NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Fatih menyesap kopinya yang mulai mendingin, lalu menyandarkan punggung ke kursi kayu kafetaria. Setelah keheningan panjang yang emosional itu, Fatih melihat Surya benar-benar dalam kondisi yang rapuh.

Sebagai seorang dokter yang terbiasa menghadapi situasi kritis, ia tahu suasana ini perlu sedikit dicairkan agar beban di pundak Surya tidak membuatnya tumbang.

Fatih menarik napas, lalu sebuah senyum miring yang jarang terlihat muncul di wajahnya.

"Tapi, Pak Surya..." Fatih menggantung kalimatnya, membuat Surya mendongak heran. "Dilihat dari sisi lain, sepertinya saya harus berterima kasih pada kehadiran guru baru itu."

Surya mengerutkan kening, tidak mengerti. "Maksud Anda, Dokter?"

"Secara statistik," lanjut Fatih dengan nada lelucon yang tetap terdengar sangat logis, "perhatian Anda sekarang terbagi dua. Satu ke masa lalu, satu lagi ke masa depan. Dengan kata lain, saingan saya untuk mendapatkan hati Bu Raisa berkurang satu poin malam ini. Bukankah itu berita bagus untuk saya?"

Surya sempat tertegun sesaat, menatap wajah Fatih yang tampak datar namun matanya berkilat jahil. Tak lama kemudian, suara tawa rendah keluar dari tenggorokan Surya, tawa pertama yang benar-benar lepas.

"Anda ini dokter bedah atau ahli strategi, Fatih? Dalam kondisi seperti ini pun, Anda masih sempat menghitung peluang," ujar Surya sambil menggelengkan kepala.

"Saya hanya mencoba melihat segala sesuatu dari sudut pandang efisiensi," balas Fatih santai. "Kalau Anda sibuk mencari cara agar Bu Tia mengingat Anda, itu berarti Anda akan lebih jarang mengirimkan kopi atau menjemput Bu Raisa. Dan itu adalah celah yang sangat manis bagi saya."

Surya meletakkan cangkirnya, rasa sesak di dadanya sedikit terangkat oleh candaan dingin itu. "Jangan terlalu percaya diri, Dokter. Meski perhatian saya terbagi, bukan berarti saya menyerah begitu saja. Tapi saya akui, cara Anda menghibur sangat... unik."

Fatih mengangguk kecil. "Setidaknya Anda sudah bisa tertawa. Sekarang, pulanglah. Tidur yang cukup lebih baik bagi otak Anda daripada duduk meratapi amnesia orang lain di kafetaria rumah sakit yang bau karbol ini."

Saat Surya berjalan menuju parkiran, ia merasa langkahnya sedikit lebih ringan. Ternyata, berbagi kopi dengan saingan tidak seburuk yang ia bayangkan.

Sementara itu, Fatih menatap punggung Surya dari kejauhan

......................

Malam di The Library Cafe terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Di salah satu meja panjang dekat rak buku sejarah, empat sekawan Dafa, Gavin, Rian, dan Aldi berkumpul dengan tawa yang pecah bersahutan. Suasana tegang beberapa hari lalu seolah mencair, digantikan oleh energi muda yang positif.

Rian, seperti biasa, menjadi motor keceriaan. Ia sedang memperagakan gaya "smash" bola basketnya yang gagal tadi siang, namun malah berakhir menabrak ring.

"Gue bilang juga apa, Yan! Lo itu kebanyakan gaya, makanya bola bukannya masuk malah balik nyerang idung lo sendiri," ledek Aldi sambil tertawa lepas. Wajahnya kini terlihat jauh lebih segar; meski masih ada bekas memar tipis, binar matanya menunjukkan bahwa ia sudah merasa "pulang".

Dafa menyenggol bahu Aldi. "Tapi mendinglah, daripada Aldi. Kemarin gayanya mau jadi petarung jalanan, eh ujung-ujungnya malah jadi pasien VVIP di sini."

"Sialan lo, Daf!" balas Aldi sambil terkekeh, lalu menyesap cokelat hangat buatan Dara. "Tapi serius, gue berterima kasih banget. Kalau nggak ada kalian, mungkin gue masih nangkring di gudang tua itu sambil nahan sakit."

Gavin, yang biasanya paling kalem, hanya tersenyum tipis sambil memutar-mutar ponselnya. "Sudahlah, yang penting sekarang lo aman. Dan jangan lupa, esai Bu Raisa itu penyelamat nyawa yang sebenarnya. Kerjain sekarang atau besok lo bakal dikeroyok sama nilai C."

"Duh, Gavin! Lagi asyik begini malah bahas tugas," keluh Rian sambil pura-pura pingsan di meja.

Dara yang sedang membersihkan meja di sebelah mereka hanya bisa tersenyum simpul mendengar celotehan itu. Ia merasa senang karena kafenya kini bukan hanya tempat untuk membaca, tapi juga menjadi ruang aman bagi teman-temannya untuk saling mendukung.

Tiba-tiba, Dafa terdiam sejenak, memperhatikan pintu kafe yang tertutup. Pikirannya melayang dan berkata. "Dunia ini ternyata sempit banget. Orang-orang yang kita pikir asing, ternyata punya cerita yang saling nyambung. Kayak kita berempat sekarang."

Gavin mengangguk setuju. "Hukum alam, Daf. Semua yang baik pasti bakal ketemu jalannya sendiri buat berkumpul."

"Termasuk Bu Raisa sama Om gue?" tanya Gavin jahil, mencoba mengalihkan suasana ke arah perjodohan lagi.

"Woi! Jangan mulai ya!" seru Dafa sambil tertawa, melempar tisu ke arah Gavin.

Di balik bar kopi, Raisa memperhatikan mereka dengan tatapan haru. Ia melihat bagaimana persahabatan sejati bisa mengubah luka menjadi tawa. Ia tahu, meski badai rahasia tentang Pak Surya dan Bu Tia masih mengintai, setidaknya malam ini, anak-anak didiknya sedang menciptakan kenangan yang indah dan sehat bagi masa muda mereka.

"Dara," panggil Raisa lembut. "Tolong buatkan camilan tambahan buat mereka. Bilang saja ini apresiasi dari Ibu karena mereka sudah menjadi teman yang luar biasa bagi satu sama lain."

......................

Langkah Raisa terhenti seketika. Di remang cahaya lampu jalan, ia menangkap bayangan seorang gadis yang berdiri di tepi pagar jembatan. Jantung Raisa berdegup kencang saat menyadari situasi tersebut sangat berbahaya. Tanpa pikir panjang, ia berlari sekuat tenaga dan menarik gadis itu menjauh dari tepian.

"Tunggu! Jangan!" teriak Raisa sambil merangkul gadis itu erat-erat.

Gadis itu menangis terisak dalam pelukan Raisa. Saat Raisa menyeka rambut yang menutupi wajahnya, ia tersentak. "Vina? Kamu Vina, kan? Murid Ibu di kelas 12?"

Vina hanya bisa tertunduk dengan bahu yang berguncang hebat. Raisa segera menuntunnya duduk di tempat yang lebih aman dan tenang. Ia menggenggam tangan Vina yang terasa dingin, berusaha memberikan kehangatan dan rasa aman.

"Ibu di sini, Vina. Kamu tidak sendirian," ucap Raisa dengan suara lembut namun tegas.

" Vina, Ibu sangat peduli padamu. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal sedang merasa sangat berat atau berada dalam situasi sulit, ingatlah bahwa ada orang-orang yang siap mendengarkan dan membantu. Kamu tidak perlu menanggung semuanya sendirian "

raisa membiarkan vina menangis di taman dan menyandarkan kepala di pundak nya, setelab menangis vina menceritakan semuanya pada raisa

" aku takut..... Bu" lirih vina

" Hei, dengerin ibu, ibu ada di sini. Kamu bisa menceritakan semua nya sama ibu "

" rendi..... Bu, dia dan teman teman nya sudah memperlakukan aku seperti binatang bu... bahkan bukan hanya sampai disitu rendi dan teman teman nya sudah melecehkan aku bu.... Aku merasa kotor...."

Deg

" aku.. Takut bu.... "

Taman yang sunyi itu hanya menyisakan suara isak tangis Vina yang memilukan. Raisa memeluk bahu siswinya itu dengan sangat erat, seolah ingin memberikan seluruh kekuatannya agar Vina tidak hancur. Kalimat "aku merasa kotor" yang keluar dari mulut Vina bagaikan belati yang menghujam jantung Raisa.

"Vina, tatap mata Ibu," ucap Raisa dengan nada yang sangat dalam dan penuh penekanan. Ia memegang kedua pundak Vina agar gadis itu melihatnya. "Jangan pernah katakan itu lagi. Kamu tidak kotor. Kamu adalah korban dari kejahatan orang lain. Yang kotor adalah mereka yang melakukan itu, bukan kamu."

Vina hanya bisa menggeleng pelan dengan mata yang sembab. "Tapi Rendi... dia bilang tidak akan ada yang percaya padaku, Bu. Ayahnya orang kuat. Teman-temannya juga semua mengancamku. Aku takut."

Raisa mengepalkan tangannya di balik jaketnya. Nama Rendi memang sudah lama menjadi catatan hitam di sekolah karena sifatnya yang arogan, namun Raisa tidak menyangka keberanian anak itu akan sampai pada tindakan sekeji ini.

Raisa menyadari bahwa ini bukan lagi sekadar urusan sekolah, melainkan tindakan kriminal yang serius. Ia tahu ia harus bertindak cepat namun sangat hati-hati demi keselamatan Vina.

"Vina, Ibu berjanji padamu, mereka tidak akan bisa menyentuhmu lagi. Ibu akan berdiri di depanmu," ujar Raisa tegas. "Malam ini, kamu tidak boleh pulang ke rumah sendirian dalam keadaan seperti ini. Apakah kamu mau Ibu temani bicara dengan orang tuamu? Atau ada saudara yang paling kamu percaya?"

Vina terdiam, ketakutan masih mendominasi wajahnya. Raisa kemudian mengambil ponselnya, namun ia tidak menghubungi polisi terlebih dahulu, melainkan menghubungi satu-satunya orang yang ia tahu memiliki integritas dan pemahaman medis serta hukum yang kuat, Dokter Fatih.

"Dokter Fatih, maaf mengganggu malam-malam. Saya sedang bersama salah satu siswi saya. Ini darurat. Kami butuh bantuan medis dan pemeriksaan segera, tapi saya butuh tempat yang aman dan tertutup. Bisakah kami ke sana?"

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!