NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 25

Malam di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, seolah langit ikut membeku setelah badai emosi yang melanda kondominium Arka. Rumah Kirana, yang biasanya menjadi tempat pelariannya yang sunyi, kini telah berubah menjadi benteng yang dijaga ketat.

Di setiap sudut halaman, pria-pria berserakan dengan setelan hitam, menjaga setiap inci tanah seolah-olah Kirana adalah permata paling berharga yang sedang diincar seluruh dunia.

Kirana berdiri di balkon kamarnya, memandangi kerlap-kerlip lampu kota yang tampak seperti berlian yang tumpah di atas beludru hitam. Ia mengenakan jubah tidur sutra tipis berwarna putih gading. Tangannya menggenggam pagar besi balkon yang dingin, berusaha menenangkan badai di dalam dadanya.

"Kau seharusnya tidak berada di luar tanpa pengawasan, Kirana."

Suara itu rendah, serak, dan memiliki getaran yang selalu berhasil menyentuh saraf paling sensitif di tubuh Kirana. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa Arka berdiri di ambang pintu geser balkon. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau obat-obatan dan sisa hujan segera memenuhi udara di sekitarnya.

Kirana menoleh perlahan. Arka berdiri di sana, hanya mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan perban yang melingkari dada dan bahunya. Wajahnya yang tampan masih memiliki memar keunguan di sudut bibir dan pelipis, namun matanya menatap Kirana dengan intensitas yang nyaris tak tertahankan.

"Rumah ini milikku, Arka. Aku berhak berdiri di mana pun aku mau," sahut Kirana, mencoba mengembalikan nada dingin yang biasanya menjadi senjatanya. Namun, suaranya sedikit bergetar, mengkhianati perasaan yang mulai mencair di dalam dirinya.

Arka melangkah maju, langkahnya tenang namun pasti, seperti predator yang sedang mendekati pasangannya. Ia berhenti tepat di belakang Kirana. Ia tidak menyentuhnya, namun panas tubuhnya merambat ke punggung Kirana, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.

"Roy sudah lumpuh, tapi pengikutnya masih berkeliaran. Aku tidak akan membiarkan celah sekecil apa pun terbuka untuk mereka menyakitimu," bisik Arka tepat di telinga Kirana.

Kirana berbalik dengan cepat, membuat jarak mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. "Kenapa, Arka? Kenapa kau harus melangkah sejauh ini? Kau hampir mati demi pria yang kau benci dan wanita yang selalu menghinamu."

Arka menatap mata Kirana yang berkaca-kaca. Ia perlahan mengangkat tangannya yang terbalut perban tipis, menyentuh helai rambut Kirana yang tertiup angin. "Karena menghinamu adalah hakku, Kirana. Dan melindungimu adalah kewajibanku. Aku tidak peduli jika dunia hancur, asalkan kau tetap berdiri tegak di tengah reruntuhannya."

Jantung Kirana berdegup sangat kencang, suaranya seperti genderang perang di telinganya sendiri. Ia melihat luka-luka di tubuh Arka, luka yang didapat Arka demi dirinya. Rasa benci yang selama ini ia pelihara dengan susah payah mulai terasa seperti beban yang terlalu berat untuk dipikul.

"Kau pria yang sangat buruk bagi kesehatanku," bisik Kirana, matanya jatuh pada bibir Arka yang terluka.

"Dan kau adalah racun yang dengan senang hati kuminum setiap hari," balas Arka parau.

Tanpa peringatan, Arka menarik pinggang Kirana, menyatukan tubuh mereka dalam satu sentakan yang mengejutkan. Kirana terpekik kecil, namun tangannya justru secara refleks mencengkeram kemeja Arka. Di bawah sinar rembulan yang pucat, Arka menunduk dan mencium Kirana dengan penuh rasa lapar.

Ciuman itu tidak seperti sebelumnya yang penuh amarah. Kali ini, ciuman itu terasa seperti pengakuan. Ada rasa sakit, rindu, dan keinginan yang mendalam yang selama ini terkunci di balik dinding ego mereka masing-masing.

Kirana mendesah, menyerahkan seluruh pertahanannya saat lidah Arka menuntut akses lebih dalam. Ia merasakan kekuatan pria itu, kekasaran yang melindungi, dan gairah yang membakar sisa-sisa kedinginan di hatinya.

Arka mengangkat tubuh Kirana, mendudukkannya di atas pagar balkon yang lebar. Tangan Arka merayap masuk ke balik jubah sutra Kirana, menyentuh kulit pahanya yang mulus. Kirana merangkul leher Arka, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi yang memabukkan.

Di sini, di ketinggian yang berisiko, dengan penjaga yang mengintai di bawah sana, ketegangan seksual mereka meledak dalam keintiman yang berbahaya namun indah.

Di tengah kemesraan yang membara itu, tiba-tiba sebuah lampu sorot besar dari salah satu pos penjagaan berputar dan mengenai area balkon. Kirana tersentak kaget, wajahnya memerah padam. Ia segera menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arka.

"Tuan Arka? Apakah ada masalah di atas?" suara seorang penjaga terdengar melalui interkom di pinggang Arka.

Arka tidak melepaskan pelukannya pada Kirana. Ia justru menarik jubah Kirana untuk menutupi tubuhnya lebih rapat, sementara tangannya yang satu lagi meraih interkom. "Matikan lampu sorot itu. Aku hanya sedang memeriksa keamanan perimeter balkon. Jangan ada yang melihat ke atas dalam sepuluh menit ke depan."

"Baik, Tuan!"

Lampu itu mati, kembali menyisakan kegelapan yang intim. Kirana tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat langka dan jujur. "Kau gila, Arka. Kau memerintah mereka untuk tidak melihat bos mereka sedang... seperti ini?"

Arka menatap Kirana dengan senyum tipis yang mematikan. "Aku tidak ingin berbagi pemandangan ini dengan siapa pun. Kau adalah rahasia terbesarku, Kirana."

Arka membantu Kirana turun dari pagar balkon dan membawanya masuk ke dalam kamar yang hangat. Ia mendudukkan Kirana di tepi tempat tidur, lalu ia sendiri berlutut di lantai, menatap Kirana dengan tatapan yang sangat lembut.

"Kirana... aku tahu aku memulai semua ini dengan cara yang salah. Taruhan itu, kebohongan itu... semuanya adalah noda yang mungkin tidak akan pernah bisa kuhapus sepenuhnya," ujar Arka, suaranya terdengar tulus tanpa sedikit pun kesombongan yang biasanya ia miliki.

Kirana menatap tangan Arka yang menggenggam jemarinya. Ia merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan pria itu. "Aku tidak bisa menjanjikanmu bahwa aku akan langsung memaafkanmu, Arka. Luka itu masih ada."

"Aku tidak butuh dimaafkan dengan cepat," balas Arka. Ia mengambil sebuah kotak beludru kecil dari sakunya dan membukanya. Di dalamnya bukan lagi kalung emas dari Roy, melainkan sebuah cincin perak sederhana dengan ukiran nama mereka di bagian dalam. "Aku hanya butuh kau memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi pria yang pantas berdiri di sampingmu."

Kirana menatap cincin itu, lalu menatap Arka. Untuk pertama kalinya, ia melihat kejujuran di mata pria yang dulu ia anggap sebagai penipu ulung. Ia mengambil cincin itu, namun tidak memakainya di jari manis. Ia justru mengeluarkan seutas rantai tipis dari lehernya dan memasukkan cincin itu ke sana, menjadikannya sebuah liontin.

"Aku akan menyimpannya dekat dengan jantungku," bisik Kirana. "Anggap ini sebagai langkah pertama. Jangan buat aku menyesal, Arka."

Arka tersenyum, lalu ia mencium kening Kirana dengan sangat lama. Malam itu, mereka tidak melanjutkan gairah mereka ke arah yang lebih jauh. Mereka hanya berbaring di atas tempat tidur, saling berpelukan dalam keheningan, mendengarkan detak jantung satu sama lain.

Bagi Kirana, ini jauh lebih romantis daripada pesta mewah mana pun. Ini adalah momen di mana dua jiwa yang rusak mulai mencoba untuk saling menyembuhkan.

...----------------...

Next Episode....

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!