Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Tampak berubah
Hari sudah semakin larut, jarum jam sudah menunjukan angka 23.12 wib. Hanna baru saja menyusui baby Malika, setelah sebelumnya dirinya mengecek kondisi putranya.
CEKLEK.. Murat masuk, wajahnya tampak tidak bersahabat. Yang Hanna tahu tadi suaminya itu berbincang serius dengan ayah mertuanya.
Tetapi entah apa yang mereka bicarakan. Sepertinya bukan sesuatu yang menghasilkan hal yang baik bagi suaminya. Suara gemericik air terdengar oleh Hanna.
Hanna langsung menyiapkan piyama tidur untuk suaminya. Karena biasanya sebelum tidur Murat akan membersihkan diri. Sambil menunggu suaminya selesai, Hanna merapikan tempat tidur.
Murat yang telah selesai memakai piyamanya langsung berbaring dan memunggungi Hanna. Seperti itulah sehari hari pasangan suami istri itu. Meskipun tidur satu ranjang tetapi mereka tampak seperti dua orang asing.
Hanna ikut berbaring, dirinya menatap punggung suaminya, dia berharap suaminya akan berbalik dan memeluknya saat tidur. Tetapi itu hanya angan yang tidak akan pernah terjadi.
Murat gelisah sejak tadi matanya tidak bisa terpejam. Ucapan Ayahnya mengusik hati nuraninya. " Apa peduliku, setidaknya aku tetap memberinya uang yang cukup dan tempat tinggal , kenapa papah selalu ikut campur urusan rumah tanggaku". Kesalnya
Flash back
Setelah makan malam, Tuan Mahmet mengajak putranya berbincang diruangan kerjanya. " Murat apa kamu memperlakukan Hanna dengan baik?".
Murat yang ditodong dengan pertanyaan seperti itu cukup kesal "Maksud papah apa?". Bukan tanpa alasan Tuan Mahmet menanyakan hal itu pada putranya.
Meskipun tampak acuh, tetapi dirinya bisa melihat perubahan yang terjadi pada tubuh menantunya. " Papah hanya tidak mau menantu papah merasa kekurangan atau kelelahan, kalau kamu terlalu sibuk bekerja, setidaknya sewakan art untuknya membantunya mengurus rumah".
Murat mengepalkan tangannya, Ayahnya sungguh keterlaluan mencampuri urusan rumah tangganya. "kenapa papah peduli pada wanita itu, kenapa dulu pada Zahra tidak?".
Iya Murat kesal kepada ayahnya. Sejak dulu Zahra menjadi istrinya tak pernah sedikitpun ayahnya peduli kepada menantunya.
Ayahnya seperti tidak mau tahu dengan kehidupan rumah tangganya dengan Zahra. Apalagi ketika dulu Zahra melahirkan Keanu.
Ayahnya hanya datang untuk menjenguk cucu pertamanya saja, tanpa mau melihat menantunya yang terbaring setelah melahirkan.
Sampai saat ini Murat tidak tahu kenapa ayahnya begitu membenci Zahra. Sungguh berbanding terbalik dengan sikapnya terhadap Hanna.
"Kamu tidak lihat perubahan tubuh Hanna, wanita itu seperti tertekan, setidaknya kamu periksa lah dia ke Rumah Sakit!". Tegasnya. Tanpa mau menjawab pertanyaan putranya.
Murat memejamkan matanya, hatinya bertambah kesal. Dia yang tidak mau bertengkar dengan Ayahnya pun pergi tanpa menghiraukan panggilan ayahnya.
BUUUM, Murat membanting pintu cukup keras, membuat tuan Mahmet sedikit terlonjak.
Flash back off
"ck.ck...berlebihan sekali, memangnya apa hebatnya wanita itu". Dengan kesal dia membalik badannya.
DEG....
Kini dirinya berbaring menghadap Hanna. Terlihat istrinya itu tidur dengan damai, tampak gurat kelelahan diwajahnya.
Murat menyibak helaian rambut yang menghalangi wajah Hanna. Seingatnya dulu Hanna memiliki pipi yang sedikit berisi, sekarang wajahnya tampak tirus.
NYEEES..
Ada rasa iba dihatinya. Dia menyadari dirinya tidak pernah sekalipun membantu Hanna mengurus rumah dan kedua anaknya.
Kalau Hanna sedang mengurus kedua anaknya Murat selalu menghindar, bukan dia tidak mau mengurus kedua buah hatinya, hanya saja dirinya tidak mau Hanna besar kepala karena dirinya membantu istrinya itu.
Raut wajah Murat berubah seketika, tiba tiba saja dia mengingat Zahra. Tangannya pun dia jauhkan dari wajah istrinya.
"Huh.. Papah terlalu berlebihan, Dia baik baik saja". Dengan kesal dia membalik badannya dan memunggungi istrinya itu.
Meskipun hatinya masih kesal dengan ayahnya, Murat berusaha memejamkan matanya. Dia tidak mau terlalu kepikiran tentang Hanna dan merubah suasan hatinya.