NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 KHSC

Setelah insiden hilangnya bantal pembatas, rutinitas tidur Juna berubah total. Ia tidak lagi tidur di lantai ruang kerja; ia kembali ke tempat tidurnya, tetapi kini selalu memosisikan dirinya membelakangi Nares. Jarak di antara mereka kini tinggal beberapa sentimeter. Nares selalu tidur menghadap punggung Juna, sebuah keintiman punggung-ke-punggung yang terasa seperti mengakui keberadaan satu sama lain tanpa memaksakan pandangan mata.

Pagi itu, Juna bangun sebelum Nares. Ia menyadari sesuatu yang mengejutkan: Nares telah bergerak dalam tidurnya, dan kini tangannya memeluk pinggang Juna. Juna merasakan lengan Nares yang hangat melingkari tubuhnya, dan kepala Nares bersandar di punggungnya. Juna benar-benar dipeluk.

Juna menegang. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena ketakutan, tetapi karena sensasi yang sangat asing dan menenangkan. Ini adalah pertama kalinya ia bangun dalam pelukan sejak ia masih kecil.

Ia berusaha untuk tidak bergerak, tidak ingin membangunkan Nares. Juna merasakan kehangatan Nares, napasnya yang lembut di punggungnya. Ia harus mengakui, ia menyukai perasaan ini. Itu adalah ketenangan yang nyata, bukan hasil dari obat tidur, tetapi hasil dari kepercayaan.

Namun, kendali dirinya sebagai CEO yang dingin segera mengambil alih. Ia adalah Arjuna Bhaskara, pria yang tidak boleh bergantung pada siapa pun, apalagi istri kontraknya.

Juna perlahan, sangat perlahan, melepaskan tangan Nares dari pinggangnya. Ia berbalik, melihat wajah Nares yang damai. Ia ingin marah karena Nares melanggar batas, tetapi wajah Nares yang polos membuatnya urung. Juna hanya bangkit, segera masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan dirinya.

Saat Juna keluar, Nares sudah bangun. Ia duduk di tempat tidur, wajahnya sedikit merah karena malu.

“Juna, aku… aku minta maaf. Aku tidak sadar. Aku tidak bermaksud melanggar batas,” kata Nares, menunduk.

“Itu hanya refleks tidur,” jawab Juna cepat, menghindari tatapan Nares. “Jangan ulangi lagi. Kita harus menjaga jarak fisik ini.”

“Baik,” Nares mengangguk, mengambil sajadahnya. “Aku mengerti.”

Meskipun Juna berkata demikian, ia tidak lagi tidur dengan punggung menghadap Nares. Malam berikutnya, Juna tidur menyamping, menghadap ke arah Nares, tetapi ia menggunakan lengannya sendiri sebagai benteng, membiarkan tubuhnya melindungi ruang pribadinya.

Namun, ia tidak bisa mengendalikan instingnya. Setiap Nares bangun untuk shalat Subuh, Juna akan terbangun, melihat siluet Nares yang khusyuk. Dan setiap Nares kembali ke tempat tidur, Juna akan memejamkan mata, menunggu Nares mendekat. Ia menunggu kehangatan itu. Ia telah menjadi pecandu ketenangan.

***

Hari-hari berlalu. Hubungan Nares dan Juna di luar kamar terlihat sempurna. Mereka menghadiri beberapa acara bisnis, selalu dengan Juna menggenggam tangan Nares, sebuah pernyataan yang kuat bahwa Nares adalah Nyonyanya.

Sementara itu, ancaman dari luar datang dari Larasati. Laras tidak menyerah. Melalui koneksinya di Bhaskara Corp (yang sudah Juna saring), Laras mulai menyebarkan rumor halus di kalangan dewan direksi: Nareswari adalah penyusup, pernikahan itu hanya kontrak legal tanpa komitmen.

Rio, yang semakin protektif terhadap Juna dan Nares, melaporkan hal ini.

“Pak Juna, rumor Larasati semakin kuat. Dia mengatakan Nyonya Nareswari adalah ‘istri kontrak yang dibayar’,” lapor Rio di kantor Juna.

Juna menggebrak meja. “Kita sudah mengurus ini! Kenapa dia masih belum menyerah?”

“Dia menyerang dasar pondasi. Para direksi bertanya, kenapa belum ada tanda-tanda kehamilan setelah Juna mengumumkan janji keturunan di publik? Mereka menuntut bukti komitmen,” kata Rio.

Juna mengusap wajahnya dengan frustrasi. Masalahnya bukan lagi kontrak warisan, tetapi kekuasaan yang ia coba pertahankan. Jika ia tampak tidak mampu mengendalikan kehidupan pribadinya, ia akan dianggap tidak mampu mengendalikan Bhaskara Corp.

“Kita akan mengurusnya. Tinggalkan aku sendiri, Rio,” kata Juna.

Juna duduk di kursinya, memandang keluar jendela. Ia menyadari, satu-satunya cara untuk membungkam Laras dan dewan direksi adalah dengan melanggar kontrak fisik mereka. Ia harus menjadikan pernikahan ini nyata.

Pikiran itu membuatnya takut. Ia tidak ingin menghancurkan Nares. Nares begitu murni, begitu tulus. Ia tidak ingin merusaknya hanya demi kekuasaan. Juna kini dihadapkan pada dilema: kekuasaan versus etika.

***

Malam itu, Juna kembali ke apartemen dengan kepala penuh tekanan. Ia harus memutuskan apakah ia akan menuntut Nares untuk memenuhi perannya demi menyelamatkan kekaisarannya.

Juna masuk ke dapur, mencari air dingin. Nares sedang memotong buah untuk dessert mereka. Ia mengenakan celemek sederhana, tampak santai dan jauh dari hiruk pikuk dewan direksi.

“Kau sudah pulang, Juna. Aku siapkan kopi. Kau terlihat sangat lelah,” kata Nares, tanpa menoleh.

“Tidak perlu, aku mau minum air saja,” jawab Juna.

Juna berjalan menuju kulkas. Nares, yang sedang mengupas apel dengan pisau tajam, tiba-tiba terpeleset pada tetesan air di lantai yang tidak sengaja ia buat.

“Aduh!” Nares menjerit kecil.

Pisau itu terlepas, dan tangan Nares menyentuh ujung pisau yang tajam di lantai. Darah langsung mengalir dari telapak tangannya.

Juna berbalik. Ia melihat darah di lantai marmer, dan wajah Nares yang pucat. Semua pikiran tentang bisnis, kekuasaan, dan kontrak langsung menghilang. Yang tersisa hanyalah insting melindungi yang primitif.

“Ya Tuhan, Nares!” Juna berseru, berlari ke arahnya.

Juna berlutut di samping Nares. Ia mengambil tangan Nares yang terluka. Luka itu cukup dalam.

“Kau tidak apa-apa? Kita harus membersihkannya,” kata Juna, suaranya panik.

Nares menahan rasa sakit. “Aku baik-baik saja, Juna. Hanya… sedikit kaget.”

Juna dengan sigap membawa Nares ke wastafel. Ia membiarkan air mengalir di luka Nares. Nares menggigit bibir, menahan perih.

“Tunggu di sini,” Juna memerintah.

Juna berlari ke kamarnya, mengambil kotak P3K yang sangat lengkap. Ia kembali, wajahnya kembali ke mode CEO: fokus, tenang, dan efisien.

Juna mengambil kapas, alkohol antiseptik, dan mulai membersihkan luka Nares. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati. Ia meniup luka Nares pelan sebelum meneteskan antiseptik.

“Ini akan sedikit perih,” bisik Juna.

Nares menatap Juna. Juna yang ini adalah Juna yang ia lihat saat merawatnya saat demam: manusiawi, lembut, dan tanpa ego.

“Kenapa kau sangat lembut, Juna?” tanya Nares, suaranya hampir tak terdengar.

Juna tidak menjawab. Ia hanya terus membersihkan luka itu. Saat ia selesai, ia membalut telapak tangan Nares dengan perban tebal, memastikan semuanya aman.

“Kau harus hati-hati,” kata Juna, nadanya menegur, tetapi matanya memancarkan kekhawatiran yang nyata.

Nares mengangguk. “Aku berterima kasih, Juna. Kau sangat baik.”

“Aku tidak baik. Aku hanya tidak ingin ada darah di apartemenku. Itu mengganggu,” Juna mencoba kembali ke bentengnya.

***

Malam itu, Juna bersiap untuk tidur. Nares sudah berbaring di tempat tidur, tangan kanannya dibalut perban.

Juna naik ke tempat tidur, tidak meletakkan bantal batas. Ia hanya berbaring, membelakangi Nares.

“Nares,” panggil Juna.

“Ya?”

“Jangan gerakkan tanganmu yang terluka. Tidurlah dengan hati-hati,” kata Juna.

“Aku akan berusaha,” jawab Nares.

Nares berbaring, berusaha tidak bergerak. Tetapi setelah lima belas menit, rasa sakit dari luka itu mulai menjalar, membuatnya gelisah.

Tiba-tiba, Juna berbalik. Ia melihat Nares menggigit bibirnya, menahan sakit.

Juna menghela napas. Ia tahu ini tidak ada hubungannya dengan kontrak. Ini adalah kebutuhan.

Juna beringsut mendekat ke Nares. Ia mengulurkan tangannya, dan perlahan, dengan sangat lembut, ia menarik Nares ke dalam pelukannya.

Juna membiarkan Nares tidur menghadap dadanya. Juna memosisikan Nares sehingga tangan Nares yang terluka berada di atas dadanya, aman, tidak bergerak.

Nares terkejut, seluruh tubuhnya menegang. Jantung Juna berdetak kencang di telinganya.

“Juna… ini…” Nares berbisik.

“Diam,” potong Juna, suaranya serak. “Ini bukan melanggar batas. Ini perawatan medis. Aku tidak ingin lukamu terbuka lagi. Tidurlah. Aku hanya memastikan kau tidak terluka.”

Nares tersenyum dalam pelukan Juna. Juna kembali menutupi kehangatan hatinya dengan alasan logis yang kaku.

Nares tidak membantah. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan Juna. Ia merasakan aroma mahal Juna, dicampur dengan aroma antiseptik yang masih menempel di tangan mereka.

Juna menghela napas panjang, membiarkan pelukan itu. Juna merasakan kehangatan Nares, dan untuk pertama kalinya, ia tidak melawan. Ia menyadari, bentengnya tidak hanya roboh, tetapi telah melebur menjadi satu dengan kehangatan Nares.

Ia menyentuh rambut Nares yang terlepas dari jilbabnya, mengelusnya dengan ujung jarinya. Gerakan itu murni refleks, tanpa berpikir.

“Tidur, Nareswari. Aku akan menjagamu,” bisik Juna, kata-kata yang mengandung komitmen yang jauh lebih dalam dari sekadar kontrak.

Malam itu, tidak ada lagi bantal pembatas, tidak ada lagi sisi tempat tidur. Hanya ada dua manusia, yang satu mencari ketenangan dan yang lain memberikan ketulusan, yang akhirnya menemukan tempat berlindung satu sama lain.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!