Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 SWMU
Pagi itu, suasana di Mansion Mahendra terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Kabut tidak hanya menyelimuti hutan pinus di luar, tetapi seolah merembes masuk melalui celah-celah pintu, memenuhi setiap sudut ruangan dengan ketegangan yang menyesakkan. Nadia terbangun dengan mata yang perih. Ia tidak tidur sedetik pun setelah melihat Bramantya menangisi surat ibunya semalam. Kegilaan pria itu kini terpampang nyata di depan matanya, tanpa topeng, tanpa kepura-puraan.
Nadia mencoba bangkit dari tempat tidur, berniat untuk segera mencari cara menghubungi pihak luar. Namun, saat ia melangkah menuju pintu, ia menemukan sesuatu yang membuatnya membeku. Di lantai, tepat di depan pintu yang tertutup, terdapat setangkai bunga mawar putih yang kelopak-kelopaknya sudah mengering dan menghitam—seolah-olah bunga itu telah mati karena kesedihan.
Itu adalah pesan. Bramantya tahu. Dia tahu Nadia telah masuk ke ruang kerjanya.
Nadia membuka pintu kamarnya dengan tangan gemetar. Ia berharap bisa menyelinap ke dapur atau ruang telepon, namun langkahnya langsung terhenti. Di depan pintunya, dua pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam berdiri kaku seperti patung.
"Maaf, Nona Nadia. Tuan Bramantya memerintahkan agar Anda tetap berada di dalam kamar untuk hari ini," ucap salah satu pria itu tanpa menatap matanya.
"Apa? Atas dasar apa?!" seru Nadia, suaranya naik satu oktav. "Aku ingin turun! Aku ingin sarapan!"
"Makanan akan diantarkan ke kamar Anda, Nona. Ini demi keselamatan Anda sendiri."
Pintu ditutup paksa di depan wajahnya. Nadia mendengar suara kunci diputar, bukan sekali, tapi dua kali. Kali ini, penjara itu benar-benar menjadi nyata. Bukan lagi sekadar aturan "setelah jam sepuluh malam", tapi isolasi total.
Nadia berlari menuju jendela. Ia mencoba membukanya, namun gagang jendela itu tidak bisa digerakkan. Seseorang telah memasang sekrup tambahan dari luar atau menggunakan sistem penguncian otomatis. Ia menatap ke bawah, ke arah gerbang utama yang jauh di sana. Penjagaan di sana berlipat ganda. Tidak ada mobil yang keluar atau masuk.
"Kau pikir kau bisa mengurungku seperti ini, Bram?!" teriak Nadia pada kekosongan kamar, berharap pria itu mendengarnya melalui cermin dua arah di meja riasnya.
Dua jam berlalu dalam kecemasan yang menyiksa. Setiap suara langkah kaki di koridor membuat bulu kuduk Nadia meremang. Hingga akhirnya, suara kunci yang diputar terdengar lagi. Pintu terbuka, dan Bramantya masuk.
Pria itu tampak sangat rapi, seperti baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis penting. Namun, ada aura gelap yang melingkupinya. Ia membawa nampan berisi sarapan dan meletakkannya di atas meja rias—tepat di depan cermin yang menjadi saksi bisu rahasianya.
"Makanlah, Nadia. Kau butuh nutrisi agar tidak berpikiran aneh," ucap Bramantya tenang, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Nadia berdiri di tengah ruangan, tangannya terkepal kuat. "Sampai kapan kau akan melakukan ini? Kenapa kau menyembunyikan surat ibuku? Kenapa kau mengurungku?"
Bramantya berhenti sejenak. Ia perlahan berbalik, menatap Nadia dengan tatapan yang sangat dalam dan kosong. "Aku melakukan ini karena kau mulai membahayakan dirimu sendiri, Nadia. Masuk ke ruang kerjaku, menyentuh barang-barang yang tidak seharusnya kau sentuh... itu menunjukkan bahwa kau belum cukup dewasa untuk diberikan kebebasan."
"Aku sudah tahu semuanya, Bram! Aku tahu kau terobsesi pada ibuku! Aku tahu kau menganggapku sebagai penggantinya! Kau gila!" teriak Nadia dengan air mata yang mulai mengalir.
Bramantya berjalan mendekati Nadia dengan langkah pelan yang mematikan. Nadia mencoba mundur, namun ia segera terpojok di antara lemari dan dinding. Bramantya meletakkan tangannya di dinding, mengurung Nadia dalam bayangannya.
"Gila?" Bramantya berbisik, suaranya serak. "Gila adalah saat aku harus melihat wanita yang kucintai dibawa pergi oleh saudaraku sendiri. Gila adalah saat aku harus berpura-pura baik-baik saja sementara hatiku membusuk karena cemburu. Dan sekarang, saat takdir memberikan kesempatanku yang kedua lewat dirimu, kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?"
Bramantya menyentuh dagu Nadia, memaksa gadis itu menatapnya. "Larangan keluar ini bukan hukuman, Nadia. Ini adalah perlindungan. Di luar sana, orang-orang akan melihatmu sebagai Althea kedua. Mereka akan mencoba menyakitimu untuk menyakitiku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Aku bukan ibuku! Namaku Nadia!"
"Kau adalah segalanya bagiku sekarang," potong Bramantya dengan nada otoriter. "Mulai hari ini, kau tidak diizinkan meninggalkan mansion ini. Kau tidak diizinkan berbicara dengan siapa pun selain aku dan Bi Inah. Bahkan akses internet di kamarmu sudah kuputus. Kau akan tinggal di sini, belajar mencintaiku, sampai kau menyadari bahwa tidak ada dunia lain selain dunia yang kubangun untukmu."
Nadia meludahi wajah pria itu sebagai bentuk perlawanan terakhirnya.
Bramantya terdiam. Ia memejamkan mata sesaat saat air liur Nadia mengenai pipinya. Ia tidak memukul, tidak berteriak. Ia justru mengambil sapu tangan dari sakunya dan menyeka wajahnya dengan gerakan yang sangat rapi. Namun, kilatan di matanya menunjukkan kemarahan yang luar biasa.
"Sikap pemberontakmu ini... akan sangat melelahkan, Nadia. Tapi aku punya banyak waktu," ucap Bramantya dingin.
Pria itu berbalik menuju pintu. "Bi Inah akan membawakan semua keperluanmu. Jangan mencoba melarikan diri lewat jendela atau menyuap penjaga. Mereka semua dibayar untuk setia padaku, bukan padamu."
"Aku akan membencimu selamanya, Bramantya!" teriak Nadia saat pria itu sampai di ambang pintu.
Bramantya berhenti sejenak tanpa menoleh. "Kebencian hanyalah bentuk lain dari gairah yang terpendam, Nadia. Aku bisa menunggu hingga kebencian itu berubah menjadi ketergantungan. Karena pada akhirnya, saat kau tidak punya siapa-siapa lagi untuk diajak bicara, kau akan datang merangkak padaku."
Nadia jatuh terduduk di lantai, menangis histeris. Ia merasa dunianya baru saja menyusut menjadi empat dinding kamar ini. Larangan keluar itu adalah hukuman mati bagi jiwanya. Ia menatap cermin di depannya, merasa seolah-olah mata Bramantya sedang menertawakannya dari balik kaca.
Mansion Mahendra kini bukan lagi sebuah rumah, melainkan benteng yang tak tertembus. Nadia menyadari bahwa Bramantya sedang menjalankan rencana yang sangat sistematis: menghancurkan mentalnya, memutus hubungannya dengan kenyataan, dan membuatnya merasa bahwa ia tidak berharga tanpa perlindungan sang paman.
Siang berganti sore, dan sore berganti malam. Nadia tidak menyentuh makanannya. Ia hanya duduk di pojok ruangan, menatap pintu yang tertutup rapat. Setiap suara di koridor terasa seperti ancaman. Ia merasa seperti putri dalam dongeng yang dikurung di menara tinggi, namun pangeran yang seharusnya menyelamatkannya adalah naga yang mengurungnya.
Malam itu, Bi Inah masuk membawa susu hangat seperti biasa. Kali ini, penjagaan di pintu sangat ketat. Dua penjaga berdiri tepat di belakang Bi Inah saat pelayan itu meletakkan gelas di atas meja.
"Tuan berpesan, jika Nona tidak meminum susunya, beliau sendiri yang akan datang dan meminumkannya untuk Nona," ucap Bi Inah tanpa ekspresi.
Ancaman itu membuat Nadia merinding. Ia membayangkan Bramantya memaksanya meminum cairan itu, menyentuhnya dengan tangan yang penuh obsesi. Dengan rasa jijik yang luar biasa, Nadia meraih gelas itu dan meminumnya hingga tandas di depan mereka semua.
Begitu pintu dikunci lagi, Nadia merasa efeknya bekerja lebih cepat. Mungkin dosisnya ditambah. Kepalanya terasa sangat berat, dan penglihatannya mulai berbayang. Ia merangkak menuju tempat tidur, air mata terakhir jatuh di bantalnya.
Dalam kegelapan yang mulai menelan kesadarannya, ia mendengar suara bisikan di dalam pikirannya sendiri. Kau tidak bisa lari, Nadia. Kau milikku.
Larangan keluar itu bukan hanya soal fisik. Bramantya sedang mencoba mengurung pikirannya, memorinya, dan hatinya. Dan saat Nadia jatuh ke dalam tidur yang dipaksakan, ia tahu bahwa besok ia akan bangun di penjara yang sama, dengan pria yang sama, dan dengan aroma maskulin yang kini terasa seperti wangi kematian yang paling manis.