Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Jebakan di Lobi Mewah
Lift mulai bergerak naik. Livia berdiri di depan cermin besar, merapikan rambut dan piyama satinnya. Wajahnya tenang, tapi di dalam dada, badai sedang berkumpul. Apakah ini langkah salah yang akan menghancurkan segalanya—atau justru kunci untuk membalikkan permainan dan merebut kembali kendali atas hidupnya?
Pintu lift berbunyi “ding”. Mateo akan segera berada di depannya. Dan di suatu tempat di lantai bawah, Rangga sedang mengangkat beban berat, tanpa tahu bahwa musuh lamanya baru saja memasuki wilayah kekuasaannya.
Pintu terbuka. Mateo masuk dengan seringai khasnya yang santai—tampan, blasteran Indo-Eropa dengan tato yang menyembul dari balik jaket kulitnya meskipun Jakarta sedang terik. Di tangannya ada dua gelas kopi susu gula aren, persis seperti dulu.
"Liv..." suara Mateo lembut, ia melangkah masuk seolah masih memiliki tempat di ruangan itu. "Gue kangen banget. Lo kelihatan... masih sama. Masih yang bikin gue gila."
Livia berdiri tegak di tengah ruang tamu, melipat tangan di dada. "Lo dateng buat minta maaf atau mau nambah drama, Teo?"
Mateo meletakkan kopi di meja, lalu mendekat.
Aroma parfum mahalnya yang bercampur dengan aroma kebebasan liar masih sama. "Minta maaf. Gue brengsek, gue tahu gue hancurin lo. Tapi Liv... lo tahu gue first love lo. Dan lo first love gue."
Ia mengulurkan tangan, jari-jarinya menyentuh lengan Livia dengan gerakan pelan yang dulu selalu berhasil membuat pertahanan Livia runtuh. "Rangga itu nggak ngerti lo kayak gue. Dia suci, dia disiplin, dia kaku. Dia nggak bakal kasih lo kebebasan yang lo butuhin. Kebebasan yang dulu kita punya."
Livia merasakan getaran lama itu—gairah liar yang ditawarkan Mateo, yang sangat kontras dengan kendali posesif Rangga yang menyesakkan. Namun, Livia tidak lagi lemah. Ia tersenyum tipis, hampir mengejek.
"First love? Iya, Teo. Lo yang pertama bikin gue percaya cinta. Tapi lo juga yang pertama bikin gue sadar kalau cinta yang menghancurkan itu bukan cinta. Itu cuma ego lo."
Mateo mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan. "Ego? Liv, gue mau balik. Gue tinggalin semuanya—sosialita, pesta, semuanya. Kita kabur ke Bali lagi kayak dulu. Lo nggak perlu Rangga yang cuma pake lo buat image bisnis keluarganya. Gue denger rumor soal saham pelabuhan itu—"
Livia mengangkat alis. "Rumor? Lo tahu apa soal—"
Brak!
Pintu apartemen terbuka dengan kasar. Rangga berdiri di sana, tubuhnya masih bersimbah keringat sisa latihan gym, namun tatapannya sedingin es kutub. Matanya langsung mengunci tangan Mateo yang masih menyentuh lengan Livia.
"Mateo," suara Rangga terdengar seperti geraman badai yang tertahan. "Lepasin tangan lo dari calon istri gue. Sekarang."
Mateo tidak bergeming. Ia justru tersenyum menantang, tetap memegang lengan Livia. "Calon istri? Wah, cepet banget ya. Lo yakin dia mau, Bro? Atau lo cuma takut dia balik ke first love-nya yang beneran ngerti cara 'mainnya'?"
Rangga melangkah masuk, menutup pintu dengan bunyi debuman keras yang menggema. "Lo yang hancurin dia, Mateo. Lo yang bikin dia kena skandal. Dan sekarang lo dateng lagi buat nambah luka?"
Livia berdiri tepat di tengah—di antara dua pria yang pernah dan sedang menjungkirbalikkan dunianya. Mateo dengan gairah liarnya yang menghancurkan, dan Rangga dengan kendali posesifnya yang penuh rahasia.
Ini saatnya, pikir Livia. Level up.
Livia menoleh ke arah Rangga, lalu dengan gerakan perlahan dan sengaja, ia justru menggenggam tangan Mateo yang ada di lengannya. Ia menatap Rangga dengan senyum manis yang mematikan.
"Ngga... Teo cuma mau minta maaf. Kasih dia lima menit lagi ya?" Livia menjeda, matanya berkilat menantang. "Atau... lo takut gue beneran balik ke first love gue?"
Rangga terdiam, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menegang. Mateo tersenyum menang. Ruangan itu mendadak terasa begitu panas, seolah bom waktu baru saja diaktifkan.
***
Livia sedang duduk di sofa Italia seharga mobil LCGC, bergelayut manja di lengan Mateo. Bukan cuma bergelayut, Livia menyandarkan kepalanya di bahu Mateo sambil memainkan ujung jaket kulit pria itu dengan jari-jarinya yang lentur.
"Teo, kopi susunya kok manis banget sih? Kayak janji-janji kamu dulu," bisik Livia dengan nada manja yang dibuat-buat, volumenya sengaja dikencangkan supaya mencapai telinga Rangga.
Mateo mendadak gemetaran. Dia tahu Livia itu tipe cewek "macan" yang jarang sekali clingy. Melihat Livia mendadak jadi kucing Persia begini, pikiran Mateo langsung melantur ke mana-mana. Wah, Livia kode keras nih, pikirnya sambil menelan ludah.
"Ya... kalau kurang manis, nanti aku tambahin janji yang baru, Liv," sahut Mateo sambil mencoba merangkul pinggang Livia.
KRETEK!
Suara botol plastik di tangan Rangga remuk total. Rangga berjalan mendekat dengan langkah berat yang membuat lantai marmer seolah bergetar.
"Livia. Sini. Sekarang," geram Rangga. Suaranya rendah, berbahaya, dan sarat akan api cemburu yang siap membakar seluruh gedung.
Livia justru makin mempererat pelukannya di lengan Mateo. Dalam hati, Livia bingung setengah mati. Ini orang maunya apa sih? pikir Livia.
"Duh, Ngga. Galak amat sih? Tamu itu raja lho," Livia mencibir, lalu menoleh ke Mateo dengan tatapan "lapar" yang palsu. "Teo, kayaknya ada yang gerah ya di sini? Padahal AC-nya udah 16 derajat."
Mateo yang merasa dapat dukungan penuh, langsung membusungkan dada. "Biasalah, Liv. Orang kaku kayak dia mana ngerti cara treatment cewek. Lo mending ikut gue aja, kita cari tempat yang lebih... privat."
"BERANI LO NYENTUH DIA, GUE PASTIIN KARIER BOLA LO SELESAI DI DIVISI TARKAM!" teriak Rangga, akhirnya meledak.
Rangga menarik kerah jaket Mateo, mengangkat pria itu sampai jinjit. "Ayo bawah! Kita selesaiin ini kayak laki-laki. Jangan berani-beraninya lo tebar pesona murahan di apartemen gue!"
"Ayo! Siapa takut?! Gue bosen liat muka suci lo itu!" tantang Mateo.
Saat keduanya sudah siap saling hantam, bahkan Livia sudah menyiapkan ponsel buat merekam drama ini, pintu apartemen mendadak terbuka dengan dentuman yang lebih keras dari gertakan Rangga.
BRAKK!
Dua orang pria bertubuh raksasa dengan setelan jas hitam (alias bodyguard) merangsek masuk, berdiri tegap di sisi pintu. Di tengah-tengah mereka, muncul seorang wanita paruh baya yang auranya bisa membuat suhu ruangan turun ke titik beku.
Wanita paruh baya itu melepas kacamata hitamnya dengan anggun, namun matanya menatap tajam ke arah Rangg. "Rangga Adiwinata," suara Mama terdengar halus tapi dinging. "Apa ini tata krama yang Ibu ajarkan? Bergulat dengan... makhluk tak dikenal di sore hari?"
Rangga langsung melepas Mateo. "Ibu? Kok Ibu ke sini?"
Mama Ratna tidak menjawa, hanya melirik dua bodyguard-nya, dan menunjuk Mateo dengan dagunya. "Buang sampah ini keluar. Jangan sampai ada helai rambutnya tertinggal di sini. Mengotori estetika."
"Woi! Apa-apaan nih?!" Mateo protes, tapi dalam sekejap dia sudah diangkat ketiaknya oleh dua raksasa itu dan diseret keluar seolah dia cuma karung beras rusak.
Setelah pintu tertutup, Mama Ratna berjalan anggun menuju sofa.
"Dan kamu, Rangga," Mama Ratna beralih ke anaknya. "Ibu tidak menyangka. Kamu membawa anak gadis orang, menyekapnya di sini, dan sekarang kamu membiarkan pria lain menyentuhnya? Kamu sudah menodai nama baik keluarga kita dengan membiarkan Livia dalam situasi... se-vulgar ini."