Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Abi yang sejak tadi memperhatikan dari pinggir kolam, seketika merasakan firasat buruk saat Liana tidak kunjung muncul ke permukaan.
Di dasar kolam, Liana merasakan otot kakinya yang terluka tiba-tiba tertarik hebat.
Kram yang sangat menyakitkan menyerang betisnya, membuatnya tidak bisa bergerak dan paru-parunya mulai terdesak oleh air.
"Liana!" teriak Abi saat melihat tubuh Liana yang perlahan mulai tenggelam tanpa perlawanan.
Tanpa melepas pakaiannya, Abi langsung melompat ke dalam air.
Ia langsung menyelam ke dasar, meraih tubuh Liana yang sudah lunglai, dan membawanya naik ke permukaan dengan sisa tenaganya.
Abi membaringkan tubuh Liana di dek kayu samping kolam.
Wajah Liana sudah sangat pucat, bibirnya membiru, dan ia tidak bernapas.
"Li! Bangun, Liana! Jangan tinggalkan aku!" teriak Abi panik.
Tangannya gemetar hebat saat memeriksa denyut nadi di leher Liana yang tidak ada.
Tanpa membuang waktu, Abi memulai tindakan darurat.
Ia menekan dada Liana, lalu memberikan napas buatan dari mulut ke mulut.
Ia meniupkan oksigen ke paru-paru Liana, berharap ada tanda-tanda kehidupan.
"Aku mohon, Li. Jangan sekarang. Maafkan aku, Paman bersalah. Paman mohon bangun!"
Abi terus melakukannya berkali-kali. Air mata mulai mengalir deras dari matanya, bercampur dengan air kolam yang membasahi wajahnya.
Ia menangis sesenggukan, suara tangisnya pecah di tengah kesunyian malam Uluwatu.
Ia baru menyadari betapa hancurnya ia jika benar-benar kehilangan gadis ini karena egonya.
Uhuk! Uhuk!
Liana akhirnya tersedak, memuntahkan air dari paru-parunya.
Ia terbatuk-batuk hebat sambil mencoba meraup udara. Abi langsung menarik Liana ke dalam pelukannya, mendekap tubuh istrinya yang menggigil kencang itu dengan sangat erat.
"Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah," isak Abi sambil menciumi puncak kepala Liana yang basah kuyup.
Tubuh Abi bergetar hebat karena tangis yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Maafkan Paman, Liana. Maafkan Paman yang sudah menyakitimu sejauh ini. Jangan pernah lakukan itu lagi, aku mohon..."
Liana hanya bisa terdiam lemas di pelukan Abi. Ia tidak memiliki kekuatan untuk mendorong pria itu lagi.
Di tengah rintik tangis Abi yang membasahi bahunya, Liana hanya bisa menatap kosong ke arah langit, merasa bahwa bahkan kematian pun seolah menolaknya untuk pergi dari neraka ini.
Abi membopong tubuh Liana yang dingin dan terkulai lemas dengan tangan yang masih bergetar hebat.
Langkahnya terburu-buru menyusuri selasar villa menuju kamar utama.
Setiap tetesan air yang jatuh dari pakaian mereka terasa seperti hitungan mundur yang mencekam di kepala Abi.
"Niluh! Niluh, panggil dokter sekarang! Cepat!" teriak Abi dengan suara serak yang sarat akan kepanikan saat melihat Niluh berlari menghampiri mereka di lorong.
Niluh yang melihat kondisi majikannya yang pucat langsung mengangguk cepat dan segera menghubungi dokter jaga dari resort terdekat.
Di dalam kamar, Abi meletakkan Liana di atas ranjang king size dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.
Ia segera meraih selimut bulu yang paling tebal, membungkus tubuh Liana yang menggigil kencang.
Saat itulah, Abi tertegun. Ia melihat Liana yang sejak tadi tidak mengenakan pakaian.
Mata Abi tertuju pada tubuh mungil dengan kulitnya yang putih kini dihiasi bercak-bercak lebam kebiruan di beberapa titik, serta bekas luka merah di kakinya yang tampak kontras dan menyakitkan.
Rasa sesak kembali menghantam dada Abi. Keindahan tubuh istrinya kini justru menjadi saksi bisu kekejaman tangannya sendiri dan kecemburuan buta Genata.
Ia merasa menjadi pria yang paling menjijikkan di dunia.
"Kenapa aku setega ini padamu, Li..." bisik Abi lirih.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil handuk kering dan mulai menyeka sisa air di wajah serta rambut Liana.
Liana masih memejamkan mata, namun deru napasnya yang pendek dan bibirnya yang bergetar menunjukkan betapa hebatnya trauma dingin yang dialaminya.
Abi duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Liana yang sedingin es, lalu menempelkannya ke pipinya sendiri yang basah karena air mata.
Ia terus menangis sesenggukan, menunggu dokter datang, sambil terus membisikkan kata maaf yang mungkin tidak akan pernah cukup untuk menghapus memori kelam di hati Liana.
Tak lama kemudian, Niluh datang bersama seorang dokter pria paruh baya bernama dr. Wayan.
Suasana kamar yang tadinya penuh isak tangis Abi seketika berubah menjadi tegang dan profesional.
Abi berdiri dengan wajah sembap, memberi ruang bagi dokter untuk memeriksa Liana.
Dr. Wayan mengernyitkan dahi saat memeriksa suhu tubuh Liana dan melihat kondisi fisik pasiennya.
"Istri anda mengalami hipotermia yang cukup serius. Suhu tubuhnya turun drastis, itulah yang menyebabkan ia menggigil hebat dan kesadarannya menurun," jelas dokter sambil dengan terampil mencari pembuluh darah di pergelangan tangan Liana yang pucat.
Klik!
Jarum infus berhasil terpasang, menyalurkan cairan hangat ke dalam tubuh Liana yang rapuh.
Namun, saat dr. Wayan menyingkap selimut untuk memeriksa kaki Liana, ia terdiam sejenak.
Matanya menatap nanar pada garis-garis merah yang mulai membengkak dan mengeluarkan cairan bening di betis Liana.
"Tuan Abi, luka di kakinya ini mengalami infeksi karena terkena air kolam yang tidak steril saat kondisi luka masih terbuka," ucap dr. Wayan dengan nada serius.
"Ini harus segera dibersihkan dan diberikan salep antibiotik agar tidak semakin parah."
Abi hanya bisa tertunduk lesu, tangannya mengepal kuat menahan rasa malu dan sesal saat dokter menuliskan beberapa resep obat.
"Lakukan yang terbaik, Dok. Saya mohon."
"Saya sudah memberikan obat penenang di dalam infusnya agar dia bisa istirahat total. Ini resep antibiotik dan obat oles untuk lukanya. Tolong pastikan lukanya tetap kering," dr. Wayan menyerahkan secarik kertas pada Abi sebelum berpamitan.
Setelah dokter pergi, ruangan kembali hening, hanya menyisakan suara tetesan cairan infus yang teratur. Abi duduk kembali di samping Liana, menatap wajah istrinya yang kini tampak lebih tenang meski masih sangat pucat.
Ia meraih tangan Liana yang tidak terpasang infus, menciuminya berkali-kali dengan penuh duka.
"Istirahatlah, Li. Paman tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Bahkan Paman sendiri," bisik Abi lirih.
Malam semakin larut, namun kesunyian di dalam kamar villa itu terasa begitu menyayat hati.
Abi masih setia duduk di samping ranjang, menatap wajah pucat Liana yang tertidur di bawah pengaruh obat penenang.
Tiba-tiba, tubuh Liana mulai bergerak gelisah. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan napas yang memburu.
Bibirnya yang membiru mulai bergumam, mengeluarkan suara lirih yang membuat jantung Abi seolah berhenti berdetak.
"Paman Abi... Paman Abi..." igau Liana dengan suara yang teramat rapuh, seperti anak kecil yang sedang tersesat.
Abi mendekat, mencoba mengusap kening Liana yang berkeringat dingin.
"Iya, Sayang. Mas di sini. Paman di sini."
"Paman, Liana mau es krim cokelat. Paman Abi janji mau belikan es krim..." Liana merintih, sebuah senyum tipis yang menyakitkan muncul di wajahnya yang sedang mengigau.
Ia seolah sedang terjebak dalam memori masa kecilnya yang bahagia, saat Abi masih menjadi pahlawan baginya.
Namun, sedetik kemudian, raut wajah itu berubah menjadi ketakutan yang luar biasa.
Tubuhnya tersentak dan tangannya yang tidak terpasang infus mencoba menutupi wajahnya sendiri.
"Jangan pukul Liana, Paman Abi jangan pukul aku... Sakit, Paman... sakit sekali," isak Liana dalam tidurnya.
Air matanya mengalir dari sudut matanya yang terpejam, membasahi bantal sutra di bawahnya.
"Ampun, Paman. Mulut Liana jangan disumpal..."
Mendengar jeritan trauma itu keluar dari mulut Liana yang sedang tidak sadarkan diri, Abi merasa seolah ada belati yang menghujam jantungnya berkali-kali.
Ia tidak sanggup lagi melihat pemandangan itu. Setiap rintihan Liana adalah dakwaan atas kekejamannya yang tak termaafkan.
Abi melepaskan genggaman tangannya, berdiri dengan tubuh yang limbung.
Ia segera melangkah keluar dari kamar, menutup pintu dengan pelan agar tidak mengganggu Liana, lalu ambruk di selasar balkon yang menghadap ke laut lepas.
Abi terduduk di lantai dingin, menyandarkan punggungnya di dinding, dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut.
Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini meledak menjadi tangisan sesenggukan yang hebat. Bahunya berguncang keras.
"Apa yang sudah aku lakukan? Aku sudah menghancurkan dunianya dan membunuh jiwanya."
Di bawah rembulan Bali, Abi menangis sejadi-jadinya, meratapi betapa monster yang selama ini ia takuti ternyata adalah dirinya sendiri.