NovelToon NovelToon
Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

​"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
​Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
​Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
​Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Janji di Atas Kertas

Tanda tanya besar seolah-olah meledak di dalam kepala Maya Anindya saat dia terbangun dengan selembar dokumen baru yang tergeletak di atas bantal tidurnya. Dia menarik napas panjang sambil meraba kertas yang terasa sangat kaku serta dingin di bawah remang cahaya lampu kamar yang belum sempat dia matikan semalam. Di sudut ruangan, sosok Arga Dirgantara sudah berdiri tegak sambil merapikan baret hijau miliknya di depan cermin kecil.

"Tanda tangani surat pernyataan itu sekarang juga sebelum kita berangkat ke sekolah," perintah Arga Dirgantara tanpa menoleh sedikit-pun ke arah istrinya.

Maya Anindya duduk tegak dengan rambut yang sedikit berantakan sementara matanya mencoba memindai setiap baris kalimat yang tertulis di atas kertas tersebut. Dadanya terasa sangat sesak saat membaca sebuah janji tertulis yang menyatakan bahwa dia bersedia melepaskan seluruh hak waris ayahnya kepada pihak markas. Gadis itu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih karena merasa sedang dikhianati oleh sistem yang seharusnya melindunginya.

"Mengapa saya harus menyerahkan semua peninggalan ayah kepada orang-orang berseragam seperti Anda?" tanya Maya Anindya dengan suara yang bergetar hebat.

Arga Dirgantara berbalik dengan gerakan yang sangat tangkas hingga derap sepatu larasnya menciptakan suara dentuman yang sangat keras di lantai kamar yang sunyi. Dia melangkah mendekati tempat tidur dengan rahang yang terlihat sangat mengeras seolah-olah sedang menahan amarah yang sangat luar biasa besar. Pria itu mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja sementara sorot matanya berkilat sangat tajam.

"Harta itu adalah umpan yang sedang diincar oleh musuh dan satu-satunya cara menyelamatkanmu adalah dengan melenyapkan alasan mereka memburumu," jawab Arga Dirgantara dengan nada bicara yang sangat dingin serta penuh penekanan.

Maya Anindya merasakan air mata kekecewaan mulai mengalir membasahi pipinya yang pucat saat menyadari bahwa hidupnya kini tidak lebih dari sekadar bidak catur. Dia merasa janji-janji perlindungan yang diberikan pria itu hanyalah sebuah cara halus untuk menguasai segala sesuatu yang tersisa dari keluarganya. Namun di balik tatapan kaku sang perwira, ada sebuah kekhawatiran yang sangat dalam yang tidak mampu dia ungkapkan dengan kata-kata manis.

"Jika saya menandatangani janji ini, apakah Anda benar-benar akan tetap berada di samping saya selamanya?" tanya Maya Anindya sambil menatap lurus ke dalam bola mata sang suami.

Pria berseragam hijau itu terdiam sesaat sambil meraih pulpen hitam yang terselip di saku lengannya dengan gerakan yang sangat lambat serta penuh pertimbangan. Dia meletakkan pulpen tersebut tepat di atas jari-jari Maya Anindya yang masih gemetar karena rasa takut yang belum juga hilang sejak semalam. Suasana di dalam kamar itu menjadi sangat mencekam saat suara sirene tanda bahaya dari gerbang utama markas tiba-tiba menggelegar dengan sangat keras.

"Kehormatan saya adalah jaminannya tetapi waktu kita sudah habis karena mereka sudah berada di depan pagar," tegas Arga Dirgantara sambil menarik paksa Maya Anindya untuk segera bangkit dari tempat tidur.

Gadis itu terkejut saat melihat sebuah ledakan kecil terjadi di ujung jalan yang terlihat jelas dari celah gorden jendela kamarnya yang tertutup rapat. Dia tidak punya pilihan lain selain membubuhkan tanda tangan di atas kertas tersebut dengan gerakan tangan yang sangat tergesa-gesa serta penuh dengan keraguan. Kesepakatan itu kini telah sah secara hukum namun keselamatan mereka justru sedang berada di ujung tanduk yang sangat rapuh.

"Sekarang kamu bukan lagi warga sipil biasa karena secara resmi kamu adalah bagian dari rahasia militer yang sangat besar," bisik Arga Dirgantara sambil mengokang senjata api miliknya dengan wajah yang sangat serius serta bukan suami sungguhan.

1
muna aprilia
lanjutkan
Ihda Rozi
lanjut
merry
nyiksa ank org kmu ga,, pdhl maya gk salah lohh,, ko berhrp maya truma gt biar nyesel tu si Arga bini msh kecill dihukum kyk bgtt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!