yang terikat di dinding menatap kepergiannya dengan mata membulat, melihat secercah kekuatan yang berani menentang tirani Tambang Batu Hitam.

Perjalanan menuju mulut tambang memakan waktu dua jam tambahan. Semakin dekat dengan permukaan, hawa panas dari dua matahari Dunia Tengah mulai terasa menembus lorong batu.

Saat gerbang besi raksasa di ujung terowongan terlihat, Lin Chen bisa merasakan belasan aura kuat berkumpul di baliknya. Fluktuasi energi yang paling mendominasi memancar kuat di tengah-tengah formasi tersebut, menandakan kehadiran seorang praktisi yang telah melampaui batas transformasi fisik.

Tuan Kota Yan Wu sedang menunggunya.

Gerbang besi itu didorong terbuka oleh para penjaga dari luar. Cahaya menyilaukan menghantam wajah Lin Chen. Ia melangkah keluar dari kegelapan, kembali menginjakkan kakinya di atas pasir kemerahan Koloseum Jalur Darah.

Kondisi koloseum saat ini kosong dari penonton. Di tengah arena, sebuah paviliun peneduh sementara telah didirikan. Di bawahnya, Yan Wu duduk bersandar di kursi mewahnya, dikelilingi oleh dua puluh pengawal elit yang mengenakan zirah emas pekat. Setiap pengawal tersebut memancarkan aura Tahap Transformasi Fana Puncak.

Melihat siluet Lin Chen muncul dari mulut tambang, Yan Wu tersenyum lebar.

"Ah, pahlawan kita telah kembali," sambut Yan Wu, nada suaranya dipenuhi arogansi seorang majikan yang menyambut anjing buruannya. "Aku mulai khawatir kau mati tertelan oleh Miasma Abadi di bawah sana. Tiga hari penuh di dalam Jurang Kehampaan... sebuah rekor yang mengesankan untuk ukuran seorang Ascender."

Lin Chen berjalan pelan mendekati paviliun tersebut. Ia berhenti dalam jarak sepuluh meter. Jubahnya masih tertutup rapat, menyembunyikan lengan kanannya.

"Kau kembali dalam keadaan utuh, Iblis Satu Tangan. Itu membuktikan mataku tidak salah menilaimu," lanjut Yan Wu seraya berdiri dari kursinya. Ia merentangkan tangannya perlahan. "Sesuai dengan perjanjian kita, kau mendapatkan akses ke dalam sana, dan aku mendapatkan lima puluh persen dari apa pun yang berhasil kau gali. Keluarkan isi kantongmu. Biarkan penilaiku menghitung bagiannya. Setelah itu, aku akan memberimu kehormatan untuk bergabung menjadi komandan pasukan pribadiku."

Lin Chen berdiri diam. Matanya menatap Yan Wu. Pria ini berada di Tahap True Immortal Menengah. Kepadatan energinya puluhan kali lipat lebih tebal dibandingkan Hei Feng yang ia hadapi di padang pasir. Melawan entitas ini secara frontal merupakan ujian sesungguhnya bagi kekuatan barunya.

Waktu seakan melambat. Di tengah kesunyian arena yang hanya diisi oleh embusan angin panas, layar cahaya holografik biru tiba-tiba meledak di retina Lin Chen.

Sistem tidak mengulangi kebiasaannya menaruh pilihan paling menguntungkan di nomor tiga. Format simulasi kali ini diacak untuk menuntut insting murni dari penggunanya.

**[Situasi Konfrontasi Puncak Terdeteksi.]**

**[Musuh Utama: Yan Wu (Tahap True Immortal Menengah). Pengawal: 20 Praktisi Transformasi Fana Puncak.]**

**[Silakan tentukan skenario dominasi Anda:]**

**[Pilihan 1: Tunduk sementara. Berikan beberapa potong bijih besi biasa. Saat Yan Wu lengah karena kecewa, gunakan 'Langkah Bayangan Iblis' untuk melancarkan serangan kejutan ke lehernya.

Hadiah: Serangan kejutan memiliki tingkat keberhasilan 50%. Musuh terluka parah. Anda menghindari benturan langsung dengan kekuatan penuh True Immortal.]**

**[Pilihan 2: Tolak menyerahkan apa pun secara provokatif. Hina Yan Wu di depan pasukannya dan tantang dia bertarung satu lawan satu.

Hadiah: Anda memaksa musuh mengeluarkan kekuatan maksimalnya. Proses ini akan memicu resonansi keras yang meningkatkan asimilasi Lengan Logam Abadi sebesar 15%. Risiko cedera internal akibat benturan frontal mencapai tingkat tinggi. Reputasi sebagai 'Dewa Perang' terbuka.]**

**[Pilihan 3: Gunakan kecepatan Anda untuk menyandera salah satu pengawal terdekat, ancam Yan Wu untuk membuka jalan keluar koloseum.

Hadiah: Anda lolos dari koloseum dengan aman hari ini. Yan Wu akan mengerahkan seluruh pasukan Kota Batu Hitam untuk memburu Anda tanpa henti. Pengumpulan sumber daya terganggu.]**

Lin Chen membaca ketiga opsi tersebut dengan perhitungan kilat. Pilihan pertama mengandalkan kelicikan; sebuah metode efektif, tingkat kegagalan 50% saat melawan True Immortal Menengah sangatlah berisiko. Jika serangan kejutan meleset, ia akan langsung dikepung tanpa peringatan. Pilihan ketiga adalah rute pengecut yang hanya menunda masalah.

Pilihan kedua sangat arogan dan berbahaya. Memprovokasi penguasa kota secara langsung sama dengan mendeklarasikan perang terbuka. Keuntungan peningkatan asimilasi Lengan Logam Abadi adalah sesuatu yang tidak bisa ia abaikan. Artefak semi-ilahi yang tertanam di tubuhnya membutuhkan tekanan brutal untuk sepenuhnya menyatu dengan sirkulasi jiwanya.

Bibir Lin Chen melengkung membentuk senyuman dingin di balik topeng besinya. Ia tidak pernah menghindar dari benturan keras.

"Pilihan kedua," batinnya mengunci keputusan.

Layar biru memudar ditelan udara kering.

Yan Wu yang masih menunggu setoran hasil tambang mulai mengerutkan keningnya, tidak sabar melihat pemuda itu hanya berdiri membisu. "Apa yang kau tunggu? Keluarkan kantong penyimpananmu!"

Lin Chen mengangkat tangan kirinya secara perlahan, menyentuh pengait jubah hitam yang menutupi tubuhnya.

"Perjanjian kita menyatakan bahwa aku harus menyerahkan setengah dari apa yang aku dapatkan di dasar Jurang Kehampaan," suara Lin Chen bergema jernih, memotong keheningan arena. "Kenyataannya, aku hanya menemukan satu benda di sana. Benda yang tidak bisa dibelah menjadi dua."

"Satu benda?" Yan Wu menyipitkan matanya. Hawa keserakahan langsung menyala. "Benda apa itu? Esensi tingkat tinggi? Relik kuno? Cepat serahkan padaku, aku akan menilainya sendiri!"

Lin Chen melepaskan pengait jubahnya. Kain hitam tebal itu meluncur jatuh ke atas pasir merah, mengekspos bagian atas tubuhnya secara utuh.

Mata Yan Wu dan kedua puluh pengawalnya langsung melebar, terpaku pada pemandangan di hadapan mereka. Di sisi kanan tubuh pemuda yang tadinya memiliki lengan layu tak berguna, kini terpasang sebuah lengan logam berwarna perak kehitaman. Pola rune berwarna biru redup mengalir di atas permukaannya, memancarkan fluktuasi energi yang sangat purba dan mematikan.

Napas Yan Wu tertahan. Matanya langsung mengenali benda tersebut. "Esensi Logam Abadi... kau... kau meleburkan material legendaris itu untuk menggantikan lenganmu?!"

Keterkejutan Yan Wu segera berubah menjadi amarah yang meledak-ledak. Harta yang seharusnya memperkuat fondasi kekuasaannya telah dikonsumsi oleh seorang Ascender rendahan. "Kau berani menghancurkan harta milikku?! Potong lengannya sekarang juga! Aku akan mengekstrak kembali logam itu dari mayatnya!"

Mendengar perintah tersebut, dua puluh pengawal berzirah emas serempak mencabut pedang besar mereka dan menerjang maju mengepung Lin Chen dari segala arah.

Lin Chen berdiri kokoh. Tidak ada rasa takut di matanya. Ia tidak perlu lagi bersembunyi.

*BZZZZT!*

Qi Tingkat Enam meledak dari dalam Dantiannya. Udara di sekitarnya terdistorsi keras. Pemuda itu tidak menggunakan tangan kirinya. Ia mengangkat lengan perak kehitamannya untuk pertama kali dalam sebuah pertarungan nyata.

Seorang pengawal di barisan depan mengayunkan pedang besarnya mengincar leher Lin Chen.

Lin Chen tidak menghindar. Ia memiringkan bahunya, membiarkan pedang baja yang dilapisi energi Transformasi Fana Puncak itu menebas langsung ke arah lengan kanannya.

*CLANGGG!*

Suara benturan logam yang sangat nyaring memekakkan telinga. Pedang pengawal itu tidak hanya gagal menggores kulit Lengan Logam Abadi, senjatanya justru hancur berkeping-keping akibat memukul benda yang kepadatannya ribuan kali lipat lebih keras.

Pengawal itu membeku kaget, menatap pedangnya yang hancur.

Lin Chen memutar pinggangnya. Lengan perak kehitamannya meluncur ke depan dengan gerakan sederhana: sebuah pukulan lurus yang murni mengandalkan tenaga fisik tanpa penambahan seni bela diri.

*BAM!*

Kepalan logam itu menghantam pelat dada zirah emas pengawal tersebut. Zirah tebal itu melesak sedalam lima sentimeter. Gelombang kejut dari Lengan Logam Abadi menembus tulang rusuk, meledakkan organ dalam pengawal itu hingga hancur menjadi bubur. Pria berzirah itu terlempar ke udara layaknya bola meriam, menabrak tiga rekan di belakangnya hingga mereka semua terhempas jatuh ke atas pasir.

Mayat pengawal pertama mendarat dengan kondisi tubuh yang remuk redam dari dalam. Mati seketika.

Sisa sembilan belas pengawal menghentikan langkah mereka secara refleks. Teror absolut menyergap pikiran mereka. Teman mereka dibunuh hanya dengan satu pukulan fisik biasa, tubuh pelindungnya diabaikan sepenuhnya.

Yan Wu menyaksikan pemandangan itu dengan mata menyipit tajam. Amarahnya memuncak melihat anak buahnya ragu-ragu. "Sekelompok pengecut! Minggir dari jalanku!"

Tuan Kota itu melompat dari paviliunnya. Saat tubuhnya melayang di udara, ia menarik sebuah tombak berwarna merah darah dari cincin penyimpanannya. Fluktuasi energi Tahap True Immortal Menengah meledak bagaikan badai yang mengamuk, menekan pasir di arena hingga berterbangan membentuk pusaran.

"Kau pikir memiliki artefak di lenganmu bisa menutupi kesenjangan alam di antara kita?!" raung Yan Wu. Tombak merahnya memancarkan pilar cahaya yang menyilaukan, mengunci posisi Lin Chen. "Tombak Penghancur Langit!"

Serangan pamungkas dari seorang True Immortal Menengah. Udara merintih tersayat. Daya hancurnya cukup untuk meratakan seluruh bangunan koloseum menjadi debu.

Lin Chen menatap tombak yang meluncur ke arahnya. Ia tidak berniat menghindar. Pilihan sistem telah menggariskan jalurnya: menantang secara frontal demi asimilasi.

Pemuda itu mengambil kuda-kuda. Mengaktifkan *Napas Karang Esensi*, ia menarik seluruh Qi dari Dantiannya dan menyalurkannya langsung ke dalam Lengan Logam Abadi. Rune biru di permukaan lengan perak itu menyala sangat terang, merespons masuknya energi dalam jumlah masif.

Ia tidak menggunakan teknik rumit. Ia hanya mengepalkan tangan kanannya, menariknya ke belakang, dan melepaskan seluruh ledakan tenaga itu dalam bentuk *Batu Tumbuk* yang telah berevolusi sempurna.

*BOOOOOOMMMM!*

Kepalan logam perak beradu langsung dengan ujung tombak merah milik Tuan Kota.

Ledakan energi yang tercipta benar-benar dahsyat. Gelombang kejut berbentuk cincin raksasa menyapu seluruh koloseum. Sembilan belas pengawal berzirah emas terpelanting puluhan meter hingga menabrak dinding obsidian. Pasir merah arena terkikis habis, memperlihatkan fondasi pualam yang kini dipenuhi retakan menyerupai jaring laba-laba.

Di titik benturan, cahaya merah dan biru saling menelan.

Lengan kanan Lin Chen bergetar hebat. Tekanan luar biasa dari kekuatan True Immortal Menengah mencoba meremukkan persendian bahunya. Tulang-tulang di sekujur tubuh fana Lin Chen merintih kesakitan menahan pantulan gaya. Darah segar merembes dari sela-sela giginya.

Peringatan sistem berdenting keras di kepalanya. Benturan ini adalah katalisnya. Lengan Logam Abadi, yang membutuhkan tekanan ekstrem untuk menyatu dengan tubuh manusia, merespons ancaman tersebut. Serat-serat logam di pangkal bahunya merasuk semakin dalam, menembus saraf pusatnya, menyelaraskan aliran energi alam Dunia Tengah secara paksa.

Di seberang benturan, Yan Wu mengalami keterkejutan yang meruntuhkan kewarasannya. Tangannya yang memegang tombak terasa kebas. Tombak pusaka tingkat menengahnya perlahan mulai menunjukkan retakan rambut.

"Mustahil!" jerit Yan Wu dalam hati. "Dia bukan True Immortal! Energi macam apa ini?!"

"Tingkat menengah," geram Lin Chen, suaranya parau namun dipenuhi kebuasan. "Hanya sebatas ini kekuatan yang kau sombongkan?"

Dengan sisa tenaga terakhir dari Lengan Logam Abadi, Lin Chen mendorong tinjunya maju satu inci lebih dalam.

*KRAAAK!*

Tombak merah darah itu hancur berkeping-keping.

Kehilangan penahannya, tubuh Yan Wu terdorong ke depan. Tinju perak kehitaman Lin Chen meluncur lurus dan menghantam tepat di bahu kiri Tuan Kota.

*BAM!*

Suara tulang patah terdengar sangat nyaring. Yan Wu memuntahkan seteguk darah keemasan. Tubuhnya terhempas ke belakang, berguling-guling di atas reruntuhan lantai pualam sebelum akhirnya terhenti dalam posisi berlutut. Pakaian sutra mewahnya hancur. Bahu kirinya remuk sepenuhnya, lengannya terkulai tak berguna.

Keheningan yang mematikan kembali menguasai Koloseum Jalur Darah.

Sembilan belas pengawal yang perlahan bangkit dari reruntuhan menatap majikan mereka dengan kengerian yang membekukan jiwa. Tuan Kota Batu Hitam, salah satu dari tiga penguasa mutlak, telah dipukul mundur dan dilukai parah oleh seorang pemuda yang baru saja keluar dari tambang.

Lin Chen menurunkan lengan kanannya yang kini mengeluarkan uap panas. Rasa sakit akibat benturan tadi merobek organ dalamnya, kepuasan yang mengalir di nadinya jauh lebih besar.

**[Pilihan 2 Diselesaikan secara Akurat.]**

**[Musuh terprovokasi. Kekuatan maksimal musuh memicu resonansi. Asimilasi Lengan Logam Abadi meningkat 15%. Jalur energi baru telah terukir permanen.]**

Pemuda itu menghembuskan napas panjang. Ia mengusap sisa darah di dagunya menggunakan tangan kirinya. Matanya yang dingin menatap Yan Wu yang sedang memegangi bahunya yang hancur.

"Kau menginginkan lenganku," suara Lin Chen bergema tenang melintasi arena yang berantakan. "Sekarang kau telah merasakannya. Apakah kau masih ingin mengambilnya, Yan Wu?"

Yan Wu menggertakkan giginya. Rasa sakit dan penghinaan membakar kewarasannya. Sebagai seorang penguasa, dipukul mundur oleh seorang yang tak dikenal di wilayah kekuasaannya sendiri adalah akhir dari reputasinya.

"Bunuh dia!" raung Yan Wu dengan suara bergetar. "Semua pengawal, serang serentak! Aktifkan Formasi Penjerat Darah! Aku ingin dia ditangkap hidup-hidup, aku akan mengulitinya sendiri!"

Sembilan belas pengawal elit itu ragu sesaat, takut akan kekuatan Lengan Iblis tersebut. Mendengar perintah mutlak dari Tuan Kota, mereka memaksakan diri maju. Mereka membuang senjata mereka, lalu merentangkan tangan. Energi Qi mereka saling terhubung, membentuk ranting-ranting cahaya berwarna darah yang melesat ke arah Lin Chen, bermaksud mengunci seluruh pergerakannya.

Lin Chen tidak berniat mengulangi benturan frontal dalam kondisinya yang kelelahan. Asimilasi tambahan telah tercapai, tujuannya telah terpenuhi.

Ia memutar *Napas Karang Esensi*, mengalirkan sisa Qi ke kedua kakinya. *Langkah Bayangan Iblis* diaktifkan. Tubuhnya terbelah menjadi enam bayangan kabur yang melesat ke arah yang berbeda. Formasi jaring darah para pengawal hanya menangkap bayangan ilusi tersebut.

Lin Chen yang asli muncul di atas dinding batu obsidian setinggi tiga puluh meter. Ia memandang rendah ke arah Yan Wu dan pasukan pengawalnya.

"Kota Batu Hitam terlalu kecil untuk menguburku," ucap Lin Chen, suaranya memantul di seluruh penjuru koloseum. "Pertahankan nyawamu baik-baik, Yan Wu. Saat aku kembali menginjakkan kaki di kota ini, aku tidak akan mematahkan bahumu. Aku akan mengambil kepalamu."

Tanpa menunggu balasan amarah dari bawah, pemuda itu memutar tubuhnya. Ia melompat melewati dinding luar koloseum, mendarat dengan ringan di atas atap bangunan terdekat. Bergerak dengan kelincahan bayangan, Lin Chen melesat menembus distrik-distrik Kota Batu Hitam, menghilang ke dalam labirin jalanan berdebu.

Dalam waktu kurang dari setengah jam, seluruh kota berada dalam keadaan siaga penuh. Lonceng peringatan berdentang tiada henti. Pasukan Tuan Kota dikerahkan ke seluruh sudut, mencari sosok pemuda bertopeng dengan lengan perak.

Lin Chen menyusuri jalur tikus yang menghindari jalan utama. Tujuannya adalah pinggiran kota, kembali ke kediaman keluarga Shen. Ia membutuhkan tempat yang aman untuk sepenuhnya menstabilkan asimilasi lengannya dan menyembuhkan luka dalam akibat benturan dengan True Immortal.

Sesampainya di halaman belakang kediaman Shen, hari telah berganti senja. Shen Chang dan Shen Yu yang sedang cemas menunggu langsung berlari menyambutnya.

Melihat Lin Chen tidak mengenakan jubah, dan melihat lengan kanan berwarna perak kehitaman yang memancarkan aura purba tersebut, Shen Yu menutup mulutnya tak percaya.

"Tuan... lengan Anda..." bisik Shen Yu takjub.

"Bawa aku ke ruang bawah tanah teraman yang kalian miliki," potong Lin Chen cepat. Ia berjalan terhuyung. Kelelahan akhirnya mengejar batas toleransi fisiknya. "Tuan Kota Yan Wu akan membalikkan seluruh isi kota ini untuk mencariku. Jangan biarkan siapa pun tahu aku ada di sini."

Shen Chang mengangguk panik, segera membuka pintu rahasia di balik rak buku ruang kerjanya. "Mari, Tuan. Ini adalah ruang perlindungan kuno keluarga kami. Formasi pelindungnya bisa menyembunyikan fluktuasi Qi sepenuhnya dari pelacak luar."

Lin Chen melangkah turun ke dalam ruangan bawah tanah yang dingin tersebut. Begitu pintu batu tertutup rapat, ia ambruk ke lantai bersila. Ia menutup matanya, memfokuskan seluruh sisa kesadarannya untuk memperbaiki tubuh fana yang retak.

Kemenangan hari ini adalah deklarasi eksistensinya di Dunia Tengah. Ia telah menantang salah satu penguasa kota dan pergi dengan kemenangan telak. Sang Iblis Satu Tangan kini telah terlahir kembali dengan wujud yang lebih sempurna. Lengan Logam Abadi telah menjadi miliknya. Fase selanjutnya bukanlah bertahan hidup, melainkan persiapan untuk menghancurkan pilar-pilar kekuasaan Kota Batu Hitam. Malam ini, ia beristirahat di bawah tanah, merajut kembali kekuatannya, menanti fajar baru yang akan ia basahi dengan darah para penguasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!