NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar digerbang Hijau 19

Pagi itu, mentari baru saja merangkak naik, menumpahkan cahaya keemasan yang sejuk di perkampungan. Udara masih dingin, membawa aroma tanah basah dan daun kering yang disapu angin malam. Valaria, dengan sapu lidi di tangan, tengah membersihkan halaman rumahnya. Gerakan tangannya teratur, menciptakan irama gesekan yang menenangkan di atas paving block yang berlumut. Semuanya tampak normal, damai, khas pagi hari di desa.

Namun, kedamaian itu terusik ketika dua sosok asing berperawakan tegap, dengan wajah keras yang tak ramah berhenti tepat di depan pintu rumah Paman Baskoro.

"Mereka siapa, ya?" gumam Valaria dalam hati, berhenti menyapu sejenak. Ia menyandarkan sapunya ke pohon mangga di sudut, matanya mengikuti kedua tamu itu masuk. Awalnya ia mengira mereka adalah tamu biasa; mungkin rekan kerja atau sanak saudara yang baru datang. Namun, suasana berubah dengan cepat.

Dari dalam rumah, suara-suara meninggi mulai terdengar. Suara Paman Baskoro yang biasanya berat dan menenangkan kini terdengar seperti sedang menahan amarah, diselingi nada dingin dan kasar dari salah satu tamu. Tak lama kemudian, teriakan melengking Ibu Tirta menyusul.

"Tidak! Tolong jangan!"

Valaria tersentak. Itu bukan lagi perdebatan biasa; itu adalah keributan.

Di dalam, sebuah suara menggelegar, "Kau pikir kami ini badut? Jangan main-main dengan properti bos kami! Bayar atau hancurkan!"

Brakkk!

Suara pecahan kaca dan dentuman keras benda yang dilempar membuat ketenangan pagi benar-benar hancur berkeping-keping. Jantung Valaria berdebar kencang. Ia panik, tetapi kakinya terasa terpaku.

Suara keributan itu membangunkan seluruh rumah. Arjun dan Ratri, yang berada di ruang tengah, segera bergegas keluar. Wajah Arjun tampak tegang, sementara Ratri sudah memasang ekspresi cemas.

Di luar, lorong desa yang semula sepi kini ramai. Pintu-pintu terbuka satu per satu. Warga mulai berkerumun di halaman rumah Baskoro, mata mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan kekhawatiran yang samar.

Arjun segera menghampiri Valaria yang masih berdiri kaku di pinggir halaman.

"Valaria! Ada apa ini?! Kenapa ramai sekali?" tanya Arjun dengan nada cepat dan cemas, menunjuk ke arah pintu rumah Baskoro.

Valaria menelan ludah, wajahnya pucat. "Aku... aku tidak tahu pasti, yah. Ada dua orang datang ke sini pagi-pagi, datang ke rumah paman Baskoro. Lalu tiba-tiba, setelah mereka masuk ke dalam rumah, keributan itu terjadi. Mereka... mereka berdua yang membuat keributan!"

Ekspresi Arjun mengeras. Ia melirik Ratri, yang juga menatapnya dengan mata khawatir dengan Baskoro dan Tirta.

"Kita harus ke sana, Ratri. Ini sudah tidak benar," kata Arjun, tekadnya bulat.

Saat Arjun baru melangkah, Ratri menahan lengannya dan menoleh ke Valaria. "Valaria, jangan ikut. Jaga Adikmu, Raka, dia pasti akan segera bangun. Kami yang akan ke rumah paman Baskoro dulu untuk melihat situasi. Kau awasi dari sini saja, jangan ke sana."

Valaria mengangguk cepat, rasa cemasnya kini bercampur dengan tanggung jawab.

Tepat saat Arjun dan Ratri mendekati ambang pintu, Raka, adik Valaria yang masih tampak mengantuk dan rambutnya berantakan, keluar dari rumah.

"Kakak! Ada apa ribut-ribut? Di mana Ayah dan Ibu?" tanya Raka, suaranya kecil dan bingung.

Valaria segera memeluk adiknya. "Ayah dan Ibu sedang di rumah Paman Baskoro. Ada sedikit masalah. Jangan khawatir, ya. Kita tunggu di sini."

Namun, mata Raka yang polos terlepas dari pelukan Valaria. Pandangannya terpaku ke depan, ke halaman rumah Baskoro. Dari balik pintu yang terbuka, terlihat kekacauan. Meja kayu yang biasa dipakai untuk menjamu tamu kini terbalik, kakinya patah. Kursi-kursi terlempar, bahkan beberapa peralatan memasak dari dapur tampak dilempar hingga berceceran.

Di dalam, suasana mencekam. Dua pria asing itu berdiri dengan angkuh di tengah puing-puing.

"Kau dengar, Jaya?! Ini baru permulaan! Kau hanya punya dua minggu! Dua minggu untuk mengumpulkan uangnya!" bentak salah satu pria, suaranya tajam seperti pecahan beling.

Di lantai, di tengah sisa-sisa kehancuran, berlututlah Jaya. Wajahnya merah padam, bukan karena marah, melainkan karena menahan malu dan rasa bersalah yang luar biasa. Air matanya sudah membasahi pipi, tetapi ia tetap memaksakan diri untuk bersujud di hadapan kedua pria kejam itu.

"Aku mohon... kumohon hentikan! Aku janji! Aku akan bertanggung jawab. Aku akan ganti rugi semua barang ini! Beri aku waktu!" Jaya memohon dengan suara parau, bibirnya bergetar.

Di belakangnya, Ayahnya, Baskoro dan Ibunya, Tirta hanya bisa menatap nanar. Baskoro ingin maju, tetapi Tirta menahannya, tahu perlawanan fisik akan memperburuk keadaan.

Warga yang melihat adegan memilukan ini dari luar, tidak tahan lagi. Rasa keperdulian sosial mereka mendidih. Beberapa pria dari desa maju, berusaha menenangkan suasana.

"Hei! Apa-apaan kalian ini?! Jangan seenaknya menghancurkan rumah orang!" seru seorang tetangga dengan keberanian yang dipaksakan.

Pria yang lebih tinggi meludah ke tanah. "Jangan ikut campur! Ini urusan bisnis, bukan urusan kalian! Kami hanya menagih ganti rugi atas properti dagang yang dirusak oleh si pecundang ini!"

Jaya mengangkat wajahnya yang penuh air mata. "Tolong, sudah cukup. Biar aku yang selesaikan!" Ia berbalik ke arah kedua pria itu, suaranya sedikit lebih tegas meskipun bergetar hebat. "Berapa... berapa totalnya yang harus aku bayar?"

Pria satunya menyeringai sinis. "Bagus. Ingat baik-baik, kami beri kau waktu dua minggu. Jika uang satu juta itu masih belum ada di tangan kami, kami akan membawa kamu ke penjara karena merusak properti dagang. Pikirkan nasib keluargamu!"

Setelah menjatuhkan ancaman yang menohok itu, kedua pria itu berbalik dan pergi, meninggalkan jejak kehancuran dan aroma ketakutan yang pekat.

Begitu dua pria itu menghilang dari pandangan, suasana pecah. Baskoro dan Tirta segera menghambur ke arah Jaya, memeluknya erat. Tirta menangis tersedu-sedu, sementara Baskoro menepuk punggung putranya dengan sedih.

Eko, anak mereka, yang sejak tadi bersembunyi di balik Arjun, kini ikut menangis melihat ayahnya, ibunya dan kakaknya dalam keadaan terpuruk. Tangisan anak-anak itu seperti jarum yang menusuk hati semua yang hadir.

Tak lama kemudian, Kepala Desa datang, memecah kerumunan. Dengan langkah tenang namun penuh wibawa, ia segera membawa keluarga Baskoro masuk ke dalam rumah.

"Sudah. Sudah. Kita bicarakan di dalam. Jangan di sini," ucap Kepala Desa dengan suara menenangkan.

Di luar, para penduduk yang berjiwa gotong royong segera bergerak. Mereka mulai membersihkan puing-puing, menegakkan kembali meja yang patah, dan mengumpulkan peralatan memasak yang terlempar.

Di ruang tamu rumah Baskoro yang kini terasa dingin dan sepi, Arjun dan Ratri menunggu dengan gelisah. Setelah Tirta berhasil menenangkan Jaya dan memaksanya duduk, Arjun memberanikan diri.

"Paman, Bibi. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka menghancurkan barang-barang seperti itu? Dan... apa itu tentang properti dagang?" tanya Arjun, matanya menatap Jaya yang tampak benar-benar hancur.

Tirta yang menjawab, suaranya serak karena menangis.

"Jaya... Jaya difitnah, yah. Rekan berjanya... dia menjebak Jaya." Tirta menarik napas dalam, matanya menatap Jaya dengan kepedihan yang mendalam.

"Rekannya itu... dia mengambinghitamkan Jaya atas kerusakan barang dagangan baru yang datang ke toko mereka. Barang itu bernama coklat impor dari luar negeri. Barang yang sangat mahal..."

Ratri memegang lengan Tirta, mencoba memberinya kekuatan. "Lalu, kenapa harus sampai menghancurkan barang-barang di sini?"

Baskoro mengusap wajahnya yang lelah. "Mereka datang karena pemilik toko menuntut ganti rugi. Mereka percaya Jaya yang merusak. Barang itu, coklat itu... harganya..." Baskoro tak sanggup melanjutkan.

Jaya, yang sejak tadi menunduk, mengangkat kepala. Matanya menyiratkan keputusasaan yang tak terperi.

"Coklat itu... harganya tujuh ribu per bungkus," ucap Jaya, suaranya nyaris seperti bisikan.

Ruangan itu hening seketika. Arjun, Ratri, bahkan Kepala Desa dan para tetangga yang ikut masuk, semuanya terkejut, mata mereka membulat sempurna.

"Apa? Tujuh... tujuh ribu... per bungkus?" ulang Ratri, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

Jaya mengangguk pahit. "Ya. Satu bungkus cokelat impor yang sangat langka. Yang rusak... ada satu kerdus yang dimakan binatang karena tidak disimpan dengan benar saat kami berjaga malam. Ditambah, ada dua kerdus lagi yang hilang, juga saat aku berjaga bersama rekanku. Rekanku itu... dia menuduh aku lalai, padahal dialah yang meninggalkanku sendirian."

Tirta menutup wajahnya. "Kerusakannya... totalnya sangat besar, Nak. Mereka menuntut ganti rugi setidaknya satu juta sebagai jaminan awal agar Jaya tidak dibawa ke polisi. Tapi uang itu... kami tidak punya sebanyak itu."

Semua orang di ruangan itu terdiam. Mereka bisa membayangkan betapa beratnya beban yang ditanggung Jaya. Tujuh ribu per bungkus? Untuk sebuah cokelat? Total kerugian yang melibatkan tiga kerdus pastilah mencapai angka yang tak terbayangkan oleh masyarakat desa biasa. Angka satu juta yang diminta sebagai jaminan saja sudah terasa sangat memberatkan.

Arjun mengepalkan tangannya. Ekspresi wajahnya berubah dari cemas menjadi marah, tetapi ia menahan diri. Marah pada ketidakadilan, pada rekan kerja Jaya yang pengecut, dan pada kedua preman yang seenaknya menghancurkan barang.

Ratri, yang tadinya terkejut, kini menatap Jaya dengan penuh kasih sayang. "Jaya, tolong tenang dulu. Kita tidak akan membiarkanmu sendirian. Kita akan cari jalan keluarnya. Kita akan bicarakan ini baik-baik dengan Kepala Desa."

Kepala Desa menghela napas panjang. Ia menatap Arjun dan Ratri, lalu menoleh ke warga yang mengangguk setuju.

"Jaya, kamu tenang. Warga desa ini akan berdiri di belakangmu. Kita akan cari tahu tentang rekan kerjamu itu. Kita akan coba hubungi pemilik toko. Kita harus membuktikan bahwa kamu dijebak. Kita tidak akan menyerahkanmu pada mereka."

Mendengar dukungan tulus itu, bahu Jaya yang tadinya tegang kini sedikit mengendur. Ia hanya bisa menunduk, menangis terharu atas kebaikan yang tak terduga di tengah puing-puing kehancuran hidupnya. Pagi yang damai telah berubah menjadi mimpi buruk, dan kini, hanya solidaritas warga desa yang menjadi satu-satunya harapan.

1
panjul man09
pak Arjun dan bu Ratri 👍👍
panjul man09
banyak hal2 yg kurang dipahami masalah tanah , berikan yg lebih menarik lagi
panjul man09
sayang tahunnya agak jauh seandainya di tahun yg belum pake drone untuk transportasi atau mundur 4 tahun dari 2030 kayaknya lebih cocok
panjul man09
sebaiknya untuk orang tua valaria gunakan kata ayah dan ibu supaya posisinya jelas
Herwanti: terima kasih sarannya. kalau yang baru saja di revisi itu bagaimna.baru tiga bab sih
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
anggita
ikut dukung ng👍like aja, 2👆👆iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!