NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Pagi itu, Yun Ma bangun dengan perasaan ringan, tidak ada mimpi dan tidak ada bisikan Shen Yu.

Tidak ada rasa tertekan yang biasanya muncul sebelum sesuatu buruk terjadi.

Hanya… keinginan.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang terbuka setengah. Angin pagi membawa aroma tanah basah dan dedaunan muda bau yang hanya datang dari arah hutan di luar Kota Qinghe.

Hui membuka mata perlahan, Ia menatap Yun Ma lama, lalu mengangkat kepalanya sedikit.

“Krrk?”

Yun Ma tersenyum tipis. “Aku ingin ke hutan.”

Tidak ada penjelasan panjang.

Tidak ada alasan besar.

Hanya itu.

Hui memiringkan telinga, menatapnya dengan curiga. Ekornya bergerak pelan satu cabang lebih cepat dari yang lain.

“Krr?”

“Bukan karena Shen Yu,” lanjut Yun Ma sambil berdiri dan mengambil mantel tipisnya. “Dan bukan karena ada yang memintaku.” Ia menoleh. “Aku hanya… ingin.”

Hui mendengus.

Itu bukan suara setuju, itu suara tidak senang namun ia tetap melompat turun dari tempat tidur dan mengikuti Yun Ma, berjalan di belakangnya dengan langkah ringan tapi jelas memperhatikan setiap gerakan.

Shen Yu tidak berbicara namun Yun Ma bisa merasakan kehadirannya tenang, waspada, namun tidak mengarahkan dan itu… terasa berbeda.

Hutan Qinghe pagi itu terasa sunyi, bukan sunyi kosong, melainkan sunyi yang bernapas. Daun-daun tinggi membentuk kanopi hijau gelap, menyaring cahaya matahari menjadi berkas-berkas tipis yang jatuh seperti debu emas. Udara dingin dan lembap, penuh aroma jamur liar, lumut, dan getah pohon tua.

Yun Ma berjalan perlahan, membawa keranjang kecil di punggungnya, ia tidak terburu-buru tangannya menyentuh kulit pohon, menyapa tanah, menyingkirkan daun dengan lembut sebelum melangkah.

Hui berjalan di depan atau setidaknya mengaku berjalan di depan, sesekali ia berhenti, menoleh, memastikan Yun Ma masih mengikutinya.

“Krr.”

“Aku di sini,” kata Yun Ma,

Ekornya bergerak puas namun beberapa saat kemudian, Hui berhenti mendadak, seluruh tubuhnya menegang, bulu di tengkuknya sedikit berdiri.

Yun Ma juga berhenti.“Ada apa?”

Hui tidak menjawab, ia mengendus udara, pelan tapi dalam. Matanya menyipit, pupilnya mengecil, memantulkan cahaya samar. Bukan bahaya dan bukan pula ancaman namun… sesuatu yang asing.

Shen Yu akhirnya bersuara. “Langkahmu sejak tadi tidak dipandu,” katanya tenang. “Namun kau tidak salah arah.”

Yun Ma menatap ke depan. “Aku tahu.” Ia tidak tahu bagaimana ia tahu, tapi kakinya melangkah tanpa ragu dan kemudian, mereka menemukannya.

Di sebuah cekungan kecil, di antara akar pohon besar yang menjulur seperti tulang rusuk bumi, sesuatu bergerak.

Hitam.

Bukan hitam pekat, melainkan hitam seperti malam yang menelan cahaya kulit bulu yang seolah menyerap sinar di sekitarnya.

Seekor anak serigala.

Tubuhnya masih kecil, lebih besar dari anjing kampung muda, namun posturnya… salah, terlalu tenang dan terlalu berat untuk ukurannya.

Ia berdiri di tengah cekungan, satu kaki depan sedikit terluka, namun kepalanya tegak, mata peraknya menyala dingin.

Saat Yun Ma mendekat, tanah di sekitarnya bergetar halus.

Bukan karena gerakannya, belainkan karena kehadirannya.

Hui mendesis. “Krrrsss.” Itu jelas ia tidak suka ini.

Serigala kecil itu menatap Yun Ma tidak menggeram, tidak mundur, tatapannya tajam bukan agresif, melainkan menilai seperti Hui saat pertama kali bertemu Shen Yu.

Seperti makhluk yang tidak meminta diselamatkan.

Shen Yu berbicara, nadanya rendah.“Serigala Malam.”

Yun Ma berkedip. “Masih kecil?”

“Ya,” jawab Shen Yu. “Dan itu yang berbahaya.”

Serigala kecil itu melangkah satu langkah ke depan.

Tanah retak tipis di bawah cakarnya.

Hui langsung berdiri di depan Yun Ma, ekornya mengembang, kedua cabangnya bergerak tidak sinkron.

“Krrk!”

Itu jelas-jelas suara peringatan.

Yun Ma menyentuh punggung Hui. “Tenang.”

Hui menoleh, menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.“Krr?!”

“Tidak apa-apa,” kata Yun Ma pelan. “Aku hanya ingin bicara.”

Ia melangkah maju, perlahan, membuka telapak tangannya.

Serigala malam itu menegang, bayangan di sekitarnya menggelap sedikit namun Yun Ma tidak berhenti. “Aku tidak akan mengikatmu,” katanya, suaranya datar, jujur. “Aku juga tidak akan memintamu patuh.”

Serigala itu berkedip bayangan bergetar, Shen Yu terdiam, Hui menoleh ke serigala itu, lalu kembali ke Yun Ma, lalu ke serigala lagi.

Ekornya berkibas keras. “Krrk…!”Nada protes.

Yun Ma tersenyum kecil. “Aku tahu.” Ia berlutut, sejajar dengan mata serigala itu.

“Kau boleh pergi,” lanjutnya. “Atau kau boleh tinggal sebentar. Aku tidak memaksa.”

Hening.

Angin berhenti.

Serigala kecil itu melangkah maju.

Satu langkah.

Dua.

Lalu ia duduk.

Tanah bergetar pelan.

Hui membeku.

“Krr…?”

Serigala itu menunduk sedikit bukan tunduk penuh, melainkan pengakuan sementara.

Shen Yu berbicara pelan, hampir tak terdengar. “Kontrak terbentuk.”

Yun Ma menghela napas panjang.

“Aku tidak berniat—”

“Aku tahu,” potong Shen Yu. “Dan itu sebabnya ia memilihmu.”

Hui menoleh tajam ke Yun Ma.

Lalu ke serigala.

Lalu ia berbalik, duduk, dan membelakangi mereka.

Ekor bercabangnya menjuntai kaku.

Diam.

Sangat diam.

Itu… lebih mengkhawatirkan daripada marah.

Yun Ma menatapnya. “Hui?”

Tidak ada jawaban.

Serigala kecil itu menoleh ke Hui, menatapnya dengan mata perak yang dingin.

Hui mendengus pelan.

“Krr.” Itu satu-satunya suara.

Perjalanan pulang terasa berbeda.

Serigala malam yang belum diberi nama berjalan di sisi lain Yun Ma, menjaga jarak, namun setiap langkahnya membuat bayangan di sekitarnya lebih panjang.

Hui berjalan di depan, lebih cepat dari biasanya tapi tidak menoleh. Ekornya bergoyang tidak sabar.

Yun Ma menghela napas kecil. “Ia cemburu.”

Shen Yu menjawab datar. “Jelas.”

“Aku tidak ingin menyakitinya.” ujar Yun Ma

“Makhluk seperti Hui,” ujar Shen Yu, “tidak takut dibagi. Ia hanya… tidak suka dilupakan.”

Yun Ma menatap punggung kecil rubah itu. “Aku tidak akan melupakannya.”

Namun sebelum ia bisa mengatakan lebih banyak Ia berhenti mendadak. Udara di depan mereka… terbelah.

Bukan secara fisik, melainkan seperti kaca tak terlihat yang bergetar, sebuah lingkaran sihir besar berdiri di antara dua pohon tua.

Rune-rune merah gelap berputar perlahan, saling mengunci, membentuk sangkar tak kasatmata dan di tengahnya seorang pria dengan tubuhnya yang diikat rantai hitam pekat yang menembus tanah dan udara sekaligus. Rantai itu berkilau redup, dipenuhi simbol pengikat kuno.

Kepalanya tertunduk, rambutnya panjang, gelap, kusut. Darah mengering di sudut bibirnya namun saat Yun Ma mendekat satu langkah Pria itu membuka mata dan dunia… seolah menahan napas.

Mata itu tidak memohon tidak marah, tidak putus asa, hanya… lelah.

Namun di balik kelelahan itu, ada sesuatu yang sangat berbahaya. Hui berputar cepat, berdiri di depan Yun Ma, bulunya berdiri.

Serigala malam itu menggeram rendah getarannya membuat rune berdenyut.

Shen Yu berbicara, nadanya tajam untuk pertama kalinya.“Itu penjara takdir.”

Yun Ma menelan ludah. “Siapa dia?”

“Seorang yang seharusnya sudah mati,” jawab Shen Yu. “Dan yang dunia tidak ingin bebas.”

Pria itu mengangkat kepalanya sedikit.

Menatap Yun Ma.

Tatapannya… fokus.

Seolah ia bisa melihatnya, bukan sebagai penyembuh, bukan sebagai wanita biasa melainkan sebagai gangguan.

Ia tersenyum sangat tipis. “Ah,” suaranya serak, tertahan oleh sihir. “Akhirnya… seseorang yang tidak seharusnya ada di sini.”

Yun Ma merasakan dingin menjalar di tulang belakangnya.

Namun ia tidak mundur.

Tidak karena berani.

Melainkan karena… ia ingin tahu.

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!