Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : PERTANYAAN YANG TEPAT
Kapal berbendera tengkorak hitam meninggalkan dermaga dengan tenang untuk sebuah kapal yang baru saja menagih hutang dan mendapatkan pembayarannya.
Sementara Tuan Li duduk di ujung dermaga sembari melepaskan beban yang sudah ditanggung terlalu lama melalui hembusan nafasnya.
Haifeng pun berdiri di sisinya, menatap kapal yang semakin menjauh ke arah barat itu. "Beruntung sekali mereka tidak tahu."
"Tidak tahu apa?" tanya Tuan Li.
"Bukan apa-apa." Haifeng berbalik dari dermaga. "Tuan Li. Hutangnya sudah lunas. Sekarang aku minta yang dijanjikan kemarin."
Tuan Li mengedipkan matanya dua kali, lalu ekspresinya kembali ke versi yang lebih hidup sebelum berdiri, menepuk-nepuk celananya, dan membuka kipasnya. "Tentu, tentu saja. Tuan Li tidak pernah ingkar janji. Tentang Xuanyuan, tentang arus, tentang semua yang Tuan Muda butuhkan." Dia menunjuk ke arah penginapannya di sudut dermaga. "Mari, sambil makan siang... karena saya bisa berbicara lebih baik kalau perutnya terisi."
Haifeng mengikutinya dengan cermat.
Berbeda dengan kondisi di dalam kapal yang tertambat di sisi lain dermaga, semuanya jauh lebih membisu.
Tabib Muda Hua Ling berdiri di depan pintu kamar yang sudah dikenal betul oleh tangannya setelah beberapa hari terakhir, mengetuk dengan cara yang tidak memaksakan kehadiran tapi cukup jelas untuk didengar dari dalam.
"Renoa." Panggilnya pelan. "Kau belum makan dari tadi pagi. Aku tahu karena nampannya belum disentuh... dan sekarang Panglima Wei Qinghan ingin berbicara denganmu."
Namun tidak ada jawaban dari dalam selain langkah kaki di balik pintu bergerak, satu langkah, lalu berhenti, dan pintu terbuka dari luar, bukan dari dalam. Qinghan masuk tanpa meminta izin tapi juga tidak terasa seperti penyerbuan.
Kamar itu kecil dan sudah diubah menjadi tempat yang sedikit lebih layak dari kondisi pertama Renoa tiba, ada selimut tambahan, ada buku-buku yang Hua Ling bawakan, ada cangkir teh yang masih hangat di dekat tempat tidur. Sementara Renoa duduk di sudut ruangan itu dengan lutut dirapatkan, rambut berantakan sebagian, telinga runcing di atasnya bergerak pelan ke arah suara pintu.
Sedangkan Qinghan melihat sekeliling sampai tatapannya berhenti di meja dekat jendela.
Kalung itu tergeletak di sana, tali kulitnya melingkar tidak rapi, serpihan logam biru gelap di tengahnya menangkap cahaya yang masuk dari celah jendela.
Qinghan pun mengambilnya. Memeriksa serpihan logam itu sebentar di antara jari-jarinya, kemudian meletakkannya kembali di tepi meja dalam jangkauan tangan Renoa.
"Kau belum makan?" kata Qinghan.
Renoa tidak menjawab.
"Makanlah." Kali ini kalimatnya lebih pendek, tidak menyisakan ruang untuk ditafsirkan dengan cara lain.
Sesuatu di nada itu, mungkin karena terlalu blak-blakan untuk diabaikan atau terlalu datar untuk terasa seperti ancaman, membuat tangan Renoa bergerak ke arah nampan di sisi tempat tidurnya dan mengambil satu suapan kaku.
Sementara Qinghan menunggu sampai suapan kedua meluncur sebelum berbicara lagi. "Adikku akan kembali hari ini. Aku ingin kau mau mendengar semua yang dia utarakan kepadamu."
Renoa berhenti mengunyah sebentar, lalu melanjutkan.
"Bagaimanapun juga... dia yang membeli kebebasanmu. Dia yang membuka kunci rantai yang lain. Terlepas dari apa yang kau rasakan tentang Long Yuan, tentang Kerajaan Tengkorak Hitam, tentang nama yang kau dengar dari orang-orang yang menyakitimu." Qinghan tidak duduk karena berdiri adalah caranya berbicara tentang sesuatu yang serius. "Haifeng bukan bagian dari itu. Kau bisa membencinya belakangan kalau kau mau. Tapi dengarkan dia dulu."
Renoa menatap nampannya.
"Aku tidak bilang kau harus percaya pada siapa pun," lanjut Qinghan. "Aku hanya bilang, dengarkan adikku."
Qinghan akhirnya pergi ke dekat pintu dan mengambil dua benda yang tadi diletakkan di kait dinding dekat pintu masuk, benda yang tidak langsung terlihat saat pertama masuk karena ada di sisi yang tidak langsung terlihat.
Yang pertama adalah sepotong baju, bukan baju kapal atau baju pinjaman darurat. Kain yang lebih baik dari itu, dengan potongan yang sudah diubah di beberapa bagian, bukaan di bagian atas belakang untuk memberi ruang pada struktur tulang yang berbeda dari manusia biasa, dan kelonggaran di pinggang untuk ekor yang butuh tempat bergerak. Seseorang sudah duduk cukup lama dengan jarum dan benang untuk membuat ini menjadi sesuatu yang benar-benar bisa dipakai dengan nyaman.
Adapun yang kedua adalah belati dengan gagang yang dibalut kulit berwarna gelap dan bilah yang sudah diasah dengan sangat rapi.
Panglima Qinghan meletakkan keduanya di ujung tempat tidur Renoa. "Untuk menjaga dirimu, atau bisa juga dipakai kalau kau memutuskan untuk keluar dari kamar ini. Mungkin ini bisa mengingatkanmu jika kami tidak memaksamu untuk tinggal."
Renoa lantas menatap kedua benda itu bergantian sebelum berakhir menatap Qinghan.
"Kenapa harus aku? Masih ada ratusan... Ratusan ribu, yang lain juga menderita. Kenapa tidak mereka saja?"
Qinghan pun memilih jawaban yang paling jujur dari semua jawaban yang ada.
"Kami bukan dewa," katanya. "Kami tidak bisa menyelamatkan semua orang sekaligus, dan siapa pun yang mengklaim bisa melakukan itu sedang berbohong." Tangannya mengambil kalung dari tepi meja dan meletakkannya di telapak tangan Renoa, menutup jari-jari perempuan itu di sekelilingnya dengan gerakan yang sangat singkat dan tidak diulangi. "Tapi seseorang yang melewatkan satu nyawa yang ada di depan matanya dengan alasan bahwa ada jutaan nyawa lain yang juga perlu diselamatkan, orang itu tidak akan pernah menyelamatkan siapa pun." Menghela nafas. "Itu yang diajarkan di Long Yuan. Mulai dari yang ada di depanmu, aku rasa itu cukup untuk sekarang."
Renoa menatap kalung di tangannya saat Qinghan sudah berbalik ke pintu.
"Kami menyelamatkanmu karena kau ada di depan kami," kata Qinghan dari ambang pintu, tanpa menoleh. "Sisanya, biar waktu yang menjawab."
Pintu menutup.
Hua Ling yang berdiri di luar pintu menggeser posisinya saat Qinghan lewat, membungkuk sedikit, dan Qinghan melewatinya tanpa berkata apa-apa tapi dengan langkah yang sedikit berbeda dari langkah masuknya tadi.
Sementara di dalam kamar, suara nampan bergerak terdengar, lalu suara kunyahan yang lebih teratur dari tadi.
Hua Ling menunggu beberapa menit sebelum mengetuk lagi, lebih pelan kali ini. "Boleh aku masuk?"
Tidak ada larangan dari dalam. Hua Ling membuka pintu dan masuk, duduk di tempat biasanya, tidak terlalu dekat tapi cukup dekat untuk terasa seperti kehadiran yang memilih ada di sana.
Renoa masih memegang kalung itu. Belati dan pakaian baru ada di pangkuannya.
"Kak Hua Ling." Suaranya tidak selemah dua hari lalu. "Adik Panglima itu." Dia berhenti sebentar. "Bagaimana cara aku memanggilnya?"
Hua Ling menatapnya sebentar, lalu senyumannya muncul layaknya seseorang yang baru mendengar sesuatu yang sangat menyenangkan dan tidak bisa sepenuhnya menyembunyikannya.
"Tanya sendiri padanya," kata Hua Ling. "Kalau dia mendengarmu menanyakan itu, dia pasti sangat senang."
Renoa menatapnya dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya mengerti kenapa itu akan membuat seseorang sangat senang.
Tapi dia tidak mengajukan pertanyaan lanjutan pula.