NovelToon NovelToon
NAFSU SUAMI IMPOTEN

NAFSU SUAMI IMPOTEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Wanita Karir / CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratu Darah

Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.

Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Bab 35 Ini Bekas Ciuman

Rumah keluarga Leach terbentang begitu luas hingga hampir menyerupai kompleks wisata pribadi. Dari gerbang depan sampai halaman belakang, setiap sudut tampak dirancang dengan kemewahan yang sulit diukur dengan kata-kata, rumput golf hijau terbentang rapi di sisi timur, dengan para pekerja yang sibuk merapikan area taman.

Namun satu hal yang benar-benar membuat Selene ternganga bukanlah lapangan golf itu, melainkan sesuatu yang berdiri megah di tengah area utama: sebuah Sea World mini lengkap dengan akuarium raksasa dan terowongan kaca bening.

“Ya Tuhan…” gumam Selene, matanya membulat lebar. “Bagaimana mungkin ini disebut rumah? Ini... tempat wisata!”

Ia segera mengeluarkan ponselnya. Klik! Klik! Tap-tap! Suara kamera ponsel terdengar berulang kali saat Selene tak bisa menahan diri untuk mengabadikan setiap sudut kemewahan itu.

Bahkan, keluarganya sendiri yang selama ini ia anggap kaya raya, dan keluarga Hodges yang tak kalah terpandang, tampak kecil bila dibandingkan dengan keluarga Leach.

Sambil terkekeh tak percaya, ia segera mengunggah foto-foto itu ke akun media sosialnya, lengkap dengan lokasi dan caption singkat yang memamerkan tempat itu.

Saat sedang sibuk dengan ponselnya, Selene melirik ke arah depan. Ia melihat Anita Lewis sedang memperkenalkan seekor hiu kecil kepada Nenek Irina Bhewen, sementara tawa mereka berbaur dengan suara gemericik air dari akuarium.

Tak jauh di belakang mereka, Joshua tampak memperhatikan Anita dengan sorot mata yang sulit disembunyikan, ada pesona, kekaguman, dan sedikit keengganan dalam tatapannya.

Melihat itu, Selene berdeham pelan lalu menghampiri Neneknya. “Ehem... Nenek, ke sini deh! Ikan badutnya lucu banget! Aku mau fotoin Nenek bareng ikan-ikan itu!” katanya sambil menarik tangan sang Nenek dengan semangat.

“Pelan-pelan, Sayang,” ujar Nenek Irina dengan napas sedikit tersengal tapi wajahnya tersenyum lembut. “Kamu sudah bertunangan, tapi masih seperti anak kecil saja.”

Selene menatapnya penuh sayang. “Tapi Nenek kan cantik banget. Aku mau simpan foto Nenek banyak-banyak. Nanti biar anak-anakku tahu dari siapa mereka mewarisi kecantikan luar biasa ini.”

Nenek pun tertawa kecil. Hehe... Nada suaranya lembut, penuh kasih. “Dasar manis kamu,” katanya, sambil berdiri tegak membiarkan Selene memotret dari berbagai angle.

Di sisi lain, Joshua menatap Anita Lewis yang tampak sendirian. Ia melangkah mendekat dan berkata dengan suara pelan, “Anita, mau aku fotoin? Tempat ini indah banget kalau kamu yang jadi fokusnya.”

Namun Anita hanya menatapnya sekilas. Wajahnya datar, suaranya tenang tapi tegas. “Ini rumahku, Joshua. Aku bisa melihatnya kapan pun aku mau. Aku tidak perlu memotretnya.”

Deg. Joshua terdiam. Ia lupa , bagi Anita, kemewahan ini bukan pemandangan baru. Ini rumahnya.

Cahaya biru dari akuarium memantul di wajah Anita Lewis, membuat kulitnya berkilau lembut seperti mutiara. Sorot matanya dingin, namun pesonanya justru semakin memikat. Desir halus dari aliran air terdengar di antara keheningan aneh di antara mereka.

Joshua melangkah sedikit lebih dekat. Namun Anita segera mundur setengah langkah, menatapnya tajam. “Apa maumu?”

Suara dingin itu membuat Joshua terdiam. Tapi justru di detik itu, ia baru benar-benar menyadari, Anita tampak luar biasa cantik saat marah.

“Aku tahu,” katanya perlahan, suaranya bergetar halus. “Kamu marah karena dipaksa menikah dengan Dion Leach.”

Namun Anita tidak menjawab. Ia hanya menatapnya sebentar, lalu melangkah pergi.

“Anita!” Joshua cepat mengejarnya. Tap tap tap! Suara langkahnya bergema di lantai marmer. “Dengarkan aku, aku bisa bantu kamu keluar dari sini! Aku bisa kirim kamu ke luar negeri atau ke tempat yang gak akan bisa ditemukan Dion atau siapa pun!”

Anita terus berjalan tanpa menoleh. Suaranya terdengar tegas, datar, dan tak memberi ruang harapan. “Sudah kubilang, Anita yang kamu kenal dulu sudah mati. Sekarang aku istri Dion Leach. Dan aku akan jadi Nyonya Leach sampai akhir hidupku.”

Kalimat itu menampar Joshua keras-keras. Ia berhenti, menatap punggungnya yang menjauh. Tapi detik berikutnya, ia berlari lagi dan menghadang Anita di depan tangga spiral yang menuju taman kaca.

“Anita, dengarkan aku,” katanya nyaris memohon. “Kalau kalian hidup terpisah dua tahun, kalian bisa otomatis bercerai. Kau tahu itu! Aku bisa membawamu pergi, aku bisa menjaga kamu lebih baik daripada siapa pun!”

Anita mendongak. Matanya berkilat tajam di bawah cahaya biru akuarium. “Kau ingin aku berhenti menjadi Nyonya Leach, lalu menjadi apa, Joshua?”

Suasana hening sesaat. Air dari dinding kaca mengalir dengan gemericik lembut di antara mereka.

Lalu Anita menambahkan, dengan nada jijik yang tak bisa disamarkan, “Kekasihmu?”

Kalimat itu menggantung di udara terasa tajam, menusuk, dan membuat Joshua tak bisa berkata apa pun lagi.

Pikiran Joshua berkecamuk. Ada ide yang berputar-putar di kepalanya, tapi lidahnya terasa kelu untuk mengucapkannya. Desis napasnya berat. Ia hanya bisa mengerutkan kening, menatap Anita Lewis dengan tatapan campur aduk antara cemas dan keinginan.

“Kau tidak boleh bicara begitu, Anita,” katanya akhirnya, dengan nada yang terdengar seperti bujukan tapi sarat tekanan. “Aku cuma ingin yang terbaik untukmu. Dion memang tampan, tapi dia… gila, dan aku yakin dia tidak akan hidup lama.”

Nada suaranya meninggi di akhir kalimat. Tatapan Joshua kemudian jatuh ke leher Anita yang dihiasi tanda kemerahan. Wajahnya menegang. “Lihat! Luka itu, ketika Dion diserang waktu itu, dia....”

Anita memotongnya tajam. “Dia tidak menyakitiku,” katanya, datar namun jelas. “Itu... bekas ciuman.”

Hening lagi atmosfir ikut menegang.

Suara gemericik air dari Sea World di belakang mereka terdengar begitu jelas. Joshua menatapnya tidak percaya, matanya melebar. “Kalau begitu… itu berarti kau dipaksa! Itu... itu hubungan paksa, Anita! Hubungan dalam rumah tangga yang kau sendiri tidak mau!”

Anita menarik napas panjang, wajahnya dingin seperti es. Ia tak sudi berdebat dengan pria yang sok tahu dan berpura-pura benar. Ia hendak berbalik pergi, tapi tap! Joshua sudah lebih dulu menghadang langkahnya lagi.

“Anita,” ujarnya lirih tapi terburu-buru. “Aku tahu kau masih menyukaiku. Aku bisa membawamu pergi dari sini. Aku bisa buat hidupmu bahagia lagi. Aku.....”

Dia mendekat, membungkuk sedikit, suaranya menurun jadi bisikan. Napasnya terasa di pipi Anita.

Tapi mata Anita menyipit tajam. Ia mundur setengah langkah, bahunya menegang waspada seperti kucing yang siap mencakar. “Jangan dekati aku,” katanya dingin.

Joshua sempat melirik sekilas ke arah Selene dan Nenek Irina yang sedang sibuk berbicara di sisi akuarium. Begitu yakin mereka tak memperhatikan, ia menurunkan suaranya makin pelan. “Anita, aku tahu perasaanmu. Aku tahu kau sebenarnya masih menginginkanku. Tinggalkan Dion. Aku akan memperlakukanmu jauh lebih baik. Aku bisa memberi kebahagiaan yang dia tidak pernah berikan padamu.”

Desis napas Anita terdengar tajam. Matanya yang jernih kini berubah dingin seperti bilah kaca.

“Enyahlah,” katanya pendek, suaranya seperti cambuk yang memotong udara.

Joshua menelan ludah. Ia mengira Anita hanya malu. Ia tersenyum kaku dan mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh lengannya dengan lembut.

Namun sebelum jarinya sempat menyentuh kulit Anita......

Brak!

Tendangan keras menghantam selangkangannya. Joshua terhuyung ke belakang, wajahnya memucat, lalu......

“AAARGH!!!” teriaknya melengking, tubuhnya melipat, kedua tangannya langsung menutupi bagian yang terkena tendangan.

Suara jeritannya membuat Nenek Irina sontak menoleh. Tap-tap! Suara tongkatnya terdengar cepat saat ia berjalan mendekat. “Ada apa ini?”

Joshua meringis menahan sakit. Ia tak sanggup bicara, hanya bisa menunjuk ke arah Anita dengan jari gemetaran.

Sementara itu, Selene menatap dengan mata membulat dan berteriak melengking, “Anita! Apa kau marah karena Joshua sudah tidak mau mendekatimu lagi, jadi kau.....”

Desis napas Anita terdengar tajam. Ia menatap Selene dengan sorot dingin yang menusuk.

“Lihat baik-baik, Selene,” katanya, setiap kata terdengar bagai pecahan es. “Aku berharap sampah ini bisa menjauh dariku!”

Dan sebelum siapa pun sempat menahan amarahnya Anita.

Dukk!

Anita mengangkat kakinya lagi dan menendang Joshua ke arah pintu kaca. Brak! Tubuh pria itu terpental sejauh empat meter dan jatuh tersungkur di halaman.

“AAH!!!”

Jeritannya menggema, membuat beberapa burung di taman beterbangan.

Selene terpaku di tempat. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. “Anita!” serunya. “Kau tidak perlu sekejam itu hanya karena Joshua menolakmu, kan?”

Anita perlahan menunduk, menatap Selene dari bawah dengan tatapan dingin mematikan. Detak sepatu haknya ,tok, tok, tok, terdengar jelas saat ia melangkah pelan mendekat.

Selene mundur sedikit, tapi tetap mencoba bicara. “Aku… aku tahu kamu sebenarnya masih menyukai Joshua, cuma kamu.....”

Wuuush! Sebelum kalimatnya selesai, Anita menendangnya tanpa ragu.

“AAAH!”

Tubuh Selene terlempar ke udara dan jatuh di atas rumput, gedebuk! keras, lalu meluncur sejauh lima meter, langsung menabrak tubuh Joshua yang baru saja berdiri.

“Kyaaa!” Selene menjerit lagi saat tubuhnya menimpa Joshua, membuat keduanya jatuh bersamaan. Brukk!

Joshua meringis menahan sakit, Selene meringkuk di atasnya, keduanya sama-sama mengerang.

Anita berdiri tegak, menarik kakinya dengan santai, lalu berkata dingin, “Dan kau… sama saja. Sampah.”

Suasana menjadi hening.

Nenek Irina yang baru mendekat berhenti tiga langkah dari Anita. Wajah tuanya tampak kaku, matanya melebar tak percaya. “Anita…” suaranya bergetar, “Kenapa kamu memukul mereka?”

Nada suaranya bukan marah, tapi kecewa penuh rasa tak mengerti. Ia mengira cucunya sudah dewasa, sudah bisa menjaga keharmonisan keluarga. Tapi apa yang baru dilihatnya justru membuat hatinya bergetar sedih.

Anita menatap Joshua dengan jijik sebelum menjawab pelan, tapi tajam, “Joshua baru saja memintaku pergi bersamanya , dan menjadi kekasihnya. Aku sudah cukup baik hanya dengan menendangnya, Nenek.”

Kata-kata itu jatuh pelan, tapi bobotnya menghantam udara seperti batu berat.

Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara angin dan desiran air akuarium di belakang mereka.

 

Bersambung.....

1
Maycosta
Tetap sehat dan semangat sukses selalu ya
Noona Manis Manja: Terimakasih kk 😍
Salam sukses untukmu juga 🤗
total 1 replies
Binay Aja
tetap semangat nulisnya 💚
Noona Manis Manja: Terimakasih kk , tetap semangat juga untukmu ... salam kenal juga 🙏🏻
total 1 replies
Binay Aja
Hai, kak. Salam kenal cerita nya seru. jika berkenan singgah ke rumah ku yuk, Sentuhan Takdir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!