NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Setelah sekian banyak drama, akhirnya waktu yang dinanti pun tiba.

Di teras rumah keluarga Mahendra, seluruh anggota keluarga telah berdiri rapi. Lampu teras menyala kekuningan, menerangi wajah-wajah yang berusaha tenang, meski dada mereka menyimpan harap yang tak terucap. Hanya dua yang belum tampak,Kenan dan Kaivan.

Angin malam berdesir pelan.

Lalu suara mesin mobil memecah kesunyian.

Sebuah Toyota Alphard putih memasuki halaman rumah dengan keanggunan khas. Mobil berhenti. Pintu terbuka.

Seorang pria paruh baya turun dari dalamnya. Batik gelap melekat rapi di tubuhnya, wajahnya tenang, sorot matanya ramah.

“Assalamu’alaikum,” sapanya sambil melangkah mendekat.

“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka serempak.

Papi Bas maju, menyambut sahabat lamanya. Mereka berpelukan erat—pelukan yang hanya dimiliki dua orang yang telah melalui banyak cerita bersama.

“Bagaimana kabarmu, Bar?” tanya Papi Bas sambil tersenyum.

“Alhamdulillah baik, Bas. Kamu sendiri?” balas Pak Bara.

“Aku juga baik,” sahut Papi Bas. Lalu ia melirik sekeliling. “Tapi… dimana gadis itu?”

Pak Bara terkekeh pelan, lalu membisik, “Sebentar lagi sampai. Nggak sabar banget mau lihat calon mantu, ya?”

Papi Bas hanya tertawa kecil, tak menyangkal

Ia lalu memperkenalkan keluarga satu per satu.

"Oh iya Bar, perkenalkan. Ini istriku Amara. Dua gapura di belakang itu anak keduaku dan keponakan ku, Nathan dan Joe."

“Senang akhirnya bisa bertemu kalian,” ujar Pak Bara hangat sambil menjabat tangan mereka satu per satu.

“Kenan mana, Bas?” tanya Pak Bara, matanya menyapu rumah itu. “Dari tadi saya tidak melihatnya.”

“Masih bersiap di kamar,” jawab Papi Bas singkat.

Pak Bara mengangguk, lalu menoleh ke Nathan dan Joe.

“Kamu Nathan, dokter itu, ya? Dan kamu Joe, sekretaris Kenan?”

"Iya pak." Jawab serempak nathan dan joe.

"Jangan panggil  Pak, panggil om saja. "

Nathan dan joe pun langsung mengiyakan panggil tersebut.

Belum sempat percakapan berlanjut, suara mobil lain terdengar dari arah gerbang.

Kali ini lebih gagah.

Sebuah Mercedes-Benz G-Class hitam memasuki halaman dan berhenti tepat di belakang Alphard. Pintu terbuka, dan seorang gadis melangkah turun.

Seorang gadis turun.

Langkahnya tenang, sorot matanya lembut, wajahnya menyimpan keteduhan yang sulit dijelaskan dengan logika. Seolah malam itu ikut menyesuaikan diri pada kehadirannya.

Dialah Aru.

“Itu dia,” bisik Pak Bara sambil menyenggol Papi Bas.

Aru berjalan mendekat, senyum manis terukir di wajahnya.

“Assalamu’alaikum semuanya. Maaf saya sedikit terlambat.”ucapnya sopan.

“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka.

Tatapan pun tertuju padanya. Tidak berlebihan. Tidak berisik. Tapi dalam penuh penilaian, kagum, dan rasa tak terucap.

"Maaf,Aru sedikit terlambat Pak! " Ucap aru pada Pak bara.

“Tidak apa-apa,” jawab Pak Bara lembut. “Om juga baru sampai.”

Semua masih terdiam menatap Aru sampai Pak Bara berdehem pelan.

" Ehkm.... Ehkm.... "Seketika semua orang buyar dari tatapan mereka. " “Perkenalkan, ini sekretaris saya. Arumi Naraya Wiratama.”

Aru mengulurkan tangan sopan.

“Panggil Aru aja pak.”

“Kalau begitu, kamu panggil saya Om saja, Aru,” ujar Papi Bas ramah. “Om dan ayahmu sahabat karib dari jaman kami sekolah dulu.”

“Baik, Om.”

“Panggil Tante saja, sayang,” sambung Mami Amara. Mereka pun cipika-cipiki hangat.

“Panggil Nathan.”

“Aru.”

“Panggil Joe yang tampan saja,” sela Joe percaya diri.

Aru pun hanya bisa terkekeh mendengarkan nama panggilan Joe.

Mereka pun saling berkenalan satu sama lain. Setelah perkenalan singkat, Papi Bas pun mengajak mereka masuk.

“Lebih baik kita masuk dan ngobrol di dalam saja."

“Ayok Pak Bara dan Aru, kita masuk, sayang,” ucap Mami Amara.

Mereka semua pun akhirnya masuk ke rumah dan langsung menuju ruang tamu. Mereka pun duduk di ruang tamu bersama-sama.

Aru dan Pak Bara duduk di sofa panjang yang berhadapan langsung dengan tempat duduk mami Amara,dan Joe. Sedang papi bas dan Nathan duduk di kedua ujung dengan sofa sigle nya.

Belum lama mereka duduk, Bayu, bodyguard kepercayaan Kenan, datang menggendong Kaivan yang sudah rapi.

“Permisi pak, bu,” ucapnya sopan. “Pak Kenan menyuruh saya mengantar Tuan Muda ke sini.”

Bayu menurunkan Kai dari gendongan nya, tepatnya sebalah sofa tempat duduk Nathan yang langsung mengarah pada Aru.

“Ayo sini, cucu Nekna,” panggil Mami Amara lembut.

Tapi Kaivan hanya diam sambil menatap Aru tanpa berkedip.

"Kai... ayo sini deket nekna nak. "

Namun bukan nya bergerak, Kai malah melakah mendekati Aru yang duduk tak jauh darinya.

"Tau aja si tuyul yang bening." ucap Joe.

Semua orang menatap heran. Langkah Kai terhenti sebelum benar-benar sampai.

Melihat bocah itu hanya diam tanpa sepatah kata, Aru berinisiatif mendekat. Ia berjalan ke arah Kai dan berjongkok di hadapannya.

Sentuhan lembut di tangannya membuat Kaivan mengangkat kepala. Mata mereka bertemu.

Deg.

Jantung Kaivan berdetak cepat dengan ritme yang tak beraturan. Bibirnya bergetar, menahan sesuatu yang sudah terlalu lama tertahan di dadanya.

“Halo, anak tampan. ” sapanya lembut.

Tangannya menggenggam tangan kecil itu.“Kenapa, sayang?” tanyanya pelan.

Sentuhan itu berhasil membuat sesuatu runtuh di dada Kaivan.

Air mata yang sejak lama tertahan akhirnya jatuh. Tubuh kecil itu bergerak cepat, memeluk Aru sekuat tenaga.

“BUNDA…!”Tangisnya pecah. “Hikss… hikss…”

Semua terkejut.

“Bunda?” ucap mereka hampir bersamaan.

“Hikss… Bunda ke mana saja… Kai kangen…” isak Kai di pelukan Aru.

Tangisnya pecah. Bukan tangis manja melainkan jeritan rindu yang terlalu lama disimpan.

Aru terkejut. Napasnya tercekat. Tapi entah mengapa, tangannya otomatis membalas pelukan itu.

“Jangan nangis… Aunty di sini,” bisiknya.

“Bukan aunty,” sanggah Kaivan lirih. “Bunda…”

Getaran itu terasa. Sesuatu berdenyut di dada Aru, hangat sekaligus menyakitkan.

Mami Amara menutup mulutnya, air mata jatuh tanpa bisa dicegah.

Mami Amara menutup mulutnya, air mata jatuh tanpa disadari. Anak yang selama ini tertutup, sulit berinteraksi, kini menangis seolah menemukan rumah.

Aru terdiam sejenak.

“Oke… kalau begitu panggil Bunda. Tapi jangan menangis, ya?”

Kai menggeleng kuat.

Mami Amara mendekat.

“Kai, duduk dulu, sayang…”

Namun Kai justru memeluk lebih erat. Seolah dunia hanya aman jika Aru tetap di sana

Tangisan Kai makin keras.

Dan saat itulah—

Suara langkah cepat dari tangga terdengar.

“KAI!”

Kenan turun dengan wajah panik. Matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat dadanya menghantam keras: anaknya menangis di pelukan seorang wanita asing.

Tanpa berpikir panjang, Kenan menarik Kai dan mendorong Aru.“Apa yang kamu lakukan?” suaranya dingin.

Brukk!

Bahu Aru membentur ujung meja kaca.

“Astaghfirullah!”

“Kenan!”

“Aru!”

Suasana seketika membeku.

Semua berdiri. Napas tertahan.

Kaivan menjerit histeris.

"Bunda......"

Dan di antara kekacauan itu, satu hal menjadi jelas,malam ini bukan sekadar pertemuan.

Ini adalah awal dari pengakuan yang ditunda,

rindu yang salah alamat, dan luka lama yang tak bisa lagi disembunyikan.

Bersambung.................

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!