"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Panggung Kehormatan
Kampus Institut Kesenian Jakarta pagi itu mendadak heboh. Spanduk-spanduk besar terpasang di sepanjang koridor utama: "Kuliah Umum Kewirausahaan Kreatif: Menjembatani Seni dan Bisnis oleh William Bagaskara."
Adinda baru saja keluar dari kelas Sejarah Seni ketika Arthur berlari menghampirinya dengan napas ngos-ngosan.
"Din! Lo harus ikut! Aula utama penuh sesak. Pak William Bagaskara dateng! Kapan lagi kita bisa liat miliarder ganteng dari deket?"
Adinda menghela napas. Dia sudah berusaha menghindar. Dia tahu William menjadi donatur utama untuk pembangunan gedung baru fakultasnya, tapi dia tidak menyangka pria itu akan datang langsung untuk memberikan kuliah umum.
"Gue males, Thur. Rame," tolak Adinda, memeluk buku sketsanya.
"Ayolah! Dosen Budi mewajibkan kita hadir buat absen. Lo mau nilai E?"
Ancaman nilai E adalah satu-satunya hal yang bisa memaksa Adinda bergerak. Dengan langkah berat, ia mengikuti Arthur menuju auditorium kampus yang sudah disesaki ribuan mahasiswa.
Karena datang terlambat, mereka tidak dapat kursi. Mereka harus berdiri di sayap kiri panggung, dekat dengan tumpukan peralatan tata suara (sound system) dan tirai panggung yang tebal.
"Tuh orangnya! Gila, kharismanya tumpah-tumpah," bisik Arthur kagum.
Di atas panggung, di balik podium kayu, William berdiri tegak. Ia mengenakan kemeja biru muda tanpa jas, lengan digulung rapi, mencoba tampil lebih santai di depan mahasiswa. Ia berbicara tentang pentingnya integritas dalam bisnis.
Adinda menatapnya dari kejauhan. Wajah William tampak sedikit lebih segar daripada saat di bandara. Mungkin karena dia sedang melakukan hal yang ia sukai: menginspirasi orang lain.
Namun, saat William sedang menjawab pertanyaan seorang mahasiswa, mata Adinda yang liar mulai memindai keadaan sekitar panggung. Kebiasaan lama.
Matanya terhenti pada rigging (rangka besi) lampu sorot tua yang menggantung tepat di atas kepala William.
Salah satu kabel baja penahannya terlihat berkarat dan terurai. Dan yang lebih parah, getaran dari sound system besar di panggung membuat baut penyangganya perlahan-lahan longgar.
Krieeet...
Suara gesekan logam itu sangat pelan, tertutup oleh suara tepuk tangan penonton. Tapi telinga terlatih Adinda menangkapnya.
Adinda menegang. Ia menghitung lintasan jatuhnya. Jika lampu sorot seberat 20 kilogram itu jatuh, itu akan menghantam kepala William dengan telak.
Rudi, asisten William, berdiri di sisi kanan panggung, sibuk dengan ponselnya. Pengawal baru William berdiri di pintu masuk, terlalu jauh untuk bereaksi.
"Sial," umpat Adinda pelan.
"Kenapa, Din?" tanya Arthur.
Adinda tidak menjawab. Ia menjatuhkan buku sketsanya ke lantai.
Krak!
Kabel baja itu putus. Rangka lampu mulai meluncur turun.
Di saat ribuan mahasiswa masih terpukau menatap William, Adinda sudah melompat.
Ia tidak berlari lewat tangga. Ia melompati pagar pembatas setinggi satu meter, mendarat di pinggir panggung, dan berlari sprint secepat kilat ke arah podium.
William, yang sedang tersenyum ke arah audiens, tiba-tiba melihat bayangan berkelebat dari sisi kirinya.
"AWAS!" teriakan Adinda menggema, membelah udara.
Sebelum William sempat memproses apa yang terjadi, tubuh Adinda sudah menabraknya. Bukan pelukan romantis, tapi takel bahu (tackle) yang keras dan efektif.
Adinda mendorong tubuh William hingga mereka berdua terpelanting jatuh berguling ke sisi kanan podium.
BRAKK!!!
Detik berikutnya, lampu sorot raksasa itu menghantam lantai panggung, tepat di titik di mana William berdiri satu detik yang lalu. Pecahan kaca dan bohlam meledak, menyebarkan serpihan tajam ke segala arah. Debu beterbangan.
Hening.
Seluruh auditorium terdiam karena syok. Lalu jeritan histeris mulai terdengar.
Di lantai panggung, di tengah kepulan debu, William terbatuk-batuk. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia masih hidup.
Ia merasakan beban tubuh seseorang yang menindihnya, melindunginya dari pecahan kaca. Seseorang yang memeluk kepalanya erat-erat.
Aroma itu. Aroma cat minyak, vanila murah, dan keringat.
William membuka matanya.
Tepat di atasnya, dengan wajah berjarak hanya beberapa sentimeter, adalah Adinda. Rambut panjangnya terurai menutupi wajah mereka berdua seperti tirai, menyembunyikan momen itu dari dunia luar.
Wajah Adinda kotor oleh debu, ada goresan kecil di pipinya terkena serpihan kaca. Matanya menatap William dengan sorot khawatir yang tak bisa disembunyikan.
"Bapak... tidak apa-apa?" bisik Adinda, napasnya memburu.
William terpaku. Waktu seolah berhenti. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, ingin menyentuh pipi gadis itu.
"Adinda..." desah William, suaranya penuh rasa tidak percaya dan kerinduan yang meledak. "Kau..."
Sadar situasi sudah aman, dan sadar bahwa ribuan mata mulai memandang mereka, Adinda segera menarik diri.
Ia bangkit berdiri dengan cepat, membantu William duduk.
"Pak William! Ya Tuhan!" Rudi dan panitia acara berlarian naik ke panggung dengan wajah pucat.
Adinda mundur perlahan. Ia tidak boleh terekspos. Ia tidak boleh menjadi berita utama besok pagi sebagai "Mahasiswi Penyelamat Miliarder".
"Din! Adinda! Lo gila?!" Arthur berteriak dari bawah panggung, wajahnya panik.
Adinda menatap William sekilas. Pria itu masih duduk di lantai, menatapnya dengan pandangan yang memohon agar ia tidak pergi.
"Maaf, Pak. Refleks," ucap Adinda keras, cukup untuk didengar orang-orang di sekitar sebagai alasan. "Saya lihat lampunya mau jatuh."
Lalu, tanpa menunggu ucapan terima kasih, Adinda melompat turun dari panggung, menyambar tas dan buku sketsanya yang terjatuh, dan berlari keluar auditorium membelah kerumunan mahasiswa yang masih panik.
"Tunggu! Nona!" panggil kepala keamanan kampus.
Tapi Adinda sudah hilang. Ia menghilang secepat ia datang, meninggalkan kekacauan, pecahan kaca, dan seorang CEO yang hatinya baru saja diselamatkan—untuk kedua kalinya—oleh wanita yang sama.
William berdiri dibantu oleh Rudi. Ia tidak peduli pada jasnya yang kotor atau tangannya yang lecet. Matanya terus menatap pintu keluar auditorium yang kosong.
"Bapak harus ke rumah sakit," kata Rudi panik.
William menepis tangan Rudi. Ia menunduk, melihat ke lantai panggung. Di sana, di antara pecahan kaca, ada sesuatu yang terjatuh dari saku Adinda saat gadis itu melompat tadi.
Sebuah pensil sketsa. Pensil 2B biasa yang ujungnya sudah tumpul.
William memungut pensil itu, menggenggamnya erat di tangannya.
"Saya tidak apa-apa," ucap William dingin, namun ada api baru yang menyala di matanya. "Batalkan semua agenda hari ini. Saya ingin sendiri."
Hari itu, William Bagaskara sadar sepenuhnya. Sejauh apa pun ia berlari, atau sekeras apa pun ia mencoba melepaskan, takdir punya cara yang lucu—dan berbahaya—untuk menarik Adinda kembali ke dalam orbitnya.
Dan kali ini, William bersumpah, dia tidak akan membiarkan kesempatan ini lolos begitu saja.
terimakasih