NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Sementara itu, di dalam rumah kontrakan yang sempit dan pengap, Ema masih mondar-mandir dengan wajah gusar.

Pikirannya dipenuhi rencana-rencana licik untuk kembali ke rumah mewah Mahendra.

Tiba-tiba, keheningan ruangan itu terpecah oleh suara dering ponselnya yang berada di atas meja kayu usang.

Ema melangkah cepat dan meraih ponsel tersebut. Begitu melihat nama yang tertera di layar digitalnya, kening Ema seketika berkerut heran.

"Diana?" gumam Ema pelan.

Tanpa membuang waktu, ia langsung menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut, menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo, Diana? Tumben nih menelpon, ada kabar apa?" tanya Ema, mencoba mencairkan suaranya agar terdengar akrab.

Dari seberang telepon, suara Diana terdengar ketus dan penuh selidik, tanpa basa-basi.

"Bagaimana keadaan Mahendra? Dengar-dengar dia masuk rumah sakit karena sakit jantung?" tanya Diana langsung pada intinya. "Dan satu lagi, siapa sebenarnya wanita jalang yang bersamanya semalam di pesta? Aku benar-benar tidak menyukainya!"

Mendengar rentetan pertanyaan itu, mata Ema seketika membelalak sempurna. Informasi tentang Mahendra yang kembali kolaps adalah berita baru sekaligus emas baginya.

"Sama, Diana... aku juga sangat tidak menyukainya! Dan tunggu, kamu bilang Kakakku masuk rumah sakit lagi?!" tanya Ema memastikan, jantungnya ikut berdegup kencang karena terkejut.

"Iya, Mahendra kolaps semalam di pelataran gedung pesta," sahut Diana sinis.

Ema mengepalkan tangannya kuat-kuat, rasa iri dan dendamnya kepada Luna kembali membakar dada.

"Aku benci sekali dengan wanita itu, Diana! Gara-gara dia, aku sampai diusir oleh kakakku sendiri dari rumah!" adu Ema dengan nada berapi-api, meluapkan kemarahannya yang terpendam.

Diana di seberang telepon terpekik kaget. "Apa?! Kamu diusir oleh Mahendra gara-gara wanita udik itu?"

"Iya! Dia memutarbalikkan fakta dan membuat Kak Mahendra membenciku!" bohong Ema, memosisikan dirinya sebagai korban.

Mendengar mereka memiliki musuh bersama yang sama-sama dibenci, otak licik Diana langsung bekerja. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ia membutuhkan sekutu untuk menyingkirkan wanita pemegang topeng hitam di pesta semalam.

"Bagaimana kalau kita bertemu di cafe biasa sekarang? Kita bicarakan ini secara langsung," tawar Diana dengan nada konspiratif.

Ema tersenyum puas, merasa mendapat angin segar dan peluang besar untuk membalas dendam.

"Ok, Diana. Aku segera ke sana," jawab Ema mantap sebelum akhirnya memutus sambungan telepon dengan senyum licik yang mengembang lebar di wajahnya.

Tanpa membuang waktu lagi, Ema segera berganti pakaian dan bergegas meninggalkan rumah kontrakannya.

Dengan taksi online, ia melaju cepat menuju sebuah kafe eksklusif di pusat kota yang biasa menjadi tempat nongkrong kalangan jetset, tempat di mana Diana sudah menunggunya.

Begitu melangkah masuk ke dalam kafe ber-AC yang sejuk itu, Ema langsung menangkap sosok Diana yang duduk di sudut ruangan dengan kacamata hitam bertengger di kepalanya, tampak anggun namun memancarkan aura ketegangan. Ema segera menghampiri dan duduk di hadapannya.

"Ayo, cepat ceritakan semuanya! Aku sudah tidak sabar mendengar bagaimana jalang kecil itu bisa membuatmu diusir oleh Mahendra!" tuntut Diana tanpa basa-basi begitu Ema mendaratkan bokongnya di kursi.

Ema condong ke depan, menurunkan volume suaranya lalu mulai menceritakan tentang kelicikan Luna—tentu saja dengan versi yang sudah diputarbalikkan dan penuh bumbu fitnah.

Ema menggambarkan Luna sebagai wanita miskin yang manipulatif, yang sengaja menjebak Mahendra demi harta, merusak hubungan keluarga, dan dengan liciknya menghasut Mahendra agar mengusir dirinya dan Mila dari rumah mewah Dirgantara.

Mendengar cerita menggebu-gebu dari Ema, rahang Diana mengeras.

Amarahnya tersulut hebat hingga ia meremas tisu di tangannya sampai hancur.

"Licik sekali dia! Berani-beraninya wanita udik seperti itu mempermainkan Mahendra dan menyingkirkan keluarganya!" desis Diana dengan tatapan mata yang memancarkan kilat kebencian yang mendalam.

Ia tidak sudi posisi yang seharusnya ia tempati justru diduduki oleh wanita seperti Luna.

Sambil menyunggingkan senyum seringai yang mengerikan, Diana merogoh tas branded-nya dan mengeluarkan ponsel pintarnya.

Rasa cemburu dan dendam telah menutup mata hatinya.

Tanpa ragu, Diana langsung menghubungi nomor kontak preman-preman langganannya yang biasa melakukan pekerjaan kotor demi uang.

Begitu panggilan tersambung, Diana berbicara dengan nada dingin dan penuh penekanan.

"Culik wanita bernama Luna itu sekarang juga. Seret dia dari rumah sakit atau dari mana pun dia berada, lalu buang dia ke tempat yang sangat jauh! Ingat, lakukan dengan rapi, jangan sampai Mahendra atau anak buahnya tahu!" titah Diana mutlak.

Di seberang telepon, terdengar suara tawa berat seorang pria bertubuh kekar yang mengerikan.

"Ok, Bos! Laksanakan. Bereskan uang mukanya, dan wanita itu akan lenyap sebelum matahari terbenam."

Sementara itu di dalam kamar perawatan VIP yang sunyi, Luna duduk di sofa sudut ruangan dengan sebuah laptop yang menyala di pangkuannya.

Jemari lentiknya bergerak lincah di atas keyboard, dengan serius mengerjakan beberapa berkas pekerjaan dan kontrak penting yang baru saja dikirimkan oleh Pak Dika melalui surat elektronik.

Sesekali, Luna menghentikan ketikannya. Ia menoleh ke arah ranjang, menatap sendu ke arah Mahendra yang saat ini sedang tertidur pulas dengan napas yang teratur. Selang oksigen masih setia membantunya bernapas.

Melihat wajah suaminya yang tampak begitu damai dalam tidurnya, seulas senyum tulus terukir di bibir Luna. Rasa lelahnya menguap begitu saja.

Ceklek!

Pintu kamar rawat perlahan terbuka secara senyap.

Luna mendongak dan terkejut melihat kedatangan Fauzan yang melangkah masuk dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

Pemuda itu tidak mendekati ranjang Mahendra. Langkah kakinya berhenti di dekat sofa tempat Luna duduk, lalu dengan isyarat mata dan gerakan kepala, Fauzan mengajak Luna untuk keluar dari kamar rawat tersebut.

Luna mengernyitkan dahinya bingung. Ia melirik suaminya sejenak untuk memastikan Mahendra tidak terbangun, kemudian meletakkan laptopnya di sofa.

Dengan langkah pelan, Luna mengikuti Fauzan keluar hingga mereka kini berdiri di koridor rumah sakit yang cukup sepi.

"Ada apa, Fauzan?" tanya Luna sambil melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan bertanya-tanya.

Fauzan membalikkan badannya, menatap Luna dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa frustrasi, kerinduan yang mendalam, sekaligus keputusasaan.

Tanpa diduga, Fauzan melangkah maju dan tiba-tiba mencengkeram kedua bahu Luna, membuat wanita itu tersentak.

"Luna, beri aku satu kesempatan lagi, aku mohon," ucap Fauzan dengan suara yang bergetar menahan gejolak emosi di dadanya.

"Ceraikan Papa, Luna. Kamu tidak seharusnya berada di samping pria paruh baya yang penyakitan seperti dia. Kembalilah kepadaku, kita mulai semuanya dari awal."

Mendengar kalimat nekat yang keluar dari mulut mantan kekasihnya itu, sepasang mata Luna membelalak sempurna karena tidak percaya.

Dengan sentakan kuat, Luna langsung menepis kedua tangan Fauzan dari bahunya. Ia melangkah mundur, menatap Fauzan dengan tatapan dingin dan penuh ketegasan.

Luna menggelengkan kepalanya dengan mantap tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.

"Tidak akan, Fauzan!" ucap Luna dengan nada tegas.

"Hapus pikiran gilamu itu sekarang juga. Aku tidak akan pernah menceraikan Mas Mahendra. Aku sudah sangat mencintai suamiku, dan posisimu di hatiku sudah lama mati."

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!