Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Daniel segera melangkah ke luar kamar dan memanggil pengasuh setianya. "Bik Sumi! Tolong jaga Ziva sebentar. Saya, Shanum, dan Dokter Maura harus ke rumah sakit sekarang juga," perintah Daniel dengan nada bicara yang tidak ingin dibantah.
"Baik, Tuan. Serahkan Non Ziva pada Bibi," jawab Bik Sumi cekatan, walau matanya menatap bingung ke arah rombongan yang tampak tegang itu.
Mereka bertiga akhirnya berangkat menggunakan mobil Daniel. Sepanjang perjalanan, atmosfer di dalam mobil terasa begitu mencekam. Dokter Maura duduk di kursi belakang dengan wajah yang sudah pucat pasi bak mayat. Rasa cemas dan ketakutan menggelayut hebat di kepalanya, ia terus merutuki kebodohannya yang tidak mencari tahu latar belakang medis Shanum terlebih dahulu. Jika perkataan wanita kampung itu benar, maka riwayat kariernya berada di ujung tanduk.
Setibanya di rumah sakit, Daniel langsung membawa Shanum ke bagian laboratorium darurat. Shanum dengan tenang mengikuti seluruh prosedur pemeriksaan medis, mulai dari pengambilan sampel darah hingga tes urine. Sementara itu, Dokter Maura berdiri gelisah di sudut koridor. Rasanya ia ingin sekali melarikan diri atau memutar balik waktu, namun tatapan tajam Daniel yang sesekali mengarah padanya membuat kakinya seolah terpaku di lantai.
Satu jam berlalu dengan begitu lambat dan mendebarkan, sampai akhirnya pintu laboratorium terbuka. Dokter Cokro, kepala petugas laboratorium yang bertugas malam itu, keluar dengan selembar kertas hasil analisis di tangannya.
"Bagaimana hasilnya, Dokter Cokro?" tanya Daniel langsung pada intinya.
Dokter Cokro memakai kacamata bacanya dan tersenyum tipis ke arah Shanum. "Berdasarkan hasil uji laboratorium yang valid, sampel darah Mbak Shanum sama sekali negatif dan tidak terpapar zat kloramfenikol. Dan setelah kami menyinkronkan dengan rekam medis lamanya, Mbak Shanum memang terbukti memiliki riwayat alergi tingkat berat terhadap obat-obatan jenis antibiotik."
Mendengar penjelasan tersebut, Shanum mengembuskan napas lega yang teramat sangat. Air mata syukurnya tertahan di sudut mata. Tuduhan keji yang hampir saja menghancurkan nama baik dan pekerjaannya kini patah begitu saja di hadapan sains.
Di sisi lain, Daniel membuang napas berat. Sorot matanya kini perlahan bergeser, menatap lurus dan menusuk ke arah Dokter Maura yang makin salah tingkah. Daniel mulai menaruh kecurigaan besar pada dokter anak di hadapannya ini. Logikanya berjalan, jika Shanum tidak mungkin membawa obat itu karena alergi, maka hanya ada satu orang lain yang berada di kamar itu sebelum botol tersebut ditemukan.
Namun, Daniel sadar ia belum memiliki bukti fisik yang konkret bahwa Maura lah yang sengaja meletakkan obat tersebut di atas lemari nakas. Tapi, bukan Daniel namanya jika masalah yang mengancam nyawa putrinya ini tidak dituntaskan hingga ke akar-akarnya.
Menyadari situasi yang kian menyudutkannya, Dokter Maura buru-buru merapikan tasnya dengan tangan gemetar. "K... kalau begitu baguslah. Artinya Ziva aman. Dokter Daniel, sepertinya aku harus pamit pulang duluan karena tiba-tiba kepalaku sangat pusing," pamit Maura terbata-bata, lalu melangkah seribu meninggalkan koridor tanpa menunggu jawaban.
Shanum yang melihat kepergian Maura hanya diam, lalu berbalik menatap Daniel. "Pak Dokter... jika sudah tidak ada keperluan lagi, apakah saya boleh meminta izin untuk menjenguk Nenek Siti sebentar di ruang rawat bawah?"
Daniel menatap Shanum dengan pandangan yang melembut, dipenuhi rasa bersalah karena sempat mencengkeram dan mencurigai wanita tulus ini. "Tentu, Shanum. Pergilah tengok Nenekmu. Maafkan atas ketegangan tadi di rumah."
"Tidak apa-apa, Pak Dokter. Saya permisi," jawab Shanum santun sambil membungkukkan kepalanya sedikit sebelum melangkah pergi.
Setelah Shanum menjauh, Daniel menyandarkan punggungnya di dinding koridor rumah sakit yang dingin. Ia merasa sangat lega sekaligus merutuk dirinya sendiri karena hampir saja termakan fitnah dan terprovokasi oleh sandiwara Dokter Maura.
Daniel menatap botol obat kloramfenikol yang sempat ia bawa dari rumah dan kini berada di dalam kantong plastik bening di genggamannya. Matanya menyipit tajam ketika membaca kode kecil yang tertera di bagian label botol.
'Aku pasti akan mencari tahu siapa bajingan yang sudah membeli obat ini. Dari stempel dan kode batch nya, obat ini berasal dari instalasi farmasi rumah sakit ini juga. Tunggu saja, Maura... jika terbukti kau pelakunya, aku sendiri yang akan menyeret mu keluar dari dunia medis,' batin Daniel berkomitmen penuh dengan kilatan mata yang dingin dan mematikan.
*
*
Langkah kaki Shanum yang terayun cepat di sepanjang koridor rumah sakit akhirnya berhenti di depan pintu kamar rawat kelas tiga. Begitu pintu digeser pelan, Bu Siti yang sedang bersandar di ranjangnya langsung menoleh dan terperanjat mendapati cucunya berdiri di sana pada jam kunjung yang sudah lewat.
"Nduk? Kamu malam-malam begini kok bisa ada di sini?" tanya Bu Siti heran, matanya membelalak. "Bagaimana dengan putrinya Pak Dokter? Kamu tinggal?"
Shanum melangkah mendekat, lalu duduk di kursi samping ranjang tempat tidur. Sambil menggenggam tangan keriput Neneknya, ia akhirnya menceritakan seluruh rentetan kejadian menegangkan yang baru saja terjadi di rumah mewah itu, mulai dari temuan botol obat misterius, ancaman Dokter Maura, hingga tes laboratorium darurat yang baru saja ia jalani.
Bu Siti mendengarkan dengan dada yang naik turun menahan kaget. "Ya ampun, Nduk... Tega sekali Dokter Maura itu. Dia ingin memfitnah mu. Tapi atas dasar apa? Bukankah kamu baru beberapa hari di sana dan tidak punya masalah apa-apa dengannya?"
Shanum menghela napas panjang, gurat lelah tergambar jelas di wajah cantiknya. Ia lalu teringat kembali hari pertama di rumah sakit saat Dokter Maura menatapnya sinis, serta intimidasi tajam di kamar Ziva sore tadi. "Sejak awal bertemu, Dokter Maura memang sudah menunjukkan sikap tidak sukanya padaku, Nek. Dia bahkan sempat memperingatkan ku untuk tahu diri."
Bu Siti terdiam sejenak, otaknya yang sarat pengalaman hidup mencoba mencerna situasi. Detik berikutnya, wanita tua itu menatap lekat mata cucunya. "Nduk, apa mungkin Dokter Maura itu cemburu padamu karena kamu bisa dekat dan tinggal satu atap dengan Dokter Daniel?"
Deg!
Shanum seketika terpaku. Jantungnya berdesir aneh. Pertanyaan sang Nenek seakan membuka tabir yang selama ini tidak ia sadari. Kata-kata Maura yang menyebutkan "Dokter Daniel milikku dan kau tidak selevel dengannya" kini berputar ulang di kepalanya dan terasa masuk akal.
"Entahlah, Nek... Aku tidak berani menebak-nebak," sahut Shanum buru-buru mengakhiri spekulasi di benaknya. "Yang jelas, Alhamdulillah tuduhan dia padaku sudah terbukti tidak benar di lab tadi. Ya sudah, Nek, kalau begitu aku pamit kembali ke atas dulu ya. Takut Baby Ziva keburu bangun dan menangis mencari asupan ASI."
Bu Siti mengangguk setuju sambil mengusap kepala cucunya penuh kasih. "Iya, Nduk. Pergilah. Jaga dirimu baik-baik."
Shanum akhirnya kembali ke area laboratorium dan mendapati Dokter Daniel yang masih setia menunggunya, ia duduk tenang di bangku panjang koridor.
"Maaf, Pak Dokter, sudah membuat Anda menunggu lama," ucap Shanum santun sambil menundukkan pandangannya, tak berani menatap langsung mata elang pria di hadapannya.
Daniel mendongak, lalu mengulas senyum tipis yang sangat hangat. "Tidak apa-apa. Sudah selesai mengobrol dengan Bu Siti?"
"Sudah, Pak Dokter."
"Kalau begitu, mari kita pulang," ajak Daniel sembari bangkit berdiri dan merapikan kemejanya.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju area parkir dan segera membelah jalanan kota. Namun, baru sekitar lima belas menit mobil melaju di tengah keheningan kabin, sebuah suara bising yang canggung tiba-tiba terdengar.
Kruuuk...
Perut Shanum berbunyi cukup nyaring, memecah kesunyian. Shanum seketika menggigit bibir bawahnya, wajahnya memerah padam menahan malu yang teramat sangat. Ia baru ingat jika dirinya belum sempat menyentuh makanan sejak sore hari akibat ketegangan drama fitnah tadi.
Daniel sempat melirik ke arah jok samping, lalu beralih menatap deretan warung tenda di pinggir jalan raya yang mereka lalui. Tanpa banyak bicara, Daniel memutar kemudinya dan memarkirkan mobil mewahnya tepat di depan sebuah warung tenda Nasi Goreng pinggir jalan yang cukup ramai.
Shanum terkejut setengah mati. Ia menatap tidak percaya pada sosok pria berkelas, rapi, dan berstatus dokter spesialis seperti Daniel yang ternyata tidak merasa gengsi atau jijik untuk makan di tempat merakyat seperti ini.
"Pak Dokter... yakin mau makan di sini?" tanya Shanum ragu-ragu sambil memandangi meja kayu panjang di dalam tenda.
"Sangat yakin," jawab Daniel santai sembari mematikan mesin mobil. "Sudah lama sekali aku tidak makan di pinggir jalan seperti ini. Terakhir kali seingat ku pas aku masih masa-masa kuliah di UI dulu."
"Tapi Pak, bagaimana kalau nanti Baby Ziva bangun dan mencari saya?" tanya Shanum lagi, masih dihinggapi rasa cemas sebagai ibu susu.
"Kan ada Bik Sumi di rumah. Dan kamu juga bukankah sudah membuat stok ASI untuk Ziva sebelum kita pergi tadi?"
"Sudah, Pak. Saya sudah menyiapkan dua botol segar dan langsung ditaruh di dalam kulkas oleh Bik Sumi."
"Syukurlah. Jadi kalau Ziva bangun, situasinya masih sangat aman," ucap Daniel ramah sembari membukakan pintu untuk Shanum. "Kau juga harus makan, Num. Wanita yang sedang menyusui harus mendapatkan asupan gizi yang baik dan tidak boleh telat makan. Tapi untuk malam ini, entah kenapa aku sedang ingin sekali makan nasi goreng. Kalau kau mau makanan yang lain, tinggal bilang saja, nanti kita cari tempat lain."
"Tidak usah, Pak Dokter. Saya ikut saja makan nasi goreng," jawab Shanum canggung, sekaligus terharu atas perhatian kecil namun berarti dari sang majikan.
Daniel memesan dua porsi nasi goreng spesial dengan telur mata sapi di atasnya. Mereka duduk berhadapan di atas bangku plastik beralaskan tikar tipis. Aroma khas bumbu pelapis nasi goreng yang terbakar wajan besi merangsang nafsu makan Shanum yang sudah di ujung tanduk. Akibat terlalu lapar dan lelah, Shanum memakan hidangannya dengan sangat lahap tanpa memedulikan penampilannya lagi.
Daniel yang duduk di hadapannya sesekali menghentikan kunyahannya, hanya untuk memperhatikan bagaimana wanita tegar di depannya itu menikmati makanan sederhana dengan begitu tulus.
Hingga tiba pada suapan terakhir Shanum, Daniel tiba-tiba meletakkan sendoknya. Matanya terpaku pada sudut kanan bibirnya Shanum. Di sana, terdapat sebutir nasi yang tertinggal akibat cara makan Shanum yang terlalu bersemangat karena kelaparan.
Tanpa aba-aba, Daniel mengulurkan tangan kanannya melintasi meja kayu yang membatasi mereka. Ibu jari pria itu bergerak lembut, menyentuh sudut bibir Shanum dan menyapu sebutir nasi yang tertinggal di sana dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati.
Deg!
Sentuhan kulit hangat Daniel di bibirnya membuat Shanum tersentak kaget. Tubuhnya seketika membeku bagai dipaku di tempat duduknya. Ia reflex mendongak dan langsung menatap lurus ke arah sepasang mata tajam milik dokter tampan nan rupawan di hadapannya.
Daniel pun menghentikan gerakan tangannya, namun jemarinya masih tertahan di dekat pipi Shanum. Di bawah temaram lampu neon warung tenda dan di antara riuh rendah lalu lintas Jakarta yang padat di balik kain terpal, kedua pasang mata itu saling mengunci satu sama lain. Waktu seolah berhenti berputar. Mereka berdua tenggelam dalam keheningan yang mendalam, saling menatap dalam diam dengan debar jantung yang mendadak berpacu tak karuan.
Bersambung...
shanum menahan perasaannya jangan sampai baper lagi seperti kemarin yah takutnya dokter Daniel mengatakan seperti itu hanya untuk meyakinkan hakim dan memenangkan persidangan d hak asuk ziva yah num
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali