Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALAM BAWAH SADAR
Di dalam sel yang dingin dan lembap, tubuh Duke Lucas terkulai layu. Namun, di balik kelopak matanya yang terpejam, kesadarannya tersedot ke dalam sebuah dimensi yang jauh berbeda.
Lucas menemukan dirinya berdiri di tengah padang salju abadi yang luas, tidak ada rantai, tidak ada luka, dan tidak ada rasa sakit.
Saat ini Duke Lucas mengenakan jubah kebesarannya yang berwarna hitam pekat dengan lambang Alistair yang bersinar keperakan.
"Jasmine?" panggil Lucas, suaranya menggema membelah kesunyian.
Satu-satunya orang yang pertama Duke Lucas ingat adalah istri nya, wanita nya yang sudah lama dia tinggalkan.
Tiba-tiba, langit yang tadinya kelabu berubah menjadi merah darah.
Di cakrawala, dia melihat sosok wanita berjalan perlahan mendekatinya, awalnya, dia mengira itu adalah Jasmine yang selalu tersenyum manis dan suka menggoda diri nya, wanita yang selalu menyambutnya dengan senyuman hangat setiap kali dia pulang dari medan perang.
Namun, semakin dekat sosok itu, Duke Lucas semakin terkesiap.
Wanita itu memang Jasmine, tapi auranya sangat berbeda.
Saat ini Jasmine mengenakan gaun merah yang berkibar ditiup angin kencang, di tangannya, dia memegang sebilah belati panjang yang meneteskan darah hitam, darah musuh-musuhnya.
"Jasmine, kenapa kau di sini? Tempat ini berbahaya!" teriak Duke Lucas, mencoba berlari mendekat.
Namun, langkah Lucas terhenti, di belakang Jasmine, bayangan besar muncul, Seekor serigala betina raksasa dengan bulu seputih salju dan mata sedingin es berdiri megah.
Serigala itu tidak mengancam Jasmine, melainkan menjaganya, seolah Jasmine adalah bagian dari jiwanya.
Jasmine berhenti tepat di depan Duke Lucas, dia tidak menangis, di hanya mengangkat tangannya, menyentuh pipi Duke Lucas yang kasar.
"Lucas," bisik Jasmine, dengan suara yang tidak lagi terdengar rapuh.
"Jangan pernah berani untuk menyerah pada kegelapan itu, karena jika kau mati, aku akan membakar seluruh dunia ini untuk mencari mu," bisik Jasmine, menatap mata Duke Lucas.
"Jasmine, kau berubah..." gumam Duke Lucas takjub.
"Aku tidak bisa hanya menunggu di jendela, Sayang," ucap Jasmine dengan seringai tipis yang mematikan.
"Aku adalah Bianca Kingston, dan aku akan merobek jantung siapa pun yang menyentuh milikku," lanjut Jasmine, dingin.
Tiba-tiba, pemandangan berubah, di samping Jasmine, muncul dua sosok kecil. Lucian dan Leo.
Lucian berdiri dengan tangan bersedekap, matanya berkilat emas seperti Nyonya Kimberly.
Sementara di sampingnya, Leo tertawa kecil, namun dari sela-sela jarinya keluar percikan api yang membakar salju di sekitarnya.
"Ayah, cepat bangun," ucap Lucian datar, namun tegas.
"Ibu mulai menakutkan kalau sedang marah, kami tidak bisa menahannya sendirian," lanjut Lucian.
"Ayah! Aku akan membakar paman-paman jahat itu! Tunggu kami ya!" seru Leo sambil melambaikan tangan.
Duke Lucas merasakan dadanya sesak oleh haru dan kekuatan yang meluap-luap.
"Kalian... anak-anakku..."
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka retak, suara tawa jahat dari para penyihir hitam mulai terdengar di kejauhan, mencoba menarik Duke Lucas kembali ke kesadaran yang menyakitkan.
"Dengar, Lucas, darahku sudah menyentuh lencana mu, ikatan kita sudah terkunci. Gunakan sisa kekuatanmu untuk bertahan, jangan biarkan mereka mengambil jiwamu, karena jiwamu adalah milikku!" ucap Jasmine menggenggam tangan Duke Lucas erat.
"Jasmine!" teriak Duke Lucas.
"Bangun, Lucas Alistair! Bangun dan bersiaplah, karena istrimu datang untuk menjemputmu dengan badai!"
DUARR
Duke Lucas tersentak bangun di dalam selnya.
Napasnya memburu, keringat bercampur darah mengalir di pelipisnya, meski tubuhnya terasa seperti dihancurkan berkali-kali, matanya kini tidak lagi menunjukkan keputusasaan.
Dia menatap ke arah pintu sel di mana para penjaga tadi masih tergeletak pingsan akibat auranya.
"Bianca Kingston?" gumam Lucas pelan, mengulangi nama asing yang disebut Jasmine dalam mimpinya.
"Aku tidak tahu siapa itu, tapi jika itu adalah dirimu yang sekarang, maka para bajingan ini benar-benar sedang menggali kuburan mereka sendiri," gumam Duke Lucas, mengingat tatapan dingin istri nya tadi.
Duke Lucas menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan energi dari sisa-sisa darah Jasmine yang tadi terhubung lewat lencana.
Di dalam dadanya, jantung serigala yang selama ini dia tekan karena takut akan kekuatannya sendiri, kini mulai berdetak dengan irama yang liar dan haus akan pembalasan.
"Tiga bulan," bisik Duke Lucas pada kegelapan selnya.
"Aku akan bertahan tiga bulan lagi, setelah itu, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun dari kalian yang tersisa," gumam Duke Lucas, dengan tekat yang kuat.
Sementara itu, kembali ke kediaman Alistair, Jasmine masih menatap ke luar jendela, dia seolah bisa merasakan suaminya baru saja terbangun dari mimpi yang sama.
"Kau merasakannya juga, kan, Lucas?" gumam Jasmine, bibirnya membentuk garis keras.
Jasmine masih berdiri terpaku di depan jendela, jemarinya mencengkeram bingkai kayu hingga kuku-kukunya memutih.
Angin malam yang menyelinap dari celah jendela terasa membeku, namun di dalam dadanya, ada api yang berkobar hebat.
"Jasmine?" Panggilan Nyonya Kimberly lembut, memecah kesunyian.
Jasmine menoleh perlahan, sisa air mata di pipinya sudah mengering, meninggalkan tatapan yang begitu dingin.
"Ibu, aku baru saja merasakannya, melalui lencana ini, aku melihatnya, bukan hanya bayangan, tapi aku merasa seolah-olah aku berdiri tepat di depannya," ucap Jasmine, dengan perasaan sesak di dada nya.
Nyonya Kimberly mendekat, wajahnya menunjukkan keterkejutan.
"Itu disebut jiwa yang keluar Jasmine, biasanya hanya terjadi pada pasangan dengan ikatan darah serigala yang sangat murni. Tapi kau manusia biasa," jawab Nyonya Kimberly, menatap Jasmine dengan tumit.
"Mungkin aku memang manusia biasa di dunia ini, Ibu," jawab Jasmine dengan suara rendah yang penuh rahasia.
"Tapi jiwaku sudah melewati banyak hal yang lebih mengerikan daripada sihir hitam mana pun, dan jika Lucas butuh seorang predator untuk menjemputnya, maka aku akan menjadi predator itu," lanjut Jasmine, mata nya kembali berkilat tajam.
Jasmine kemudian beralih menatap Ethan yang masih berlutut.
"Ethan, berdiri," perintah Jasmine, dingin.
Ethan bangkit, matanya masih merah namun penuh kepatuhan.
"Saya menunggu perintah Anda, Yang Mulia," ucap Ethan, sopan.
"Malam ini juga, aku ingin kau mengeluarkan semua peta wilayah Utara dari arsip rahasia Duke, aku tidak peduli jika peta itu sudah usang atau dilarang oleh kerajaan, karena aku ingin tahu setiap jengkal jalan menuju benteng hitam itu," ucap Jasmine sambil berjalan menuju meja kerja kecil di sudut kamar.
"Tapi Yang Mulia, wilayah itu dilindungi oleh kabut ilusi, konon katanya, manusia biasa yang masuk ke sana tidak akan pernah kembali," jawab Ethan mencoba memperingatkan.
"Itu sebabnya aku tidak akan pergi sebagai manusia biasa, aku akan pergi sebagai predator, membawa dua Alpha kecil, dan seorang ksatria bayangan," ucap Jasmine menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat bulu kuduk Ethan berdiri.